Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ninu-ninu terbaik.


__ADS_3

Anya menggeliat. Bulu kuduk tiba-tiba meremang saat Derry menyentuh punggungnya yang terbalut baju tidur tipis dengan bibir.


"Anya Danurdara Senja. Sekarang kamu udah resmi jadi istri seorang Derry. Jadi, coba lihat sini ...."


Suara yang lirih ditambah embusan napas pelan membuat Anya makin merinding. Ia membalik tubuh dan melihat Derry. Matanya hanya bisa mengerjap melihat Derry dengan jarak yang begitu dekat. Akan tetapi, keterpanaan itu sirna saat teringat kelakuan cuek Derry beberapa menit lalu.


"Kenapa?" Anya yang masih di mode merajuk menyipitkan mata. "Aku gak kebelet. Beneran. Jadi jangan nyuruh aku ke kamar mandi," lanjutnya kesal.


Namun, respon Derry ambigu. Ia balas menyipitkan matanya lalu menarik sebelah bibir. "Beneran gak kebelet?" tanyanya.


"Enggak," balas Anya lalu kembali memunggungi Derry.


Akan tetapi Derry yang sudah on makin merapatkan diri dan Anya pun merasa ada yang aneh. Ada yang mengganjal dan keras bagai kayu. Benda itu berdiri tegak di belakangnya. Ragu-ragu Anya meraba benda itu.


Tap!


Kini posisi Anya sudah kembali menghadap Derry. Pria itu dengan sigap mengungkung saat tangan lentik Anya baru saja menyentuh tuas keramat miliknya.


"K-kenapa?" Anya tergagap-gagap. Ia dapat menangkap aura pemangsa dari sorot mata Derry. Ia yang awalnya ingin dijamah menjadi merinding, lantas meronta kecil.


"Kamu mau ngapain?" tanya Anya lagi.


Namun, Derry yang sudah terpancing hanya memicingkan mata. Dengan posisi masih mengungkung, Derry pun secara berani meniup leher Anya.


Anya tentu saja meronta lagi.


"Jangan terlalu banyak gerak," ujar Derry. dengan mata tetap melihat wajah Anya yang memerah. "Simpan tenaga kamu untuk nanti. Malam ini bakalan panjang dan melelahkan."


Anya makin gugup. Bola matanya bergerak liar. "Emangnya kamu mau ngapain?" tanyanya sok polos. Padahal otak sudah berbau plus-plus.

__ADS_1


"Ya ngapa-ngapain. Bukannya tadi kamu yang maunya di apa-apain?" goda Derry.


"Kapan?" Pipi Anya makin bersemu. Ia tolehkan kepala karena malu.


"Beneran gak mau diapa-apain?" goda Dery lagi.


Anya langsung menoleh. Ia tatap lagi suaminya dengan sorot mata kesal. "Bukannya tadi kamu yang nolak?" dengkusnya.


"Kapan? Gak ada?" sahut Derry pura-pura oon padahal sudah on.


Bagaimanapun ia adalah lelaki normal. Siapa yang bisa tahan dengan pesona gadis cantik jelita seperti Anya, terlebih lagi status pun sudah sah menjadi suami.


Derry menopang tubuh dengan kedua belah siku. Posisi mereka sangat berdekatan.


Sementara Anya, ia merasa jantungnya akan copot keluar apalagi saat merasakan tongkat sakti Derry menekan pahanya.


"Aku salut sama kamu. Kamu begitu cepat dapat restu. Asal kamu tau, dalam semingguan ini papa selalu ngamuk. Dia masih beranggapan kalau aku gay," ucap Derry lirih dengan mata tetap menyapu wajah bersemu Anya. "Aku heran, bagaimana bisa kamu memfitnah aku dengan kejam begitu?"


"Tapi usaha kamu terlalu ekstrim. Apa kamu gak takut kualat, bagaimana kalau apa yang kamu bilang itu kenyataan?"


Mata Anya membulat. "Emang kamu beneran gay?"


Derry terkekeh sejenak. Ia kecup kening Anya. "Kenapa aku harus gay saat perempuan begitu banyak di muka bumi."


"Jadi kamu memilih jadi playboy?" cecar Anya lagi.


Derry pun terbahak. Ia kunci sorot mata Anya yang sudah di mode garang. "Aku gak perlu yang lain. Apa perlu kamu menanyakan hal yang udah pasti. Aku itu sayangnya cuma sama kamu, Anya ...."


Suara Derry penuh penekanan sehingga membuat muka Anya yang masam kecut kembali ke mode imut. Ia cubit dada Derry lantas malu-malu berkata, "Aku juga sayang sama kamu. Aku gak pernah sesayang ini sama laki-laki. Kamu yang pertama."

__ADS_1


"Terima kasih," sahut Derry lagi lalu mencium pelan pipi sebelah kiri Anya. "Terima kasih karena udah sabar dan mau berjuang sama-sama sampai sekarang. Mungkin terdengar lebai, tapi aku beneran sayang sama kamu. Aku mau kita menua dan punya banyak anak."


Anya bersemu. Ia kalungkan kedua lengannya ke leher Derry. "Kalau gitu cepatlah. Aku udah siap. Aku siap kamu garap. Aku beneran mau punya anak. Aku gak mau kalah dari Bang Dafin. Pokoknya kita harus sukses nyetak bayi."


Perkataan tak tahu malu itu membuat Derry sontak terbahak. Ia sentuh hidung mancung Anya dengan hidungnya. "Kamu gemesin banget sih. Jaim dikit ngapa. Aku suami loh. Harusnya aku yang bilang begitu."


Anya nyengir.


"Lagian pelan-pelan aja. Ngapain juga buru-buru. Kalau gak sukses sekarang kan masih ada lain waktu. Ingat, kesuksesan itu adalah keberhasilan yang tertunda," lanjut Derry lagi.


"Ya gak bisa gitu dong. Kalo gagal ginjal bagaimana? Apa mungkin kamu juga bakalan bilang gagal ginjal adalah kesuksesan ginjal yang tertunda. Itu aneh namanya. Gak semua kegaga—"


Lisan Anya terputus karen di bungkam mesra oleh Derry. Pria itu begitu gemas dengan bibir ranum anya yang sedari tadi tak berhenti mengoceh. Ia sesap nikmat bibir itu hingga suara desahan pelan samar-samar terdengar.


Keduanya melepaskan pagutan dengan sorot mata yang saling menginginkan. Parlahan tapi pasti, Derry yang mendominasi permainan membuat Anya menggeliat eksotis disertai desahan sensual.


"Mas Derry," panggil Anya seraya menahan dada Derry.


Derry yang siap ke permainan inti dibuat bingung. "Kenapa, Nya?"


"Matiin lampunya. Aku malu, Mas. Banyak mata reader yang ngintip. Kasian. Entar mereka bintitan."


Derry tersenyum simpul, ia towel hidung Anya lalu menekan tombol lampu tidur yang ada di nakas. Sembari tersenyum licik, Derry pun berbisik. "Sorry ya, Gaes. Acara ninu-ninu kami nggak diperuntukkan untuk di konsumsi khalayak ramai."


***


eaaaa ....


hahaha

__ADS_1


Author tertawa jahat.


__ADS_2