
"Yaudah, ayo kita keluar. Yang lain udah pada nunggu," ucap Lita.
Litania mengangguk setuju dan mengekori dari belakang hingga tibalah mereka di ruang makan. Semua sudah berkumpul di sana. Ayah mertuanya, Irwan, Reka, Chandra, dan Rania. Sementara Chandira terlihat begitu asyik bermain dengan pengasuhnya.
"Sayang, duduk sini," ucap Chandra seraya menarik kursi untuk Litania. Pemandangan yang tentunya mengundang senyum dari penghuni di sana. Senyuman yang entah, tak bisa Litania tebak apa artinya.
Dua puluh menit berlalu. Tenang. Makan malam yang nyaman. Tak ada ketegangan. Hanya senyuman dan gelak tawa yang terdengar hingga waktunya makan camilan. Semua orang tampak nyaman bercengkrama kecuali seseorang.
Menghela napas, Litania yang tengah berdiri di pembatas lantai atas dua rumah itu memperhatikan keberadaan orang-orang di bawah sana dengan perasaan yang berkecamuk. Bahagia tetap terasa saat di sana. Akan tetapi, tetap saja ada yang mengganjal. Matanya selalu tertuju pada gadis kecil berjilbab ungu, Chandira. Rasanya tetap ada yang aneh saat melihat bagaimana cerianya gadis kecil itu. Ia tampak tertawa bahagia di atas pangkuan Candra.
Lagi, Litania mengembuskan napas panjang. Sumpah. Aku beneran ngerasa gak enak.
Memutar punggung, Litania pun berjalan menuju balkon lantai dua rumah itu. Ia perhatikan beberapa cahaya lampu dari kejauhan yang tampak remang dengan pikiran yang melanglang buana. Tak tau harus berlabuh ke mana.
"Kamu mikirin apa?"
Suara seseorang membuyarkan tatapan kosong Litania. Rania, wanita cantik berhidung mancung tengah berjalan dari arah pintu dan berakhir bersebelahan dengannya. "Kamu mikirin apaan?" ulangnya.
"Enggak ada apa-apa." Kembali menarik napas lebih panjang, Litania tekan rasa yang membuatnya sulit bernapas. "Aku hanya ingat masa lalu aja. Aku pernah tinggal di sekitar sini. Rumahku gak jauh dari sini. Di sana." Litania menunjuk ke arah kiri, "dulu rumahku ada di gang sana. Gak jauh dari sini."
"Oh iya, aku pernah dengar soal itu. Ternyata kamu adalah salah satu wanita yang menikahi tetangga sendiri." Rania tersenyum kecil, tapi tidak Litania. Helaan napas kembali keluar meski tak terdengar oleh orang lain.
"Oiya, aku denger kamu hamil?" Rania perhatikan wajah Litania yang tertunduk. "Selamat, ya. Moga debainya nanti sehat. Persalinan kamu juga dimudahkan."
__ADS_1
Litania mengangguk sekali lantas kembali memandang ke depan dan mengedarkan pandangan. Melihat sekitaran rumah yang rata-rata lebih dari dua lantai. Komplek perumahan yang tergolong elit.
Suasana hening, senyap tak ada yang berniat membuka obrolan hingga Litania memberanikan diri untuk bersuara. Mengeluarkan dan menyuarakan rasa yang mengganjal dalam dada.
"Mbak Rania. Apa yang Mbak pikirkan tentang aku?" tanya Litania seraya menoleh wajah cantik Rania. Wanita itu tampak anggun dengan menggunakan gaun selutut tanpa lengan yang ditutupi oleh blazer setengah tiang berwarna abu-abu. Sementara rambut dibiarkan tergerai dengan sedikit bergelombang. Dia masih kelihatan cantik batin Litania.
"Emang kenapa nanya kayak gitu?"
Rania malah menatap penuh selidik pada Litania. Litania balas tatapan itu dengan tersenyum kecut. Mata diarahkan lagi ke langit yang hanya ditaburi beberapa bintang.
"Aku gak ada niat apa-apa. Aku hanya ingin tahu pendapat Mbak aja."
"Pendapatku sama dengan apa yang aku tulis kemarin. Kamu tetap wanita baik. Aku suka sama kamu. Kamu wanita keren menurutku. Penuh kekuatan dan tenaga. Begitu banyak kelebihanmu sampai-sampai aku ingin menjadi muda lagi."
"Apa begitu?"
"Mbak, aku mau kok di poligami."
Sungguh, jantung Litania seolah berhenti setelah mengucapkan itu. Namun, walau bagaimanapun, ia tetap harus mengatakannya agar sesuatu yang menggumpal dalam dada bisa lepas. Agar bisa bernapas lega, ya begitulah pikirnya. Melihat Chandira membuat dirinya merasa menjadi penjahat paling kejam se-dunia, ia tak nyaman dengan itu.
Sementara Rania jelas tampak terkejut, mata bahkan membulat lebar memandang Litania. "Kamu serius? Kamu yakin bisa berbagi? Kamu rela berbagi segalanya? Poligami itu gak gampang, loh. Di madu tapi rasanya bukan madu."
Jantung Litania yang sudah seperti berhenti berdetak seakan turun jam belati lagi. Entahlah, aku gak yakin.
__ADS_1
Mebasahi bibir yang bergetar dengan saliva, Litania menghela napas sesak lantas mengangguk. "Iya, aku yakin."
"Beneran?" Rania ubah posisiny. Kini tak hanya matanya, tubuhnya pun ikutan mengarah ke Litania. Gadis itu tampak gugup dan meremas jemari tangan. Sebuah pemandangan yang membuat Rania tercengang tapi beberapa detik kemudian berakhir mengukir senyuman. "Kamu lucu Litania. Aku tadi hanya bercanda."
"Tapi aku nggak bercanda, Mbak. Aku serius. Chandira perlu ayahnya."
"Soal itu jangan dibahas lagi, Litan. Aku punya pandangan sendiri soal rumah tangga. Aku nggak mau nikah atas dasar terpaksa. Lagian sekarang aku enjoy aja dengan kehidupanku ini. Aku nyaman. Chandira sendiri juga nggak yang rewel banget. Kami udah terbiasa melewati hari-hari cuma berdua. Waktu di Amerika pun Chandra jarang datang. Jadi anak kami itu nggak terlalu nyariin. Dan kalaupun nanti dia nyari, ya gak masalah. Toh jarak kita pun gak terlalu jauh. Jadi aku bisa nganterin dia ke sana atau Chandra yang ke sini. Jadi nggak mesti harus serumah juga, 'kan?
"Tapi, Mbak—"
Lisan Litania terjeda, Rania meraih tangannya dan menggenggam dengan erat. Sebuah tatapan teduh yang membuat lidah tak bisa melanjutkan kata.
"Sudah, ya. Jangan bahas itu lagi. aku udah nyaman dengan hidupku sekarang. Aku punya usaha. Aku punya Chandira. Aku punya teman-teman yang support aku. Mereka sangat solid ngedukung aku biar lebih tenang dan kuat dalam menjalani hidup."
Rania tersenyum ia pandang lagi langit malam. "Asal kamu tau aja. Aku gak perlu dikasihani. Di luaran sana masih banyak single parent yang hidupnya lebih ngenes dari aku. Tapi mereka kuat. Nah, aku, aku nggak punya alasan buat serakah Litania. Aku udah dikasih modal. Mama sama papanya Chandra juga perhatian banget sama Chandira. Bagiku itu udah cukup. Dengan adanya mama sama papanya Chandra udah buat aku bersyukur. Mereka mereka menganggap ku kayak anak mereka sendiri. Jadi rasanya nggak perlu suami ataupun yang lainnya. Sekarang aku udah bahagia dan aku harap kamu juga bahagia dengan Chandra."
"Tapi, Mbak—"
Lagi, lisan itu terjeda. Rania menatapnya dengan mengukir senyuman.
"Please, jangan bahas ini lagi, bisa?"
Litania bungkam hingga air mata terturun tanpa ia sadari. Terharu juga sedih. Terharu dan bersyukut karena Rania bukanlah jenis pelakor rendahan di luaran sana yang rela berbuat apapun. Jika benar demikian, ia akan senang hati berkelahi dan bertarung hingga akhir.
__ADS_1
Akan tetapi, Rania berbeda, dia wanita berkelas yang entah mengapa membuat Litania respek. Makasih, Mbak. Makasih banget. Aku harap Mbak bakalan ketemu jodoh yang lebih baik.
insyaallah entar malam up lagi. hehe