
Setibanya di depan rumah. Litania, Chandra, Kinar dan Arjun terperangah melihat dua mobil mewah berwarna hitam terparkir di halaman, bahkan tampak beberapa pria tegap yang mereka yakini sebagai bodyguard berdiri tegak di beberapa titik. Dari halaman hingga teras. Bagaimana tidak, mereka berpakaian serba hitam, berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun.
Ketakutan tentu menjalari pikiran. Litania yang tadinya bergelayut manja berujung menjadi bergelayut takut. Dipeluknya lengan Chandra seraya mengedarkan pandangan. "Yang. Ada apa ini? Siapa mereka?"
Chandra yang juga kelihatan bingung mencoba mengukir senyuman. Lagian bagaimana bisa ia tahu siapa yang ada dalam rumah padahal mereka baru saja tiba?
Menepuk punggung tangan Litania dua kali, Chandra masih berusaha menipiskan bibir. "Tenanglah, nggak akan ada apa-apa. Aku curiga ini anak buahnya Pak Edward."
"Lalu bagaimana ini? Apa mungkin dia akan ...."
Litania menjeda kata dengan sengaja, takut kata-kata yang terucap akan menjadi kenyataan.
"Udah, jangan mikir yang nggak-nggak. Ayo, kita masuk dulu. Kita tanya apa niatan mereka datang ke sini."
Litania mengangguk seraya melajukan langkah, mengikuti jejak kaki Chandra hingga keduanya tiba di dalam rumah dan melihat sosok pria tambun berkepala botak tengah duduk di sofa rumah mereka dengan kaki menyilang.
"Pak Edward. Ada perlu apa ke sini?" tanya Chandra basa-basi. Ia paham kalau kedatangan Edward itu tak lain dan tak bukan adalah karena Leo.
Sang tamu langsung mendekat ke arah Chandra, wajahnya yang memang tampak sangar menjadi berkali lipat. Tampang yang entah mengapa membuat Litania sedikit gugup. Kalau one by one oke saja. Kalau main keroyokan ya ... pasti kalah.
Namun, tanpa diduga pria botak itu menundukkan pandangan. "Maafkan saya, saya tidak becus mendidik Leo. Saya gak nyangka rasa cemburu membuat dia menjadi lebih nekat dari sebelumnya."
Chandra terdiam, begitu juga yang lainnya. Sikap Leo benar-benar sudah di luar batasan. Hanya saja melihat orang Edward yang terkenal dingin dan sangar memohon maaf atas apa yang dilakukan Leo, rasa iba pun menyerang.
Chandra pandang wajah Litania begitu juga sebaliknya. Tanpa diduga Edward membungkukkan badan—berancang-ancang untuk berlutut. Sebuah pemandangan yang membuat empat orang di sana bahkan ajudan tampak membeliakkan mata tak percaya.
__ADS_1
Cepat-cepat Chandra mengangkat pria tua itu sebelum lututnya menyentuh lantai. "Jangan seperti ini Pak Edward."
"Tapi saya merasa bersalah. Saya tidak becus mendidik Leo dan sekarang dia malah ..."
Pria tua yang tertunduk itu tak sanggup menyelesaikan lisan. Rasa sedih dan kecewa serta malu menggumpal jadi satu dalam dada hingga kata rasanya tak bisa mewakili perasaannya sekarang.
"Saya minta maaf. Dan juga mungkin ini kedengarannya tak tau malu. Tapi saya mohon maafkan dia, lepaskan dia. Saya akan bawa dia ke luar negeri agar dia nggak akan ganggu kalian lagi," ucap Edward yang terdengar mengiba.
Litania lagi-lagi hanya terdiam, tak bisa berkata. Pria tua yang terlihat sangar itu ternyata begitu menyayangi Leo. "Bagaimana?" bisik Litania pada Chandra.
Chandra hanya menggidikkan bahu. Tak tau juga harus apa di situasi ini. Haruskah memaafkan, ataukah memenjarakan. Mengingat sudah dua kali Leo mencoba menyingkirkannya.
"Saya tahu tingkah lakunya di luar batasan. Tapi tetap saja, dia anak saya. Saya punya hak dan kewajiban untuk melindungi dan mendidiknya. Saya marah atas kelakuan dia. Tapi saya tidak bisa dan tidak akan bisa melihat dia masuk dalam penjara. Saya mohon batalkan tuntutan Anda."
"Sebenarnya saya sedikit kecewa dengan Leo. Kenapa dia tidak bisa bersikap dewasa dan sewajarnya?" ucap Litania, memberanikan diri.
"Tolong maafkan Leo." Semburat penyesalan begitu kentara di wajah tua Edward.
"Baiklah saya anggap ini tidak jadi. Dan saya harap nggak akan ada lagi kejadian kayak gini. Kami akan memaafkan Leo, tapi saya harap bapak beneran bawa dia ke luar negeri. Saya takut dia bakalan ngelakuin hal nekat lagi."
Litania berucap seraya menahan sedikit air yang sudah menggenang pelupuk mata. Rasa rindu pada kedua orang tua mendadak menyerang hingga rasanya menyesakkan dada. Andai ia melakukan kesalahan, pasti orang tuanya akan melakukan hal yang sama. Memelas bahkan berlutut. Membayangkan orang tuanya begitu, dada terasa sesak. Litania tarik napas lantas mengembuskan dengan perlahan.
"Kami bisa percaya pada Bapak, 'kan?" tanya Litania. Ia sadar dirinya bar-bar dan cenderung kurang ajar. Namun, jika berhadapan dengan orang tua, kekerasan hatinya melunak.
Edward tampak tersenyum lega. Ia angkat kepala seraya menjabat tangan Litania serta Chandra secara bergantian. Ucapan terima kasih pun tak putus dari bibirnya yang sudah sedikit mengeriput. Rasa haru menyeliputi hati Edward begitu juga yang lain hingga pria bertubuh tambun itu pergi dengan perasaan lega diikuti oleh beberapa bodyguard-nya.
__ADS_1
"Apa keputusanku tepat?" Menatap Chandra bola mata Litania bergerak liar. "Leo gak bakalan nekat lagi, 'kan?"
Chandra tersenyum lantas memegang kepalanya. "Ya, kamu benar, dan kamu akan selalu benar, Sayang," balas Chandra seraya terkekeh.
"Aku serius!"
Kesal, Litania memanyunkan bibir. Tak suka Chandra bercanda sementara dirinya tegang bukan kepalang.
Lagi, Chandra usap kepala Litania. "Percayalah, Pak Edward itu orangnya baik. Baik banget. Dia pasti bisa menjaga janji dan menjaga Leo, tentunya."
"Tapi aku penasaran, kenapa Pak Edward begitu sopan, ya? Bukannya kamu bilang saham dia cuma beda tipis dari punya papa?"
"Itu aku gak tau, rahasia itu cuma papa sama pak Edward saja yang tau. Aku pernah nanya, tapi papa gak pernah mau jawab."
"Apa mungkin papa kamu itu ketua geng? Dan pak Edward itu wakilnya. Makanya dia gak berani berbuat kurang ajar. Gak kayak anaknya itu, si kampret Leo," terka Litania yang sudah di mode sok tau.
"Jangan mengada-ada. Papa kalem begitu kok dibilang ketua gengster," jawab Chandra kemudia terkekeh. Tak mengerti kenapa bisa pikiran itu melintas ke benak Litania. Ia rangkul pundak Litania. "Kita masuk, yuk."
Litania menghela napas. "Iya, ayo kita masuk. Kita makan siang sama-sama, habis itu aku mau tidur. Aku ngantuk. Dari semalam gak ada tidur sama sekali."
"Iya, maafin aku." Chandra tepuk bokong Litania, "aku Nina Bobo-in ya?"
Senyum mesum Chandra terukir jelas, membuat wajah Litania yang sudah manyun menjadi lebih maju. Ia kepalkan tangan hingga begitu dekat dengan hidung Chandra.
"Jangan macem-macem."
__ADS_1