Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Cinta


__ADS_3

Setibanya di pagar kontrakan, Sisi yang masih melakukan peregangan otot tak sengaja melihat gadis kecil tengah celingukan. Sosok yang entah kenapa membuat Sisi mengenang sang anak yang sudah meninggal.


Sisi menarik napas panjang untuk menata hati, mengikhlaskan adalah jalan terbaik. Ia dekati gadis berpakaian serba pink itu lalu menyapa dengan melambaikan tangan terlebih dahulu. "Hai cantik. Nama kamu siapa?" tanyanya.


Gadis itu terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab, "Cinta, Kak. Nama aku Cinta Jessiana."


"O ... nama kamu bagus, cantik kek orangnya," puji Sisi, senyumnya masih terlihat. Ia lalu melihat sekeliling dan tidak ada satu pun yang mendekati, itu artinya anak kecil yang tengah menatapnya dengan tatapan heran itu datang sendirian.


"Oiya, kamu udah sekolah? Kelas berapa?" tanya Sisi kemudian.


"Kalas satu, Kak."


"Kelas satu?" ulang Sisi hampir setengah berteriak. Matanya membulat, tapi setelah melihat ekspresi Cinta yang ketakutan Sisi pun terpaksa kembali mengukir senyuman. Perasaan jangan ditanya lagi, janggal dan kasihan dan tak karuan.


Sisi Berjongkok dan mensejajari Cinta. "Kamu Dateng sendiri?"


Cinta mengangguk.


"Kenapa bisa sendiri? Ibu kamu mana?" tanya Sisi lagi


Akan tetapi gadis itu tak menyahut. Ia hanya tertunduk. Sisi menyadari ada yang tak beres kembali tersenyum lalu memberi sentuhan di pipi gadis kecil itu hingga wajah yang tadinya melihat ke bawah kembali menatapnya. Matanya terlihat sayu dan sembab.


"Gak apa-apa, jangan takut. Kakak bakalan bantuin kamu. Apa kamu lagi nyari alamat?"


Cinta lagi-lagi mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca, Sisi jadi tak karuan juga di buatnya.


"Ya sudah jangan sedih. Kakak bantu cariin alamatnya. Sini, coba Kakak liat kertas itu," pinta Sisi seraya mengerling kertas yang Cinta bawa.


Tanpa banyak membantah gadis kecil yang mengenakan gaun, ransel, serta ber-bando serba pink itu pun menyodorkan selembar kertas. Wajahnya tampak sedikit pucat.


"Aku mau ke alamat ini, Kak. Kakak tau?" tanyanya. Terdengar sangat berharap. Sisi jadi makin kasihan. Ia buka kertas itu.


"Loh, Dek. Ini alamatnya bukan di sini. Tapi komplek sebelah," papar Sisi setaunya saja. Ya karena memang begitu adanya.

__ADS_1


"Yah, salah alamat ya, Kak." Anak kecil itu pun menunduk lagi. Tampak sedih. "Aku udah gak kuat jalan lagi, Kak," lanjutnya.


Sisi yang melihatnya pun jadi prihatin. Sebenarnya sudah curiga dengan anak itu, hanya saja masih mencari tahu faktanya. Kenapa bisa anak kecil seperti itu berjalan sendirian tanpa orang dewasa?


"Ya sudah, jangan nangis. Ayo Kakak antar."


Namun, baru saja berdiri, anak kecil yang barusan ia ajak bicara sudah tergeletak di aspal. Sisi yang panik memangku kepala anak kecil itu lalu menyeru namanya berkali-kali. Sialnya anak kecil itu bergerak. Sisi lalu mencoba mengecek tanda vital, sangat lemah. Ia pun menggendongnya dan menahan sebuah taksi—hendak membawanya ke rumah sakit.


"Ya ampun, Cinta. Kamu kenapa? Bangun Sayang ...."


Air mata Sisi menetes deras. Entah kenapa ia makin teringat pada sang anak yang sudah meninggal. Ia benar-benar tidak ingin Cinta berakhir sama. Ia terus menyeru nama Cinta bahkan tak segan meminta sang sopir mengebut.


Sisi tau tindakannya itu tidak benar, panik sangat dilarang mengingat profesi—bidan—yang akan ia emban di masa yang akan datang, tapi ....


"Cinta, cepet bangun, Sayang. Jangan tidur."


Tak berapa lama, tibalah Sisi di depan rumah sakit. Di sana ia yang kerepotan membawa anak umur delapan tahun dihampiri beberapa paramedis dan diarahkan menuju IGD.


"Ini anaknya kenapa, Mbak?" tanya seorang suster ketika Sisi sudah berada dalam IGD.


"Mbak, ini anaknya kenapa?" ulang suster tadi.


Sisi langsung berjengket, masih dengan tatapan panik ia pun menjawab, "Bukan, ini bukan anak saya. Cuma tadi dia pingsan di jalanan."


Tak berapa lama masuklah Dafan. Kebetulan yang benar-benar membuat Sisi menelan ludah. Akan tetapi demi menyelamatkan nyawa ia pun mendekati Dafan yang jelas-jelas berjalan ke arahnya.


"Fan, tolong bantu Cinta," pinta Sisi sembari mensejajari Dafan.


Dafan tak membalas. Ia hanya menepuk pundak Sisi lalu mendekati ranjang Cinta dan mengecek tanda vitalnya.


"Anak ini kenapa?" tanya Dafan.


"Aku nggak tahu, Fan. Tadi anak ini nyari alamat lalu pingsan."

__ADS_1


"Ya sudah kamu tunggu saja di sana. Jangan panik. Coba hubungi keluarganya," ujar Dafin lalu kembali memeriksa Cinta.


Sementara Sisi, menurut. Kepanikannya seketika reda saat melihat betapa telaten dan cepat Dafan menangani Cinta. Ia duduk di pojokan dengan mata tertuju pada pria itu.


Dan air matanya pun menetes, menetes tanpa ia sadari. Melihat Dafan ia benar-benar melihat Dafin. Tentu saja membuat rasa rindu untuk sang mantan makin membesar.


Menghela napas, Sisi menghapus jejak air mata lalu mencoba mengecek tas yang dibawa Cinta. di dalamnya terdapat beberapa uang pecahan lima puluh ribu dan ponsel.


Gagas Sisi menekan nomor satu di ponsel itu dan terpampanglah nama "ayah" di sana.


"Cinta kamu ke mana, Sayang. Papa nyariin kamu," cecar seorang pria yang ada di seberang sana. Terdengar panikan dan putus asa.


"Maaf, Pak. Saya bukan cinta. Saya yang menemukan Cinta. Anak Bapak pingsan di tepi jalan," balas Sisi.


"Apa!"


Teriakan dari seberang telepon sontak saja membuat Sisi menjauhkan benda itu dari telinga.


"Katakan, rumah sakit mana?" tanya pria itu lagi—masih dengan suara nyaring.


Menit demi menit berlalu begitu lambat. Kini Sisi berada di ruang VIP rumah sakit dan melihat Cinta yang sedang terbaring dengan jarum infus menancap pergelangan. Tatapannya sendu. Ia rapikan poni Cinta yang berantakan.


"Pasti rasanya sakit. Bertahan ya Cinta. Kakak harap kamu cepet sadar. Papa kamu dalam perjalanan ke sini," ujar Sisi lirih. Matanya kembali berkaca-kaca lagi sebelum akhirnya suara pintu mengagetkan, Sisi menghapus air matanya lalu menoleh ke belakang, tampak Dafan mendekat dan diikuti dua orang perawat.


"Apa kamu sudah menghubungi orang tuanya?" tanya Dafan saat ia sudah berdiri di sebelah Sisi dan membenarkan aliran cairan infus.


Sisi mengangguk lalu berdiri juga. "Sudah Fan. Aku udah ngasih tau orang tuanya. Mungkin sebentar lagi dia datang," balas Sisi. Helaan napas mengikuti kalimat terakhirnya.


"Kamu nggak usah khawatir. Anak ini baik-baik aja. Dia cuma dehidrasi, kelelahan dan kurang istirahat. Jadi aku pikir dengan beristirahat sebentar dia akan pulih," terang Dafan. Ia lalu melihat Sisi. Gadis itu bergeming dengan bola mata bergerak liar.


Dafan yang melihat raut wajah sedih Sisi memberi kode pada dua perawat yang ada di belakang agar keluar. Ia ingin bicara tentang hal pribadi pada Sisi.


"Sisi, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Dafan setelah dua perawat itu pergi.

__ADS_1


Sisi yang awalnya menatap lekat Cinta pun mulai memalingkan wajah. Ia kini menatap Dafan, heran. Sedetik kemudian mengangguk juga.


"Kita duduk di sana," ujar Dafan lagi seraya menunjuk sofa.


__ADS_2