
Di sebuah restoran. Chandra tampak duduk gusar menunggu sang sekertaris datang. Ia bahkan telah menghabiskan dua cangkir kopi.
Berdesis, Chandra terus saja memperhatikan pintu masuk. Sementara orang-orang juga memperhatikannya tak kalah serius. Serasa alien. Orang-oramg menatap tanpa berkedip. Bahkan ada yang menggeleng dan menarik sebelah ujung bibir. Tampak menghina dan menganggapnya gila. Lagian siapa yang bisa mengerti dengan penampilannya saat ini? Berpakaian serba hitam di cuaca yang mulai terik.
Beruntung yang ditunggu tiba. "Nah, akhirnya dateng juga." Tersenyum lega, Chandra angkat tangan kanannya seraya memanggil nama sang sekretaris dengan lantang.
Ara mengernyit, tapi ia dekati juga sosok pria aneh yang memanggilnya. "Anda siapa?"
"Saya bos kamu." Chandra buka sedikit maskernya. "Ayo cepat duduk. Temenin saya. Saya udah ngerasa kayak topeng monyet di sini."
Bergeming sekejap. Ara pindai secara keseluruhan penampilan Chandra. Tampak aneh, sebuah pemandangan yang membuatnya kesusahan meredam tawa. "Bapak ngapain pake kostum begituan. Mau akting atau bagaimana?" Mendaratkan pantat di kursi, Ara tampak mengangkat sebelah tangan—hendak memesan minuman pada karyawan yang tengah berdiri di pojokan ruang restoran itu.
"Berdecak kesal, Chandra membuka masker secara keseluruhan dan menyeruput minumannya. "Ini 'kan karena kamu. Kamu yang ngasih saran buat masrahin diri agar digebukin."
Tawa Ara akhirnya pecah. Melihat sang bos mengikuti saran konyol darinya lumayan menyisakan rasa bangga dalam diri. Di dunia ini mungkin hanya dia yang biasa buat sang pemimpin perusahaan babak belur hanya dengan satu kali saran. "Bapak aneh. Besok-besok bikin kesalahan lagi, Pak. Saya jamin dan yakin Bapak gak mungkin hidup," celetuk Ara.
Chandra kembali berdecak. "Mana laporan yang kemarin."
"Ini."
Ara keluarkan sebuah laptop dan beberapa berkas. Menatanya di atas meja lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling. Suasana restoran yang tenang lumayan membuat nyaman. Diperhatikannya wajah serius Chandra. Apa aku jujur sekarang aja? Tapi kalau dia gak terima gimana? Aku bakalan dipecat. Tapi ... kalo gak dikasih tau dia gak bakalan tau.
Manarik napas panjang, Ara memantapkan hati.
"Pak Chandra." Ara memanggil dengan hati-hati. Meski terlihat bersahabat, Chandra tetaplah bos yang memegang kendali penuh atas gajinya.
"Apa? Katakan saja," jawab Chandra. Sementara mata masih saja menatap layar laptop yang Ara bawa.
"Kalau boleh tau kira-kira kapan bapak bisa masuk kerja?"
__ADS_1
Chandra melirik sekilas Ara lalu kembali menatap layar laptop dengan tangan kanan memegang dagu. "Saya belum tau. Tapi saya usahakan secepatnya. Mungkin seminggu lagi. Tunggu saja, emangnya kenapa?"
Ara tampak kebingungan. "Enggak. Cuma ...."
"Apa?" Chandra mulai serius menatap Ara.
"Saya boleh usul sesuatu?"
"Apaan? Ngomong aja. Jangan berbelit-belit."
"Kenapa Bapak gak mempekerjakan satu asisten lagi?"
Alis Chandra tertaut. "Kenapa? kamu ngeluh kerja sama saya? Apa karena masalah Litania?" tanyanya sedikit menohok.
"Bukan, Pak. Masalah istri Bapak saya gak terlalu mikirin. Kan sudah ada perjanjian."
"Lalu, kenapa sekarang kamu minta saya mempekerjakan asisten? Kamu tau 'kan saya orangnya susah percaya sama orang asing. Asisten kebanyakan nusuk dari belakang. Saya gak mau ambil resiko itu." Wajah Chandra sedikit berbeda. Usulan Ara lumayan melukai harga diri. Seolah-olah dia adalah diktator kejam yang memerah habis tenaga karyawan.
"Emangnya tugas dari saya berat banget."
"Berat banget sih enggak. Cuma waktu saya main sama keluarga dan anak jadi gak ada. Kalau Bapak punya asisten pribadi, saya jadi bisa sedikit lega. Bisa berbagi beban. Saya urusi masalah kantor. Dan asisten Bapak bisa urusi masalah yang lain."
"Tapi bukannya gaji kamu saya lebihin. Wajar dong kalau kamu bekerja urusan kantor dan luar kantor," kilah Chandra lagi. Ada sedikit rasa jengkel kala sang sekretaris mengeluarkan unek-uneknya itu.
"Kalau Bapak tetap gak mau mempekerjakan asisten, saya mengajukan surat pengunduran diri aja deh."
"Lah ya jangan." Chandra tampak gusar. Diperhatikannya wajah memelas Ara. Kalau dia berhenti kerja bakalan repot ini. Ara ini setia. Dia profesional. Ya walaupun dia kadang pelupa, tapi tetep aja susah nyari sekretaris sebaik dia, batinnya.
Mengembuskan napas panjang. Chandra mengangguk sekali lalu merebahkan punggung di sandaran kursi. "Oke, nanti saya pikirin lagi. Lagian tumben kamu protes begini. Kamu kerja sama saya 'kan udah lama. Udah jalan enam tahun. Dari saya masih jadi wakil papa sampe sekarang."
__ADS_1
"Dulu beda, Pak. Dulu kerjaan saya gak sebanyak ini. Sekarang lebih terasa repot. Lagian Bapak aneh ih. Posisinya yang di bawah Bapak saja pake asisten pribadi loh. Masa Bapak enggak."
***
Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, Chandra terus saja memikirkan usulan Ara. Asisten? Sungguh posisi yang rawan. Rawan ditusuk tapi juga sangat membantu pekerjaan. "Ah, sial. Aku harus cari asisten yang setia di mana? Apa aku harus minta rekomendasi Irwan. Tapi dia aja pernah ditusuk supirnya sendiri. Hmm ... makin rumit saja."
Tanpa diduga sebuah ringtone membuyarkan pandangan. Terpampang nama Irwan di head unit yang terpasang di mobilnya. "Panjang umur ni orang." Terkekeh sejenak, Chandra sentuh monitor yang ada di dekat setir mobil.
"Kenapa? Tumben nelpon?" tanyanya to the point.
"Idih nge-gas aja."
Terdengar kekehan renyah dari seberang telepon. Membuat Chandra sedikit kesal kemudian berdecak. "Cepetan ngomong. Gue lagi nyetir ni."
"Iya, iya. Sekarang lagi di mana? Bisa ketemuan gak? Kebetulan sekarang gue lagi di Jakarta."
"Ya udah, kerumah mama aja. Tunggu di sana.
***
Memegang tangan sang nenek, Litania memasang wajah memelas. "Nenek beneran nggak mau ikut aku ke sana?"
Sita menggeleng. "Iya. Nenek di sini aja."
"Tapi Nek, nanti Nenek sendirian. Kalau ada apa-apa gimana?" Lagi, Litania mulai merengaek. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Meninggalkan sang nenek sendirian lumayan meresahkan. "Ikut kami aja deh, ya ya ya."
"Gak akan ada apa-apa, Litan." Menggenggam tangan Litania, Sita pandangi wajah cantik Litania dan Chandra seraya mengukir senyuman. "Nenek baik-baik aja. Nenek masih sehat. Jadi jangan khawatir."
"Tapi, Nek—"
__ADS_1
"Udah ah, jangan bahas ini lagi. Kalau Nenek ada waktu nanti Nenek main ke sana. Yang penting kamu sama Chandra akur. Jangan berantem mulu. Ingat, berumah tangga itu pasti ada gonjang-ganjingnya, cobaannya. Nenek harap kamu lebih dewasa dalam menyikapi. Jangan dikit-dikit kabur jangan dikit-dikit minta cerai. Itu enggak baik, Sayang."
Mengalihkan mata pada Chandra Sita pun kembali berkata, "Dan kamu ... inget, jangan bikin kesalahan lagi. Paham!"