Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Jujur


__ADS_3

Kinar nyengir kuda, ia lepas tangan Arjun dan menatap dinding gedung yang kebetulan terbuat dari kaca besar. Bahkan karyawan yang berlalu lalang di bawah sana terlihat sangat jelas. Mereka membisu, Kinar asyik dengan pikiran sendiri sedangkan Arjun menunggu. Bagaimanapun ia butuh penjelasan. Apakah wanita itu telah melupakannya?


"Aku gak pernah sekali pun ngelupain kamu, Arjun." Suara Kinar lirih, desahan napas terdengar jelas. "Aku berjuang mati-matian buat bertahan di sana. Alasan aku gak ngubungin kamu karna aku takut bakalan makin rindu dan berakhir balik lagi ke sini. Aku yakin kamu gak suka itu."


Arjun masih diam, perasaan mendadak tak enak karena telah menuding wanita itu.


"Aku di sana berusaha keras agar bisa menjalani hidup dengan semangat yang melayang-layang. Apa kamu tau, rasanya begitu gak nyaman, aku gak tenang. Aku takut kamu menikahi gadis lain."


"Lah, bukannya wajar kalau aku menikah? Aku pria dewasa, Kinar. Umurku sudah hampir 30 tahun," ketus Arjun.


Kinar mendesah lagi. Kini tubuh ia putar dan menatap lekat wajah Arjun yang masih terlihat marah. Rahang mengetat tanpa mau melihatnya. "Waktu itu, kamu bilang kamu perlu waktu untuk membuktikan sesuatu." Kinar menjeda kata dengan hati-hati. "Apa sekarang kamu sudah punya jawabannya," lanjut Kinar penuh selidik.

__ADS_1


Arjun masih bungkam hingga pikiran gadis itu bergerak ke sisi kiri—negatif.


"Apa sama sekali kamu gak kangen aku? Apa aku sama sekali gak pernah muncul di benak kamu? Apa kamu sama sekali gak tertarik sama aku? Coba kamu lihat. Aku udah cantik sekarang. Aku bukan gadis norak lagi. Apa kamu gak pangling liat penampilan baruku?"


Arjun masih diam. Kinar pun mendesah makin panjang.


"Padahal aku udah berusaha tampil cantik kayak Abigail Breslin demi kamu," lirihnya dengan mimik wajah kecewa.


Namun, lagi-lagi Arjun tak merespon. Menoleh saja tidak. Kinar makin berkecil hati. Wanita itu menunduk. Air mata menetes tanpa sadar. Berpikir kalau Arjun tak menganggapnya sebagai wanita.


"Kamu cantik, Kinar," ucap Arjun pelan.

__ADS_1


Kinar kaget, matanya melotot memandang Arjun yang masih di posisi semula—menatap halaman kantor. Pria itu mematung dengan mimik wajah datar, seakan-akan ucapannya itu bukanlah hal besar. Padahal efeknya begitu luar biasa pada tubuh Kinar.


"Aku kangen kamu, aku gak pernah berhenti mikirin kamu. Aku hampir gila karena gak bisa ngubungin kamu." Jeda sejenak, Arjun pandang wajah sayu Kinar. Senyuman pun terukir. Gemas melihat ekspresi terkejut gadis itu. "Kamu sukses bikin duniaku kacau, tapi aku tak keberatan dengan itu. Aku kangen kamu, Kinar."


"Beneran?"


Sumpah, demi apa pun. Tabuhan dalam dada Kinar bertabuh makin gila. Ia tersenyum girang. Ingin rasanya berteriak lantang mengatakan kalau perasaan kini tengah senang. Namun, ia coba redam keinginan itu agar Arjun tak kaget dan berakhir menyesal.


"Iya, aku kangen kamu. Semenjak kamu pergi aku baru sadar kalau aku memang menyukaimu. Aku sepertinya sudah termakan rayuanmu, Kinar. Lamaran kamu terngiang terus ke telingaku." Arjun terkekeh, ia pegang kedua belah tangan Kinar dan menggenggamnya erat. "Jangan pergi lagi, tetaplah di sini. Ganggu aku dan rayu aku. Aku kangen itu," lanjutnya seraya tersenyum tulus.


Lagi, Kinar tak percaya, kata-kata manis itu keluar langsung dari mulut Arjun. "Kamu gak bercanda, 'kan?"

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote. Hehehe.


***


__ADS_2