
Duduk sandaran di kursi balkon rumah, Chandra melihat langit terang dengan tangan menempel di dahi. Matanya fokus ke depan dengan pikiran yang melanglang buana entah ke mana. Menahan rindu serta memikirkan jalan keluar untuk rumah tangganya. Sebuah ujian mendera kala hubungan lagi sayang-sayangnya.
Mendesah panjang, Chandra angkat dari posisi rebahan dan berdiri memegang pembatas balkon. Terlintas jelas wajah masam serta umpatan Litania. Ingatan yang membuatnya menyesali keputusan untuk merahasiakan Rania juga Chandira. "Ah, andai aja aku jujur dari awal, mungkin dia gak semarah ini. Mungkin dia mau ngerti."
Helaan napas panjang kembali menengahi keheningan hingga suara derap kaki merasuk ke indra pendengaran Chandra. Pria berwajah kusut itu menoleh ke arah pintu dan mendapati sang mama yang menggendong Chandira tengah mendekat.
"Mama mau bicara" Lita bersuara datar. Ia duduk di sofa panjang dan memperhatikan punggung Chandra dengan seksama. Sekilas ada jejak kesedihan di bola matanya. "Duduklah, Mama gak akan menyita banyak waktumu."
Mengikuti instruksi tanpa berniat menjawab, Chandra rebahkan diri di sebelah Lita. Sementara mata menatap Chandira yang tengah memegang biskuit dengan mulut yang sedikit belepotan. Gadis imut itu berbinar menatapnya dengan senyum yang mengembang hingga giginya yang putih tampak tersusun rapi.
"Daddy ... Daddy Daddy ...."
Anak itu memanggil dengan bertepuk tangan. Ia melompat-lompat di pangkuan Lita. Sebuah celotehan dan pergerakan yang membuat Lita tanpa sadar meneteskan air mata.
"Apa kalian bener-bener gak bisa sama-sama. Anak ini masih kecil, Chandra. Kasian kalau harus hidup terpisah dari orang tuanya."
Terenyuh, Chandra mendadak merasa sesak. Pertanyaan sang mama lumayan membuatnya merasa menjadi anak sekaligus ayah paling bejaad sedunia. Bagaimana tidak? Ia melakukan kesalahan tetapi Chandira yang akan menderita.
"Entahlah, Ma. Aku gak tau. Aku mencintai Litania bahkan sudah dari dulu. Rasanya aku gak rela jika harus ngelepasin dia. Aku gak sanggup, Ma. Aku bisa gila." Chandra alihkan matanya—kembali menatap langit.
"Apa maksudnya itu? Bukankah dari awal kamu menentang pernikahan ini?" Mata Lita membulat. Pernyataan sang anak lumayan membuatnya berpikir jahat. "Apa jangan-jangan kamu—"
"Iya, Ma. Aku memang sudah menyayanginya sejak dia kecil."
__ADS_1
"Chandra!" Lita membeliak. Ia pukul bahu tegap anaknya itu. "Apa kau gila!"
Tanpa berniat menghindar, Chandra hanya pasrah kala pukulan tak seberapa kuat sang mama menghantam tubuhnya. "Tapi aku bukan penjahat, Ma. Aku hanya menyukainya dan gak pernah melanggar hukum. Aku tau batasan. Aku masih waras."
"Lalu bagaimana dengan Rania? Bagaimana dengan Chandira? Kenapa kamu jadi egois gini sih, Chan. Kamu tega gitu biarin Chandira hidup tanpa punya ayah?" Lita melemah. Ia rebahkan punggung di sandaran sofa. Menatap Chandira yang tengah tersenyum padanya. Tanpa terencana bulir air matanya meluruh. Membayangkan sang cucu hidup tanpa sosok ayah. "Kasian dia," lirih Lita lagi.
Menjambak rambut sendiri, Chandra mengerang samar. "Lalu aku harus apa, Ma?! Aku tau Chandira perlu aku. Tapi aku perlu Litania untuk hidup. Malam itu terjadi karna aku melihat ada sosok Litania dalam diri Rania. Jadi aku hilang kendali, Ma."
Mengembuskan napas yang terasa sesak, Lita melemah pasrah. Ia pijit pelipisnya yang nyeri. "Mama juga gak tau. Kalau bisa, Mama ingin Litania dan Rania jadi mantu Mama."
****
"Sebenarnya kamu gak perlu bawa Nenek ke rumah sakit. Nenek 'kan sudah bilang, kalau Nenek cuma meriang biasa. Nah, kalo udah kayak gini siapa yang repot. Nak Bian lagi, 'kan?" Sita bersungut, dirinya yang tak sengaja pingsan langsung dibawa paksa Litania ke rumah sakit. Padahal setelah dicek, dirinya hanya mengalami anemia.
"Ya, aku 'kan panik, Nek. Wong tadi pagi Nenek nyebut-nyebut mati. Aku takut kalau Nenek pergi ninggalin aku." Litania peluk erat lengan sang nenek, mengusap punggung tangannya kemudian melanjutkan kata, "Kalau Nenek gak ada aku sama siapa? Jadi, Nek. Kalau lagi gak enak badan jangan jualan dulu. Istirahat sehari dua hari gak bakalan kita jadi pengemis, kok."
Terkekeh pelan, Sita usap kepala Litania yang menjadi sasaran kekesalannya barusan. Di satu sisi ia paham maut pasti menjemput, tetapi juga belum siap pergi meninggalkan sang cucu yang suka berulah. Ia alihkan matanya pada seseorang yang ada di balik kemudi. "Makasih banyak loh, Nak Bian. Kamu lagi-lagi direpotin sama Litania."
Melihat Sita dari pantulan cermin, Fabian mengulas senyuman. "Gak pa-pa, kok, Buk. Kebetulan tadi kita lagi sama-sama."
Namun, sedetik selanjutnya senyum Fabian sirna kala melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah Litania. Tampak seorang laki-laki tengah sandaran di pintu mobil dengan rokok di tangan.
"Kayaknya ada tamu," ucap Fabian seraya menepikan mobilnya. Ia toleh wajah Litania yang sudah terlihat masam. "Itu suami kamu, 'kan?"
__ADS_1
Tak berniat menjawab, Litania hanya berdengkus. "Bisa tolong anterin Nenek masuk? Aku ada urusan," ujarnya tanpa basa-basi.
Keluar dari mobil, Litania berjalan mendekati sosok itu. Orang yang ia sayang sekaligus benci.
"Untuk apalagi, ke sini! Mau cari ribut?! Ayo, maju!" Litania gulung lengan panjang hoodie yang ia kenakan. Menatap penuh kebencian pada lelaki yang tak lain adalah suaminya sendiri—Chandra.
"Ayo cepat!" lanjutnya lagi yang sudah berancang-ancang—kaki terbuka lebar dengan tinju mengepal kuat.
Namun, tanpa Litania duga, Chandra malah membuang rokok yang ada di tangan dan berjalan cepat ke arahnya. Meraih tubuhnya dengan erat. Mengalungkan tangan dengan kuat meski Litania meronta. "Aku kangen. Pulang, ya?"
"Kamu gila! Lepasin gak!"
Bergeming, Chandra abaikan teriakan serta cacian Litania. Dadanya menggila karena menahan rindu. Sementara kesempatan tak mungkin datang dua kali.
Makin mengeratkan pelukan, Chandra berucap lirih, "Maafkan aku. Kita pulang, ya?"
"Kau benar-benar stres. Bagaimana dengan anakmu?!" Litania menggeram. Gadis itu terus saja meronta dengan mendorong dada bidang Chandra. "Apa kau tau rasanya hidup gak punya orang tua?! Rasanya kayak di neraka!"
"Tapi aku gak bisa hidup tanpa ka—"
Membelalak, Chandra begitu kaget hingga tak bisa menuntaskan lisan. Terlihat jelas seseorang keluar dari mobil dan memapah nenek Litania untuk masuk ke rumah. Situasi yang membuatnya lengah. "Sayang, siapa laki-laki itu?"
Tak berniat menjawab, Litania injak kaki Chandra hingga pelukan otomatis terlepas. Pria itu kembali merintih dengan menekuk satu kaki.
__ADS_1
"Dia pacar baruku." Litania berdusta. Senyuman miring menghiasi wajah masamnya. Ia tatap nyalang Chandra yang masih meringis.
"Kamu aja bisa punya anak, kenapa aku gak bisa punya pacar." Litania dekati tubuh kaku Chandra kemudian berbisik, "Lebih baik sekarang kamu pulang. Aku enek liat muka orang egois."