
Dafan menahan taksi. Bergegas ia masuk dan menarik napas lega. Namun, belum taksi berjalan, pintu mobil mendadak terbuka dan masuklah gadis yang sangat ingin ia hindari.
"Nara!" Mata Dafan terbuka lebar, "kamu ngapain ke sini?" tanyanya kemudian.
Sungguh, ia tak menyangka jika gadis itu menemukannya dengan cepat.
Tanpa mau menjawab, Nara si gadis imut berpenampilan seksi tersenyum semringah kepadanya dan langsung menyerang. Menciumi semua wajah Dafan tanpa sungkan. Tak memedulikan pandangan pak sopir maupun penolakan Dafan. Ia terus saja melayangkan ciuman bertubi-tubi di pipi pria idolanya itu.
"Aku kangen, kamu kenapa lari, sih?" tanyanya setelah selesai melepaskan semua serangan maut.
Gimana aku gak lari kalo dikejer beruang betina kek kamu. Batin Dafan bermonolog dongkol. Ia hanya bisa mendesah pasrah seraya menyandarkan punggung yang lelah di jok mobil. Rasanya percuma berlari karena pasti akan tertangkap lagi oleh Nara. Gadis itu terlihat lebih bersemangat dari dua tahun yang lalu.
"Nara. Bisa gak duduknya jangan deket-deket. Gerah ini," ujar Dafan seraya mendorong kepala Nara. Namun, kepala gadis itu bak pegas yang lagi dan lagi kembali ke tempat semula. Gadis itu bahkan sengaja memejamkan mata dan mengabaikan penolakan yang Dafan berikan. Dafan jadi frustrasi. Ia usap wajahnya yang gusar dengan sebelah tangan.
"Biarin, salah sendiri kenapa tadi kabur?" sungut gadis itu dengan bibir yang masih tersenyum. Aroma tubuh Dafan bagai candu. Wangi lavender yang sangat ia rindukan.
"Gimana, Mas? Apa kita bisa langsung jalan?" tanya sang sopir memastikan karena ada penumpang ilegal seperti Nara.
"Tunggu dulu, Pak," cegah Dafan lantas melihat Nara yang hanya kelihatan pucuk kepalanya saja. Ia goyang bahunya hingga gadis itu mendongak dengan mata berbinar.
"Kenapa? Sayang aku mau di sun lagi?" tanya gadis itu, genit. Matanya berkedip-kedip. Ia hendak melancarkan aksi tapi keburu Dafan membungkam bibirnya dengan telapak tangan. Ia bersungut-sungut dengan bibir manyun dua senti.
"Jangan ganjen. Mending sekarang kamu keluar. Kalau kamu ke sini mobil kamu siapa yang bawa?" ketus Dafan. "Entar orang tua kamu nyariin. Sana pulang!"
"Ish! Cuma mobil. Asal kamu tau, mobil bukan penghalang buat aku melepas rindu sama kamu. Lagian aku ke sini tadi minta antar supir, kok," jawabnya enteng.
Dafan mendesah lagi. Ia kehabisan cara untuk mengusir Nara.
"Jadi bagaimana, Mas?" tanya sopir itu lagi.
__ADS_1
Dafan cuma bisa berdeham. Rasanya tak bertenaga lagi untuk bicara. Matanya melihat keluar jendela.
Mobil pun melaju.
Sepanjang perjalanan semuanya bungkam, hanya terdengar radio menemani perasaan kesal Dafan. Gadis yang duduk di sebelahnya bak lem yang menempel tanpa mau mengendurkan pelukan. Dafan jadi resah plus gerah.
"Nara, bisa gak ini kepala kamu lepasin dulu. Malu diliatin supirnya," ucap Dafan lagi. Ucapan yang sontak saja membuat gadis keras kepala itu membuka mata. Dan benar adanya, mata pak sopir melihat mereka dari kaca tengah mobil.
"Pak," panggil Nara tanpa melepaskan rangkulan.
Orang yang dipanggil langsung mengangguk. "Iya, Neng ada apa?"
"Bapak sudah nikah?"
"Sudah, Neng. Saya udah punya anak dua," jawab pak sopir yang memang sudah paruh baya.
"Kalau gitu Bapak pasti pernah muda, 'kan?"
"Kalau begitu, abaikan kami dan fokus saja menyetir. Biarkan aku melepas rindu sama pangeran tampanku ini. Lagian kami bukan pasangan mesum, kok. Dia ini jodoh aku," paparnya tanpa malu. Sebuah penjelasan yang membuat si sopir tersenyum kikuk.
Namun tidak untuk Dafan, pria calon dokter itu rasanya begitu muak dengan sikap Nara. Ia lepas paksa tangan Nara dari lengannya. "Jangan mengada-ada. Aku bukan jodoh kamu. Jadi jangan kepedean. Lagian dari mana kamu tau kita berjodoh. Jodoh itu murni rahasia Tuhan."
"Ya tau, dong. Kamu itu jodoh aku. Bunda kamu dan mama aku yang bilang. Kita itu udah dijodohin dari dulu. Jadi pliase ya ... jangan lari dari kenyataan. Sekarang kamu itu harus tanggung jawab sama aku."
"Tanggung jawab? Dari segi mana aku merugikan kamu. Yang ada kamu yang mengganggu. Aneh," kesal Dafan. Tangannya sudah bersedekap. Andai Nara bukan anak dari sahabat sang ibu serta kolega bisnis ayahnya, ia pasti akan memaki gadis ganjen di sebelahnya itu sejak lama. Karena hubungan baik antar kedua keluarga ia berakhir menahan segalanya.
Heran, padahal Om Arjun dan Tante Kinar gak gini kelakuannya. Ngikutin siapa sih dia. Dasar aneh. Batin Arjun bermonolog lagi. Ia dongkol sungguh dongkol.
"Lagian ya. Ini jaman bukan jaman Siti Nurbaya. Gak ada istilah jodoh-jodohan. Aku juga udah lama menolak perjodohan ini. Dan orang tua kita juga udah sepakat kalau perjodohan batal. Jadi gak ada alasan buat kamu gangguin aku. Paham."
__ADS_1
"Ya gak bisa gitu juga dong. Lagian aku udah terlanjur sayang. Aku harus gimana? Pokoknya kamu harus tanggung jawab karena kamu udah nyuri hati aku. Karena kamu, aku udah gak punya hati lagi untuk dikasih ke laki-laki lain," balas Nara dengan suara sok manja. Ia dusel-dusel dada Dafan, gemas, lalu mendongak. "Dafan, kita nikah, yuk! Aku gak apa-apa, kok, kalo putus sekolah."
Sedeng! Ni anak gak bisa dibiarin. Aku harus kasih tau orang tuanya. Kelakuannya ini meresahkan. Batin Dafan dongkol.
"Mau, ya? Aku siap kok berbakti sama kamu. Jiwa raga aku hanya untuk bahagiain kamu," lanjutnya lagi.
Perkataan nyeleneh yang membuat hati Dafan makin panas. Ia toyor kening gadis itu.
"Bisa gak sih otak kamu ini dibenerin. Ngomong kok ngawur. Lagian aku itu lebih tua. Harusnya kalo manggil itu sopan dikit. Kamu itu masih kecil. Sekolah dulu."
"Siapa yang ngawur, sih? Aku kan ngomongin fakta. Kamu itu jodoh aku. Lagian ya, dalam rumah tangga istri dan suami itu sama. Jadi wajar dong aku panggil kamu nama," balas Nara dengan mengedipkan mata. Ia kembali merangkul lengan Dafan. Dafan mendorong, tapi Nara makin kuat memeluk. Pria itu berakhir menyugar rambutnya dengan kasar.
"Dafan. Kamu jangan pergi lagi, ya. Aku gak bisa nahan kangen."
***
Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore tapi kedua anak tersayangnya belum juga sampai rumah. Litania gelisah. Ia mondar-mandir di depan pintu seraya berkali-kali melihat jam tangan. Rasa rindu pada si sulung membuatnya tak bisa berdiam diri dan menunggu. Ia ingin sekali segera melepas rindu.
"Kenapa mondar-mandir?" tanya seseorang dari arah belakang. Suara yang Litania hapal milik sang pemilik hati. Ia menoleh dan tampak pria beruban dengan kacamata di hidung datang mendekat. Prianya masih terlihat gagah meski usia tak muda lagi.
"Aku nungguin anak-anak," balas Litania lalu kembali melihat pagar.
"Nunggunya di dalam aja." Chandra mensejajarkan diri. "Di sini dingin. Anginnya kencang, jadi ayo kita masuk," lanjutnya seraya memegang tangan Litania.
Akan tetapi, Litania yang masih resah melepaskan genggaman. Ia mengukir senyuman. Di usia yang sudah 43 tahun ia cenderung tenang dalam segala hal.
"Kamu aja dulu, aku mau nunggu di sini. Aku khawatir sama mereka."
"Kenapa khawatir? Mereka udah dewasa, Sayang. Mereka gak mungkin nyasar juga. Jadi ayo, kita nunggunya di dalem, hmm ...."
__ADS_1
"Aku takutnya mereka kenapa-napa di jalan," ujar Litania dengan mimik wajah yang masih sama—gelisah.
"Jangan mikir yang enggak-enggak. Kalaupun kenapa-kenapa pasti ada yang hubungin kita. Jadi jangan lebay gitu. Ayo masuk udah mau hujan." Chandra berucap seraya menggenggam kembali tangan Litania. Ia tuntun tanpa menunggu persetujuan. Istrinya itu kalau sudah menyangkut anak tak memikirkan diri sendiri.