
"Hahaha ...." Tawa Litania makin kencang. Ia pegang perutnya yang tegang karena tak bisa berhenti tertawa. Rahang sudah terasa terik, bahkan air sudah tertumpu di pelupuk mata. Sumpah! Wanita hamil itu tak bisa meredam tawa. Cerita masa lalu Chandra dan gaya sang mama menceritakan membuatnya tak bisa berhenti terbahak.
"Litan beneran nggak nyangka loh, Ma, Bang Candra kayak begitu waktu kecilnya. Pasti gemesin," ucap Litania seraya menyeka air di ujung matanya. Napasnya mulai terengah, engap, karena tak berhenti tertawa.
"Idem," ucap Lita, "tapi semakin dia gede, semakin nampak kebesaran hatinya. Kedewasaannya mulai ada saat dia SMP. Dia gak pernah bikin masalah. Bergaul sih bergaul, tapi dia kayanya gak mudah terpengaruh. Mama sama papa bangga sama dia. Prestasinya banyak. Dari cerdas cermat tingkat sekolah sampe nasional. Anak itu otaknya encer. Nurunin papanya."
Litania manggut-manggut. Percaya akan ucapan mama mertuanya. Melihat dan mengingat betapa tenang suaminya ketika menghadapi masalah. Baik masalah keluarga maupun perusahaan.
"Mama bukan mau bangga-banggain dia. Cuma emang kenyataannya begitu, tu anak kalem, nggak yang neko-neko, nggak yang nakal kayak remaja lainnya. Chandra itu dari kecil udah kelihatan ambisius, tapi untungnya nurut sama Mama. Jadi papa percaya penuh sama dia."
"Ya, calon generasi hebat," celetuk Litania. Ia usap perutnya seraya membatin. Moga nanti kalian gitu ya. Nurut sama bunda. Kalau kalian membangkang, Bunda gak tau bakalan jadi apa kalian. Mungkin perkedel kentang, atau perkedel tahu. Litania tarik ujung bibirnya. Pokoknya kalian harus nurut, kalau gak nurut, Bunda kutuk jadi Siwon.
Senyum Litania kembali terukir. Ia perhatikan wajah sang mertua dari samping. Wanita hebat itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Melihat tanaman hias yang tertata rapi di taman. Namun, helaaan napas panjang terdengar. Wajahnya mendadak murung lalu tertunduk.
"Mama kenapa? Sakit?"
"Enggak, Mama cuma mengenang masa lalu, Sayang. Chandra itu kebanggaan Mama sama papa. Anak semata wayang. Mama pernah berusaha untuk hamil lagi, tapi gagal terus. Jadilah cuma Chandra yang tercipta. Kami sayang sama dia. Seluruh perhatian dan nasehat selalu kami sampaikan biar dia gak hanya pinter ilmu, tapi juga berakhlak. Tapi, tetep aja. Kita berencana, Tuhanlah yang menentukan. Walaupun dia hebat begitu, dia tetap punya belang. Mungkin sempurna di mata orang lain, tapi gak ada manusia yang sempurna, Litan. Pasti ada celahnya, ada boroknya."
"Maksud Mama?" Litania masih tak paham.
__ADS_1
"Chandra sama Rania."
Ucapan singkat Lita menyadarkan. Litania tertegun, lalu matanya beralih ke Chandira. Kini helaan napasnya yang terdengar lirih.
Lita peluk sang cucu lalu mengecup pucuk kepalanya. "Tapi, bagi Mama, anak kecil ini nggak salah. Chandira ini murni, mahluk paling suci. Bayi mungil yang gak boleh kita sia-siakan. Justru yang salah itu mommy sama daddy-nya."
Menggenggam tangan Litania, Lita menatap sendu. "Makasih banyak, Sayang. Kamu udah mau maafin Chandra. Mau nerima Chandira di kehidupan kalian ini. Mama nggak tahu caranya berterima kasih sama kamu. Kamu itu bidadari."
Litania terkekeh. Pujian sang mama terdengar berlebihan. Mana ada bidadari barbar seperti dirinya. "Mama suka ngelebihin sesuatu, deh. Litan maafin Bang Chandra karena memang cinta sama dia. Persis yang mama bilang tadi, manusia itu nggak ada yang sempurna. Apalagi untuk manusia kayak Litan ini. Masa iya minta suami yang sempurna. Mustahil lah dikabulin Tuhan.
"Lagian Litan juga bersyukur Mama Lita jadi mertuanya Litan. Litan udah lama nggak pernah ngerasain apa itu kasih sayang orang tua. Dari Mama sama papa, Litan ngerasain lagi, bagaimana hangatnya perlakuan dan perlindungan orang tua."
Lita mengangguk, matanya yang keriput mengeluarkan air sekarang. Di belainya pipi Litania yang juga sudah ada jejak air mata. "Kamu jangan ngomong kek begitu. Jangan sedih. Orang tua kamu sudah tenang di sana. Mama janji, Mama bakalan jadi Mama kamu. Mama kandung dan bukannya Mama mertua. Bagi Mama kamu itu anak Mama, Litan. Bukan menantu."
"Ee buset! Kok melipir ke situ. Emang Mama sekejam itu apa?" Senyum Lita terukir, begitupula Litania. Hati rasanya hangat setelah saling jujur. "Pokoknya jangan pernah ada kata mertua jahat dan menantu durhaka di antara kita," lanjut Lita lagi. Celetukan yang sontak direspon Litania dengan gelak tawa.
"Kenapa aku keinget dengan iklan obat batuk ya, Ma," canda Litania. Perkataan yang langsung mencairkan suasana—tadinya sedih-sedihan kini sudah ada senyuman.
"Oh iya, Mama dengar kalian mau babbymoon?" tanya Lita mengalihkan obrolan.
__ADS_1
"Masih rencana, sih, Ma. Tapi enggak tau juga, jadi apa enggaknya kan lihat kondisi sama pekerjaannya di kantor."
"Udah, soal kantor serahin sama papa. Berangkat aja. Papa kamu pasti bisa meng-handle pekerjaan Chandra. Lagian selama ini nggak pernah ada masalah yang terlalu berat di perusahaan. Jadi, Mama minta kalian bersenang-senanglah di sana. Oke."
***
Hari H tiba. Litania sedang bersiap dan menghias dirinya di depan cermin. Gaun hamil sudah membalut tubuh. Rambut yang panjang sudah ia kucur ke belakang. Meskipun tengah hamil besar, ia tetap ingin tampil bersahaja dan muda.
Pintu di ketuk dua kali dan Litania mempersilakan orang yang mengetuk untuk masuk. Tampak sang nenek yang sudah semingguan ini tinggal dengannya, berjalan mendekat. Semenjak Sita menginap di rumahnya. Gadis itu semakin manja. Selalu ingin bersama setiap saat. Entah bawaan bayi atau emang dasar dirinya manja. Entahlah, rasa rindu yang menggunung dan ingin diperhatikan membuatnya betah berlama dengan sang nenek, Bahkan mengabaikan Chandra.
"Udah siap? Ada yang perlu Nenek bantu, gak?"
Litania menggeleng, wajah keriput Sita terpantul jelas dalam cermin. Wajah yang membuatnya berat untuk pergi. "Nenek beneran gak mau ikut? Ikut aja, ya. Temenin Litan. Kita seneng-seneng di sana. Nenek kan dulu pernah bilang pengen ke sana. Jadi ayok, ikut."
"Gak perlu, Litan. Nenek udah tua. Udah gak perlu liburan. Udah gak kuat juga jalan-jalan. Yang penting kamu dan suami kamu. Bersenang-senanglah di sana."
"Tapi, Nek—"
"Udah, jangan banyak membantah. Nurut kata Nenek. Nurut sama suami dan mertua. Jangan ngeyel."
__ADS_1
Menghela napas panjang, Litania angkat dari kursi dan membalik diri—menghadap sang nenek. Ia peluk erat tubuh ringkih Sita. "Nenek jangan ke mana-mana, ya. Tunggu sini. Litan cuma pergi beberapa hari aja, kok."
"Iya, Nenek gak bakalan pulang. Nenek akan nunggu kamu, di sini. Sudah, sana! Keluar, suami kamu udah nungguin dari tadi."