
Hening, Fia menunduk. Jemarinya saling tertaut. "Maafin Fia, Buk. Coba kalau dulu Fia gak ngotot kuliah, pasti keluarga kita punya pemasukan dari sewa tanah sawah. Dan bapak ... bapak gak bakalan sakit-sakitan. Fia ...."
Air mata gadis itu meluruh. Pedih mengingat masa lalu saat orang tua rela menjual beberapa petak tanah sawah demi biaya kuliah. Ia memang ber-otak cerdas, tapi keberuntungan tak berpihak padanya saat mengajukan beasiswa. Ia pintar, tapi lebih banyak manusia pintar di luaran sana. Demi menyelesaikan studi komputerisasi akuntansi yang dipilih, Fia bahkan rela bekerja part time jika memang punya waktu senggang. Namun kini, keluarganya makin mengenaskan.
"Fia ...."
Fia tersentak saat tangan hangat Marina menggenggam tangannya. Fia menoleh dan mendapati senyum terukir jelas di bawah lampu lima Watt.
"Bapak sakit bukan karena itu, Fia. Bapak sakit karena memang sudah tua. Penyakit ngilu tulang sama asma memang udah dari dulu ada. Semua orang tua yang memang bertani kebanyakan memang ini penyakitnya. Apalagi bapak kamu itu dulunya perokok aktif. Jadi jangan terlalu menyalahkan diri sendiri." Marina menarik napas panjang lalu mengembuskan. Sementara Fia, ia masih bungkam.
"Ibuk harap kamu jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Lagian bapak sama Ibuk gak pernah nyesel nguliahin kamu. Walaupun harta kami habis demi kamu, kami gak apa-apa, Fia. Kami tetep seneng karena kamu bisa bersekolah tinggi. Harapan Ibuk sama bapak nyekolahin kamu tinggi-tinggi biar kamu gak jadi petani. Cukup Ibuk sama bapak saja yang hidupnya susah. Kamu sama adik-adik kamu jangan. Kamu pintar Fia, sayang kalau cuma tamat SMA," jelas Marina dan helaan napas panjang menjadi akhirnya lagi. Ia tatap makin lekat sang anak sulung. "Bekerjalah yang bener Sayang. Jadilah karyawan yang jujur. Jangan sekali-kali kepikiran buat bermain curang. Uang bisa di cari, tapi kepercayaan susah di dapat."
Fia makin tertunduk. "Fia janji, Buk. Fia janji bakalan biayain Rima, Nia sama Ana sampai mereka lulus kuliah. Fia bakalan kerja keras biar bapak sama Ibuk gak harus ke sawah lagi."
Marina mengaminkan lalu kembali berkata, "Pesan Ibuk selama di sana jangan sekali-kali kamu bikin masalah ya, Fia. Di sana kamu tinggal sendirian, kalau bisa hindari yang namanya berkelahi apalagi sampai ke kantor polisi. Ibu gak mau terjadi apa-apa sama kamu. Kalau bisa tutup mata, tutuplah. Orang kecil seperti kita gak berhak mengadili orang lain."
"Iya, Buk. Fia paham. Fia akan berubah jadi lebih baik."
Dafin yang mendengar cerita Marina dan jalan hidup keluarga mereka menjadi sedikit tak enak hati. Belum lama bekerja ia telah beberapa kali memarahi Fia bahkan mengancam akan memecatnya. Setelah mengingat kejadian itu, Dafin mendesah lirih. Ia beranjak dari kursi ruang tamu hendak masuk kamar. Namun, saat melewati pintu teras tempat Fia dan Marina bicara, tangannya tak sengaja menyentuh vas bunga hingga jatuh.
"Siapa itu?" Suara Fia terdengar tegas dari balik pintu.
Dafin gelagapan. Tanpa pikir panjang ia pun menyahut, "Kucing ...." Lantas berlalu masuk kamar.
Degup jantung jangan di tanya lagi. Bertabuh hebat.
"Apa ini perasaan orang yang jadi maling? Eh, kenapa aku jadi maling, aku kan gak nyuri apa-apa?" gumamnya seraya berjalan menuju ranjang. Harga diri membuatnya menolak keras kalau dirinya memang telah mencuri. Mencuri dengar obrolan orang lain bukankah juga termasuk kejahatan?
Whatever-lah. Dafin merebahkan diri. Matanya menatap langit-langit kamar yang hanya terbuat dari triplek biasa. Cokelat pudar bahkan ada sarang laba-laba.
"Ternyata hidupmu keras juga ya, Fia. Pantas saja kamu kasar banget waktu kita pertama kali ketemu," ujarnya pelan. Bibirnya sedikit tertarik.
Akan tetapi sebuah pemandangan asing tertangkap mata Dafin. Ia lantas bergerak dan melihat dek segiempat yang tak rapat.
"Itu apaan, ya. Kek ada sesuatu di sana."
Rasa penasaran membuat Dafin menarik kursi. Tanpa pikir panjang ia pun mendorong triplek itu dan mendapati sebuah kotak indomi.
"Ck, gadis itu suka sekali menaruh apa pun dalam kotak mi. Dasar kampungan," gumamnya lagi lalu tersenyum.
Satu persatu ia belai benda yang ada. Terdapat beberapa sabuk taekwondo berbagai warna dari putih, kuning, hijau biru laut dan merah. Lagi-lagi Dafin berdecak.
"Ilmu kamu tinggi juga ternyata. Ah, liat ini aku jadi kangen bunda."
Kini tangan Dafin membelai lembaran kertas sertifikat yang sudah di laminating. Dari SD sampai SMA. Beragam kriteria. Ada cerdas cermat se-kecamatan sampai provinsi. Belum lagi sertifikat yang ia menangkan saat lomba debat bahasa asing.
"Gadis ini benar-benar jenius. Aku penasaran dari mana dia belajar semua ini? Otodidak, 'kah?" Dafin geleng-geleng kepala. Tangannya kini memegang album foto bersampul biru. Sebuah benda yang membuat Dafin entah kenapa menjadi semangat. Ia buka lembar demi lembar dan mendapati potret Fia kala kecil.
Tanpa sadar ia tersenyum. Fia saat berusia lima tahun sangat menggemaskan di matanya hingga ia buka lagi dan lagi buku itu. Namun, tangan Dafin berhenti saat melihat gambar Fia yang berseragam putih biru berpose dengan seorang murid laki-laki yang juga berseragam sama. Di potret itu wajah keduanya terlihat belepotan karena kue.
"Apa ini temen baiknya?" gumam Dafin. Lagi-lagi senyumnya terukir. Fia saat SMP tetap terlihat imut. Akan tetapi sebuah note kecil di bawah foto itu membuat senyum Dafin sirna.
Tertulis 'Fia & Kevin Best Friend Forever' tapi ada emot menangis di sebelahnya.
Dafin terus saja membolak-balik halaman dan terus saja mendapati foto Fia dan pria itu.
"Sepertinya laki-laki ini bukan hanya temen kamu. Aku penasaran. Apa baju yang kamu pinjamkan ini juga bajunya dia?"
***
Pagi hari.
Semua orang sudah berdiri di depan tanah berair dengan perlengkapan bertani. Berhubung sekarang lagi musim tandur, Marina, Edi dan Reynal Smith telah membawa beberapa ikat padi yang sudah siap di tanam. Sementara para bodyguard Reynal yang berjumlah empat orang tetap berdiri dan berjaga di antara satu petak tanah yang satu dan yang lainnya. Mereka awas mengawasi sekitar. Agak janggal memang, tatapi karena memang di sana sudah sering kedatangan pengunjung dari dalam maupun luar negeri, para penduduk tak ada yang berkomentar. Apalagi di mata mereka pasangan Edi dan Marina terkenal ramah.
"Kenapa masih berdiri saja?"
Celetukan Reynal sukses membuat keterpanaan Dafin hilang dalam sekejap. Ia yang mengenakan baju dan celana training berwarna biru tua sempat lupa bahwa kedatangannya ke sana adalah untuk menanam padi dan bukannya menikmati panorama persawahan berundak yang jujur sangat indah.
"Kamu gak mau turun?" lanjut pria tua itu. Ia sepertinya tak risih sama sekali saat menginjak tanah yang becek. Malahan wajah Dafin yang sedikit berubah saat melihat Reynal. Antara berani, takut dan jijik.
Reynal kembali berdeham. "Kalau kamu berubah pikiran kamu bisa balik lagi. Semua barang kamu ada sama asisten saya. Tinggal ambil, pergi, dan urusan kita, selesai."
Ucapan singkat Reynal sukses membuat Dafin membasahi bibir dengan saliva. Ia pun turun dan sensasi aneh menyerang secara tiba-tiba. Telapak kaki serasa dipijit dan rasanya ada yang ....
Tunggu dulu, ini kok kek ada yang gerak-gerak. Apa jangan-jangan ...?
Berani-berani takut, Dafin berjongkok dan meraih sesuatu yang terinjak dan seketika itu juga matanya membulat saat melihat benda kenyal, panjang, bergerak-gerak di telapak tangan.
"Cacing! Hua ... cacing!"
__ADS_1
Sialnya telapak kaki yang polos tak bisa mengimbangi berat tubuh hingga membuatnya terlentang. Wajah Dafin memucat. Tak ayal gelak tawa pun menggema di sana.
"Loh, Pak Dafin kenapa?" Fia panik. Ia bantu Dafin berdiri dan membersihkan pakaian Dafin yang kotor. "Bapak gak apa-apa, 'kan?" lanjutnya.
Namun bukannya menjawab Dafin malah menepis tangan Fia. Harga dirinya lagi-lagi terluka. Ia berdengkus seraya menatap Reynal yang terpingkal-pingkal.
"Saya itu nyuruh kamu nanam padi. Bukannya tiduran," ujar Reynal setelah selesai tertawa.
Sungguh, ekspresi tekejut serta suara nyaring Dafin barusan sangat menggelitik. Tak hanya Reynal, semua orang yang ada di sana mengulum senyuman—ingin tertawa, tapi takut dosa.
"Hais! Sial banget, sih!" sungut Dafin seraya menepuk-nepuk pantat yang basah terkena air.
Sungguh sangat disayangkan seorang pengusaha muda dan calon direktur utama harus melewati itu di pagi hari. Hilang sudah ketampanan dan wibawanya kali ini ditelan lumpur sawah, terlebih lagi di saksikan oleh ramainya penduduk dan turis.
Namun, apa mau dikata, prinsip Dafin adalah pantang nyerah maupun kalah.
"Pak Dafin balik saja, ya, Pak. Yang di sini biar saya saja yang urus. Bapak mandi terus ganti baju dulu," lanjut Fia.
"Ngapain ganti baju? Pengusaha yang gak berani kotor itu tidak pantas menjadi pemimpin. Sesekali ia harus mengotori tangan. Jika kotor ya harus cuci tangan. Gitu aja kok repot. Jadi pemimpin harus berani. Jangan cuma tau beres. Sesekali harus tau bagaimana susahnya sebuah proses. Jangan semuanya minta yang instan. Apa kamu type orang yang seperti itu Dafin?" timpal Reynal.
Ucapan yang sungguh membuat darah Dafin berdesir. Ia ambil buntalan padi lalu membaginya menjadi beberapa bagian. Ia lirik Marina lalu mempraktikkan apa yang dilakukannya. Namun sayang, belum hilang rasa malu akibat terjatuh kini tawa Reynal kembali menggema saat padi yang Dafin tekan kembali menyembul ke permukaan.
"Sialan," desisnya kesal dan kembali mencoba, tapi lagi-lagi padi itu keluar.
"Pak Dafin, bukan seperti itu caranya," ujar Fia seraya ikutan membungkuk.
"Lalu?" tanya Dafin, mukanya yang belepotan karena air tanah membuat Fia harus berusaha ekstra agar tak terlihat tertawa.
"Kalau kamu berani tertawa, saya pecat beneran kamu," ujarnya pelan tapi dengan nada menggeram. Fia kembali dibuat tak berkutik. Gadis itu menarik napas panjang. Berhadapan dengan Dafin memang memerlukan kesabaran lebih.
Tertawa \= cari perkara. Itu rumus seorang Dafin.
"Caranya begini, Pak," ucap Fia seraya mempraktikkan. "Bapak cukup memainkan jari telunjuk dan tengah. Saat menanam padi Bapak harus menekannya kuat-kuat. Kalau cuman menggunakan satu jari ya bakalan keluar lagi," papar Fia.
Hanya saja karena ada genangan air membuat Dafin tak bisa melihat pergerakan jari gadis itu. Ia kembali mencoba dan tetap saja hasilnya sama. Fia yang gemas mengenggam tangan Dafin lalu mencontohkan. Gesekan antar kulit pun terjadi. Sentuhan yang membuat Dafin mendadak merasakan detak jantungnya berdegup kencang.
"Nah, caranya begitu, Pak," ujar Fia sesaat setelah sukses memberikan tutorial menandur yang benar.
Sementara Dafin, mematung. Ia menelan saliva dengan susah payah.
Apa ini? Kenapa aku jadi salting begini? Batinnya lalu menarik diri. Wajahnya mulai menghangat. Ia tatap tajam Fia. "Saya bisa sendiri," balasnya dengan nada jutek.
Pertama kali, kesulitan.
Ketiga kali, ketagihan.
Itu yang Dafin rasa setelah sehari menghabiskan waktu menanam padi. Bercocok tanam seperti itu lumayan membuat penat hilang. Ia enjoy hingga petang menjelang.
Sama halnya dengan makan. Waktu awal-awal tiba di rumah Fia, Dafin merasa aneh dengan gaya makan mereka, tapi sekarang ia malah menikmati dan tangan semakin leluasa saja saat menyuap nasi. Nikmat dan sedap sekali. Rasanya tak sama saat menggunakan sendok.
"Bapak laper apa doyan?" bisik Fia seraya menyodorkan air putih. Ia yang sudah selesai makan mendapat lirikan tajam. Namun, bukannya takut Fia malah terkekeh. Tak mungkin juga mulut Dafin yang penuh makanan bisa membalas ucapannya.
Kalau dilihat-lihat pak Dafin gemesin juga kalau lagi makan lahap begini. Aku abadikan aja deh. Buat kenang-kenangan, batin Fia seraya beranjak.
Di balik tirai Fia vidiokan semua orang yang tengah makan malam. Bahkan pose saat Dafin menyuap nasi pun tak luput dari kamera. Malah sengaja di zoom.
"Semoga suatu saat nanti ni foto menghasilkan duit," gumamnya seraya terkikik lalu masuk ke kamar.
***
Jam di dinding telah menunjukkan pukul tujuh malam. Semua orang berkumpul di ruang tengah seraya menonton TV.
Sementara Dafin, ia gelisah di dalam kamar.
Perlahan tapi pasti, Dafin mengetuk pintu kamar di mana Fia tidur. Ia sangat berharap kedatangannya tak di ketahui oleh Reynal dan yang lainnya.
"Fia, Fia ..." panggil Dafin dengan tetap mengetuk pintu.
Pintu terbuka tapi jelas bukan Fia melainkan adik Fia yang bernama Rima—gadis belia yang duduk di kelas dua SMA.
"Bisa panggilin Fia."
Rima mengangguk, dalam waktu semenit keluarlah Fia dengan air muka keheranan. "Ada apa ya, Pak Dafin? Bapak memerlukan sesuatu?" tanyanya dengan nada yang masih terdengar formal.
"Iya, saya mau pinjam ponsel kamu?" bisiknya.
Seketika mata Fia langsung terbuka lebar. Ia celingukan melihat sekeliling. "Bapak mau ngapain? Entar ketahuan Pak Rey gimana?" balas Fia tak kalah berbisik.
"Ya makanya jangan sampai ketahuan. Saya mau nelfon Sisi. Pinjem dulu HP kamu. Nanti saya kembalikan."
__ADS_1
"Tapi, Pak ...."
"Cepetan Fia, nanti keburu ketahuan. Ayo siniin HP kamu," balasnya lagi dengan nada memaksa. Matanya bahkan melotot hingga Fia berakhir mengangguk lalu masuk kembali ke dalam kamar. Tak berselang lama keluarlah gadis itu dengan ponsel di tangan.
Namun, belum sempat benda pipih itu berada ditangan Dafin, sebuah dehaman dari samping membuat keduanya berjingkat secara bersamaan. Mata mereka menatap horror seorang pria botak yang tengah berjalan melewati mereka. Cepat-cepat Fia sembunyikan ponselnya lagi di belakang punggung.
"Malam, Pak Rey. Bapak mau ke mana?" tanya Fia basa-basi. Padahal sudah tau ruang yang tertinggal di sana hanyalah kamar mandi.
"Saya mau ke toilet," balas Reynal, matanya melirik Dafin lalu ke Fia.
"Fia, saya mau kasih saran. Pilihlah laki-laki yang bisa memegang janji. Bagi laki-laki janji itu sudah seperti harga diri. Jika ada laki-laki yang berani ingkar janji itu artinya dia nggak pantas disebut sebagai laki-laki, gak pantes di jadikan suami apalagi seorang pemimpin."
Dafin berdengkus. Ia mendelik kesal arah pintu toilet yang tertutup. "Saya heran, orang tua itu pengusaha apa dukun, sih? Sialan, dia tahu aja apa yang aku mau," kesal Dafin.
"Jadi gimana, Pak? Ponselnya, jadi gak?"
"Sudahlah, gak jadi," balas Dafin bersungut. Jujur ia sakit hati. Setiap kata yang terlontar dari bibir Reynal selalu sukses melukai harga dirinya sebagai laki-laki maupun pengusaha.
"Ya sudah, kamu masuk lagi saja. Saya juga mau istirahat," lanjutnya dengan nada datar.
Fia mengangguk. Namun saat Dafin hendak menuju kamarnya si Reynal keluar dari kamar mandi. Pria itu pun berucap, "Dafin bisa kita bicara sebentar? Ada yang mau saya omongin."
Dafin bergeming. Mendadak ia gugup.
Apa mungkin dia tahu soal ponsel tadi? Dafin membatin. Ia usap wajahnya gusar lalu mengikuti langkah Reynal hingga keduanya tiba di kursi santai teras depan.
"Kira-kira Bapak mau membicarakan masalah apa? Apa Bapak sudah mau berinvestasi?" tanyanya menggebu-gebu.
"Tidak," balas Reynal singkat.
"Lalu?"
Dahi Dafin mengernyit, jujur ia malu karena tebakannya meleset. Bahkan pria tua kaya raya di sebelahnya tak berpikir sama sekali sebelum menjawab.
Sekarang Dafin baru paham dengan sebuah pepatah yang mengatakan "Lebih baik tertimpa tangga daripada tertimpa perasaan". Malunya itu lho sampai tujuh turunan.
Tiba-tiba Reynal mengeluarkan uang lima puluh ribu dua lembar. "Saya cuma mau ngasih kamu ini."
Lha, duit? Buat apaan? Dia nyuruh aku beli makanan apa gimana? Dafin membatin. Ia pandang serius wajah keriput Reynal yang juga menatapnya tak kalah serius.
"Uang ini buat apa ya, Pak?"
Akhirnya tercetus juga pertanyaan Dafin setelah lama hening.
"Ini hak kamu." Reynal kembali menyodorkan.
Dafin yang masih kebingungan akhirnya mengambil uang itu. "Hak? Hak apa ya Pak Rey?" ulang Dafin. Rasa-rasanya ia tak minta uang.
"Iya, itu hak kamu. Itu upah kamu karena seharian kerja di sawah."
Seketika wajah bingung Dafin berubah, bibirnya tersungging. Ia genggam erat uang itu.
Mungkin orang lain akan menganggapnya aneh, secara selama ini ia tak pernah menghitung jumlah uang yang keluar dari dompet. Namun, setelah seharian bekerja dan mendapat upah, perasaan nano-nano mendadak menyerang, ia terharu.
Merekahkan bibir, Dafin pun berucap, "Sebenarnya Pak Rey gak usah kasih upah segala. Cukup berinvesta—"
Lagi-lagi Lisan Dafin terjeda. Si Reynal ini sepertinya hobi memotong perkataan. Bahkan kini tak hanya lisan, uang yang masih di tangan Dafin pun ikutan terpotong.
"Loh kok?" Dafin otomatis melongo.
"Ini uang lima puluh ribunya saya ambil lagi, buat bayar makan siang sama makan malam kamu tadi," jelas Reynal. Uang itu bahkan sudah masuk ke dalam saku.
Dafin terdiam. Mau protes pun percuma. Reynal memang terkenal aneh di kalangan pebisnis dan orang kaya lainnya. Dibilang kaya tapi pelitnya minta ampun. Dibilang jahat tapi kadang kala baik juga.
"Ya sudah kalau begitu, Pak. Saya mau ke dalam dulu," pamit Dafin lesu. Jujur, gara-gara lima puluh ribu senyumnya hilang melayang.
Beginikah sakitnya hati karyawan saat gaji terpotong karena telat?
Akan tetapi, baru saja Dafin berdiri ia melihat Fia keluar dengan mengenakan cardigan panjang.
"Kamu mau ke mana Fia?" tanya Dafin keheranan. Penampilan Fia agak berbeda. Lipstik berwarna merah bahkan sudah terbubuh di bibirnya.
"Saya mau keluar sebentar, Pak. Mau ketemu temen," balas Fia.
Apa jangan-jangan dia mau ketemuan sama Kevin? Dafin kembali memindai penampilan Fia. Fix. Ia pun mengangguk. "Saya ikut."
***
Tim Dafia—Dafin Fia—mana suaranya. hehehe. Kencangkan Vote, like komen dan rate.
__ADS_1
Mau liat visual mereka. Intipin ke igeh aku ya.
@Riharigawajixjoe.