
Sementara di ruang tamu, Chandra tengah duduk bersila di atas karpet—menemani chandira bermain boneka—dan Irwan duduk di sofa dengan mata yang hanya tertuju pada satu titik, yaitu Reka.
Melemparkan bantal ke arah Irwan, Chandra tak tahan untuk berucap, "Istri loe itu nggak bakalan ke mana-mana. Jadi jangan dipelototin mulu. Entar yang ada tu mata sakit."
Irwan berdengkus, lantas melemparkan kembali bantal berbentuk hati itu ke arah Chandra yang sedang memangku Chandira. "Resek banget, sih. Lagian ni ya. Gue itu perlu ngawasin dia. Loe nggak liat tuh badan Reka. Kasian, gak tega ngeliatnya. Jadi, sebagai penebus kesalahan, gue harus jadi suami yang siaga, siap, antar dan jaga."
"Yaelah lebay. Ini tuh dalam rumah, jadi enggak perlu sampai diawasin tanpa berkedip juga."
Irwan berdecak. "Serah loe, deh."
Chandra terkekeh, sikap posesif sahabatnya itu kadarnya makin hari makin tinggi saja semejak rujuk. Dulu dibenci ee sekarang bucin sampe ke tulang.
"Eh, ngomong-ngomong udah USG?" tanya Chandra lagi.
Wajah masam Irwan langsung berubah total. "Udah. Insya Allah, katanya sih laki-laki."
Senyum Irwan terkembang, lelaki berkacamata dengan kemeja coklat panjang itu tampak bangga mengatakannya. "Gue gak sabar buat nunggu bulan depan. Mudahan aja semuanya lancar."
"Cie ... bangga banget kayaknya."
"Ya jelas, dong. Hasil jerih payah gue nggak sia-sia. Loe tau sendiri usaha gue buat dapetin dia kayak gimana. Dan sekarang alhamdulillah ternyata ada hasilnya. Gak sia-sia tempur tiap malam."
Senyum Irwan tertangkap netra Chandra. Senyum yang seakan-akan dialah lelaki paling beruntung di dunia, membuat Chandra tak tahan dan kembali melemparkan boneka. Telak, mengenai kepala Irwan. "Iya iya, gue paham, loe unggul dari gue."
"Ya enggaklah. Tetap elo yang unggul.
Loe aja udah hampir dua. Nah gue? Lahir aja belom."
"Sialan, Loe."
Chandra berdengkus kesal. Pandangan matanya menyapu sekitaran ruang tamu dan mendapati Arjun tengah berdiri tegak di pojokan dekat bufet jati. Lelaki kaku itu ditemani Kinar yang juga berdiri tegak di sebelahnya. Pemandangan yang membuat kegondokan hati Chandra sedikit teralihkan. Pasangan itu benar-benar membuatnya ingin tertawa terbahak. Konyol menurutnya.
"Arjun." Chandra memanggil dengan nada datar.
__ADS_1
Yang dipanggil langsung beranjak mendekat dengan cepat. "Ada apa, Pak? Ada yang perlu saya lakukan sekarang?"
Chandra menggeleng dua kali. "Kamu saya liburkan mulai besok. Saya mau adakan acara keluarga. Jadi, malam ini kamu bisa pulang ke rumahmu dan beristirahatlah selama dua hari. Hari Rabu kita pulang ke Jakarta. Dan mobil, boleh kamu bawa."
Wajah kaku Arjun mendadak melemas, senyumnya samar-samar terukir. Membuat Kinar yang ada di sebelahnya semakin menyukai. Ulasan bibir yang tergolong pelit itu entah mengapa membuatnya menjadi ketagihan. Ingin ia lihat lagi dan lagi. Pokoknya aku harus bisa bikin si kanebo kering ini jadi suamiku. Pokoknya harus bisa. Cayyo Kinar. Litan aja bisa nikah muda masa kamu enggak.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak. Kalau begitu saya pamit undur diri."
Arjun putar tumitnya. Namun, baru saja dua langkah mengayunkan kaki, tangannya sudah dicekal oleh seseorang. Kinar, wanita berambut pirang itu tersenyum kuda ke arahnya lantas membalik diri menatap Chandra yang masih duduk bersama Chandira. "Aku ikut dia, ya? Kalian mau ada acara keluarga, 'kan? Pasti gak nyaman kalau ada aku di sani. Jadi aku mau ikut Arjun, boleh?"
Shit! Drama apalagi ini? Batin Arjun kesal. Ia perhatikan wajah selembe Kinar.
"Kamu apa-apaan, sih. Jangan ngaco," bisik Arjun menggeram. Matanya bahkan menyipit dengan bibir yang terlihat komat-kamit, sedetik kemudian ia lanjutkan langkah, tetapi berakhir berhenti lagi karena Chandra memanggil namanya.
Ah, sialan. Perempuan jejadian ini bikin tensiku naik. Arjun membatin kesal. Ia putar tubuh dan kembali menghadap Chandra. "Iya, Pak. Ada apa?"
"Kinar boleh ikut kamu? Enggak apa-apa 'kan kalau dia ikut. Entar gaji kamu saya tambahin sebagai bonus karena udah jagain dia."
Nah, loh. Apesku ternyata berkelanjutan. Arjun lihat lagi wajah tersenyum Kinar. Sumpah, ingin rasanya ia mencekiknya. Wajah cantik tapi berkelakuan minus.
Setelah Arjun dan Kinar berlaku, Irwan mulai penasaran. Didekatinya Chandra yang masih menatap punggung dua manusia itu.
"Eh, loe kok tega banget sih sama Arjun. Gue yang baru sekali ngeliat tuh cewek aja udah ngeri."
Chandra tersenyum. "Entah, gue juga nggak tau. Rasanya senang aja gitu lihat mereka berdua. Ya moga-moga aja jadi."
"Eh seriusan. Loe gak becanda, 'kan? Masih muda itu."
"Ck! Loe nyindir gue!" Mata Chandra mulai melotot. Membuat Irwan memundurkan langkahnya dan kembali duduk di sofa. "Sorry, gue lupa. Bini loe 'kan seumuran sama dia."
Chandra berdengkus, ia angkat dari posisinya—meninggalkan Chandira yang tengah bermain boneka—dan duduk berhadapan dengan Irwan. "Lagian, ya. Jodoh, maut sama rezeki semua udah diatur. Terus loe mau protes dengan orang yang kebetulan nemu jodohnya kecepetan?"
Irwan tak merespon. Ya karna berpikiran sama dengan Chandra. Begitu banyak di dunia ini yang menikah muda. Kedewasaan dan kesiapan seseorang tidak bisa diukur dari usia.
__ADS_1
"Tapi kalau memang mereka jadi, kita bakalan tersingkir, Wan. Orang tuanya Kinar itu omsetnya lebih gede dari kita," lanjut Chandra. Matanya menatap Irwan yang terlihat tak percaya tanpa harus mengatakan "jangan bohong" kepadanya.
"Gak percaya, 'kan?"
Irwan terdiam. Matanya hanya fokus menatap Chandra. Menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Orang tuanya Kinar itu pebisnis sejati. Punya perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Dia juga pemegang saham terbesar di salah satu bank swasta di Indonesia ini. Belum lagi bisnis propertinya yang tergolong prestisius di beberapa gedung dan hotel mewah di Indonesia."
Irwan mengangguk paham. Terbayang betapa kayanya si Kinar. Akan tetapi, baru saja hendak bertanya lagi, suara teriakan menggema dalam rumah.
"Irwan, Reka mau lahiran!"
***
Di sepanjang perjalanan pulang kerumah, Arjun terus saja menyabarkan hati yang makin jengkel dengan gelagat Kinar. Remaja berpenampilan bak ratu Ingris itu seperti menebalkan muka dan terus saja memandangnya meskipun sudah berkali-kali diperingatkan.
"Kamu kenapa harus ikut aku, sih."
"Ya karna aku gak mau ganggu acara keluarga mereka." Lisan Kinar terjeda lumayan lama hingga ia kembali berucap, "Tapi bohong."
Kekehan renyah pun memenuhi mobil. Meninggikan rasa kesal di diri Arjun. Ia tepikan mobilnya dan menatap nyalang pada Kinar. "Turun!"
Tawa Kinar terhenti lantas melihat ke sekeliling. "Lah kok turun. Apa kita udah sampe? Rumah kamu di mana? Kok sepi," cecarnya karena tak melihat satu pun rumah di sana. Begitu sunyi bahkan kendaraan pun tak ada yang melintas.
"Aku gak mau kamu ikut aku pulang. Mending kamu turun, naik taksi terus cari hotel. Aku udah muak sama tingkah kamu ini. Aku rasanya mau meledak tau, gak!"
"Lah salah aku apa? Aku kan bukan bom. Kanapa kamu bisa meledak?"
Sial, emosi Arjun naik ke ubun-ubun. Ia buka sabuk pengaman lantas turun dari mobil dan membuka pintu di sebelah Kinar. "Mending sekarang kamu turun."
Kinar menurut, wajahnya tetap tenang tanpa menyiratkan ketakutan. Ia perhatikan mobil yang sudah lumayan jauh.
"Pergilah Arjun. Pergi sejauh-jauhnya. Aku gak akan ngelarang. Aku yakin kamu pasti bakalan balik."
__ADS_1
Senyum miring Kinar terukir penuh misteri.