Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Jangan gigit.


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya.


Seorang sekuriti kelab malam berseragam hitam dengan badan yang lumayan tambun mendekati Nara. Gadis itu tampak berjongkok dengan kepala tertunduk. "Kamu kenapa? Apa perlu saya panggilin taksi?" tanyanya.


Mengangkat kepala, Nara tersenyum dengan mata yang beratnya seperti digantungi batako. Untuk melihat siapa yang bertanya saja ia harus memicingkan mata lumayan lama.


"Apa perlu saya panggilin taksi?" ulang sekuriti itu lagi.


Nara melibaskan tangan, ia tersenyum dengan mata kembali terpejam. "Gak perlu, Pak. Saya bawa mobil."


"Tapi kamu lagi mabuk. Gak boleh nyetir sendiri."


Nara terkekeh. Ia yang cantik dan anggun dengan pakaian serba minim bahan itu mendongak lagi dan membuka matanya. "Saya memang agak mabuk, Pak. Bukan gila. Saya juga tau kalau nyetir pas lagi begini bahaya."


"Nah, itu tau. Saya panggilin supir pengganti saja, ya?" tawar sekuriti itu lagi.


Dengan agak sempoyongan Nara pun mencoba berdiri. Ia tatap sekuriti itu beberapa detik lalu tersenyum.


"Gak perlu, Pak. Tadi saya udah nelfon temen buat di jemput. Palingan bentar lagi dia sampe," terang Nara. Ia lihat sekuriti itu lekat-lekat. Rasa pening yang diakibatkan oleh alkohol sekuat tenaga ia lawan. "Ngomong-ngomong makasih ya, Pak. Bapak baik banget. Makasih karena udah perhatian. Padahal Bapak orang asing tapi perhatian banget sama saya. Sedangkan orang yang saya perhatiin banget malah acuh. Nyesek tau gak Pak. Di sini ...."


Nara memukul dadanya keras-keras. "Di sini sakit, Pak. Sakit!" Lalu meraung dan kembali terduduk. Tangisnya lumayan kencang hingga membuat para pengunjung yang keluar masuk kelab keheranan. Tapi hanya sekedar itu. Hanya sekedar tersenyum meremehkan lalu kembali ke urusan masing-masing.


Si sekuriti mendesah panjang. Ia sudah lama bekerja di sana dan sudah beragam manusia yang ditemui. Nara adalah pelanggan kesekian yang menuruti keputusasaan dengan cara mabuk-mabukan.


"Kasihan kamu, pasti sakit banget, ya?" tanya sekuriti itu lagi. "Tapi percayalah. Mati satu bakalan tumbuh lagi seribu."


Nara yang memang pikirannya sedang kacau pun mengangguk, ia menghentikan tangis. "Tapi sayangnya pohon yang saya rawat dan saya kasih seluruh harapan gak bakalan sama dengan pohon-pohon yang lain."


"Pohon?" Si sekuriti mengulang dengan raut muka bingung.


"Iya, Pak, pohon mangga yang saya rawat, saya jaga dan saya besarkan sepenuh hati gak nganggep saya. Gak pernah sekali pun berterima kasih. Padahal cinta saya untuk dia udah saya pupuk sedemikian rupa hingga dia besar. Tapi dianya gak ngakuin saya. Sakit tau gak Pak. Sakit!"


Terbengong, sekuriti itu terdiam sesaat. Ia mati kata ketika berhadapan dengan Nara. Hanya matanya yang mampu beroperasi memperhatikan tingkah Nara.


"Bapak gak bakalan ngerti. Pohon ini spesial. Tapi pohon itu gak ada akhlak. Dia ninggalin saya, Pak. Nyakitin hati saya berdarah-darah terus pergi keluar negeri. Dan saat saya udah bisa lupain dia, dia datang dan minta maaf."


Manggut-manggut, si sekuriti menggaruk kepalanya. Walaupun rada-rada nggak nyambung ia tetap ingin menghibur Nara yang patah hati.

__ADS_1


"Hebat ya pohon itu. Sayangnya gak tahu malu. Udah pergi trus dateng lagi. Dikira kamu tukang kebun dengan kebesaran hati seluas kebun. Dasar. Lupain aja dia. Buka hati buat pohon lain. Ya walaupun rasa buahnya gak bakalan sama. Tapi, siapa tau pohon terawat yang udah dapat perhatian dari tukang kebun yang lain mau ngasih kamu buah yang sudah siap panen."


Mata Nara langsung menyipit. Ia berdiri lalu menyalangkan mata. "Kenapa Bapak bilang saya tukang kebun? Saya anak pengusaha kaya! Saya calon direktur perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Asal Bapak tau, saya gak ada niatan buat jadi tukang kebun!" ujarnya dengan berteriak.


Si sekuriti menaik turunkan alis. Keheranan, Padahal yang duluan bahas soal pohon ya si Nara itu.


Menghela napas lagi. Si sekuriti hanya memaklumi. Ia menunduk lalu meminta maaf pada Nara.


"Ya udah deh. Saya mau jalan-jalan dulu. Mau nenangin diri." Nara lalu melongos pergi dengan jalan agak terhuyung-huyung. Kepalanya masih terasa berat. Padahal yang diminum hanya beberapa gelas Vodka.


Tanpa Nara tahu, saat berteriak menyebut bahwa dirinya adalah orang kaya, sekelompok pria mendengar. Niat jahat pun tercipta begitu saja. Mereka yang terdiri dari tiga laki-laki pun mengikuti Nara.


"Nara, kamu ngapain di sini?" tanya Dafan yang tiba-tiba saja muncul. Matanya langsung tertuju pada tiga laki-laki yang ada di belakang Nara. "Dan kalian, ngapain ngikutin dia? Apa jangan-jangan kalian berniat jahat?"


Ocehan Dafan mengundang perhatian orang-orang sekitar dan tentu saja membuat tiga pria tadi langsung membalik diri, mereka pergi.


Sementara Nara, sedari tadi mengucek mata. Tak menyadari sama sekali ada bahaya yang mengintai. Dengan langkah gontai ia pun mendekati Dafan lalu memukul pipinya sendiri.


"Kamu Dafan?" tanyanya. "Atau cuma hayalan aja?" celotehnya lagi.


Tak ada jawaban. Dafan yang curiga langsung mengendus tubuh Nara. Nara yang kaget karena gelagat dadakan Dafan pun memundurkan tubuh. Sialnya karena efek alkohol masih ada ia pun tak bisa menjaga keseimbangan dan berakhir terjatuh ke belakang. Ia meringis kerena pantat menyentuh lantai semen.


"Kamu ngapain pake mabuk-mabukkan segala, sih? Kamu gak tau apa, tadi kamu hampir mau dicekalai orang tau gak? Untung aku liat, coba kalo enggak." Dafan menjeda kata. Ia menarik napas dalam-dalam lalu kembali berucap, "Harusnya kamu gak boleh kek gini. Ada nama baik orang tua kamu yang kamu pertaruhkan. Apa kamu gak kasihan. Mereka pasti sedih liat kamu kek gini. Udah besar tapi gak ada pikiran. Alkohol itu gak baik, Ra! Gak ada gunanya!" hardik Dafan. Sungguh, rasa kesal mendadak menyelimuti benak apalagi pakaian yang dikenakan Nara jauh dari kata sopan.


Berdengkus, Dafan buka jaket lalu berjongkok. Ia selimuti tubuh terbuka Nara dan sengaja mengabaikan ekspresi Nara yang merah padam. "Besok-besok jangan kek gini lagi. Atau aku bakalan aduin sama Om Arjun."


"Kamu mau ngadu?" Nara langsung mendorong dada Arjun hingga terjungkal ke belakang. "Kamu tau apa? Kamu itu gak berhak kek gini. Kamu itu yang bikin aku kek gini tau gak. Dan sekarang kamu mau ngadu ...."


Air mata Nara menganak sungai. Banjir bak keran rusak. Ia lepaskan jaket Dafan lalu melemparnya ke arah Dafan. "Ambillah. Aku gak butuh kebaikan kamu. Aku bisa urus diriku sendiri," tegasnya lalu berdiri. Sialnya efek alkohol bereaksi lagi. Ia kelimpungan dan hampir kembali jatuh, beruntung Dafan dengan sigap menahannya dari belakang.


Nara meronta. Rasanya jijik dipegang Dafan. "Lepas, gak!"


Dafan tak memedulikan. Ia balut lagi tubuh terbuka Nara lalu menggendongnya ke punggung.


Nara yang tak punya banyak tenaga lebih pun pasrah dan berakhir mengalungkan kedua lengan di leher Dafan. Tanpa sadar, perlahan-lahan kepalanya yang berat bersandar di punggung pria itu. Aroma shampo yang khas membuatnya sedikit tenang dan tak menyadari kalau Dafan manggilnya berkali-kali.


"Ra, jangan tidur dulu. Kita harus ngomong. Ada yang mau aku katakan sama kamu," ujar Dafan dengan hati-hati. Kakinya bahkan melangkah melambat. Akan tetapi tetap tak mendapat jawaban dari Nara. Dafan pun berakhir mengembuskan napas panjang karena mengira Nara sudah tertidur.

__ADS_1


"Ra, maaf ... aku udah bikin kamu kek gini. Aku tau, akulah si brengsek yang bikin kamu jadi berubah kek gini. Aku nyesel, Ra. Gak sepatutnya aku bertingkah kekanakan dan bikin kamu sakit hati. Niatku bikin kamu menjauh itu biar kamu bisa fokus ke pelajaran. Gapai cita-cita dan gak habisin waktu buat cinta monyet. Asal kamu tahu, Fia itu bukan siapa-siapa aku. Kami cuma berakting. Itu pun aku yang maksa. Jadi tolong ... jangan kamu salahin dia. Yang salah itu aku."


Tanpa permisi, air mata Nara mengalir lagi. Rasa dongkol, sedih dan kecewa melebur jadi satu. Ia angkat kepalanya lalu menerkam kepala Dafan. Dafan yang kesakitan mengerang, dan spontan melepaskan pegangan hingga menyebabkan Nara kembali terjatuh.


"Kenapa kepala aku digigit, Ra?" dengkus Dafan seraya mengusap kepalanya.


Nara makin kesal, ia kembali meraih pergelangan kaki Dafan dan menggigitnya dengan kuat. Pria itu pun kembali mengerang dan lagi-lagi menarik kakinya dari cengkeraman Nara. Nyalang matanya melihat Nara yang masih terduduk bersila di tanah.


"Kamu gila! Kenapa sekarang kaki aku yang kamu gigit?" teriaknya seraya berjongkok dan mengusap betis yang terbalut celana Levis.


"Karena aku benci sama kamu. Benci! Kenapa saat aku udah bisa ngelupain kamu, sekarang kamu hadir lagi? Harusnya kamu nggak perlu minta maaf. Cukup sakit, Fan. Cukup perasaan benci yang udah kamu tanam di hati aku. Asal kamu tahu, aku udah tahu kejadian sebenarnya. Dan aku juga udah coba ngelupain semuanya," jawab Nara yang juga berteriak.


Dafan pun berhenti meringis. Ia perhatikan mata Nara yang semakin banyak mengeluarkan air. Melihat itu ia jadi tak tega dan hendak menghapusnya.


Nara yang masih kesal menepisnya tanpa ragu. "Kamu jahat, kamu tega, aku pernah ngasih kamu perasaan yang tulus. Tapi balasan yang kamu kasih itu hanya luka dan lukanya itu cukup serius," sambung Nara lagi seraya tertunduk dan semakin sesenggukan.


"Ra ...."


Dafan yang tak tahu harus apa hanya bisa berdiri dan membiarkan Nara menangis. Sampai akhirnya tangis itu berhenti dengan sendirinya. Dafan yang penasaran mendekati lagi Nara dan mendapati kalau gadis itu tengah terpejam.


"Maaf, Ra. Maaf ...."


Lirih, suara Dafan begitu terdengar penuh penyesalan. Ia hapus jejak kesedihan di pipi Nara lalu menggendongnya masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan Dafan tak bisa menghentikan perkataan Nara yang terngiang terus dalam telinga. Sekarang ia paham. Kalau kata maaf tidak akan berguna saat rasa sakit sudah tertanam begitu dalam. Namun, ia tetap ingin mengembalikan semuanya di posisi semula. Tak mengapa kalau Nara tetap membencinya asal gadis itu kembali menjadi pribadi ceria seperti dulu.


"Aku harap keterlambatan ini tetap bisa membuatmu berubah. Tinggalkan sekss bebas dan alkohol. Itu gak baik, Ra. Kasihan tubuh kamu."


Tibalah di rumah Nara dan Dafan lagi-lagi dibuat heran. Rumah sebesar itu hanya dijaga beberapa satpam. Ke mana asisten rumah tangga? Kenapa tidak ada satu pun yang menyambut mereka?


Hati-hati Dafan membaringkan Nara. Akan tetapi keseimbangan menjadi masalah. Ia berakhir terjatuh dan wajah mendarat di tempat empuk gunung lempit milik Nara. Dan tentu saja mata Nara membelalak. Ia melihat Dafan dengan jarak yang sangat dekat.


Sedetik


Dua detik


Tiga detik.

__ADS_1


Bersambung .... Akankah ada yang bakalan di jepit?


wjwk tunggu besok.


__ADS_2