
"Kenapa menghindar?" ujar Nara. Tubuhnya dan Dafan sangat dekat. Nara bahkan dapat melihat dengan jelas kalau Dafan sedang grogi. Pria itu terlihat menahan napas beberapa kali. Keringatnya bercucuran besar-besar.
"Pliase, tolong, jangan gila. Hentikan, Ra," pinta Dafan yang terdengar frustrasi.
Sungguh. Berhadapan dengan kedua gunung kembar montok milik Nara membuat otak Dafan yang cerdas mendadak tumpul. Rasanya lebih horor daripada menginap semalaman di kamar mayat. Ia dorong bahu Nara tapi Nara lagi-lagi memepetkan tubuh mereka. Terusan tanpa lengan yang membalut badan gadis itu pun membuat Dafan hanya bisa menelan ludah berkali-kali. Dada mulus serta leher jenjang gadis itu terekspos begitu indah.
"Jangan takut. Ayo ikut aku ke kamar. Aku udah berpengalaman. Aku juga gak bakalan melibatkan perasaan. Perasaanku buat kamu udah gak ada. Jadi jangan terbebani, oke Bebh," lanjut Nara lagi seraya mengedipkan mata. Senyum genit bahkan ia ukir. Mendadak ia menjadi lebih bersemangat saat melihat ekspresi wajah Dafan yang ketakutan seperti itu.
Dafan bergeming. Ia membuang muka. Dalam hati merapalkan doa, sangat berharap kalau Nara tidak melakukan hal gila. Atau mungkin dirinya yang akan menggila karena sikap Nara yang seperti itu.
"Ra, jaga kehormatan kamu," pinta Dafan tanpa mau melihat ke arah Nara.
Tetap saja Nara mengabaikan. Tangannya yang lentik bahkan sudah menari-nari di dada Dafan.
"Kamu tau gak, kalau salah satu cara memperpanjang usia adalah having fun di atas ranjang?" tanya Nara dengan nada suara menggoda. Ada desahan di sela kalimatnya.
Lagi-lagi Dafan bungkam dengan mata terarah ke lain, karena jika melihat Nara otomatis ia akan melihat belahan yang ada di antara gunung mini milik gadis itu. Miniatur yang bikin gemas dan seolah-olah ngajakin gelud.
Dafan menelan ludah, mematung tanpa menggubris perkataan Nara. Ia hanya berharap Nara menghentikan kegilaan dan membiarkannya pergi. Hanya saja tak mungkin terjadi karena Nara sudah terlanjur menikmati. Gadis itu bahkan mencekal pergelangan tangan Dafan.
"Nara! Kamu mau ngapain?" sentak Dafan bingung. Ia pun berakhir melihat wajah Nara dengan lekat dan belahan dada Nara pun terekspos tanpa bisa dihalang.
Pasrah, dalam tatapan ambigu itu ia hanya bisa menelan ludah dengan kasar. Berharap pikiran buruk tak mempengaruhi. Bagaimanapun Nara adalah anak dari teman baik orang tuanya. Terlebih lagi ia hanya menganggap gadis itu sebagai adik. Jangan sampai orang yang di anggapnya adik itu membangunkan adik yang lain. Ya, sungguh berharap demikian. Ia tarik tangannya dengan kuat.
Apesnya, Nara yang melihat jakun Dafan naik turun kembali mengukir senyum jahat dan tak berniat melepaskan cekalan. Pikirannya tak sama dengan Dafan. Dalam keadaan yang super dekat seperti itu ada gejolak aneh yang memerintahkan dirinya untuk menyerah dan meraup bibir Dafan, tapi ....
"Lepasin gak!" Dafan terlihat makin gugup. Ia menyentak tangannya tapi Nara tetap tak melepaskan.
"Kalau aku gak mau?" tantang Nara lagi. Smirk tetap ia ukir. "Coba aku, Fan. Kamu nggak bakalan rugi. Ferry aja sampai ngos-ngosan. Aku bikin dia kelojotan. Gak perlu bayar. Cukup kasih aku kenikmatan dan kepuasan. Jadi ayo, jangan sia-siakan kesempatan ini," balas Nara lalu tersenyum lebih mengerikan.
Tanpa aba-aba Nara tarik pergelangan Dafan lalu mengarahkan ke dadanya sebelah kiri. Namun Dafan yang mengerti refleks menarik tangan sebelum sempat menyentuh benda kenyal milik Nara. Ia lalu mendorong Nara hingga terhuyung.
"Sebenarnya apa masalahmu?" bentak Dafan.
Nara berdengkus. Bibirnya yang berwarna merah begitu lihai membentuk seringai. "Aku rasa masalahnya di sini," ujar Nara lalu memegang dada sebelah kiri. "Aku rasa ini udah gak berfungsi lagi."
"Kamu gila Nara! Kamu gila!" teriak Dafan lalu pergi.
Nara yang melihat punggung Dafan dari belakang, menghela napas panjang. Ia seka air mata yang meluruh tanpa permisi. "Pergilah, Fan. Pergi. Jangan pernah muncul lagi. Karena, dengan kamu begini justru bikin di sini." Nara menekan dada, "di sini rasanya sangat sakit."
Sementara itu Dafan pergi membawa perasaan yang campur aduk. Kesal, benci dan menyesal menggumpal dalam dada. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Nara akan berakhir menjadi perempuan jaalang seperti itu.
"Ya Tuhan, Nara. Apa yang mampu merubah kamu seperti itu? Apa itu karena aku? Astaga, Nara. Aku benar-benar enggak tahu kalau kamu bisa ngelakuin hal yang seperti ini. Ke mana Nara yang dulu? Ke mana Nara yang selalu tersenyum manis?"
Dafan kembali mengembuskan napas kasar. Rasanya dada menjadi sesak saat memikirkan Nara. Perasaan bersalah menjadi berkali lipat apalagi saat mengingat sandiwaranya bersama Fia. Sejak itu Nara langsung menghilang.
"Aku yakin Nara berubah jadi liar begini karena sekolah di luar negeri. Astaga Dafan. Apa yang kamu lakukan pada Nara. Dia jadi begini karena kamu nyakitin dia. Dia pergi dan berakhir jadi ...."
Dafan tak bisa menyelesaikan lisan, lebih tepatnya tak sanggup membayangkan hal liar apa yang Nara pelajari di sana. Saking kesal dengan keadaan Dafan bahkan menepikan mobil lalu menjambak rambut sendiri. Seolah belum puas kini setir mobil yang ia pukul berkali-kali. Sungguh. Ia butuh sesuatu untuk melepaskan kekesalan dan mengenyahkan perasaan bersalah itu.
Setelah puas menganiaya diri sendiri Dafan mulai dapat menguasai pikiran. Ia tahu, menyesal kemudian memang tiada berguna. Itu kata pepatah lama yang tak akan lekang oleh zaman. Karena apa? Karena kesalahan akan selalu ada.
"Aku harus memperbaiki keadaan ini. Ya ... harus."
Dafan mengatur napas untuk meraih kembali ketenangan. Lalu kembali menghidupkan mesin mobil untuk membelah jalanan dengan sedikit menambah kecepatan. Ia ingin bertemu Anya dan meminta penjelasan dari adiknya itu. Ia sangat yakin kalau Anya menyembunyikan sesuatu. Buktinya Anya sengaja merahasiakan keberadaan Nara. Tak dipungkiri ia juga penasaran, sebenarnya siapa laki-laki yang sekamar dengan Nara tadi?
Tibalah di rumah.
Dafan terdiam sebentar. Ia mematung menyadari kebenaran yang Anya katakan—kalau kedua orang tuanya sudah menghias rumah megah mereka menjadi tampak lebih mewah dari sebelumnya. Karpet merah bahkan sudah di gelar. Namun, Dafan yang tengah kacau tak sempat menikmati keindahan itu lebih lama. Tak juga sempat berterima kasih dengan penyambutan yang sudah orang tuanya lakukan. Ia hanya melewati beberapa asisten rumah tangga dan beberapa dekorator tanpa membalas sapaan mereka. Matanya yang lelah tertuju pada Litania yang juga tengah berjalan ke arahnya dengan tangan terbentang dan senyum super lebar.
"Selamat datang, Dafan."
Litania menyambut, akan tetapi yang disambut tak membalas senyumnya dan justru tampak celingukan. Litania yang sudah merentangkan tangan menjadi keheranan dengan gelagat anaknya itu.
"Kenapa?" lanjut Litania yang juga celingukan melihat sekitar, sedangkan tangan masih saja terbentang.
"Aku nyari Anya, dia mana Bun?" tanya Dafan to the point dengan mata masih setia memindai ruang tamu mereka.
Mendengar itu seketika juga senyum Litania sirna. Tangannya langsung melemas.
"Kenapa nyari Anya? Kamu nggak kangen Bunda? Kamu nggak ngeliat Bunda sekarang sedang menyambut kamu?" cecar Litania. Ada kecemburuan dalam setiap kata yang terlontar.
Dafan yang menyadari ada yang tak beres dengan nada bicara Litania langsung paham. Ia menghela napas panjang lalu mengusap wajah yang lelah dengan sebelah tangan. Lekat ia melihat wajah masam ibunya itu.
"Maafin Dafan, Bun. Soalnya ada yang mau aku tanya sama Anya," balasnya lalu memeluk tubuh Litania. Lumayan lama mereka berpelukan. Litania memeluk karena rindu, sedangkan Dafan, ia terlena karena aroma lavender dari tubuh ibunya itu. Sedikit menenangkan pikirannya yang sedang kalut.
Litania melepaskan pelukan. Matanya menyipit melihat Dafan. "Kenapa gak langsung pu—"
Perkataan Litania terjeda, wajahnya yang masam kecut berubah seketika menjadi panik. Ia pegang pergelangan tangan Dafan lalu melihat nanar 4 buku jari Dafan yang memar dan berdarah. Nyalang ia melihat Dafan lalu mengangkat tangan pria itu.
"Ini tangan kamu kenapa, Fan? Kamu kecelakaan?" Litania memutar tubuh Dafan dan melihat dengan seksama, tak ada yang memar dan tidak ada darah yang lain pula. Hanya saja ....
Kembali melihat tangan Dafan, Litania menghela napas panjang lalu mengusap tangan yang berdarah itu. "Kenapa bisa jadi begini, sih?" lanjutnya yang hampir setengah menangis.
Dafan tersenyum, ia balas menggenggam erat tangan Litania. "Aku udah nggak apa-apa, Bun. Tadi cuma ... cuma ...."
Dafan tak bisa menyelesaikan kata, bingung cara menjelaskannya pada Litania. Hanya senyuman yang bisa ia lakukan agar ibunya itu tak khawatir.
"Kenapa, tangan kamu kenapa?" cecar Litania yang masih belum puas. Jawaban Dafan benar-benar tak membuatnya tenang.
"Nggak apa-apa, Bunda sayang. Ini cuma lecet dikit. Jadi jangan dibesar-besarkan, ya."
Litania menghela napas kesal. Lagi-lagi jawaban Dafan terlalu berkelit. Ia mulai curiga.
"Iya, gak apa-apa, ya gak apa-apa. Cuma yang Bunda tanyakan ini kenapa bisa jadi begini? Pasti ada sebabnya. Ya gak mungkin tiba-tiba langsung luka. Ayo bilang, kamu habis ngapain?" cecar Litania. Kini matanya menyipit, menyelidik.
Dafan merespon dengan senyum lebar. Ia garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Nggak apa-apa, Bun. Ini cuma luka kecil doang. Enggak usah terlalu diributin," balas Dafan yang terlihat mengentengkan sesuatu. Litania jadi makin kesal, ia pukul bahu anaknya itu.
__ADS_1
"Ya sudah. Sini Bunda obatin." Lantas menarik tangan Dafan untuk duduk di sofa ruang tamu.
Hening, Dafan terdiam saat ibunya itu mengobati luka di tangan. Penuh kasih dan hati-hati. Ia merasa nyaman diperlakukan sebagai pasien oleh ibunya sendiri. Perhatian yang sudah lama tidak ia dapatkan.
"Selesai," ujar Litania setelah memberikan salab di tangan Dafan.
"Makasih, ya, Bun. Sebenarnya aku bisa sendiri, kok," balas Dafan dan langsung direspon pelototan tajam dari Litania.
"Jangan sok. Dokter juga butuh orang lain." Litania berdengkus, bibirnya jadi manyun dua senti.
Dafan kembali tersenyum, ia peluk Litania dari samping. Rasanya sudah lama tak seperti itu. Semakin dewasa, semakin jarang ia bermanja-manja maupun menghabiskan waktu bersama. Ia jadi merindukan masa kecil. Masa dimana hanya ada tawa dan teriakan sang bunda. Masa yang di kepala hanya ada kata main, main dan main.
Satu yang ia sadari, saat dewasa semua serba rumit. Mendadak ia ingin kembali menjadi kecil, tetapi bukankah itu mustahil.
"Kenapa, Fan?" tanya Litania dengan posisi masih dipelukan Dafan.
Dafan menggeleng. Ia butuh bahu untuk bersandar. Meski sebentar, ia ingin ketenangan.
Litania yang paham hanya diam dan membiarkan sang anak sulung memeluknya. Kalau diingat-ingat memang sudah tak pernah lagi seperti itu. Terakhir berpelukan ketika anak-anak itu berusia tujuh tahun. Hatinya mencelos mengingat itu.
"Makasih ya, Fan. Makasih karena kamu udah mau pulang. Makasih karena kamu dengerin omongan Bunda," ujar Litania sembari menepuk pipi Dafan, terasa sedikit gersang. Anaknya itu benar-benar sudah menjadi pria dewasa.
Waktu cepet banget berlalunya. Litania melanjutkan kata dalam hati. Ia tersenyum penuh ironi.
"Iya, Bun. Aku udah bisa nerima kenyataan, aku juga udah dewasa, jadi nggak wajar lagi ngambek sama keadaan apalagi sama saudara sendiri."
"Ya bagus itu. Ini baru anak Bunda, anak kebanggaan Bunda," balas Litania seraya menyentuh rambut Dafan dan mengacak-acaknya.
Dafan melepaskan pelukan. Matanya kembali memindai sekitaran, begitu banyak atribut pesta yang sudah terpasang. "Ini kenapa heboh banget. Bukannya Bunda bilang gak ada pesta. Lagian umur kami udah ketuaan buat pesta."
"Ya kaliannya gak mau. Tapi ayah kalian? Lagi pula katanya ini demi kepentingan perusahaan. Nanti bakalan banyak orang penting yang datang. Jadi gak apa-apa, ya?" balas Litania.
Dafan menghela napas panjang.
"Lagi pula malam ini Dafin dan Fia akan meresmikan hubungan mereka. Kamu tau, selama ini mereka cuma diam-diam. Jadi kesempatan ini jadi keuntungan untuk perusahaan," jelas Litania. Dafan pun kembali menghela napas panjang.
"Pesta pernikahan mereka dua minggu lagi."
"Dua minggu!" ulang Dafan sedikit berteriak. "Itu kelamaan. Aku harus balik, Bun."
Litania manyun lalu bersedekap. Matanya menatap tajam ke arah Dafan. "Sampe segitunya kamu, Fan. Kamu itu gak pulang tiga tahun. Masa iya izin dua minggu gak bisa." Terdengar ada kekecewaan dan paksaan dalam nada bicara itu.
"Tapi, Bun ...."
Perkataan Dafan terjeda karena Litania melibaskan tangan di depan mata. "Gak boleh protes," sela Litania.
Lagi, Dafan menghela napas. Pasrah dengan keadaan atau nasibnya selama beberapa hari ada di sana. Ia termenung bagaimana mengatasi perasaan canggung bila bertemu Fia hingga suara mobil membuyarkan lamunannya.
Mata Dafan dan Litania pun tentu saja terarah ke pintu. Mereka mendapati Dafin tengah memasuki rumah dengan wajah asam kecut.
"Wajah kamu kenapa, Fin?" tanya Litania keheranan.
"Oh ... itu, itu tadi enggak sengaja nabrak bempernya mobil orang," balas Dafan enteng.
"Astaga Dafan! Itu mobil baru loh."
"Justru baru. Lagian ada garansi, 'kan? Ya udah jangan dibesar-besarkan."
Dafin terdiam. Ia mati kata. Agak menyesal menyambut kepulangan Dafan dengan mobil yang mewah. Saudaranya itu seperti tidak merasa bersalah. Ia jadi kesal seolah itu bukanlah hal besar.
"Lagian cuma mobil, 'kan? Masa iya karena mobil kamu jadi kebakaran jenggot begitu."
"Dafan!" bentak Dafin. Ia terduduk lemah di sofa seraya mengembuskan napas frustrasi. Kepalanya berat seperti digantung dosa seribu umat. Ia Jambak rambutnya lalu menopang kepala dengan siku. "Itu mobi baru, loh, Fan. Limited edition. Jangan disamakan dengan mobil lain."
Dafan menarik sebelah bibirnya. "Jangan cengeng. Entar aku ganti kerugiannya," balasnya seraya menepuk bahu Dafin.
"Dafan!" sentak Dafin lagi.
Namun Dafan tak memedulikan. Ia lalu berdiri dan meninggalkan Dafin yang berang. Sementara Litania yang tak tahu menahu hanya terdiam melihat perdebatan mereka.
Satu persatu Dafan menapaki anak tangga. Tubuhnya lelah. Kepala serasa akan pecah. Masalah Nara serta masalah hatinya lumayan membuat kepala cenat-cenut. Malam ini ia harus kuat menyaksikan wanita yang di suka akan bersama orang lain.
Aku bisa. Pasti bisa. Tiga tahun aku rasa cukup untuk move on. Dafan bermonolog dalam langkah
Akan tetapi, baru saja menginjakkan kaki di tangga terakhir, terdengar suara cempreng sang adik. Lekas-lekas Dafan melihat ke bawah dan mendapati Anya tengah cipika-cipiki manja dengan ibunya.
"Ini yang baru pulang dari luar negeri sebenarnya siapa, sih?" desisnya kesal.
"Nya, Anya." Suara Dafan begitu lantang manggil adiknya itu.
Yang dipanggil sontak mendongak, wajahnya mendadak ceria, bergegas ia dekati Dafan.
"Bang Dafan udah nyampe? Kapan?"
"Dafan berdengkus. Ia pun menjawab malas, "Tadi jam tiga."
Anya manggut-manggut. Ia yang baru pulang kuliah tanpa ragu menengadahkan tangan. "Kado, kado, mana kado. Foto Justin sama tanda tangannya mana?" pintanya secara antusias. Senyum bahkan ia buat semanis mungkin.
Namun bukannya mendapat barang yang di inginkan, Anya justru mendapat jitakan. Gadis itu pun mendesis. Sialnya, belum sempat marah Dafan terlebih dahulu menarik pergelangan tangannya lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Duduk," perintah Dafan. Telunjuknya tertuju ke sisi ranjang.
Anya menurut. Bibirnya manyun dengan tangan yang sudah bersedekap. "Ngapain sih, Bang? Pakai tarik-tarik segala, kado aku mana."
"Kado ... kado, bisa nggak, nggak usah ngomongin kado dulu. Ada yang perlu kita bahas, Nya."
"Apaan?" balas Anya malas.
"Nara. Ada apa dengan gadis itu?" tanya Dafan dengan posisi masih berdiri. Matanya nyalang menatap Anya. Tapi anehnya yang ditatap tak merasa terintimidasi sama sekali. Gadis itu bahkan memainkan kuku.
__ADS_1
"Emangnya ada apa dengan Nara? Bang Dafan udah ketemu dia?" balas Anya bertanya balik.
"Nara! Jawab pertanyaan tadi. Bukannya malah balik nanya. Gimana sih." Kini Dafan yang bersedekap. Emosinya mendadak menanjak karena Anya.
"Emang kenapa dengan dia, sih? Wong anaknya sehat-sehat aja."
Lagi, Anya membuat Dafan harus memejamkan mata. Tangan bahkan sudah terkepal, sangat berharap ia tidak lepas kendali karena adiknya itu.
"Sejak kapan dia di Jakarta. Bukannya kamu bilang kalau dia sekolah di luar negri?" tanya Dafan lagi. Ia berusaha keras agar tak meledak sebelum tahu kebenaran yang sesungguhnya.
"Iya, itu awalnya. Tapi setelah lulus dia balik lagi," balas Anya. Kini tangannya bahkan memegang HP. Seolah-olah masalah yang dihadapi Dafan bukanlah hal besar.
Dafan berdengkus. "Kenapa kami gak bilang?"
"Emang Bang Dafan ada nanya?"
"Anya!" bentak Dafan lagi. Tengkuknya terasa terik dalam seketika. Semua darah sepertinya berkumpul di sana. Lagi, ia tatap nyalang Anya yang masih saja sibuk dengan ponsel.
"Jawab pertanyaan yang bener, Nya. Kalau gak ... kamu gak bakalan dapat tanda tangan Justin." Penuh ancaman dalam kata itu. Dan anehnya berhasil. Anya jadi menatap dirinya dengan serius.
"Lah, kok gitu." Bibir Anya langsung manyun. Ia merungut tapi berakhir mengangguk. "Ya udah, Bang Dafan mau nanya apaan," lanjutnya seraya meletakkan kembali ponsel dalam ransel.
"Sekarang dia kuliah apa enggak? Terus kuliah di mana dia?" tanya Dafan. Ada perasaan lega sedikit. Menjinakkan Anya itu artinya jalan ke titik terang akan gampang.
"Dia kuliah. Ambil manajemen bisnis. Sekarang udah semester empat."
"Lalu, kenapa kamu gak bilang?" tanya Dafan lagi, nadanya naik satu oktaf.
"Kalo itu, Nara sendiri yang minta. Lagian aku orangnya amanah. Kalo Nara bilang jangan kasih tau ya aku gak bakalan kasih tau."
Lagi, Dafan mengurut belakang leher yang terasa tegang. Anya benar-benar cobaan yang nyata dalam hidup. "Terus, laki-laki yang pake kacamata itu, siapanya dia?"
"Siapa? Fery? Dia temen," jawab Anya lagi.
"Apa? Temen?" Dafan berteriak. Anya sampai menutup kuping karena kaget.
"Bisa gak sih Bang jangan teriak-teriak. Aku gak budeg," sungutnya.
"Jadi Nara dan dia temenan. Tapi mereka tadi ... tadi mereka ...."
"Mereka kenapa, Bang?" sela Anya. Ia tatap lekat Dafan begitupula sebaliknya.
"Kamu yakin kalau Nara sama cowok itu cuma temenan?"
Anya menggidikkan bahu. "Ya gak tau. Kalau mereka nyaman satu sama lain ya gak masalah kalau pacaran. Suka-suka mereka."
"Anya!" bentak Dafan. Anya bahkan kembali berjengket sambil mengelus dada.
"Bang Dafan apaan, sih? Dari tadi teriak mulu," sungut Anya. "Lagian ya. Fery juga oke kok. Dia ganteng, anak pengusaha. Dia calon arsitek."
Mendengar itu Dafan tergelak sinis. Ia tatap adiknya itu. "Dia? Oke? Kamu yakin?"
"Ih Bang Dafan apaan sih. Jangan ngerendahin penampilan orang dari fisiknya. Lagian ya Bang, walaupun dia kek jiwa salah masuk sukma, tapi kenyataannya dia gak kalah sama Bang Dafan. Dia kaya, tampan, pintar terus pekerja keras. Dan yang lebih lagi. Dia selalu ada dekat Nara."
Mendengar penjelasan Anya, Dafan menjadi salah tingkah. Namun, karena gengsi ia tatap lagi adiknya itu.
"Tapi tetep aja dia ... dia kan ...."
"Gagap?" sela Anya. Gadis itu jadi tertawa. Dafan di buat bingung karenanya.
"Kamu kenapa ketawa?" tanya Dafan. Sedikit kesal.
"Bang Dafan ketipu. Sebenarnya dia itu gak gagap. Dia kek begitu keknya ada alasannya."
"K-kamu serius, Nya." Kini Dafan yang tergagap. Anya makin tergelak nyaring melihat gelagat aneh abangnya itu.
"Lah sekarang kenapa Bang Dafan yang gagap?"
"Anya!" bentak Dafan lagi.
Anya.memghentikan tawa. "Iya, bener. Dia itu sebenarnya gak gagap. Aku taunya baru setahunan ini. Tapi dia keknya gak tau. Aku pernah dengar dia nelfon dan gak gagap. Tapi aku biarin. Aku gak mau ikut campur. Kalo dia berakting gagap ya berarti emang ada alasannya. Dan aku gak mau kepo sebelum dia sendiri yang bilang," papar Anya.
"Terus, Nara tau gak?" tanya Dafan lagi.
"Keknya enggak." Jeda sejenak. Anya menatap lekat wajah gelisah Dafan. "Emangnya kenapa? Takut saingan ya ...."
Lagi, kekehan Anya mengudara. Bahkan makin terdengar menyebalkan di telinga Dafan. Namun, ia tetap menahan diri.
"Lagian ya Bang. Siapa suruh dulu jual mahal. Sekarang nyesel kan. Nara udah cantik. Dia calon pengusaha muda. Aku yakin banyak yang mau jadiin dia istri."
Dafan tak menyahut. Ia hanya berdengkus saja seraya melihat wajah menjengkelkan Anya.
"Lagian ya Bang. Kalo aku jadi Bang Dafan. Biarin aja Nara. Jangan ganggu hidupnya."
"Aku nggak ganggu, aku cuma mau minta maaf," balas Dafan.
"Biar apa? Biar Bang Dafan lega gitu? Biar Bang Dafan bisa hidup tenang? Tapi apa Bang Dafan nggak mikir perasaan Nara selama ini?"
Telak, Dafan serasa di skak mat. Dia mati kata karena adiknya itu.
"Lagian ya Bang, biarin aja Nara melanjutkan hidup, mau sama yang lain apa sama Feri ya terserah dia," lanjut Nara lagi.
Dafan terkekeh sinis. "Nara sama Feri? Kamu yakin? Yang spesial di hati Nara itu aku," balas Dafan sedikit jemawa.
"Spesial?" ulang Anya. Ia lalu tergelak jenaka. "Bang Dafan yakin kalau masih spesial di hati Nara?"
Dafan bungkam.
"Lagian ya, Bang. Nara itu butuh manusia, bukannya martabak."
__ADS_1