Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Arkan.


__ADS_3

"Caca Sayang ... Aunty pamit dulu, ya. Kamu yang baik sama Mommy. Aunty sama Daddy kamu balik dulu. Entar kalau ada waktu kita ke sini lagi." Litania berucap seraya menggendong Chandira. Gadis kecil berjilbab ungu itu begitu menggemaskan hingga Litania menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi. Belum lagi matanya yang bulat terlihat begitu bercahaya. Sungguh, Litania ingin sekali membawanya balik ke Jakarta.


Kini giliran Chandra yang menggendong Chandira, ia hujani juga pipi anak itu dengan ciuman penuh kasih hingga gadis mungil itu terkekeh karena geli. Sebuah pemandangan yang membuat Rania tersenyum melihatnya.


"Daddy pergi dulu ya, Sayang. Kamu jangan nakal, jangan cengeng, jangan nyusahin Mommy kamu. Entar kalau ke sini lagi, Daddy bakalan ngasih kamu hadiah yang baaanyak. Jadi nurut, ya. Jangan rewel."


Entah apa yang terjadi, Chandra mengangguk dua kali seolah mengerti. Respon cepat Chandira itu membuat lima orang di sana saling adu pandang sekilas lalu tertawa.


"Ternyata anak Daddy udah gede, sehat terus ya, Nak."


Tersenyum, Rania raih tubuh Chandira dari gendongan Chandra. "Sudahlah. Berangkat sana. Ini tu udah sore, takutnya kalian kemaleman nyampe Jakarta-nya. Litania itu lagi hamil muda. Dia enggak boleh lama-lama dalam mobil."


Serasa diperhatikan saudara, Litania terharu luar biasa. Sosok Rania begitu keren sampai akhir. "Kalau gitu kita pamit dulu." Memeluk tubuh Rania, Litania tersenyum penuh.


"Hati-hati dan jaga kesehatan."


Mengangguk paham, Litania berjalan menjauhi Rania menuju mobil yang sudah ada Chandra, Arjun dan Kinar di dalamnya.


Namun, baru saja hendak masuk ke mobil, Litania dikagetkan dengan sosok laki-laki yang mengambil gambar mereka. Sosok laki-laki yang Litania ingat bernama Arkan. Wartawan yang dulu pernah ingin sekali ia Hajar.


"Sayang kenapa masih berdiri aja. Ayo buruan."


"Eh, i-iya iya."


Litania mengukir senyuman pada Chandra lantas mencari lagi sosok lelaki itu. Akan tetapi percuma, Arkan telah menghilang. Kenyataan dan keadaan aneh yang entah kenapa membuat Litania merasa tidak nyaman.


Ada apa ini? Kenapa aku ngerasa dibuntuti? Apa jangan-jangan dia punya masalah sama .... Litania melirik Chandra yang masih menatapnya dengan keheranan.


"Kamu kenapa?"


Litania menggeleng. "Gak kenapa-napa, kok. Ya udah. Ayo kita berangkat sekarang," ucapnya seraya tersenyum.


Arjun kendarai mobil dengan pelan keluar dari halaman toko roti yang Rania kelola. Lumayan besar bahkan karyawannya semakin hari semakin bertambah. Dari yang awalnya lima kini menjadi sepuluh.


Sebenarnya enak banget jadi Pak Chandra. Berpendidikan tinggi, dewasa, berduit, punya anak dari wanita lain pun masih aja di terima sama istrinya. Hm ....

__ADS_1


Hening, suasana di dalam mobil mendadak terasa aneh. Chandra asyik dengan tablet di tangan—melihat email-email yang Ara kirimkan. Sementara Litania, matanya tertuju pada luar jendela. Perasaannya tak enak setelah memikirkan Arka. Dan soal Kinar, tentu saja matanya tertuju hanya pada Arjun.


Berdehem sekali, Litania arahkan mata melihat ke arah Chandra yang masih saja terlihat sibuk. "Aku boleh nanya gak?"


Melepaskan barang yang ada di tangan, Chandra tersenyum lantas mengangguk. "Emang ada apa? Tanya aja."


Senyap, lidah dan bibir Litania serasa membeku hingga lisan tak bisa keluar.


"Kok diam. Emang apa yang mau kamu tanyain? Kok wajahnya serius begitu," cacar Chandra yang mulai penasaran


"Aku mau tanya soal kamu sama Arkan. Kamu masih ingat dia, 'kan? Itu lho, wartawan songong yang kalo ngomong itu seenak jidat." Litania menggeram tapi sedetik kemudian menjadi diam. Chandra, suaminya itu tampak gusar dan telah mengusap kepala dengan kasar.


"Emangnya ada apa? Kamu ketemu dia? Dia gangguin kamu? Coba cerita."


"Enggak bukan begitu, aku tadi enggak sengaja ngelihat dia ngambil foto kita pas pamitan dengan Rania. Aku nggak enak hati. Coba ceritain ada masalah apa kamu sama dia."


Mengembuskan napas dengan kasar, Chandra tatap bola mata Litania dengan seksama. Bola mata yang menunjukkan ketertarikan. "Tapi kamu jangan marah, ya?'


"Aku nggak akan marah. Yang penting sekarang kamu jujur. Aku nggak mau ada masalah lagi setelah masalah Rania ini. Aku akan terima apapun itu yang penting kamu jujur sedari awal."


Kinar dan Arjun saling adu pandang—merasa tak enak hati mendengar obrolan suami istri itu.


"Lalu, masalahnya apaan?"


Lagi, Chandra usap wajah dengan kasar lantas memegang tangan Litania.


"Ternyata kembarannya naksir aku. Namanya Kira. Aku udah bilang ke dia kalau aku nggak ada rasa. Kamu tahu sendiri 'kan, di hati aku hanya ada kamu. Jadi, aku nggak pernah nanggepin siapa pun yang mau dekat sama aku, termasuk adiknya Arka.


"Jadi si Arka ini gak terima. Dia tetap minta aku buat jadian sama adiknya. Aku jelas nolak, dong. Aku nggak mau menipu siapa pun lebih tepatnya males berurusan dengan hal yang seperti itu."


"Terus, terus, terus." sela Kinar yang merasa penasaran. Sebuah celetukan spontan yang tentunya mendapat sorotan tajam dari Arjun. Kinar tutup mulutnya seraya tersenyum canggung. Chandra dan Litania bahkan memandang aneh ke arahnya.


''Maaf lanjutin aja ceritanya."


Hening, beberapa detik kemudian Chandra mengembuskan napas berat dan kembali berucap, "Ternyata tidak lama setelah aku nolak permintaannya itu, adiknya bunuh diri. Waktu itu kamu terlalu kecil jadi gak mungkin tau cerita ini. Kabar duka itu begitu viral sampe masuk berita."

__ADS_1


Menghela napas lagi, Chandra tatap manik bola mata Litania yang sudah bergerak liar. Tatapan yang tak bisa diartikan. Apakah menyalahkan ataukah bersimpati.


"O, jadi itu alasannya kenapa dia pengen banget jatuhin kamu."


Chandra mengangguk. "Dan untungnya keberuntungan masih memihak. Dia enggak pernah satu kali pun mendapatkan apa yang dia mau. Mungkin itulah yang buat dia makin kesal."


"Kenapa nggak lapor polisi? Ini udah tindakan kriminal. Dia penguntit."


Chandra menggeleng. "Gak perlu, lagian kita enggak punya bukti. Dia pun enggak punya bukti apapun."


Litania mengangguk paham.


"Ya sudah, soal Arkan nanti akan aku urus. Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Santai saja. Rileks demi anak kita."


Litania mengangguk, senyum pun merekah meski tak selebar biasanya. Tak dipungkiri ada rasa takut dalam diri. Entah mengapa sosok Arkan itu mengusik ketenangannya. Ia peluk tubuh Chandra seraya merebahkan kepalanya.


"Kamu hati-hati ya. Orang licik punya seribu cara buat ngejatuhin lawan. Zaman sekarang enggak hanya orang jahat yang dibenci orang- baik pun tetap ada haters-nya."


"Iya, aku bakalan hati-hati demi kamu, demi anak kita." Chandra kecup kening Litania lantas beralih ke bibir.


Sumpah, pemandangan romantis itu membuat Kinar panas dingin. Ia tatap lagi wajah serius Arjun.


"Arjun. Kamu tahu nggak kenapa pohon kelapa disebut dengan pohon seribu guna."


"Karena tahan lama dan kokoh," jawab Litania.


"Salah, bukan itu jawabannya."


"Karena semua bagian yang ada pada pohon kelapa bisa digunakan, dari batang, buah hingga daun," jawab Arjun.


Kinar menggeleng. "Salah. Jawaban yang benar itu adalah karena seribu cintanya udah aku kasih buat kamu."


Krik!


Krik!

__ADS_1


Krik!


Suasana mendadak sunyi.


__ADS_2