Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Arkan dan Leo


__ADS_3

Kelab malam.


Suara musik keras menyelimuti kelab. Tempat hiburan malam yang begitu ramai peminat dan pengunjung. Semua pemuda dan pemudi menikmati dentuman musik yang memekakkan telinga. Masing-masing orang melakukan apa pun yang dikehendakinya di sana. Dari berdansa, bercengkrama hingga bercinta. Tak ada yang peduli, mereka seolah bebas melakukan apa pun juga.


Tak terkecuali, Leo. Pria jangkung berbalut jaket kulit itu tengah duduk di kursi meja bar. Pikirannya semrawut karena sudah kehilangan tumpuan—tunangan pergi, ayah pun tak peduli lagi. Kini ia berakhir sendiri di Jakarta tanpa seorang pun mendampingi. Pokoknya aku harus bisa bales dendam. Ini semua karena Chandra. Aku gak rela kalau jatuh sendirian seperti ini.


Mendesah panjang, Leo angkat kepala yang terasa berat. "Saya pesan satu botol lagi," pintanya pada bartender yang tengah meracik minuman. Padahal ini adalah kali ke tiga ia pesan minuman itu. Namun, lagi-lagi habis tak bersisa.


Wajah yang sudah panas, mata yang tentu memerah tak dipedulikan. Ia terus saja menenggak minuman beralkohol itu tanpa menikmati lagi.


Tak berapa lama satu botol Wiski sudah tersaji, lengkap dengan semangkuk es dan kacang. Leo menuang lagi minuman beralkohol itu dalam gelas lantas menenggaknya hingga habis.


Mengempaskan gelas yang ada di tangan, Leo tampak menggeram. "Kenapa aku selalu gagal? Kenapa dia selalu unggul?"


Menopang kepala yang berat menggunakan siku, Leo usap wajah yang gusar dengan sebelah tangan. Kegagalan terus saja membayang hingga ia kembali menuang minuman lantas mengentakkan gelas kaca itu kala isinya habis. Sebuah perilaku yang membuat bartender sedikit terperanjat sejenak lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Aku heran, apa hebatnya dia? Apa bedanya dia dariku? Kenapa dia selalu beruntung, selalu lebih unggul? Sedangkan aku, aku juga bisa membanggakan, aku juga bisa melakukan sesuatu yang pasti bakalan bikin papa bangga. Tapi kenapa papa malah membela dia dari pada aku, anak kandungnya sendiri?"


Prak!


Suara hantaman gelas ke meja kembali terdengar, bahkan lebih keras. Bunyian yang membuat bartender geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Leo yang sudah kelihatan mabuk.


"Kamu kenapa?" tanya seseorang dari arah belakang. Suara berat yang membuat Leo tersadar lantas mencari sosok orang yang berbicara. Tampak laki-laki seusia dengannya tengah duduk dan memesan minuman kepadan bartender.

__ADS_1


"Kamu siapa? Apa kita saling kenal?" tanya Leo.


Pria itu menggeleng, tersenyum sekilas lalu meminum tequila pesanannya. "Kita belum saling kenal. Tapi aku tau siapa kamu. Kamu Leo. Aku tau kamu benci banget sama Chandra, 'kan?"


Mata Leo yang awalnya berat mendadak terbuka. Siapa orang ini? Batin Leo.


Menegakkan tubuh, Leo pandang lekat lelaki yang mengatakan mengenalnya. "Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Chandra? Dan kenapa kamu bisa tau aku?"


"Karena kita mempunyai musuh yang sama. Aku juga membenci orang itu. Chandra Maiza Kusuma."


Mata Leo makin lebar saja. "Siapa kamu?" bentaknya tak sabar. Kesal, bukannya di jawab, orang itu seperti main teka-teki padanya.


"Aku Arkan. Aku wartawan. Aku juga benci orang itu," balasnya.


Arkan? Siapa dia? Ah! Persetan siapa dia, jika dia bisa membantuku buat nyingkirin Chandra, kenapa enggak.


"Kalau kita bersatu mungkin ada kesempatan buat ngancurin dia. Apa kamu gak punya satu pun bukti?" tanya Arkan. Ia tatap serius wajah mabuk Leo yang bahkan sudah berkali-kali menunduk—tak bisa menahan berat kepala.


Kembali menuang minumannya, Leo lantas menenggak hingga habis. "Ada, tapi sudah hilang. Bukti perzinahan dia dan Rania sudah hilang."


Arkan tampak terkejut. Kini tubuhnya condong ke arah Leo. Matanya bulat dan mencoba bertanya lebih lanjut lagi.


"Apa maksudmu? Apa dia juga punya anak?"

__ADS_1


Leo tak memedulikan perkataan Arkan. ia hanya mengangguk, sedetik kemudian tergelak hambar. ''Andai kemarin aku salin."


Ah! Leo jambak rambutnya sendiri. Menyalurkan rasa frustrasi begitu juga Arkan. Ternyata ia kalah cepat. Awalnya begitu curiga akan keakraban antara Rania, Chandra dan Litania. Ternyata ada cerita di balik itu semua.


Arkan tersenyum pahit. "Apa gak ada lagi bukti lain?"


Leo menggeleng. "Gak ada. Bahkan gadis bodoh itu pun terperdaya. Padahal sebelumnya ia begitu ingin merebut Chandra. Tapi apa? Sekarang dia malah berada di sisi pria itu. Dan sialnya istrinya yang muda itu mau-mau aja dimanfaatin."


Arkan raih gelas Leo dan meminum isinya. Menenggak tanpa menikmati. Kegondokan makin menjadi saat mengingat Chandra bahagia sementara dia merana. Pria itu terlalu mujur soal wanita. Sungguh, Arkan tak terima. Chandra bisa hidup bahagia sedangkan adiknya mati sia-sia.


Tak berapa lama Arkan tertunduk. Ia sesunggukan mengenang Kira. Merasa gagal melindungi, merasa telah gagal memberikan kebahagiaan untuk adik kembarnya itu. "Sialan aku nggak terima Chandra bahagia."


"Aku juga," balas Leo, "apa kamu gak punya celah buat ngancurin dia?"


Arkan menggeleng. "Dia sekarang lagi senang-senangnya. Istrinya sedang mengandung sekarang."


"Apa?" Mata Leo membulat. Tak terima, sungguh tak adil. Hubungannya kandas dan kini Chandra malah bahagia.


"Pokoknya aku gak rela. Aku bakalan bawa dia jatuh bersamaku," lanjut Leo seraya tersenyum licik. Ia teguk lagi minumannya hingga membuat Arkan penasaran.


"Apa kamu punya rencana?" tanya Arkan.


Seringaian Leo makin lebar saja. "Tentu saja. Akan aku buat dia jatuh. Akan aku buat dia jatuh dan gak akan bisa bangkit lagi. Tapi kamu juga harus bantu. Bagaimana?"

__ADS_1


Arkan yang memang sudah mendendam tentu saja setuju. Ia ulurkan tangan pada Leo. "*Deal?"


"Deal*!"


__ADS_2