
Acara reuni berakhir tragedi. Mungkin itulah kalimat yang pas untuk para alumni rasakan. Semuanya bubar saat kebusukan Shireen terungkap. Tak terkecuali Anya, Nara dan Ferry. Mereka pun memutuskan pulang dan mengambil jalan masing-masing. Anya membawa mobil sendiri, sedangkan Nara tetap bersama Ferry. Tanpa Nara duga, Ferry memarkirkan mobil Lamborghini Aventador yang dikendarainya di tepi jalan.
"Turun dulu, Ra. Ada yang mau aku omongin," pinta Ferry sembari melepas seat belt. Ia lalu membuka pintu kemudian berjalan dan bersandar di kap mobil.
Meski bingung, Nara memutuskan untuk keluar dan duduk bersebelahan dengan Ferry.
Hening. Keduanya diam sembari memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang.
Entah mendapat bisikan dari mana, Nara begitu tergelitik hatinya untuk menoleh Ferry. Matanya berbinar penuh kekaguman karena perubahan yang signifikan pada penampilan pria itu malam ini. Waktu berangkat tadi kacamata tebal dan bulat masih bertengger di hidung, rambut pun tersisir rapi.
Tapi sekarang, kacamata itu sudah tidak ada, rambut bahkan acak-acakan dengan lengan kemeja yang sudah tergulung setengah. Terlihat lebih cool dan keren. Itu semua tak lain tak bukan karena Anya yang memaksanya menjadi Derry KW.
"Oh ya, Fer. Aku lupa bilang, kalau penampilan kamu malam ini benar-benar luar biasa. Aku puas ... aku puas karena udah lihat si Shireen itu dipermalukan di depan orang ramai," kata Nara yang berniat mencairkan suasana dan mengusir pikiran tak jelas dalam kepala.
Ferry menarik ujung bibirnya sedikit. Ia menoleh Nara lalu mengangguk. Pelan-pelan menelan ludah. Tak dipungkiri penampilan Nara malam ini sungguh luar biasa cantik dan anggun.
"Ya udah, tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Nara.
Ekspresi wajah Ferry berubah drastis. Ia bahkan memutar kepala, seakan takut menatap mata Nara.
Nara yang penasaran menggoyang bahu Ferry. "Ayo Fer, ngomong. Kamu mau ngomongin soal apaan?" tanya Nara lagi dengan suara dibuat-buat manja.
Sama saja, tetap tak direspon Ferry. Nara mulai kesal karena merasa di permainkan. Dengan wajah masam kecut ia pun berkata, "Ya udah kalo gak mau ngomong. Kita pulang aja. Sekarang udah malam."
Lantas memutar tumit hendak masuk ke mobil.
Tanpa Nara sadar, Ferry pun mengikuti. Pria itu menarik pergelangan tangannya dari belakang dan menutup pintu yang sudah terbuka. Ia lalu mendorong tubuh Nara hingga gadis itu bersandar ke pintu mobil.
Nara yang keheranan hanya bisa mengerjapkan mata dan menatap muka serius Ferry.
"Fer, kamu mau ngapain?" tanya Nara. Gugup. Dalam dada bergemuruh luar biasa.
Ferry tak menyahut. Ia diam sembari memikirkan apa yang harus dikatakan pada Nara. Sungguh, ia tak bisa lagi memendam perasaan yang semakin bergejolak bila berdekatan dengan gadis itu. Ditambah kehadiran Dafan. Sangat tak ingin kesempatan mendapatkan hati Nara hilang begitu saja. Bagaimanapun ia akan berusaha, entah itu penolakan atau bukan. Tujuannya hanya Nara—ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Menghapus kata teman menjadi cemcemman.
"Fer, bisa gak mundur dikit. Kita terlalu deket," lirih Nara. Wajahnya memerah. Melihat Ferry dari jarak dekat entah mengapa membuatnya salah tingkah. Apa karena penampilan yang berbeda?
__ADS_1
Gleg!
Nara telan ludahnya kemudian mendorong dada Ferry, tapi sayangnya Ferry bergeming dengan sorot mata tak terbantahkan. Nara makin grogi.
"Fer, apa pun yang mau kamu omongin, bisa gak posisinya jangan deket gini. Entar ada yang salah paham," ucap Nara yang seperti makin serba salah dan salah tingkah.
Lagi, Ferry tak memedulikan. Ia pegang body mobil dan mengurung tubuh Nara, sama sekali tak berniat bergerak.
"Ra, bisa liat mataku?" pinta Ferry.
Perkataan mendadak itu membuat Nara tersugesti. Ia menurut dan melihat lekat manik hitam laki-laki itu dan menelan ludah lagi.
"Aku suka sama kamu, Ra. Aku sayang sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?" ujar Ferry, terdengar tulus dan penuh harapan.
Mata Nara membulat. "Pacar?" ulangnya sedikit berteriak.
Ferry mengangguk.
Sedetik.
Dua detik.
"Ha-ha-ha ...." Tawa Nara membahana. Ia bahkan memukul dada Ferry saking lucu dan mustahilnya perkataan itu. Akan tetapi, sedetik kemudian tawa itu sirna. Nara mulai sadar ada yang tak beres dan berbeda dengan kata-kata itu.
Menatap lekat, Nara pun mulai mengemukakan pertanyaan, "Kamu ngomong apa tadi? Pacar? Kamu lagi bercanda, 'kan?"
Ferry menggeleng mantap. Matanya mengunci pergerakan mata Nara yang bergerak liar. "Aku sayang sama kamu, Nara. Aku cinta sama kamu. Sudah lama aku pendam perasaan ini dan aku nggak bisa berpura-pura lebih lama lagi. Perasaanku berkembang lebih cepat, dari cuma biasa saja menjadi suka. Dan sekarang sepertinya udah naik level jadi cinta. Aku beneran takut kamu kepincut lagi sama Dafan."
Lidah Nara kelu. Ia mematung bak tugu. Hanya mata yang mampu beroperasi.
"Fer, k-kamu nggak ga-gagap lagi?" tanya Nara. Sekarang dirinya yang tergagap-gagap. Shock. Ia benar-benar tak bisa menetralisir kebingungan. Bagaimana bisa Ferry yang biasanya bicara terbata-bata kini begitu lancar mengatakan cinta?
Kembali menelan ludah, Nara sampai menampar pipinya sendiri.
Sekali.
Dua kali.
__ADS_1
Ferry yang melihat itu langsung mencegah tamparan ketiga. Ia genggam tangan Nara lalu menciumnya. "Maaf, mungkin aku selama ini udah nipu kamu. Aku bersandiwara, Nara. Tapi aku punya alasan."
"A-alasan?" ulang Nara yang masih tak percaya. Antara bingung, senang dan kecewa, perasaan itu berkecamuk hingga membuatnya lebih mirip orang linglung.
"Iya, aku punya masalah dengan wajah. Tampangku ini menjadi boomerang. Mungkin terdengar narsis dan nggak tau malu, tapi di sekolah lama aku diperebutkan banyak cewek. Bahkan ada yang terang-terangan menggoda. Itu sebabnya aku bergaya begini. Aku mau fokus ke pelajaran dan aku gak bakalan dapetin itu jika penampilanku masih sama," terang Ferry.
Nara terdiam. Ia masih saja mendengar. Rasanya tak percaya ada yang mengikuti jejak ibunya—bergaya aneh demi kenyamanan diri.
"Ra, kamu gak marah, 'kan?" lanjut Ferry lagi, terdengar hati-hati.
"Marah?" ulang Nara. Ia tersenyum sedikit tapi lama-lama suara tawanya menggelegar juga. Dipukulnya tahu Ferry. "Kenapa aku harus marah, Fer? Aku malah seneng, aku malah bersyukur ternyata kamu nggak gagap. Kamu perfek sebagai laki-laki. Aku gak nyangka ternyata selama ini ada juga yang ngikutin caranya mama aku."
Ferry terdiam. Respon Nara itu membuatnya makin bingung. Ia sudah memprediksi kalau Nara akan mengamuk. Tapi gadis itu malah tertawa bahagia dan sama sekali tidak masalah dengan rahasia yang selama ini ia jaga rapat-rapat.
"Kamu beneran nggak marah?'' tanya Ferry lagi.
Nara menggeleng, melepaskan tangan Ferry dari pundak lalu menyikut tanpa canggung.
"Aku nggak marah, Fer. Semua orang berhak melakukan apa pun yang dia mau. Mau itu kejahatan, kebaikan atau apa pun, terserah. Aku percaya semua ada alasan dibaliknya. Dan aku paham alasan kamu. Mungkin bagi sebagian orang akan marah karena masalah ini. Karena kamu bisa dibilang jahat, tukang tipu. Bisa-bisanya nipu temen sendiri. Dan tipuanmu benar-benar apik. Aku aja sampai kaget. Nggak pernah ngebayangin kalau ini cuman sandiwara. Tapi kembali lagi pada kenyamanan diri masing-masing. Aku maklum karena mama juga dulunya kayak gitu," terang Nara tanpa ada perasaan kecewa sedikit pun.
Ferry mendesah lega dan tersenyum. Kebahagiaan begitu jelas terpancar di bola matanya.
Dan tanpa diduga, Ferry kembali membuat serangan dengan menggenggam tangan Nara. Mata mereka bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. "Jadi apa kamu mau jadi pacarku?" tanya Ferry lagi.
Terbeku, Nara diam membisu hingga Ferry yang terlanjur terbawa arus mendekatkan wajah. Tanpa bertanya ia pun menghisap bibir merah merona milik Nara. Nara yang masih linglung tak bisa merespon dengan baik dan hanya bisa mengerjap hingga lumatann ringan dan penuh perasaan itu berhenti dengan sendirinya.
Tanpa mereka sadari, ternyata Dafan yang kebetulan melintas melihat antar bibir yang saing sapa itu. Darahnya berdesir, tangannya terkepal erat dengan rahang yang sudah mengetat.
Serasa mengalami sindrom deja vu. Dulu Fia, dan sekarang Nara. Sungguh, ia ingin murka. Ia tahu tak berhak melarang, tapi emosi dalam dada tak bisa diredam. Akhirnya, tanpa bisa ditahan lagi pria berpakaian kasual itu pun menyeberang jalan dengan sembarangan. Beruntung tidak banyak kendaraan yang lewat mengingat waktu sudah hampir tengah malam.
"Terima aku ya Ra, terima aku jadi pacar kamu. Aku jan—"
Belum juga selesai Ferry mengikrarkan janji sebuah tarikan dari belakang mengagetkan. Ferry terhenyak dan mundur beberapa langkah. Matanya membulat lebar saat melihat ternyata Dafan yang menghancurkan moments romantis itu. Ia meronta tetapi Dafan seperti kehilangan akal sehat, dokter muda itu terus saja menarik kerah baju Ferry dan membuat Ferry terjungkal ke tanah.
"Apa-apaan ini?" dengkus Ferry kesal.
***
__ADS_1
Like komen dan vote jgn lupa. Beberapa bab sebelum tamat.