
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Chandra, matanya fokus menatap wajah Arjun yang jelas sedang gelisah.
"Entahlah, Pak. Saya masih belum yakin," balas Arjun. Ia seruput kopinya lalu kembali terdiam.
"Terima sajalah, Mas Arjun. Saya yakin Pak Frans gak ada niatan buat menghina Mas Arjun." Rio menimpali. Mata ia edarkan ke sekeliling tempat mereka mengobrol. Air kolam renang yang tenang dan duduk di gazebo bergaya oglo membuat tiga orang beda usia itu terdiam lagi. Cahaya terang bulan purnama tak mampu mendamaikan perasaan si empunya rumah—Arjun.
"Kalau Pak Chandra yang ada di posisi saya, apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Arjun.
Chandra mengisap rokok, mata tertuju ke dalam rumah. Ia melihat Istrinya, Kinar dan Ara tengah sibuk menyiapkan makan malam. Gimik bahagia tiga perempuan itu membuatnya juga tersenyum meski tak tau apa yang mereka ucapkan. Namun, saat melihat istrinya yang masih tetap energik meski sedang mengandung membuatnya juga ikutan bahagia. Litania adalah cahayanya.
"Saya akan terima. Karena dengan kamu menerima tawaran ayahnya Kinar secara langsung kamu juga membahagiakan istri kamu itu."
"Tapi tanpa saya bekerja di perusahaannya pun saya bisa membahagiakan Kinar. Dia selalu tertawa, dia gak pernah ngeluh, dia energik. Kami menikmati pernikahan kami," balas Arjun.
Kini matanya juga terarah ke dalam rumah. Wanita yang baru dinikahinya seminggu yang lalu terlihat bahagia dengan senyum yang tak luput dari mata.
"Walaupun begitu kamu tetap gak boleh mengesampingkan kenyataan kalau istri kamu itu tetap seorang anak. Dengan kamu menyetujui permintaan Pak Frans saya yakin Kinar main cinta sama kamu. Karena apa, karena dia gak bisa mengabulkan permintaan ayahnya itu."
"Tapi saya merasa belum yakin buat memegang perusahaan sebesar itu. Beribu nasib karyawan ada di tangan saya." Arjun terdiam lagi. Memang benar Kinar tak akan bisa mengabulkan permintaan ayahnya sendiri. Ia tau sebatas apa kemampuan istrinya itu. Hanya saja tak percaya diri jika harus mengambil alih perusahaan ayah Kinar. Ia ingin berdiri sendiri tanpa ada yang menopang. Namun ....
"Yakin saja. Saya percaya sama kemampuan kamu. Saya yakin kamu bisa buat perusahaan itu berkembang. Niatkan dalam hati, semua demi istri," jelas Chandra lagi.
__ADS_1
"Iya, saya juga sepemikiran," timpal Rio.
Ketiganya kembali terdiam hingga Ara datang dan langsung mengalungkan lengannya ke pundak Rio. Tak ada sungkan karena memang mereka semua telah berkomitmen—saat di kantor harus profesional, tapi saat di luar mereka harus seperti teman.
"Lagi ngobrolin apa?" tanya Ara keheranan saat melihat ekspresi tiga pria itu secara bergantian.
"Cuma obrolan biasa aja, kenapa?" tanya Rio yang juga mengalungkan lengan di pinggang Ara. "Apa kalian perlu bantuan?"
Ara mengulas senyuman. Suami berondongnya itu sangat pengertian. "Gak, kok. Malah makan malamnya udah hampir siap. Ayo kita masuk."
Ketiga pria itu pun mengikuti Ara memasuki rumah bercat putih yang lumayan besar. Ada tiga lantai dan delapan kamar. Rumah hasil jerih payah Arjun bekerja keras menjadi CMO di perusahaan Chandra.
Di dalam rumah, Litania yang sedang menata meja makan dikagetkan dengan kehadiran Chandra dan yang lainnya. Senyumnya menyambut kedatangan orang-orang kepercayaan suaminya itu.
Chandra mengikuti instruksi. Ia duduk tanpa bicara. Namun, meski begitu senyumnya tetap terlihat. Tangan bahkan mengelus perut Litania yang baru memasuki usia kehamilan 8 minggu.
"Kamu jangan terlalu capek," ucap Chandra, mengingatkan.
"Iya, lagian aku cuma mengatur meja makan aja, kok. Gak yang berat-berat banget. Kokinya tetap Kinar," balas Litania. Ia layani suami tanpa sungkan karena memang Ara juga berperilaku yang sama—menyiapkan isi piring suami masing-masing tanpa malu mengumbar kemesraan. Tawa dan canda mereka menghiasi rumah.
"Arjun, bisa ke sini sebentar?" pinta Kinar yang masih setia berada di balik kitchen set yang satu ruangan dengan meja makan.
__ADS_1
Arjun yang memang berdiri di dekat kulkas langsung menghampiri Kinar. "Kenapa? Kamu perlu bantuan?" tanya Arjun lemah lembut.
Kinar yang mengenakan celemek nyengir. Ia ambil sesendok kuah sop dari dalam panci dan meniupnya beberapa kali. "Coba icip, rasanya udah pas apa belum?"
Arjun hanya ber-oh. Ia sedikit membuka mulut, bersiap menerima sendok yang Kinar sodorkan. Namun, bukannya sendok yang mendarat di bibir melainkan bibir Kinar sendiri.
"Enak, 'kan?" tanya Kinar saat sukses bermodus ria ke suaminya.
Arjun yang sempat kaget kembali menyipitkan mata. "Gak enak."
"Hah!"
Senyum Kinar sirna.
"Karena aku belum kenyang," lanjut Arjun seraya menarik tengkuk Kinar. Ia melahap habis bibir ranum wanita yang selalu saja sukses membuatnya on hingga suara decakan pun tak terelakkan. Sebuah pemandangan yang tak sengaja Litania lihat.
"Aw! Ada porno aksi!"
-
-
__ADS_1
-
-