Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Resepsi


__ADS_3

"Fan, tolong fotoin," pinta Dafin pada saudaranya yang kebetulan lewat. "Aku mau jadikan ini kenang-kenangan sebelum melakukan malam pertama," lanjutnya seraya tersenyum jemawa. Ia lantas menyerahkan ponsel dan berdiri di dekat jendela.



Dafan berdengkus, jujur ia iri dengan saudaranya itu. Namun, pendidikan yang belum selesai membuatnya pasrah saja dilangkahi. Tak hanya Dafin, adiknya yang bungsu juga sudah melepas status dari gadis menjadi istri tadi pagi. Kini mereka semua sudah berada di hotel dan tengah bersiap untuk resepsi.


Beberapa foto telah diambil, Dafan pun lantas menyerahkan ponsel itu lalu pergi tanpa berkata lagi. Ia tahu jika berdekatan dengan Dafin lebih lama, ia akan menjadi bulan-bulanan saudaranya itu.


Akan tetapi, saat keluar dari ruang tunggu pengantin, Dafan kembali dibuat kesal dengan sebuah pemandangan yang tak menyenangkan. Ia melihat Nara yang sudah cantik dengan gaun pink sedang berbicara dengan Ferry. Melihat itu darahnya berdesir.


Cemburu? Ya ... meski Nara sebentar lagi akan berubah status menjadi tunangannya tetap saja ia merasa Ferry adalah ancaman terbesar. Terlebih lagi akan segera meninggalkan Nara selama setahun.


Mendekat dengan langkah lebar, Dafan lantas meraih pundak Nara dari belakang dan merangkulnya mesra. Seolah-olah menekankan pada Ferry kalau Nara adalah miliknya.


"Lagi ngobrolin apaan?" tanyanya dengan wajah serius.


Wajah Ferry masam kecut. Sementara Nara hanya bisa tersenyum canggung.


"Ini, Ferry cuma ngasih bunga," balas Nara seraya memperlihatkan setangkai mawar merah yang ada di tangan.


Lekas Dafan meraihnya. "Bunganya cantik, tapi bukannya gak etis ya ngasih bunga ke gadis yang mau bertunangan?"


Dafan menyeringai, ia dapat melihat ekspresi kesal Ferry. Terlebih lagi nalurinya mengatakan kalau Ferry adalah musuh yang kuat. Jadi sebisa mungkin ingin ia jauhkan dari Nara.


Sembari membuat-buat senyum tulus, Dafan yang tengah berperang dalam sorot matanya pun kembali berkata pada Ferry, "Tapi nggak masalah, kalian kan temenan udah lama jadi aku maklum. Tapi ingat, ini hari terakhir. Jangan pernah kasih bunga buat dia lagi."


Penuh penekanan dalam kata terakhir. Nara yang tak terima mendongakkan kepala dan menatapnya tak percaya.


"Kenapa gitu?" protes Nara. Ia tak enak pada Ferry. "Kami kan temenan udah lama," lanjutnya.


Dafan mencondongkan kepala. "Oh, ya. Kalau temenan, aku juga punya banyak temen. Di sana malah boleh dari sekedar kasih bunga, loh."


Nara mendesis ia cubit pinggang pria itu lalu memutar mata malas. Ia tatap lagi Ferry yang mengenakan setelan rapi tapi tetap terlihat trandi.


"Fer, bisa fotoin kami, gak?" pintanya.

__ADS_1


Meski sakit, Ferry mengangguk juga dan mengabadikan foto Nara yang begitu cantik dengan gaun itu.


Mendesah lirih, Ferry serahkan ponsel Nara lalu pamit undur diri. Ia menyerah, ternyata berpura-pura baik-baik saja begitu menyiksa batin. Mentalnya menderita saat menyaksikan gadis yang disuka bersisian dengan pria lain.



***


Tibalah waktunya resepsi. Semua tamu menikmati pesta pernikahan dari penerus dua keluarga konglomerat terkaya di Indonesia. Dua pasang pengantin tengah berdiri menyambut para tamu dengan senyum bahagia. Dafin dan Fia di sebelah kiri, Anya dan Derry juga berdiri di sisi lainnya.


"Ini kok Pak Chandra mau mau aja ya bikin pernikahan barengan kayak gini? Apa nggak takut pamali?" bisik seseorang wanita tua yang mengenakan kebaya. Sebuah pertanyaan yang membuat Reka yang berdiri di sebelahnya merapatkan diri.


"Pamali kenapa, Buk?" sela Reka dengan sopan.


"Iya, Bu. Setahu saya kalau nikah barengan gini salah satu pasti ada yang sial. Entah itu meninggal atau cerai," sahut si wanita paruh baya berterusan panjang.


Senyum Reka terkembang sedikit. "Bukannya jodoh, rejeki dan maut itu semua rahasia Tuhan, ya Bu? Kita gak boleh menyangkut-pautkan sesuatu seperti itu. Banyak juga kok yang menikah enggak bareng saudara tapi akhirnya cerai juga. Apa itu kena pamali?"


Ibu-ibu itu terdiam. Mereka saling sikut seolah-olah ingin salah satu dari mereka menyanggah. Namun, Reka yang memang berkepribadian tenang membalas dengan senyuman.


Namun, kedua orang wanita itu berlalu. Mereka mencibir Reka. Reka yang berada di belakang pun lagi-lagi hanya bisa tersenyum hingga akhirnya sebuah tangan di pundak mengagetkan.


"Kenapa sendirian, Mbak?" tanya seorang wanita tua yang Reka kenal bernama Lita. "Fero mana?" lanjutnya lagi seraya celingukan.


"Dia gak ikut, Ta. Katanya lagi banyak kerjaan di kantor," balas Reka.


Lita manggut-manggut, sedetik kemudian ia teringat dengan usul Litania yang ingin menjodohkan Fero dengan anaknya—Livia.


"Mbak Reka, sebenarnya ...."


Lisan Lita terjeda, ia tak tahu harus berkata apa karena merasa bersalah. Ia sudah terlanjur menyetujui perjodohan antara Fero dan Livia yang diatur oleh Litania. Tapi ternyata tanpa ia perkirakan Livia menentang perjodohan itu karena sudah menyukai pria lain.


"Begini, sebenarnya Livia sudah punya calon suami. Apa bisa kita batalin perjodohan mereka?" ucap Lita canggung. Jujur ia tak enak hati. Kalau bisa memilih, ia ingin sang anak menjadi menantu Reka, tapi ....


"Iya, nggak apa-apa," sahut Reka. "Fero juga kemarin menentang soal perjodohan ini. Saya pikir-pikir pun ini jalan yang terbaik. Kayaknya kita salah memaksakan kehendak sama anak. Sekarang nggak jaman lagi pakai jodoh-jodohan," balas Reka, ia tersenyum getir. Bagaimanapun usia Fero sudah tergolong matang untuk berumah tangga, tapi anaknya itu selalu menolak jika dirinya membahas pernikahan.

__ADS_1


Mengembuskan napas lirih, semburat kekhawatiran terlihat jelas di raut muka Reka yang sudah menua. "Ya sudah, kalau gitu saya pamit, ya. Saya mau nyamperin ayahnya Fero dulu," pamit Reka lalu berlalu.


***


Setelah resepsi usai dan para tamu undangan pulang, tampak dua pasang pengantin baru tengah melewati koridor hotel dengan senyum terkembang. Mereka memamerkan kemesraan tanpa canggung hingga tibalah mereka di depan kamar masing-masing yang saling bersisian.


Akan tetapi, saat hendak menyentuh handle pintu, suara seruan dari arah samping mengagetkan dua pasang pengantin baru itu. Tampak Chandra dengan setelan rapi berjalan mendekat. Air matanya tergenang sedikit di pelupuk. Rasanya tak percaya, waktu begitu cepat berlalu. Anak-anak yang dulunya selalu ribut kini sudah dewasa dan siap mengarungi bahtera rumah tangga.


"Anya, Dafin, sini sebentar," panggilnya lagi.


Alis Dafin tertaut, begitu pula Anya. Namun keduanya memutuskan mendekati sang ayah yang berdiri agak jauh.


"Ada apa, Yah? Apa Ayah butuh sesuatu?" tanya Dafin yang diangguki Anya.


Chandra menggelang. Ia peluk kedua anaknya dengan hangat lantas berbisik, "Villa yang ada di Kepulauan Seribu akan jadi milik kalian yang sukses ngasih Ayah cucu."


Mata Dafin dan Anya membulat, tapi sedetik kemudian keduanya baru paham dan langsung berlari ke arah pasangan masing-masing. Mereka menariknya masuk ke kamar pengantin.


-


-


-


-


Tamat.


Hiyaaa....


Btw aku bakalan kasih ekstra part. Kalian mau lihat adegan ninu-ninu Dafin Fia apa Anya Derry?


Hah Hah hah hah.


Yang jomblo di larang baca.

__ADS_1


__ADS_2