Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Jebakan Batman.


__ADS_3

"Kalau perasaanmu sama Ferry bagaimana?" lanjut Anya.


Nara mengeluarkan napas lirih lalu berkata, "Aku senang dekat dia. Bagaimanapun dia kan teman kita. Tapi kalau soal perasaan ... sepertinya Dafan lebih unggul."


Anya ikutan mendesah, senyumnya sedikit tercipta. Ia tahu kalau sahabatnya itu tengah dilanda gegana—gelisah, galau dan merana.


"Jadi aku harus apa, Nya?" tanya Nara yang terlihat putus asa. Ia seruput jus-nya.


"Ya udah kalau gitu, kamu nggak bisa ngelak lagi. Kamu harus nikah sama Bang Dafan tapi sebelum itu kamu harus nolak Ferry. Aku nggak mau punya ipar yang poliandri."


Sontak saja Nara menyemburkan jus yang baru saja masuk ke mulut. Ia berdecak sebal sambil mengelap bibir. "Kamu kira aku perempuan gak ada akhlak? Gimana ceritanya poliandri kalau satu orang Dafan aja udah mewakili seluruh laki-laki yang ada di muka bumi ini," ujar Nara sambil berkhayal tak jelas. Ia tersenyum siput—malu-malu.


Anya yang melihat itu mulai mencibir, "Mulai deh bucin. Kemaren aja gak mau bahas Dafan. E ... sekarang malah dipuja-puja. Labil kau Fergusso." Lantas memercikkan sisa jus yang menempel di sedotan.


Nara tersenyum. Ia seruput lagi jus alpukat yang ada lalu menatap serius Anya. "Tapi masalahnya Ferry. Aku tau dia tulus, dan itu yang bikin aku gak tega buat nolak dia."


"Nah loh. Jangan bilang mau poliandri beneran. Aku kepret gak bakalan jadi kawin kamu," balas Anya.


Nara lagi-lagi nyengir. "Ya gak gitu, Nya. Kamu sih gak pernah ngerasain di posisi aku. Diperebutkan itu adalah anugerah dan musibah."


"Ya ya ya. Secara gak langsung kamu itu merendah untuk meninggi. Dasar."


"Tapi bukan itu, Nya. Aku itu gak tega bilang ke Ferry kalau seminggu lagi bakalan tunangan sama Dafan," elak Nara.


"Tinggal bilang aja sih, Nggak usah ribet-ribet. Bilang kalau kamu masih sayang sama Dafan. Bilang kalau kamu ingin kita tetap temenan. Udah, gitu aja. Nggak usah banyak pikiran. Entar makin dipikirin kamu makin pusing. Dari dulu hidup itu hanya ada dua pilihan. Kamu maju apa mundur, kalah atau menang, tetap bertahan atau pergi. Semua pasti berkesinambungan. Jadi, jangan berkecil hati. Lakuin aja apa yang kamu mau. Lagian ya, kalau berhubungan dengan sesuatu yang setengah-setengah itu gak baik. Aku jamin kamu, Dafan dan Ferry nggak bakal bahagia. Keraguan hanya akan bikin tiga manusia menderita," papar Anya lalu tersenyum kecil karena mendengar ucapannya sendiri. Mendadak ia merasa telah berubah menjadi Mario Teguh. Super sekali.


"Iya, aku tau, tapi gimana cara nolak dia, Nya?" rengek Nara.


Anya yang gemas pun berdecak. Ia kembali memercikkan jus ke wajah Nara. "Ya itu, yang aku bilang tadi. Bilang aja semuanya sama dia. Aku percaya Ferry, orangnya enggak licik, kok. Aku percaya, kita temenan kan udah lama."

__ADS_1


"Hmm gitu ya?" Nara manggut-manggut. Meski tak yakin ia akan melakukan seperti saran Anya. Jujur dengan perasaan sendiri dan menolak Ferry.


"Ya udah, deh. Sekarang masih sore jadi lebih baik kamu telepon Ferry. Ajak dia ketemuan terus ungkapin apa yang udah terjadi," saran Anya.


Nara lagi lagi mengangguk. Anya pun berdiri dan memakai kembali tas selempang bergliter miliknya lalu menepuk pundak Nara. "Good luck ya. Aku mau pulang. Capek seharian di dapur," ujarnya lalu pergi keluar restoran.


"Lah, mau ke mana?" teriak Nara. "Gak mau aku anter? Kamu kan gak bawa mobil."


Tanpa berbalik, Anya melibaskan tangan. Lagi pula ia butuh waktu untuk berpikir.


Dalam langkah yang lebar, Anya mendadak resah. Bukan karena Nara akan menjadi iparnya, melainkan rencana yang sudah ia susun untuk menikahi Derry akan berantakan. Rencana yang sudah diatur. Ia memerlukan Ferry dalam rencana itu. Namun, setelah tahu perihal cinta segitiga yang mendera dua sahabatnya, tidak mungkin ia memaksa salah satunya untuk berpartisipasi.


"Gila, aku harus gimana coba? Harus sama siapa aku minta tolong?" gumam Anya dalam langkah. Ia tendang kaleng yang ada di jalan dan tak sengaja mata melihat dua orang yang ia kenal betul tengah bermesraan di sebuah kafe. Senyum pun tercipta tanpa sadar. Anya merasa Tuhan memberinya cara untuk lolos dari masalah yang tengah dihadapi. Gegas ia masuk ke kafe lalu mendekati sejoli yang tengah bertatapan dengan bibir tersenyum bahagia.


"Wah, kayaknya seru, nih. BTW, kalian lagi ngobrolin apaan?" tanya Anya seraya duduk di kursi tanpa dipersilakan lebih dulu.


Sontak saja dua manusia itu langsung terbatuk. Keduanya sama-sama menyemburkan minuman yang baru saja diseruput.


"Anya," panggil keduanya hampir bersamaan. Mereka Shock.


"Ya, aku Anya. Aku kira kalian nggak ingat aku. Oh iya, Damar, apa kunci motor kamu udah ketemu?" tanya Anya seraya menatap si pria. Sedetik kemudian ia menatap sinis kepada si perempuan yang bernama Monica. Perempuan yang begitu kekeh mengatakan dirinya punya hubungan sama Damar. Tapi nyatanya gadis itu sendiri yang mempunyai hubungan terlarang itu. Terlebih lagi di belakang Lyra, sahabatnya sendiri. Ckckck!


Mendadak Anya ingin tertawa jahat. Entahlah, ia merasa lucu saja. Merasa menjadi kambing hitam karena sandiwara yang dilakukan Damar dan Monica.


Menyipitkan mata, Anya kembali bertanya, "Apa Lyra tahu kelakuan kalian ini?" Langsung, to the point. Tepat mengenai sasaran.


Seketika wajah keduanya memucat. Monica yang kemarin berwajah garang kini melunak drastis. Bagai kucing yang kelaparan, ia memelas dengan mata mengiba. Dipegangi tangan Anya.


"Please ... jangan kasih tahu Lyra, aku bisa mati," ujar Monica.

__ADS_1


Tangan Anya sebelah kiri pun diraih oleh Damar. "Iya, Nya, tolong kita kan temenan. kamu kan baik hati. Masa nggak mau bantuin. Aku sama Lyra udah nggak nyaman. Aku senang bareng Monik, apa salah kalau aku mutusin Lyra dan jadian sama Monik?"


Anya menepis tangan keduanya lalu bersedekap. "Salah," ujarnya tegas. "Salah karena kalian bawa-bawa aku. Harusnya kalian bermain pintar dan jangan libatkan aku dalam sandiwara konyol kalian ini."


Mata Anya tertuju pada Damar yang terlihat keren dengan jaket denim. Sayangnya tetap menjadi pengecut di matanya. "Harusnya kalau nggak sayang sama Lyra, kamu jujur. Jangan main belakang."


"Udah, Nya. Tapi susah banget ngelepasin dia. Dia nggak mau putus," terang Damar.


Monica pun mengangguk, seperti mengiyakan perkataan itu.


"Whatever-lah itu bukan urusan aku. Tapi tetep kalian salah."


Anya lalu mengeluarkan ponsel, men-scroll layar benda pipih itu lalu meletakkan ke telinga.


"Hai, Ra. Apa kabar? Oiya, kamu di mana se—"


Belum juga selesai ucapan Anya, Damar lebih dahulu meraih ponselnya, lalu mematikan. Ia tampak gemetar.


"Nya, please ... tolong, tolong ... banget, kamu jangan bilang sama Lyra. lagi pula mereka sudah putus," terang Monica yang juga tampak ketakutan.


"Iya, Nya," sahut Damar. "Aku bakalan ngelakuin apa pun asal kamu jangan kasih tahu Lyra."


Anya menyeringai, meraih ponselnya dari genggaman Damar lalu kembali memasukkannya ke dalam tas. Ia menatap Damar dan Monica secara bergantian. Senyum ambigu pun tercipta jelas.


"Kalian bisa ngelakuin apa aja?" ulang Anya.


Damar menatap Monica sekilas lalu kembali menatap Anya. Entah kenapa senyuman manis Anya membuat bulu kuduknya meremang. Seperti tengah berhadapan dengan setan. Namun, karena takut ketahuan Lyra, ia dan Monica pun mengangguk serentak.


"Ya, kami bisa ngelakuin apa pun asalkan kamu enggak bocorin masalah ini," sahut Damar.

__ADS_1


"Baiklah. Kebetulan aku juga butuh orang. Aku butuh kalian berdua," balas Anya. Senyum itu makin terlihat mengerikan.


Like jgn lupa.


__ADS_2