
Beberapa hari selanjutnya.
Litania gelisah menyusuri rumah dan tak mendapati Kinar di mana pun. Semenjak perkelahiannya malam itu, Kinar tampak murung, begitu berbeda dari sebelumnya—semangat, konyol plus centil.
Namun, tidak untuk beberapa hari ini. Gadis itu seakan tak semangat melakukan apa pun. Kinar, di mana kamu? Batinnya.
Litania terus saja menyusuri rumah, dari lantai bawah hingga atap rumah, tapi tetap saja tak menjumpai gadis pelangi itu. Beruntung, mata tak sengaja melihat Kinar yang tengah duduk di gazebo dekat kolam ikan. Gadis berpenampilan nyentrik itu tampak memberi makan ikan peliharaan dengan pakan. Namun, tetap saja dengan ekspresi yang terlihat jelas sedang muram.
"Kinar!"
Panggilan Litania begitu nyaring hingga mengagetkan Kinar. Kinar menghela napas lirih tapi kembali melemparkan pakan itu kepada ikan. "Kenapa?"
Litania tak merespon. Ia ambil makanan ikan dari tangan kinar seraya menaburnya. Hening hingga beberapa detik.
"Kamu sebenarnya kenapa Kinar?" tanya Litania dengan mata yang terfokus pada ikan koi yang ada di kolam.
Wajah Kinar kembali murung. Desahan napas panjang menjadi responnya. Ia rebahkan tubuhnya ke lantai gazebo. Mengalas kepala dengan lengan, lantas menatap langit-langit dengan pandangan kosong hingga membuat Litania heran dan tanpa sadar mengerutkan dahi.
"Kamu aneh. Sebenarnya ada apa?" tanya Litania lagi.
Namun bukannya menjawab si Kinar kembali mengembuskan napas. Bahkan lebih panjang dari sebelumnya. Kegugupan pun menyerang Litania karena tingkah tak wajar dari Kinar.
Litania rebahkan punggung di lantai, menunggu Kinar mencurahkan isi hatinya.
Haning lagi, begitu lama hingga 5 menit pun berlalu tanpa terasa.
"Litan ...."
"Kenapa? Ngomong aja. Apa kamu punya masalah. Coba cerita. Tapi kali kamu gak mau ngomong sekarang juga gak apa-apa. Aku nggak apa-apa, kok. Kalau kamu belum siap ngomong sekarang, aku bakalan nunggu. Tapi aku harap sikap kamu jangan berubah kayak gini. Kamu bikin aku takut tahu nggak."
Kini Litania sudah mengubah posisinya, ia hadap Kinar dengan beralaskan lengan kiri. "Sebenarnya ada apa kenapa kamu jadi murung begini? Apa aku punya salah? Apa kamu marah sama aku?"
Napas panjang Kinar terdengar lagi. "Litan, aku nggak marah sama kamu. Beberapa hari ini aku cuma merenung. Aku merenungkan apa yang kamu bilang pada Arkan malam itu, kalau perempuan enggak pantes ngejar laki-laki. Kalau perempuan baik-baik enggak bakalan tergila dengan laki-laki. Apa bener kayak begitu?"
Mata Litania membeliak. Tak menyangka ucapannya kala itu berimbas pada Kinar. Ya, ia baru sadar kalau Kinar juga tengah mengejar Arjun.
Kini Litania yang menghela napas panjang lantas mengubah posisi menjadi telentang. Sebisa mungkin ia redam perasaan tak enak karena niatnya juga bukan seperti itu.
"Bukan kayak gitu, Kinar. Aku nggak nyalahin kamu. Aku kesel itu ada perempuan yang ngejarnya sampai maksa-maksa. Nah kalau kamu ini aku lihat masih belum ke tahap maksa. Menurut aku kamu ini masih ke tahap usaha," ucap Litania dengan menekankan kata usaha. Berharap penjelasannya itu bisa menghibur dan menjelaskan kesalahpahaman yang ada.
"Bedanya usaha dengan maksa itu apa?" Kinar bertanya lagi dengan bibir yang masih manyun, sedangkan mata menatap kosong pada atap gazebo yang di desain seperti pondok tradisional rumah khas orang Jawa. Begitu nyaman dan menenangkan berada di bawahnya.
"Ya bedalah, kalau usaha itu kita belum tahu jawabannya. Arjun juga masih belum ngasih tahu kamu jawaban dia, 'kan? Wajar dong kalau kamu masih usaha. Nah kalau yang maksa itu yang udah tahu jawabannya tapi masih ngebet, masih pengen maksain kehendak. Itu yang enggak bener."
Muka Kinar makin sedih. Alisnya tertaut, bahkan sudah ada jejak kesedihan di ujung pelupuk matanya. "Sebenarnya dia udah ngasih aku jawaban. Katanya aku bukan tipe dia. Apa aku nyerah aja ...."
__ADS_1
Suara Kinar terdengar putus asa diikuti dangan desahan panjang. Membuat Litania merasakan kesedihan juga. Ia dekatkan dirinya lalu memeluk Kinar.
"Jadi aku harus apa? Aku yakin papa sekarang tengah OTW ke Indonesia. Dia pasti sekarang udah sadar kalau aku nggak ada di asrama. Apalagi kemarin ketemu sama rekan bisnisnya dia. Aku takut Litan, aku takut bakalan pergi tanpa tahu perasaan Arjun."
Suara Kinar terdengar bergetar. Bahkan air sudah mengalir setetes melalui pipinya.
"Kalau gitu kita cari tahu perasaan Arjun," jawab Litania seraya melepaskan rangkulan. Ia duduk dan menatap wajah sedih Kinar dengan perasaan yang juga tak karuan.
"Caranya?" tanya Kinar antusias. Ia angkat dari posisinya dan menatap lekat wajah Litania.
"Kita hubungi Aldi. Kita pakai cara itu. Kita lihat dulu ekspresi Arjun, kalau dia cemburu berarti dia juga ada rasa sama kamu. Tapi kalau emang ekspresinya biasa aja aku saranin kamu move on terus balik lagi ke sana. Cari laki-laki yang benar-benar mau kamu terus ngehargain kamu."
"Oke, aku setuju. Aku mau lihat, apa dia ada rasa sama aku apa enggak. Kalau emang nggak ada, aku balik lagi ke sana," balas Kinar dengan wajah sedikit kecewa.
"Ayo kita coba." Litania tersenyum menguatkan kemudian meraih ponsel yang ada disebelahnya dan menghubungi Aldi.
Penjelasan panjang lebar pun dijelaskan oleh Litania, dan lewat telepon pastinya. Yang di seberang telepon tampak ragu, membuat Kinar merasa down lagi. Namun, setelah menjelaskan panjang kali lebar rencana yang ada akhirnya Aldi setuju juga. Pria muda yang bekerja sebagai asisten Fabian menyetujui rencananya meski banyak pertanyaan.
Baik Bos maupun asisten begitu baik hati. Litania membatin dengan senyum terkembang. Ia letakkan lagi ponselnya lalu memeluk Kinar. "Rencana kita pasti akan lancar."
***
Di kamar.
Litania tersenyum kecil lalu masuk ke dalam selimut lantas memeluk pinggang Chandra tanpa aba-aba. "Yang, besok kita ke bioskop, yuk."
Chandra yang awalnya kaget berakhir tersenyum juga. Ia lepas tablet yang ada di tangan lalu mengalungkan lengannya di pinggang Litania. "Kamu beneran mau ke bioskop?" tanyanya dengan menghirup rambut Litania yang masih basah.
"Hm, aku mau kita kencan."
"Baiklah."
"Tapi, aku maunya Kinar juga ikut. Kasian dia di rumah sendirian. Dia pasti bosen."
"Katanya mau kencan, kok bawa rombongan."
Litania tersenyum kecil, ia usap perut Chandra yang terbalut kaus putih biasa. Perlakuan yang tentu saja membuat si empunya badan harus menelan ludah.
"Gak apa-apa ya. Kasian dia sendirian di rumah. Aku gak tegaan. Aku 'kan mempunyai jiwa ibu peri ..."
Chandra terlihat kesusahan meredam tawa. Kata terakhir itu serasa banyolan terkocak di hidupnya. Ibu peri? Ibu peri mana yang tangguhnya kek Samsonwati begini.
"Kok ketawa, sih. Aku lagi serius tauk." Bibir Litania makin maju membuat Chandra gemas dan mencubitnya.
"Enggak, bukan begitu. Kalau dia ikut kasian, dia jadi obat nyamuk."
__ADS_1
"Ya ajak Arjun juga, dong."
"Aku yang nggak enak sama Arjun. Besok 'kan hari Minggu. Hari untuk dia istirahat."
"Aaa ... coba dulu, deh. Sapa tau dia mau, coba ya ...." Litania memanjakan suaranya, ia bahkan menggoyang-goyang badan Chandra seraya menarik bajunya. "Mau, ya ... please ...."
Chandra yang tak tahan dengan rengekan Litania akhirnya meraih lagi gawainya. Tidak, lebih tepatnya tak tahan ada yang jumpalitan di bawah sana. Dan cara termudah agar yang jumpalitan mau tenang ya harus memenuhi permintaan dari si empunya lubang. Eh!
[Arjun. Besok ikut saya ya, kita ke bioskop]
Tak berapa lama masuklah pesan balasan dari Arjun.
[Tapi Pak, besok rencananya saya mau cari kontrakan baru]
[Kalau soal itu kamu bisa tinggal di apartemen saya. Enggak perlu lagi cari kontrakan. Lagian di sana kosong. Jadi kamu bisa tinggal di sana.]
Hening hingga dua menit. Arjun tak membalas hingga Chandra kembali bertanya.
[Gimana?]
[Baik Pak, terima kasih. Besok saya akan ke sana]
Chandra letak ponselnya di atas nakas dan menatap wajah penasaran Litania. "Kenapa?" tanya Chandra pura-pura tak tahu.
"Kok kenapa, harusnya aku yang nanya. Gimana hasilnya?"
Chandra terkekeh jenaka. Ia peluk punggung Litania dengan erat. "Udah beres, Arjun setuju. Tapi sekarang aku minta hadiahnya."
Mendongakkan kepalanya, Litania menatap wajah Chandra yang terlihat mengukir senyuman yang ... entah. Begitu ambigu.
"Perasaan tadi gak ada nyebut mau minta hadiah, deh," decak Litania seraya memanyunkan bibir. "Ya udah, mau minta apaan."
Senyum Chandra mulai terasa nyata. Senyum mesum yang membuat Litania paham apa maksud kata hadiah itu. Apalagi tangan Chandra yang ada di dalam selimut sudah membelai di area pahanya. Sontak Litania menggeliat, matanya melotot tapi berakhir mendesah juga. Suara sensualnya tak bisa diredam karena jari nakal Chandra sudah mengobrak-abrik pertahanan.
"Boleh ya ...."
Litania melenguh, mata tertutup dengan mulut sedikit terbuka. Desahan nakal lagi-lagi keluar dari mulut. Suara yang tentu saja membuat Chandra tak tahan. Ia kungkung tubuh Litania lalu melucuti pakaian sendiri.
"Lah, kok buka baju? Aku kan belum jawab mau."
Chandra tersenyum miring. "Kamu gak perlu jawab pake mulut atas. Aku tau mulut bawah juga udah mau.
"Hahaha dasar Mesum."
Jangan lupa like komen dan votenya.
__ADS_1