
Di sebuah restoran yang tak jauh dari Big Group, Arjun tengah duduk seraya mengesap teh hangat. Pikiran pria berjas biru navy itu menerawang, lelah karena seharian mondar-mandir meyakinkan investor. Kini ia memilih rehat sejenak setelah makan siang. Akan tetapi, rintik hujan mulai turun, menambah suasana sendu restoran yang sedari tadi melantunkan lagu ciptaan Ebiet G Ade, Berita kepada Kawan.
"Hai, aku boleh duduk di sini?"
Suara manja seorang wanita mengagetkan Arjun, sontak wajah menengadah untuk melihat siapa yang menyapa. Tampak sang resepsionis yang ia kenal betul bernama Nadya.
"Boleh, silakan." Arjun seruput lagi tehnya lantas kembali memandang luar jendela.
Sepi, hening, senyap, Nadya yang sudah lama menaruh minat padanya mulai melancarkan niat—ingin menggoda. "Arjun, apa kamu tau hujan itu identik dengan kenangan. Dan kenangan selalu terikat dengan mantan."
Arjun berjengket, tapi mata tetap memandang ke luar jendela. "Oh, ya? Aku baru denger," jawab Arjun sekenanya.
"Iya, banyak yang mikir begitu. Trus apa kamu juga tengah mikirin mantan?" tanya Nadya lagi. Jari telunjuk yang berkutek merah ia usapkan ke atas meja—membentuk bulatan-bulatan kecil—sambil menggigit bibir bawahnya, terlihat sensual tapi sayang tak dilihat Arjun.
"Gak, aku lagi gak mikirin mantan. Lagian buat apa mikirin mantan, mending mikirin kerjaan biar masa depan cemerlang," balas Arjun.
__ADS_1
"Iya, bener. Pilihan bagus. Buat apa nginget masa lalu, ya, 'kan?" Senyum Nadya terkembang merekah. Merasa mendapat lampu hijau dari Arjun, wanita berseragam batik hitam itu pun kembali bersuara, "Tapi ... apa bener kalau kamu lagi gak mikirin orang lain? Mungkin sekarang tengah merindukan seseorang?"
"Gak, aku gak punya waktu luang untuk itu."
Bohong! Sebenarnya aku rindu Kinar. Saat orang lain teringat mantan aku malah keinget perempuan aneh itu. Mendesah panjang, Arjun menatap Nadya dengan kening sedikit berlipat. Sadar akan atmosfer yang terpancar. Wajah bersemu dan senyum malu-malu wanita cantik itu membuatnya sedikit risih.
Melihat jam tangan, Arjun angkat dari duduk seraya berucap, "Aku duluan, ya? Waktu makan siang sudah hampir habis."
"Tunggu dulu." Nadya berdiri, ia buka tas-nya seraya merogoh sesuatu dari dalam sana. Lantas menyodorkan dua lembar kertas di tangan. "Kamu mau gak nemenin aku ke bioskop? Kita nonton bareng."
Wajah Nadya berubah, kecewa karena ditolak. "Kenapa? Apa kamu udah punya pacar?"
Arjun menggeleng. "Gak, bukan itu."
"Lalu alasannya apa?" Air mata Nadya menetes, menyisakan ketidaknyamanan di diri Arjun.
__ADS_1
Menarik tangan Arjun dan menggenggamnya erat, Nadya kembali berucap, "Apa aku gak menarik?"
Duh! Perasaan Arjun makin tak menentu. Haruskah menerima ajakan Nadya atau menghindarinya?
Sementara itu, di dalam taksi, sepasang mata tajam Kinar menatap adegan mesra Arjun dan Nadya dengan perasaan bergejolak. Wanita dengan penampilan elegan—gaun selutut berwarna krem dengan rambut hitam tergerai—merasakan adanya petir bersahut-sahutan tak kasatmata dalam dada. Ia kesal, rasanya ingin menelan orang hidup-hidup.
"Dasar ganjen, awas aja kamu."
Mencoba hubungi nomor Arjun, Kinar masih mencoba berpikir positif. Namun, lagi-lagi yang di telepon tak menjawab hingga pikiran buruk secara menyeluruh menguasai otak.
"Oke, Fix. Aku harus basmi hama gak tau diri itu. Enak aja main sentuh calon suamiku. Dasar siluman ular," geramnya. Ia keluarkan beberapa uang dari dalam tas dan menyerahkannya pada sang sopir.
Akan tetapi, saat hendak menuruni mobil, tangan tak sengaja menyentuh sesuatu. Sebotol air mineral. Senyum licik terukir jelas di wajahnya yang ayu.
oiya, bagi yang penasaran dengan cast nya si kembar bisa buka bab 132
__ADS_1