
Dafin bergeming. Diberondong banyak pertanyaan membuatnya menelan saliva dengan susah payah.
"Apa kamu mau mencoreng nama baik keluarga kita lagi?" geram Chandra. Usia tua dan wajah keriput tak menyurutkan aura tegas yang ada di dirinya.
"Sumpah, Yah. Aku nggak ada niatan kek gitu. Aku cuma nggak bisa ikhlasin Fia. Aku gak bisa. Aku hampir gila karena perasaan ini." Dafin memukul dadanya sendiri. Terasa berat dan sesak. Sorot matanya menyiratkan keputusasaan.
"Maaf. Sekarang aku harus bilang yang sebenarnya," lirih Dafin. "Jujur, Yah, sebenarnya perasaanku untuk Sisi udah hilang. Aku nyesel karena nggak bisa setia. Tapi aku harus bagaimana lagi? Aku enggak bisa ngatur perasaan sendiri. Aku hampir gila karena Fia. Aku benar-benar nggak bisa biarin Fia dengan siapa pun." Dafin menyalangkan mata saat melihat Dafan. "Termasuk Dafan."
"Kamu egois Dafin!"
Telunjuk Dafan terarah ke hidung Dafin.
"Jangan bahas keegoisan sekarang Dafan!" Dafin menurunkan jari yang terarah kepadanya. "Menurut kamu siapa yang lebih egois? Aku atau kamu?"
"Dafin!" bentak Dafan. Tinjunya hampir melayang kalau saja sang ayah tidak mencegah.
"Jadi kalian mau tetap berantem?" Jeda sejenak. Chandra pindai wajah bonyok kedua anaknya secara bergantian. "Sampai kapan?" lanjutnya.
Baik Dafan maupun Dafin bungkam, keduanya sama-sama tertunduk.
"Apa kalian lupa kalau kalian itu saudara. Harusnya saling menyayangi, memahami, saling melindungi dan saling mendukung. Bukannya saling serang begini apalagi hanya karena perempuan."
"Tapi Fia bukan perempuan biasa," jawab Dafan dan Dafin secara bersamaan. Mereka lalu saling melayangkan tatapan sinis, bertungkus kesal kemudian kembali menatap sang ayah yang berdiri di hadapan.
"Kalau begitu serahkan urusannya sama Bunda," sela Litania yang sedari tadi sudah geram dengan kelakuan anak-anaknya. Ia maju lalu mensejajari Chandra. Mereka berempat saling berhadapan.
"Apa maksudnya?" tanya Dafin.
"Kalian mengaku menyukainya, 'kan? Apa kalian yakin dengan perasaan kalian itu?" tanya Litania yang sudah bersedekap. Sorot matanya menunjukkan keseriusan. Rambut panjang yang tergerai menambah aura seram yang ada di dirinya. "Apa kalian yakin gak salah persepsi? Mungkin perasaan kalian untuk dia cuma sekedar kasian. Dan mungkin saja Fia bersikap baik sama kalian karena menganggap kalian teman baik."
"Aku yakin Fia juga menyukaiku." Lagi, jawaban Dafan dan Dafin sama. Mereka kembali melayangkan tatapan menghunjam. Bisa-bisanya kompak di saat sedang berselisih.
__ADS_1
"Tapi itu hanya persepsi kalian. Itu hanya pendapat kalian. Kalian hanya mengemukakan dan mengutamakan perasaan kalian sendiri. Apa kalian tahu perasaan Fia? Apa kalian tahu siapa yang Fia pilih? Apakah Dafan?" ujar Litania seraya tetap menatap lekat sang anak sulung. "Ataukah Dafin." Ekor mata Litania melirik Dafin lalu tersenyum ambigu. "Atau gak keduanya?"
"Bunda ...."
Lagi, Dafan dan Dafin berucap secara serentak.
Litania terkekeh kesal. "Kalian konyol banget, sih. Bunda gak nyangka kalian lebih bodoh dan lebih kekanakan dari Anya. Kalian rela berantem karena sesuatu yang remeh begini?" Berdecak sebal, Litania mendorong bahu kiri Dafan dan Dafin secara bergantian dengan telunjuknya. Ia benar-benar kesal.
"Kalau menyukai satu perempuan kalian itu harus bermain adil, bukannya begini. Kalian kan berpendidikan. Kami menyekolahkan kalian tinggi-tinggi dan menghabiskan uang banyak biar kalian pinter. Biar bisa jadi panutan. Biar gak digoblok-goblokin orang lain. Gak dikadalin orang lain. Tapi ternyata begini cara kalian mengatasi masalah. Kek anak kecil."
Litania tergelak lagi. Dafan dan Dafin mati kutu, termasuk Chandra. Sudah bertahun-tahun ia tak melihat sisi sangar itu. Chandra rangkul pundak Litania, berharap dapat menghentikan ceramah yang mungkin saja bisa sampai besok siang.
Namun, Litania yang sudah kadung gemas menyipitkan mata. Chandra berakhir melepaskan tangan tanpa banyak kata. Ia bahkan menelan ludah.
Mata Litania kembali melihat dua orang si pembuat ulah. "Kalau kalian menyukai satu wanita harusnya bermain adil. Bersainglah yang sehat. Tanya pendapat dia dan bukannya saling pukul kek begini. Kalian benar-benar bikin Bunda malu, bikin Bunda kecewa. Apa ini yang Bunda ajarkan sama kalian? Kami menyayangi kalian, nggak pernah sekalipun membedakan. Memberikan perhatian dan pendidikan. Kami selalu memenuhi apa pun yang kalian mau biar gak ada kata dengki maupun rebutan. Tapi sekarang kalian malah rebutan perempuan."
Kekehan Litania kembali terdengar. Matanya menyalang melihat Dafin. "Dan kamu Dafin. Kami ngerti kamu mengorbankan banyak hal demi menjadi pewaris. Bunda sama ayah kamu ngerti. Kami menyesal karena udah maksa kamu. Tapi bukan berarti kamu bisa menggunakan cara itu agar Dafan nyerah. Itu pengecut namanya. Hati urusan hati dan tidak ada ada embel-embel kasihan di dalamnya apalagi mengalah."
"Tapi, Bun—"
Dafin tertunduk lagi.
"Bunda tahu kamu mengorbankan banyak hal untuk menjadi pemimpin perusahaan dan kami merasa bersalah untuk itu. Sekarang Bunda mau nanya lagi, apa kamu benar-benar ingin meraih lagi mimpimu? Apa kamu benar-benar yakin dengan melukis atau menggambar komik kamu bakalan senang, kamu bakalan berpuas hati? Kalau iya, cepat katakan!"
Dafin bungkam. Sang bunda benar-benar menunjukkan sesuatu yang lain malam ini.
"Apa kamu mau mundur jadi pimpinan?" tanya Chandra.
Seketika wajah Dafin memucat. Ia melihat keseriusan yang mengerikan dari raut wajah Litania dan Chandra.
"Kalau iya, gak masalah. Ayah bakalan minta dewan buat mengadakan rapat dengan agenda pencopotan kamu sebagai penerus. Otomatis semua orang yang punya pengaruh besar di peusahaan bisa merekomendasikan siapa saja yang mereka pikir layak. Apa kamu siap?" tanya Chandra lagi.
__ADS_1
Bukannya senang, wajah Dafin menyiratkan kebalikan. Kalau ia mundur. Otomatis Maryam akan merekomendasikan keluarganya dan pikiran Dafin langsung tertuju ke Rito. Cepat-cepat ia menggeleng.
Litania tersenyum senang. Walaupun tengah memberontak Dafin tetaplah Dafin. Anak yang akan selalu berpikir panjang sebelum bertindak. Hanya saja ia tak menyangka karena perempuan anak-anaknya menjadi lupa diri.
"Dan soal Sisi, harusnya kamu menuntaskan dulu masalah kalian. Selesaikan satu perempuan baru mencari perempuan lain. Bersikaplah gentle Dafin. Bunda nggak mau kamu jadi laki-laki yang pengecut. Hanya karena kehilangan rasa cinta kamu seenak jidat mencampakkan dia. Itu brengsek namanya. Dan Bunda gak mau punya anak seperti itu.
"Tapi ...."
Lisan Dafin terputus karena ngeri. Lirikan mata Litania sangat tajam. Lagi-lagi ia hanya bisa membasahi bibir dengan saliva.
"Selesaikan dulu masalahmu dengan Sisi. Dan soal Fia, serahin sama Bunda. Bunda yang akan menyelesaikannya untuk kalian."
"Tapi, Bun—"
Dafan yang berniat mengemukakan pendapat mendadak bungkam. Bulu kuduknya berdiri dengan sendirinya saat mendapat pelototan
"Sekarang mending kalian masuk. Tidur dan pikirin apa yang sudah kalian lakukan."
Dafan dan Dafin bergeming hingga Litania yang masih belum bisa meredam kesal kembali berteriak, "Masuk!"
Dengan suara yang sangat nyaring.
***
Alarm Fia berbunyi tepat di pukul lima pagi. Setelah melewati hari yang panjang dan malam yang mengejutkan, gadis itu akhirnya bisa tertidur pulas. Bukan karena menganggap remeh masalahnya, hanya saja otak sudah tak punya ruang lebih untuk memikirkan dua pria yang membuatnya harus mengelus dada. Antara Dafan dan Dafin. Ia tak bisa memilih.
Fia menghela napas panjang lalu berdiri. Ia pukul wajah yang sembab dengan kedua belah tangan. Matanya menatap pantulan diri sendiri dengan sangat lekat.
"Semangat pagi. Apa yang terjadi biarlah terjadi," ujarnya dengan mantap. Ia lalu mengambil handuk hendak menuju kamar mandi. Akan tetapi sebuah ketukan pintu membuatnya menghentikan langkah dan berbalik menuju ruang tamu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Litania sedang berdiri di depan pintu.
"Fia, bisa kita bicara sebentar?"
__ADS_1
Vote jgn lupa. heheh