Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Proses


__ADS_3

"Masa sih, gak ada?" tanya Chandra tak percaya. Jelas-jelas cincin pelacak itu menunjukkan kalau istrinya berada di rumah sakit itu.


"Beneran, Pak. Di sini gak ada satu pun nama yang bernama Litan ataupun Litania." Wanita berambut pendek yang memegang buku, angkat suara. Tampan sih tampan, tapi kalau tak percayaan ya percuma, batinnya.


Tak habis akal, Chandra rogoh dompet dan menyerahkan foto Litania—foto untuk pembuatan buku nikah dulu. "Ini, ini istri saya. Saya yakin dia di sini. Dia sedang hamil besar. Dan saya yakin dia tengah kesakitan sekarang."


Kedua perawat itu mendekatkan wajah—melihatbdengan seksama foto segiempat dengan mata lebar—seketika senyum canggung mereka terbit secara berjamaah. "Oo ibu ini. Iya, dia ada masuk dan namanya di sini bukan Litania, melainkan Marfuah," jelas si wanita berjilbab yang terlihat masih canggung.


Dahi Chandra yang berkeringat kembali berkerut. Lelah berpikir keras saat perjalanan ke rumah sakit, sekarang ia juga harus kembali mengajak otaknya bekerja lebih full. Bagaimana bisa istrinya berganti nama menjadi Marfuah hanya dalam hitungan setengah hari?


"Begini, tadi istri Bapak datang ke sini di antar empat orang lelaki. Tapi pas kami minta identitas istri Anda, mereka hanya bilang kalau namanya Marfuah."


"Lalu?"

__ADS_1


"Pas kami minta mereka melengkapi data, mereka udah ngilang. Dan istri Anda ditinggal begitu aja."


Rahang Chandra mengetat, matanya menunjukkan kebencian. Siapa yang berani bermain-main dengan nyawa istri dan anak-anaknya?


"Awas aja kalian. Bakalan aku cari sampe dapat," ucapnya menggeram. Mata Chandra yang penuh kebencian dan kekhawatiran kembali menatap dua suster itu. "Lalu bagaimana keadaan istri saya. Apa dia baik-baik saja. Apa saya bisa bertemu dengannya? Bagaimana dengan kandungannya?"


"Istri Bapak baik-baik saja. Bapak bisa ikut saya." Si perawat berjilbab keluar dari lingkaran meja dan menuntun Chandra agar mengikuti langkahnya. Hanya dalam beberapa menit tibalah mereka di sebuah ruangan. Ruang tertutup yang terdengar jelas teriakan Litania dari dalam sana. Suara nyaring yang begitu pilu. Rintihan penuh kesakitan.


Perasaan Chandra makin berkecamuk. Cepat-cepat ia buka pintu dan mendapati Litania tengah berada di atas kasur dengan tiga orang wanita berbaju putih. Dua di sebelah kiri dan kanan tangan dan satu di bawah kaki yang tengah terbuka lebar. Istrinya itu tengah berjuang untuk melahirkan.


Litania yang tengah mengatur napas langsung menoleh. Wajahnya yang sembab dan dibanjiri air mata mencoba mengurai senyuman. Ia sambut kedatangan Chandra dengan menahan rasa sakit yang luar biasa. Kontraksi itu datang semakin cepat. Untuk bernapas panjang saja rasanya tak bisa.


Mendekati Litania yang terbaring, Chandra pegang tangan wanita itu dan menggenggamnya. Air mata bahkan sudah tertumpu di pelupuk mata—siap tumpah kapan saja. Melihat Litania yang jelas kesakitan tapi berusaha tersenyum membuatnya makin merasa bersalah. Demi melahirkan anaknya, anak-anak mereka, wanita belia itu rela tersenyum dalam kesakitan.

__ADS_1


"Kamu yang kuat, Sayang. Cobalah lagi." Chandra mengulas bibir penuh ironi.


Litania mengangguk. Air mata kembali mengalir. Chandra dengan tangan bergetar menghapusnya. "Kamu pasti bisa. Kamu Litania. Wanita tangguh. Samsonwati masa kini," lanjut Chandra lagi hingga ketiga wanita di sana kelelahan menahan senyum. Bingung, apakah harus tertawa saat ada yang menangis kesakitan.


"Oke, Ibuk ... tarik napas, dorong." Wanita berjilbab yang ada di bawah kaki Litania menginteruksi. Litania menurut. Lalu mengejan sekuat tenaga. Mendorong dengan seluruh kekuatan dan harapan. Tangan yang dipegang Chandra bahkan mengerat. Genggamannya lumayan membuat pria berusia tiga puluhan itu sedikit meringis.


"Ayo, Sayang kamu bisa," ucap Chandra saat dorongan Litania tak berhasil. Ia sibak rambut Litania yang sudah basah karena keringat. "Kamu pasti bisa. Si kembar ingin melihat dunia."


Akan tetapi, Litania yang sudah kewalahan, menyerah. Menggelengkan kepala, air matanya menetes lagi. Dipandangnya Chandra dengan tatapan sayu. Seketika dosanya kepada pria itu terputar jelas. Bagaimana keusilannya menemani rumah tangga mereka selama ini. Ia sadar diri kalau prianya itu kadang menggeram dan merasa malu akan tingkahnya. Tiba-tiba saja ia merasa menjadi istri durhaka yang disentil Tuhan dengan proses persalinan yang penuh rasa sakit.


"T-tolong telepon Mbak Sri. Aku mau bicara sama dia." Bibir Litania bergetar mengucapkannya.


"Mbak Sri?" ulang Chandra, tapi demi istrinya ia ikuti perintah itu tanpa banyak tanya.

__ADS_1


like dan vote jgn lupa. hehe


__ADS_2