Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
aksi


__ADS_3

Anya merinding. Ia meronta makin kuat saat tangan Reno sudah menelusup masuk ke dalam baju.


Sementata Reno, ia tertawa jahat setelah melihat ekspresi wajah Anya. Ia tarik tangannya lalu duduk, mereka saling berhadapan.


"Kamu takut?" tanyanya setelah sukses meredam tawa.


Cepat-cepat Anya mengangguk. Ia tak bisa membayangkan jika orang gila yang ada di depannya itu melancarkan aksi. Ia terus saja meronta-ronta, tapi tetap saja ikatan tak terlepas.


"Kenapa? Kamu mau ngomong?" tanyanya lagi.


Kembali Anya mengangguk, air matanya menetes membasahi pipi.


"Baiklah, saya akan buka mulut kamu, karena kamu juga butuh makan. Kamu pasti laper, 'kan? Tapi saya cuma beliin kami nasi Padang. Kamu mau makan?"


Lagi-lagi Anya mengangguk. Bukan karena lapar, tapi karena ingin berteriak dan meminta tolong.


Sreat!


Lakban yang menempel di mulut Anya sudah terlepas. Anya menarik napas panjang berancang-ancang akan berteriak tapi tanpa diduga tangan Reno terlebih dulu membekap mulutnya. Tanpa aba-aba pria tua itu mengendus. "Jangan berteriak," bisiknya pelan dan sensual.


Anya yang panik kembali mengangguk.


"Bagus ... bagus," ujar Reno lalu melepaskan tangan dari mulut Anya. Ia duduk berhadapan dengan Anya. "Kamu sangat penurut nggak seperti ibu kamu."


"Bunda?" gumam Anya pelan. Berani berani takut ia menatap wajah Reno. Bibirnya bergetar dengan persendian di seluruh badan yang terasa sakit. "Om kenal bunda aku?" lanjutnya.


"Tentu saja. Kami saling jatuh cinta sebelum ibumu bertemu ayah kamu. Kami bahagia sebelum ayah kamu hadir dan merampas kebahagiaan kami. Asal kamu tau, kami saling menyayangi satu sama lain sebelum hadirnya ayah kamu. Laki-laki tua itu menghancurkan semua imajinasiku tentang ibumu," papar Reno dengan menggebu-gebu.


"Bohong! Ayah sama bunda saling cinta. Gak mungkin begitu. Om pasti bohong!" sanggah Anya dengan berteriak. Ia tahu betapa harmonis kehidupan rumah tangga orang tuanya selama ini.


Reno yang kesal melayangkan tangan. Suara keplakan pun terdengar lalu di susul suara erangan dari bibir Anya. Gadis itu kembali merintih, disudut bibir bahkan sudah aja jejak darah. Reno yang masih belum bisa menetralkan emosi kembali menjambak rambut Anya. "Kamu sama seperti ibumu. Keras kepala!" Lantas melepaskan cengkeraman dengan kasar.


Anya mengaduh. "Tapi Bunda gak mungkin selingkuh," ulangnya.


"Kamu masih gak percaya?" tanya Reno. Matanya melotot.


"Apa buktinya kalau kalian pernah saling sayang?" Tanpa perasaan takut Anya menantang. Ia menatap nyalang. Sangat tak terima Reno menjelek-jelekkan ayahnya.


Reno berjalan menuju dinding dan dengan kasar mencabut semua foto-foto yang ada di sana. Ia lantas melemparnya ke wajah Anya.


"Itu! Itu buktinya. Itu bukti kalau kami pernah saling cinta," geram Reno sambil menunjuk-nunjuk benda yang tergelatak di kaki Anya, ia berdengkus kasar, membalik diri dan menuang alkohol dalam gelas. Bak orang kehausan, ia tenggak habis minuman memabukkan itu.

__ADS_1


Sementara itu, Anya melihat foto demi foto Litania yang tergeletak di lantai, foto-foto ketika bundanya masih menggunakan seragam SMA . Namun, satu yang Anya ketahui, tak ada satupun foto kebersamaan Litania dan Reno. Dari situ ia sudah bisa menyimpulkan kalau pria yang menculiknya ini adalah pria gila yang terobsesi pada ibunya.


"Om, salah besar! Bunda sama Ayah saling menyayangi!" balas Anya.


Sedetik kemudian bunyian keras secara beruntun masuk ke indra pendengaran. Gadis itu sampai berjengket kaget dan secara spontan menutup mata. Saat ia membuka mata, pecahan kaca menyambut. Anya bergidik. Ia ngeri akan kegilaan Reno, pria tua itu secara membabi buta melempar semua gelas hingga pecahannya menutupi lantai. Beruntung tak melukai Anya, tapi jelas membuat gadis itu merasakan kengerian.


"Terserah! Sekarang aku nggak peduli. Rasa sayangku untuk ibumu sudah hilang. Yang ada cuma dendam untuk membuatnya hancur. Penghianatan harus dibalas setimpal. Aku akan buat dia menyesal karena sudah membuatku seperti ini," balas Reno. Ia dekati lagi Anya.


Anya kembali menangis, suaranya bergetar dan tertahan karena takut. Pria tua yang ada di hadapannya sangat terlihat mengerikan—rambut acak-acakan dan ada bekas sabetan senjata tajam di pipi hingga pelipis. Belum lagi sorot mata yang benar-benar penuh kebencian. Anya kembali meronta.


"Tolong lepasin aku, Om. Om mau apa?" rintih Anya lagi, mengiba.


"Lepas?" Reno tergelak jahat. Ia mengelilingi tubuh Anya yang duduk di kursi. "Aku gak bakalan lepasin kamu sebelum menuntaskan dendamku," lanjutnya yang membuat Anya kembali merinding. Tanpa aba-aba wajahnya Reno apit hingga ia mau tak mau mendongak dan mata mereka bersitatap.


"Ini!" Reno menunjuk pipinya. "Ini yang sudah ayah kamu lakukan padaku!"


Mata Anya membulat. Ia berusaha melepaskan diri tapi sayangnya Reno terlalu kuat. Alhasil hanya air mata yang menengahi tatapan menghujam Reno.


"Kenapa? Kamu takut?" tanya Reno lagi, ia kembali melirihkan suara dan memindai wajah Anya lalu tersenyum sinis. "Jangan takut dan jangan membenci aku. Benci orang tua kamu sendiri."


"Om gila!" hardik Anya.


Bak ulat, Anya terus saja meronta dan berusaha menjauh dari Reno. Namun terhalang karena tangan dan kaki masih saja terikat. Ia lalu berteriak nyaring.


"Om ... please, jangan Om."


Anya mengiba. Namun, Reno masih saja mendekat. Ia memindai tubuh Anya lalu menelan saliva. "Tenanglah, jangan berteriak. Percuma, di sini hanya ada kita."


Reno menjeda kata. Ia memindai makin dalam wajah cantik Anya. "Kalau di lihat-lihat kamu benar-benar mirip Litania. Ayo kita bersenang-senang. Dulu aku gagal menikmati tubuh ibumu. Tapi siapa sangka Tuhan berbaik hati mengganti dia dengan kamu. Kalau aku lihat kamu lebih menggairahkan dibanding dia," ujarnya lalu membuka sabuk celana. Dengan senyum miring ia kembali berkata, "Aku akan buat orang tua kamu menyesal seumur hidup lewat kamu. Menghancurkan kamu sama dengan menghancurkan mereka. Bahkan efeknya akan lebih dalam dan membekas. Aku akan buat keluarga kalian malu."


Anya yang panik, berteriak. Ia terus saja mencoba menjauhi Reno meski geraknya terbatas sebelum akhirnya sebuah bunyian keras dari arah pintu mengentak keduanya. Tampak dua orang yang Anya kenal berada di sana.


"Bang Dafin!"


Beberapa jam sebelumnya.


"Dafan, tolong urus Ayah. Aku mau cari Anya," perimtah Dafin mantap lalu berjalan keluar rumah, orang-orang suruhan bahkan mengekor tanpa bersuara hingga panggilan seseorang mengagetkan, ia menoleh dan mendapati Fia—berpakaian formal—berjalan ke arah mereka.


Dahi Dafin mengernyit setelah memindai penampilan sekretarisnya itu. "Fia Kamu kenapa ke sini?" tanyanya keheranan, "bukankah saya suruh kamu meng-handle pekerjaan yang ada di kantor?"


"Saya mau lihat keadaan Anya. Apa dia baik-baik saja?"

__ADS_1


Dafin mendesah. "Anya diculik, sekarang kami mau mencarinya."


"Kalau begitu, boleh saya ikut."


Para ajudan saling pandang, ada yang tersenyum sinis ada juga yang terbengong. Sementara Dafin, diam. Ia mengetahui kemampuan Fia hanya saja takut kalau situasinya berbahaya. Ia pun menggeleng. "Nggak perlu, Fia. Masalah ini biar kami yang urus. Kamu balik saja ke kantor," ujarnya datar.


"Bukankah saya sekretaris Bapak. Kalau Bapak saja menunda semua agenda penting, lalu kerja saya apa?"


Hening, Dafin bergeming.


"Lagipula bukankah lebih banyak orang lebih baik," lanjut Fia lagi.


Dafin berpikir sejenak lalu mengangguk setelah beberapa detik. "Baiklah, terima kasih karena kamu sudah peduli dengan keluarga saya."


Tak berapa lama, seorang pria berjas hitam berlari keluar dari rumah dan mendekati Dafin. "Pak Dafin, saya sudah mengetahui lokasi Nona Anya," ujarnya dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, ayo kita bersiap."


Semuanya bergegas masuk ke mobil, begitu juga Fia. Semuanya memasang wajah tegang menyusuri jalanan ibu kota.


Setelah beberapa lama tibalah mereka di depan sebuah hutan.


"Apa kamu ya kan di sini lokasinya?" tanya Dafin. Ia memindai hutan lebat yang ada di depan mata.


"Iya, Pak. GPS dari mobil yang dicuri Reno terakhir berada di sini."


"Baiklah mari kita berpencar-pencar," ujar Dafin


"Kamu ke sana, kalian ke sana dan sisanya ke sana," perintah Dafin lagi setelah menunjuk tiga arah secara bergantian.


Semuanya mengangguk patuh lalu berlari menuju arah yang sang bos tunjuk. Sementara Dafin menunjuk Fia untuk mengikutinya.


"Anya, semoga kamu baik-baik saja," gumam Dafin yang masih panik. Ia tahu betapa nekatnya Reno. Sungguh tak ingin kemalangan Sisi menimpa adiknya. Langkahnya sungguh lebar ya menyusuri hutan.


Tak berapa lama mata Fia menemukan sebuah mobil dibalik pohon-pohon. Ia menunjuk arah itu. ''Pak, di sana sepertinya ada sesuatu."


"Di mana?" Mata Dafin mengikuti ke mana jadi Fia terarah, lantas mendekati objek yang di tunjuk Fia. Benar adanya, sebuah mobil sedan silver terparkir sembarangan.


Merasa tak ada orang di dalam, Dafin kembali mengumpat kesal, giginya bergemeletuk. Ia benar-benar takut hal buruk akan menimpa adiknya. "Kita harus bergegas. Reno ini sangat mengerikan," ujarnya seraya melihat Fia, ia lalu melihat sekitar. Ia linglung, bingung harus ke mana hingga sebuah suara teriakan mengagetkan.


Tanpa banyak bicara mereka pun berlari, berlomba dengan rasa takut dan pikiran buruk. Sebuah pondok tua menjadi titik fokus mereka.

__ADS_1


__ADS_2