Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Terbongkar


__ADS_3

Tiga jam sebelumnya.


Wajah Chandra berseri bak mentari. Dirinya bahkan bersenandung ria di depan cermin. Mendapat pesan Litania seperti mendapat mood booster yang luar biasa dahsyat. Dirinya yang selalu uring-uringan semenjak ditinggal Litania kembali segar kala mendapat pesan untuk berjumpa. "Moga aja di hari valentine ini dia berubah pikiran. Udah gak marah lagi dan mau balikan."


Lagi, senyum Chandra mengembang dengan sempurna. Ia cukur bulu halus yang telah tumbuh di area dagu. Mempersiapkan diri untuk bertemu sang istri yang tengah murka karena masa lalunya.


"Kamu mau ke mana?"


Suara cempreng wanita menghentikan langkah Chandra. Suara wanita yang tak lain tak bukan adalah sang mama. Wanita tua bersanggul itu tengah duduk bersama Rania di ruang keluarga. Ya, semenjak terbongkarnya rahasia itu, Lita memboyong Rania dan Chandira untuk tinggal bersamanya.


"Kamu mau ke mana? Mama perhatiin kamu gak pernah main dengan anak kamu?" ulang Lita. Ia silang kakinya seraya menatap tajam punggung sang anak yang telah rapi dengan kaus putih polos dan jaket kulit di tangan.


"Aku lagi sibuk, Ma."


"Sibuk apaan? Kerjaan kamu cuma keluyuran. Pulang-pulang mabuk. Apa gak malu dengan anak kamu ini."


Berdengkus, Chandra putar tumitnya dan menghadap sang mama yang sudah berwajah masam. "Aku bukan keluyuran, Ma. Aku selama ini usaha buat meyakinkan Litania. Mama sih, pake bahas poligami segala."


Berdecak, Lita bersidekap dada. "Udah, deh. Jangan ungkit itu. Mama tau mama salah, waktu itu keceplosan. Tapi selain meyakinkan Litania, apa kamu gak bisa ngasih perhatian sama Chandira dan Rania. Inget, mereka juga korban kamu. Jadi jangan lepas tanggung jawab."


Oh, sungguh mood baik Chandra lenyap seketika itu juga. Mendadak emosinya naik ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Hah! Tanggung jawab." Chandra tergelak hambar. Ia perhatikan wajah Rania yang duduk di samping sang mama. "Apa aku pernah lari dari tanggung jawab? Apa aku pernah mengabaikan kalian?" Chandra menjeda kata. Ia perhatikan wajah Rania dengan seksama. "Enggak!"


Chandra berteriak. Ia yang tampak berang menatap nyalang mata Rania yang bergerak liar. Wanita cantik itu menggenggam kuat ujung dress yang ia kenakan. Wajah pun tampak gusar setelah mendapat pelototan tajam dari Chandra.


"Itu ... itu ...."


"Dulu bukankah aku pernah ngajakin kamu buat nikah. Tapi apa?! Apa jawabanmu. Kamu menolak mentah-mentah, Rania." Chandra menjeda kata. Ia dekati Rania yang mematung di kursi. Menatap fokus wajah gusar wanita itu. "Sebenarnya apa niatmu? Aku yakin kamu gak pernah ada rasa ke aku. Tapi kenapa sekarang kamu hancurkan keluargaku, Ra. Kenapa?!"


Suara Chandra menggema dalam ruangan. Menyisakan rasa takut di diri Rania serta berefek pada Chandira yang ada di pelukan Lita. Gadis kecil itu menangis kencang. Sementara Lita mematung. Baru kali ini melihat kemarahan anak semata wayangnya. Ia tak menyangka, sosok Chandra yang selalu santun dengan wanita bisa berteriak lantang seperti itu.


Hening, suasana mencekam dalam sekejap. Hanya suara tangisan Chandira yang menengahi. Lita panggil pengasuh untuk membawa cucunya untuk menjauh. Ia takut amukan Chandra akan berimbas pada cucunya itu. "Tenanglah, tenang. Jangan teriak-teriak. Kasian anak kamu ketakutan."


Chandra terdiam, hanya napas saja yang terdengar kasar. Ia lemparkan jaket yang ada di tangan. Menyalurkan rasa kesal yang tak berlawan.


Memutuskan panggilan. Chandra tatap layar ponselnya dengan menahan tabuhan di dada. Sebuah rekaman CCTV menunjukkan pertemuan Leo dan Rania di salah satu kafe yang ada di Amerika.


"Apa ini?"


Berang, Chandra makin tak bisa mengendalikan kemarahan. Ia lemparkan ponselnya di sofa sebelah Rania duduk.


"Apa ini?!" Chandra menggeram. Ia tunjuk muka pucat Rania dengan jari telunjuknya. "Berani-beraninya kamu seperti ini. Sebenarnya apa maumu?!"

__ADS_1


"A-apa maksudmu?" Bibir Rania bergetar. Ia raih ponsel Chandra dan melihat vidio di sana. Tampak dirinya tengah berbicara dengan Leo. Terpampang jelas juga kala ia menerima amplop coklat dari Leo. "Ini ... ini ...."


Rania gemetar. Ia beranikan diri menatap mata Chandra yang jelas telah menghunjamkan tatapan kebencian. Sebuah tatapan yang membuat wanita itu tanpa sadar menitikkan air mata karena takut.


Memeluk kaki Chandra, Rania berucap dengan bibir bergetar. "Maafkan aku, aku hanya mengikuti perintah Leo. Bisnis keluargaku sedang kacau, Chan. Aku gak bisa berbuat apa-apa selain menerima tawarannya. Aku ingin diakui oleh keluargaku lagi. Dan Leo ... Leo datang menawarkan itu padaku." Rania terisak. Ia lap jejak kesedihannya.


Sementara Chandra, bungkam. Pria itu makin terlihat berang. Terlihat jelas ia mengetatkan rahang dan tangan mengepal kuat. "Lalu kenapa gak bilang ke aku?! Aku juga bisa mencari jalan keluar untuk kamu!"


Sesenggukan makin dalam, Rania mengeratkan dekapan. "Itu karena aku juga ingin kamu, Chan. Aku gak rela kalo kamu nikah dan nantinya mengabaikan aku juga anak kita."


Astaga, sebuah pengakuan Rania makin menambah emosi Chandra. Ia tarik kakinya dengan paksa. Berjongkok dan menatap mata sembab wanita itu.


"Sudah terlambat, Ra. Aku mencintai Litania. Bahkan sebelum bertemu denganmu pun hanya Litania yang aku cinta. Hubungan kita berawal dari kesalahan. Dan sampai kapan pun gak akan berubah. Apa kamu lupa. Aku sudah berusaha untuk berbuat baik. Tapi kenapa ini balasan kamu?!"


Lagi Chandra menumpahkan rasa frustrasi. Ia berdiri dan menjambak rambutnya sendiri. Sofa yang ada di sebelahnya pun tak luput dari kekesalan. Ia tendang lagi dan lagi kayu berbalut busa tebal itu.


Namun tak lama, kekesalan Chandra kembali terjeda karena mendapat telepon dari Ara—sang sekertaris.


Mendekatkan gawai hitam itu ke telinga. Mata Chandra kembali membeliak dengan sempurna. Sebuah pemberitahuan yang membuatnya kembali naik pitam. "Apa?!"


***

__ADS_1


Sambung besok lagi ya.


Dan jangan lupa kasih like komen dan vote. Kalo ada poin juga boleh di sumbangin. Eheheh. Makasih udah mengikuti dan mengapresiasi cerita ini. Love you all.


__ADS_2