
Tanpa berpikir panjang Dafin pun mendobrak pintu hingga terbuka lebar. Di sana, di dalam gubuk tua itu ia melihat sang adik tengah meringkuk dan seorang pria tua berdiri dengan menyisakan bokser. Betapa murkanya ia melihat pemandangan seperti itu.
"Bang Dafin! Tolongin ...."
Suara seruan dan air mata sang adik makin menambah level kemarahan Dafin. Ia hampiri Reno dengan kepalan tinju yang sudah terbentuk. Tanpa aba-aba ia layangkan pukulan dengan mengesampingkan rasa iba. Ia kesal, marah dan benci pada Reno.
Brakh!
Reno tersungkur, pelipisnya mengeluarkan darah. Namun Dafin yang masih kesal kembali meraih kerah baju orang itu dan melayangkan pukulan lagi, kali ini hidung Reno yang menjadi sasaran dan mengeluarkan banyak darah.
"Dasar brengsek sialan! Laki-laki jahanam! Apa yang mau kamu lakukan pada adikku? Ha!" bentak Dafin. Ia kembali melayangkan tinju, tapi Reno mengelak dan dengan cepat memelintir tangan Dafin. Dafin bersimpuh dengan leher tercekat. Reno tanpa kasihan mencekik leher Dafin dengan lengan dari belakang. Alhasil wajah pemilik Big Group itu memerah, ia tak bisa bernapas hingga Fia yang melihat ikutan membantu. Gadis itu melayangkan tendangan. Heels hitam yang ia kenakan mendarat di pipi Reno dan beruntung bisa melepaskan lengannya dari Dafin. Dafin terbatuk-batuk, ia menghirup oksigen yang hampir habis karena udah Reno.
"Wah, perempuan ini boleh juga," ujar Reno. Ia lagi-lagi membuang ludah yang bercampur darah. Ia tatap nyalang Fia yang sudah memasang kuda-kuda—dua kepalan tinju terbentuk sempurna dengan kaki yang juga terbuka. "Karena kamu semua usaha dan rencanaku berantakan. Rasakan ini!"
Reno berdiri, ia menyerang Fia dengan tendangan. Fia yang tak siap berakhir tersungkur dan tangan menerkam lantai, pecahan beling pun merobek kulitnya. Ia mengaduh dan Dafin yang melihat itu kembali murka. Ia tendang pinggang Reno hingga terhuyung. Saking kesalnya Dafin lagi-lagi menarik kerah pria itu hingga berdiri.
"Beraninya kamu melukai dia!" hardiknya. Matanya melotot tajam. Rasanya tenaganya kembali full saat melihat Fia terluka.
"Dasar bejat! Penjahat bangsatt! Kamu mengacaukan keluargaku, menghancurkan masa depan Sisi, mempermainkan kehidupan kami! Rasakan ini!"
Dafin melayangkan tinju. Ia benar-benar murka. Dendamnya pada Reno sudah setinggi cakrawala apalagi ketika mengingat bagaimana pria itu menghancurkan hidup sisi dan mengancam keluarganya. Ia kesal dan kembali menghantam Reno dengan pukulan.
Reno yang mendapat serangan dadakan dan bertubi-tubi dari Dafin, terhuyung. Pinggangnya menghantam lemari kayu yang ada di sana.
Dafin yang masih diselimuti kemarahan, mendekat. "Bagaimana bisa manusia keji seperti kamu bisa hidup di dunia ini? Bagaimana bisa pembunuh sepertimu bisa bernapas bebas?" hardiknya dengan suara menggelegar.
Akan tetapi, si Reno malah tersenyum sinis, ia lantas meraih pisau yang ada di atas lemari kayu itu dan mengarahkannya secara membabi-buta. Dafin pun refleks berhenti dan memundurkan langkah.
__ADS_1
Reno terkekeh jahat. Ia tatap nyalang Dafin, lalu ke Fia yang tengah melepas ikatan Anya. Ia berdengkus lalu kembali melayangkan tatapan menghunjam pada Dafin. "Kenapa? Takut mati?" tanyanya seraya menghapus darah yang mengalir di wajah.
Dafin waspada. Bentangan tangannya sangat lebar saat melindungi Anya dan Fia. Dua orang itu berada di belakang punggungnya dengan posisi saling berpelukan. Anya masih terlihat shock sedangkan Fia menenangkan.
Sementara Dafin, matanya tak kalah awas mengikuti pergerakan Reno yang menodongkan pisau.
"Aku pastiin kamu membusuk dalam penjara!" seru Dafin, kesal.
Akan tetapi respon Reno malah gelak tawa. Ia berdecih, lalu mengeluarkan darah yang berkumpul dalam mulut.
"Apa kamu yakin?" tanyanya yang terdengar meremehkan. "Aku Reno, aku orang terkaya yang bisa melakukan dan mendapatkan apa saja," lanjutnya jemawa. Matanya menatap nyalang Dafin, Fia dan Anya.
"Malah sebaliknya, kalian gak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup. Aku akan buat orang tua kalian nangis darah. Aku akan buat Litania menyesal karena sudah membuat aku begini."
Setelah mengatakan itu Reno langsung mangayunkan pisau ke leher Dafin, beruntung Dafin bisa menghindar dengan memiringkan tubuh. Reno yang kesal kembali menyerang perut, Dafin pun terhuyung karena mengelak.
Dafin tersenyum puas. Sekarang ia bersyukur mempunyai tinggi yang proporsional. Kini ia kungkung Reno yang terlungkup lalu menarik paksa tangan kanan dan kiri Reno, mengikatnya dengan ikat pinggang Reno sendiri.
"Kau gila, orang kek kamu gak berhak bebas. Orang berhati iblis seperti kamu ini cocoknya bukan penjara, tapi neraka!"
Sedetik kemudian masuklah para pengawal dan mengamankan Reno. Mereka sepakat menyerahkan Reno ke polisi.
Situasi kembali kondusif. Semua orang sudah pergi dan tinggallah Dafin, Fia dan Anya di sana. Para polisi mulai berdatangan dan mengajukan banyak pertanyaan. Setelah semua selesai, Dafin menuntun Fia duduk di kursi penumpang dan mulai mengobati luka Fia. Beruntung mobilnya selalu sedia P3K.
Fia meringis saat air menyentuh telapak tangan yang robek. Dafin yang kaget cuma berdengkus samar lalu kembali melanjutkan aktivitas—membersihkan dan memberikan pertolongan pertama pada luka di tangan Fia.
"Terima kasih banyak atas bantuan kamu hari ini." Dafin berkata tanpa melihat wajah Fia yang meringis kesakitan. "Saya berhutang banyak sama kamu," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Fia menghela napas lega saat perban sudah terpasang. Kini matanya dan Dafin bersitatap. "Saya hanya membantu sebisa saya. Lagipula ini gak seberapa dibandingkan dengan bantuan Pak Dafin untuk keluarga dan saudara-saudara saya," balas Fia jujur.
Sekarang gantian Dafin yang mengembuskan napas panjang, matanya melihat Anya yang duduk melengkung di belakang Fia. Adiknya itu diam dan terus saja menunduk hingga Dafin mulai penasaran. Ia lihat dengan seksama sang adik dan sebuah penampakan membuatnya bergegas menghampiri. Ia panik saat melihat warna merah meluber mewarnai kursi yang awalnya berwarna abu-abu.
"Anya kamu kenapa? Kamu terluka? Di mana lukanya?" cecarnya panik. Ia sentuh pinggang dan punggung adiknya dengan mimik wajah yang membuat Anya berdengkus kesal.
Anya tepis tangan Dafin dari tubuhnya dan kembali membungkuk memegang perut. "Aku gak luka, Bang. Cuma ... cuma ...."
"Cuma apa?" tanya Dafin lagi, kepanikan masih menyelimuti pikiran. Merasa tak mendapat jawaban dari pertanyaan, ia pun langsung menutup pintu mobil di sebelah Anya dan Fia, lalu duduk di belakang kemudi.
"Aku gak kenapa-kenapa, Bang. Beneran," ujar Anya lagi, ia meyakinkan dengan mimik wajah kesakitan.
"Gak apa-apa gimana? Kamu berdarah, Nya. Kamu pasti terluka. Muka kamu aja meringis gitu," papar Dafin, berspekulasi.
"Aku gak luka Bang. Cuma lagi dapet," balas Anya, Suaranya sangat pelan tapi bisa di dengar Dafin.
Dafin sontak memutar kepala dan melihat lagi adiknya. "Lah iya, kamu dapet itu, dapet luka. Udah sekarang kita ke rumah sakit."
"Aku dapet, Bang. Dapet mens alias datang bulan! Aku tembus karena seharian gak ganti pembalut!"
Krik!
Krik!
Krik!
Krik!
__ADS_1