
"J-jadi kalian kembar?" Mata Fia membola saat mengatakannya. Sumpah, ia malu. Semua staff keamanan bandara menatap heran. Ia yang berniat mempermalukan Dafin malah berbalik mempermalukan diri.
"T-tapi tapi pria yang tadi—"
"Apa? Mau ngebela diri?" sela Dafin kesal. Mata nyalang melihat sinis ke arah Fia yang kebetulan berdiri bersebelahan dengannya. Pelintiran tangan gadis itu lumayan membuat bengkak otot bisep dan sekitarnya. Namun, dalam kesakitan ia sedikit bersyukur karena dirinya yang kena dan bukannya Dafan. Tak terbayang apa yang akan terjadi jika hal mengerikan dilakukan Fia. Secara tangan adalah hal paling berharga yang harus seorang dokter jaga.
Fia jelas tampak gusar. Ia terlihat meremas ujung cardigan yang membalut tubuh. Namun, demi harga diri ia kembali mengangkat dagu lalu menatap nyalang Dafin.
"Tapi bukan salah saya juga, kan? Sodara kamu itu yang salah. Mesum dan gak bertanggung jawab."
Yah ni perempuan cari gara-gara. Batin Dafin sangat kesal. Berhadapan dengan gadis bebal membuatnya sedikit naik pitam. Ia gulung lengan jaket lalu berkacak pinggang. Fia nyalang, dia juga sama.
"Heh Nona. Bisa gak buka mata gede-gede. Tu, lihat sendiri kan kalau aku dan sodaraku bukan orang mesum. Di CCTV ini udah buktiin kalau kami gak salah. Ini murni kecelakaan. Kamu liat kan Dafan itu kesandung. Bukannya sengaja."
"Tapi tetep aja—"
"Sudah-sudah. Kalian tenang dulu," sela Dodi—kepala keamanan bandara. Kepalanya lumayan dibikin pusing akibat perdebatan dua manusia yang sama-sama keras kepala. Ia tatap lekat Dafan dan Fia secara bergantian. "Ini sebenarnya hanya salah paham. Jadi tolong diselesaikan secara baik-baik."
Dafan dan Fia sama-sama berdengkus. Keduanya bersedekap dada mendengar penjelasan tanpa mau menoleh wajah masing-masing.
"Dan untuk Nona Fia. Saya harap besok-besok jangan main tangan sendiri. Kasian orang yang tak bersalah mendapat rasa sakit," lanjut pria tua berseragam itu. Fia menunduk. Malu.
"Dan untuk Anda, Tuan Dafin. Tolong bilang ke saudaranya untuk meminta maaf secara pribadi. Saya tau itu kecelakaan. Tapi tetap saja, Nona Fia merasa dirugikan."
Dafin juga terdiam hingga dehaman pria tua itu membuyarkan lamunan.
"Jadi mau bagaimana? Kalian mau tetep di sini dan memperpanjang hal ini, apa saya antar pulang?"
__ADS_1
Dafan Dan Fia membisu. Pak kepala keamanan pun kembali bertanya, "Bagaimana Tuan Dafin? Apa Anda akan menuntut wanita ini atas penganiayaan dan penyerangan?"
Dafin menggelang, dari awal ia memang tak ingin memperpanjang karena takut akan menjadi skandal. Ia takut posisi wakil direktur dicabut sang ayah. Hanya saja saat melihat sikap songong Fia membuat emosinya terpancing. Ia naik spaning gara-gara wanita itu.
"Tidak perlu, Pak. Saya rasa masalah ini bisa kita tutup sampai sini saja."
Doni mengangguk, kini matanya menatap Fia. "Dan Anda Nona Fia, setelah melihat rekaman CCTV ini, apa Anda tetap akan melanjutkan gugatan pelecehan kepada saudara kembarnya Tuan Dafin?"
Fia berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan. Jujur, ia kesal akan perlakuan tak senonoh yang didapatnya tadi. Akan tetapi setelah melihat bukti yang ada, ia menjadi tak percaya diri. Mau dibawa ke mana pun tetap saja bukti itu menunjukkan ketidaksengajaan Dafan. Ia tak ingin mengambil risiko dan dipermalukan lebih buruk lagi.
"Tidak perlu, Pak. Saya paham. Saya akan lupain hal ini," ujar Fia pelan.
Ya, sebaiknya aku lupain ini. Aku datang ke Jakarta untuk interview kerja. Jadi aku gak punya waktu buat beginian. Batin Fia seraya mendesah panjang.
"Kalau begitu, salaman dulu," ucap Doni.
Kembali mendesah pasrah, Dafan dan Fia saling berhadapan dan berakhir salaman di depan Doni dan staff keamanan lainnya.
Canggung. Keduanya merasakan hal yang sama. Perasaan kesal yang menggunung mendadak hilang. Mereka menyadari tadi itu hanyalah salah paham yang tak seharusnya di besarkan.
Dafin berdeham. Fia yang berjalan mendahului sontak berhenti dan memutar diri. Ia tatap wajah tampan Dafin.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara dibuat-buat galak.
Dafin terdiam sejenak. Ia yang berniat meminta maaf menjadi terpancing ingin menggoda. Gadis itu tampak menggemaskan dan manis di matanya.
"Kamu kayaknya ngelupain sesuatu," ucap Dafin.
__ADS_1
"Lupa?" ulang Fia. Cepat-cepat ia buka tas selempang sederhana yang melekat di pinggang dan memeriksa. Dahinya mengernyit setelah memastikan tak ada yang hilang. Ia lalu kembali menatap nyalang Dafin. "Kamu ngerjain aku?" lanjutnya dengan nada suara naik satu oktaf. Kini marahnya beneran dan bukan bohongan.
Dafin terkekeh. Ia maju dan mendekat. Fia yang merasa terintimidasi sontak memundurkan langkah. Tak dipungkiri ada perasaan gugup saat melihat pria tinggi dan tampan seperti Dafin. Apalagi pria itu melihatnya secara intensif. Fia bergidik, ngeri. Takut kalau pria itu punya niatan jahat. Ia tahan dada Dafin dengan telapak tangan.
"K-kamu mau ngapain?" tanyanya terbata. Bibirnya bergetar sementara dalam dada detaknya sudah menggila. "Jangan kurang ajar?"
"Kenapa? Takut, ya?"
Fia mematung. Napas refleks tertahan.
Tersenyum Smirk, Dafin yang melihat wajah cemas Fia makin menundukkan wajah. Sengaja. Napas bahkan sudah menerpa pipi gadis itu.
"Bukankah kamu harusnya minta maaf lebih dulu sama saya," lirih Dafin ke telinga Fia. Ia tersenyum menang saat melihat wajah gadis angkuh itu berubah total. Ia makin memepet tubuh Fia hingga membentur dinding dan tak bisa bergerak.
"Lah, kenapa harus saya? Yang salah kan kalian. Kenapa kalian bisa kembar?"
Duh, Fia memukul bibirnya sendiri. Rasa gugup saat berdekatan dengan lelaki membuat otaknya tumpul. Tak pernah terpikirkan ia akan mengatakan hal konyol seperti itu.
Sementara Dafin, tentu saja langsung terbahak. Tak pernah membayangkan ada yang mengeluarkan pertanyaan super aneh seperti itu. Bahkan anak SD saja pasti tahu jawabnya. Ia dekatkan lagi wajahnya. Melihat dengan seksama kegugupan yang begitu kentara di paras ayu wanita itu.
Kalau diperhatikan wajah wanita ini lumayan memikat. Dafin bermonolog. Ia perhatikan makin intens wajah Fia. Rahang kecil, bulu mata lentik, bibir tipis serta hidungnya yang mancung. Imut dan menggemaskan. Belum lagi ada tahi lalat kecil di pipi sebelah kiri.
Terlihat manis, tapi sayangnya dia barbar. Dia gak sebanding dengan Sisi. Batin Dafin dengan mata masih memindai secara keseluruhan wajah gadis itu.
"K-kamu m-mau ngapain?" tanya Fia. Rasanya sesak. Dipepet seperti itu membuatnya tak bisa bernapas normal. Lebih tepatnya bongkahan dalam dada makin menggila. Ia dorong dada Dafin tapi sialnya tak bergerak. "Jangan kurang ajar, ya. Atau aku akan berteriak."
"St! Jangan berteriak. Aku hanya mau ngajakin kamu untuk memproduksi bayi. Sapa tau kita dapat bayi kembar. Apa kamu mau?" godanya.
__ADS_1
Seketika wajah gugup Fia berubah total. Ia dorong kuat dada Dafin lantas pergi tanpa mau menoleh. Perasaan marah, malu dan kesal bergumul jadi satu.
Sementara Davin, ia yang ditinggalkan tersenyum puas. Ia pandangi punggung Fia yang sudah menyatu dengan banyaknya punggung para pengunjung.