
"Fia, bisa kamu keluar dulu," perintah Dafin.
Fia menyanggupi dan tinggallah Dafin dan pria tua berseragam warna hitam yang bernama Rio.
"Duduk, Om," tawar Dafin seraya angkat dari kursi kebanggaan. Ia duduk berhadapan dengan Rio. "Bagaimana, apa ada titik terang soal kejadian semalam?"
Rio menyerahkan amplop cokelat. "Kami masih mencari tau. Tapi yang jelas tersangkanya laki-laki."
Dafin yang sudah kadung kesal membuka cepat amplop itu dan terpampanglah beberapa foto. Seorang pria ber-hoody hitam beberapa kali tertangkap kamera keamanan. Hanya saja wajahnya tak jelas karena tertutup masker.
Dafin berdecak. "Orang ini bener-bener niat banget buat ngancurin aku, Om," ujar Dafin.
"Iya sepertinya memang begitu. Dia bahkan menggunakan plat nomor kendaraan palsu. Tapi akan saya usahakan menangkapnya lebih cepat," ujar Rio meyakinkan.
"Baiklah Om. Aku berharap ini cepat selesai. Aku gak sabar mau lihat orang seperti apa yang coba main-main denganku," balas Dafin. Tangannya terkepal kuat, ia lantas melihat amplop satu lagi yang ada di tangan Rio. "Dan soal permintaan saya yang satunya."
Rio kembali menyerahkan amplop cokelat dan Dafin yang sudah tak sabar merobeknya. Pria itu benar-benar penasaran dengan Sisi. Dulu ia terlalu dibutakan cinta hingga mencari tahu alakadarnya saja. Menurutnya gadis baik-baik seperti Sisi pasti tidak akan bisa untuk berbohong. Namun, ternyata anggapan itu salah besar. Sekarang ia akan mencari semua informasi menyangkut kekasihnya itu.
"Nama aslinya adalah Rahma. Gadis ini anak adopsi, dia besar di panti asuhan Kasih Ibu yang ada di Jogja. Dia di sana sampai umur delapan tahun sebelum akhirnya keluarga Handoko mengadopsi dan membawanya tinggal di Bandung," papar pria kurus dengan keriput di wajah. Meskipun begitu tetap terlihat sopan dan segan pada Dafin, sang bos kecil. Bos besarnya tetaplah Chandra.
Dafin manggut-manggut. Raut wajahnya berubah sendu. Sisi ternyata sudah merahasiakan hal besar seperti itu darinya.
"Lalu?" tanya Dafin lagi. Tangannya terus saja membuka lembar demi lembar foto yang ada di sana. Potret sejak Sisi kecil, remaja hingga dewasa. Bahkan foto-foto gadis itu saat melakukan ospek juga ada di sana. "Apa ada yang mencurigakan darinya selain anak adopsi?" lanjut Dafin.
Rio menelan ludah. Menyelidiki Sisi membuatnya tahu kalau Dafin ternyata mempunyai hubungan dengan gadis itu.
"Katakan saja, Om. Aku siap dengar apa pun. Aku sudah salah menilai gadis ini. Tiga tahun menjalin hubungan sama sekali tak membuatku memahami dia. Katakan, Om. Katakan semuanya."
Dafin mengeluarkan napas berat setelah mengucapkan kalimat itu. Sebenarnya ingin sekali melupakan kejadian semalam. Masalah Sisi anak adopsi juga bukan kendala, hanya saja ia ingin mengorek lebih dalam. Namun tak dipungkiri ada rasa takut kalau kebenaran akan membuatnya terluka dan berakhir membenci gadis itu.
"Dia pintar, cuma tertutup dan setelah lulus SMA dia menghilang selama setahun, dia ...." Jeda sejenak. Rio membasahi bibir dengan saliva sebelum menarik napas. Ia sangat yakin informasi lanjutan akan membuat sang bos kecil patah hati atau mungkin juga shock.
Sementara Dafin yang tak sabar makin memindai wajah Rio. Terlihat jelas raut muka gelisah orang itu.
"Lanjut Om. Dia kenapa? Apa yang dia lakukan selama setahun? Lalu di mana dia selama setahun itu?" cecar Dafin tak sabar. Ia bahkan menggenggam lututnya sendiri.
"Dia hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan," lanjut Rio akhirnya.
Bak dijatuhi bom. Dafin terdiam. Dia mati kata. Hanya mata yang sanggup beroperasi. Ia benar-benar tak menyangka kalau Sisi punya sisi lain.
"A-apa Om Rio yakin?" tanyanya terbata. Sungguh berharap itu hanya kebohongan, tapi untuk apa Rio berbohong? Lagipula Rio adalah orang kepercayaan sang ayah. Mendadak kepalanya serasa akan pecah. Kenyataan kalau Sisi memiliki anak rasanya sulit diterima.
"Saya yakin. Tidak banyak orang yang tahu ini karena dia melahirkan secara sembunyi-sembunyi. Hanya orang tua dan keluarga saja yang mengetahuinya. Dan saat lahir pun anak itu langsung di adopsi oleh kolega jauh mereka. Namanya Irfan, seorang guru piano," jelas Rio mantap. Sudah kepalang tanggung untuk kasihan. Baginya lebih baik sang bos kecil mengetahui hal itu sekarang.
Dafin menyandarkan punggung di sofa. Sungguh, ia tak tau harus berkomentar apa. "Sisi, kenapa bisa kamu sembunyikan hal besar ini? Kenapa?" gumamnya lirih seraya menyugar rambut. Ia tarik kuat berharap rasa sakit akibat kebohongan sisi sedikit reda. Namun yang ada ia malah makin kalut. Ia tatap Rio.
__ADS_1
"Lalu siapa laki-laki brengsek ayah biologis anaknya? Kenapa mereka tidak menikah? Kenapa dia membiarkan Sisi melalui itu semua seorang diri?" tanya Dafin lagi dengan emosi yang sudah meletup-letup.
"Soal itu tidak ada yang tahu. Dia merahasiakan identitas laki-laki itu. Tak ada yang tahu selain dia sendiri. Dan sebab itulah hubungannya dengan saudara menjadi renggang. Dia rela dibuang daripada menyebut nama laki-laki itu. Handoko yang menyayangi Sisi memutuskan menangani masalah itu secara rahasia lalu menguliahkan gadis itu ke Jakarta. Dan soal anak, seminggu sekali Sisi selalu menjenguknya," papar Rio lagi.
"Seminggu sekali?" ulang Dafin yang seolah ingin memastikan indera pendengaran. "Itu artinya anaknya ada di sini?"
Tunggu dulu, apa jangan-jangan gadis kecil yang semalam di rumah sakit benar-benar anaknya? Dafin bermonolog. Hatinya makin sakit. Ia lihat lagi Rio dan mendapati sebuah anggukan kepala.
"Ya Tuhan Sisi ...."
Rio masih menatap lekat Dafin yang tengah mengusap wajah gusar dengan kasar. Ia lalu kembali berkata, "Dan satu lagi, saat saya menyelidiki gadis ini, ternyata sebelum tabrakan terjadi ada yang mengejar taksi yang dia tumpangi sebelum akhirnya kehilangan kendali dan menabrak belakang mobil sebuah trak yang sedang terparkir."
"Apa?" Pompaan darah Dafin langsung terhenti. Tangannya terkepal makin erat. Telapak tangan yang biasa berwarna kini pucat. Ia murka. "Maksud Om ini bukan kecelakaan biasa? Tapi disengaja?" cecarnya dengan suara tinggi.
Dafin kembali menyugar rambutnya dan semakin kesal saat mendengar Rio mengiyakan.
"Sepertinya terlalu banyak rahasia gadis itu yang kita tidak tau," lanjut Rio.
Hening, Dafin menenangkan diri. Ia tertunduk dengan tangan menopang kepala yang berat. Ternyata begitu banyak rahasia Sisi yang ia tak tahu. Dari kebohongan hingga alasan kenapa ada orang yanh ingin mencelakainya.
Cepat-cepat Dafin beranjak dari sofa, mengambil jas lalu memasangnya. "Om, tolong cari siapa si brengsek yang udah mencelakakan Sisi. Tolong cari juga informasi soal laki-laki yang udah menghamili dia. Dan kirimkan alamat orang yang mengadopsi anaknya," perintah Dafin yang langsung disanggupi oleh Rio.
Tanpa banyak kata, Dafin pun bergegas keluar ruangan dengan membawa masalah yang makin dipikirkan makin pelik. Ia berdengkus dan di dekat pintu tak sengaja berselisih dengan Fia. Fia yang tengah membawa nampan kopi dan sebuket bunga, kebingungan.
"Loh, Pak Dafin mau ke mana?" tanyanya seraya berteriak.
"Saya ada perlu. Tolong kamu batalin semua jadwal hari ini." Mata Dafin memindai buket bunga yang Fia pegang. Tertulis ucapan selamat atas perekrutan dirinya di sana. "Jika ada ajakan makan siang atau malam dari perusahaan lain, tolong tolak dengan hati-hati," lanjut Dafin.
Fia mengiyakan. Matanya mulai berkaca-kaca karena efek alergi mulai muncul.
"Dan satu lagi. Mulai sekarang jangan terima bingkisan apa pun termasuk bunga. Ingat itu."
****
Sebuah rumah sederhana berpagar putih menjadi pusat pandangan Dafin. Ia masih betah menatap halaman rumah itu meski sudah hampir dua jam. Matanya terus saja tertuju pada sosok anak kecil yang tengah bermain boneka bersama seorang wanita yang kemarin memperkenalkan diri sebagai Erlina.
"Jadi dia bener-bener anaknya Sisi."
Dafin mendesah setelah mengatakan itu, hatinya kembali terasa ditusuk benda tajam, nyeri, perih, sakit. Sebegitu tega Sisi membohongi dirinya yang benar-benar tulus dan serius.
Kini mata Dafin tertuju ke sebuah liontin berbentuk hati yang terkalung di kaca tengah mobil. Tampak sebuah potret kebersamaan mereka yang tengah tertawa. Di sana, Sisi terlihat bahagia bersamanya. Siapa yang menduga gadis itu menyimpan segudang rahasia?
Dafin mendesah lagi. Rasa kecewa masih mendominasi. Ia tak tahu harus apa saat Sisi sadar nanti. Apakah harus menerima dan melupakan kebohongan gadis itu? Ataukah menolak dan menyalahkan?
Jujur, ia sulit menerima kenyataan kalau Sisi sudah mempunyai anak dari pria lain.
__ADS_1
"Sisi, siapa sebenarnya kamu? Apa mau kamu? Apa motifnya? Kenapa kamu tega nipu aku sampe kek gini, sih? Apa karena uang? Tapi kenapa selama ini kamu nggak pernah mau nerima uang yang aku kasih? Kamu nggak pernah mau nerima barang-barang yang aku beli. Kamu keras kepala Sisi. Kamu selalu membuatku kagum dengan sikap itu. Tapi kenapa sekarang jadi begini?" gumamnya seraya memukul setir. Tangan yang ngilu tak sebanding dengan sakitnya sebuah kebohongan. Ia hidupkan mesin mobil dan menuju rumah sakit.
Di sana, dalam ruang beraroma khas rumah sakit, Dafin berdiri. Ia menatap lekat wajah Sisi yang tengah terlelap. Hanya suara bunyi monitor saja yang menengahi. Ia terus saja menatap dan tanpa sadar sudah ada air di pelupuk mata.
Tak ingin berkelanjutan, ia pun menghapus air mata yang hampir terjatuh. "Hey, Sisi Maharani, sebenarnya siapa kamu? Apa niatmu mendekatiku? Apa perasaan kamu selama ini tulus?" Jeda sejenak, Dafin mencoba menenangkan diri dengan menarik napas panjang. "Tolong bangunlah. Bangun dan jelaskan segalanya. Jelaskan agar aku nggak salah paham. Jelaskan siapa yang udah nyoba membunuh kamu."
Setelah mengeluarkan unek-unek, Dafin pun berlalu meninggalkan ICU tanpa melihat ada sebulir air yang keluar dari pelupuk mata gadisnya.
****
Sementara itu, di jam yang sama tapi berbeda kota dan tempat keluarlah seorang wanita berpakaian serba hitam dengan topi berwarna senada. Ia memindai lingkungan di sekitarnya berdiri dengan mata yang tertutup kacamata hitam. Ia menyapu sekitar dan tampak perumahan yang jujur sangat sederhana. Tak sama dengan komplek perumahan elit milik keluarganya. Di sana hanya ada rumah minimalis dengan halaman depan yang cukup menampung satu mobil saja. Gadis itu mendesah resah. Kebebasan serta kemewahan benar-benar telah lenyap dari genggaman.
"Sekarang keknya namaku udah ganti. Bukan lagi Anya anaknya orang kaya tapi Anya anak yang dibuang keluarga," gumamnya kesal.
Sekarang mata gadis itu melihat Sulaiman yang sedang sibuk mengeluarkan barang-barang serta koper miliknya.
"Pak Sulaiman, ini bener alamatnya?" tanyanya penasaran.
"Iya, Non. itu rumahnya," balas Sulaiman seraya menunjuk sebuah rumah bercat hijau dengan halaman yang kecil. Sebuah penampakan yang membuatnya kembali mendesah lirih.
"Bunda kejem amat ama anak sendiri. Aku disuruh tinggal di rumah kecil begitu, mana uang jajan sama uang ojek cuma 200 rebu," gumamnya saat mengeluarkan uang dua lembar berwarna merah dari saku. Ia manyun memandang uang itu. "Mana ditransfernya seminggu sekali," keluhnya lagi.
Teringat kembali perkataan sang bunda tadi pagi.
"Hemat-hemat di sana. Jangan boros dan jangan cari gara-gara. Jatah kamu bakalan Bunda kirim seminggu sekali. Jadi jangan sampai kamu bikin masalah. Kalau bikin masalah, Bunda bakalan bantu. Tapi harus ganti," ujar Litania seraya memasukkan pakaian serta surat-surat penting Anya ke dalam koper.
"Maksud Bunda ganti?" ulang Anya yang sudah menghentikan kegiatannya merias diri. Jujur, perkataan Litania membuatnya merinding.
"Ya ganti, kalau kamu bikin masalah dan memerlukan uang, Bunda bakalan bantu, tapi kamu harus bayar dari uang saku kamu. Kalau kamu berhutang sejuta, berati uang jajan kamu Bunda potong dua puluh ribu. Nah bakalan Bunda potong terus sampe hasilnya genep sejuta," papar Litania yang tanpa memedulikan ekspresi terkejut sang anak.
"Bunda jahat! Sekarang gak hanya jadi bos tirani tapi Bunda merangkap jadi tengkulak juga," sungut Anya seraya pergi meninggalkan Litania.
Argh! Mengingat itu Anya makin kesal. Namun entah mendapat keberuntungan dari dewa mana, mata Anya mendadak melihat uang seratus ribu di tengah jalan. Seketika matanya berubah warna jadi hijau. Ia berbinar dan tanpa pikir panjang bergegas ingin mengambil uang itu.
Tanpa di duga sebuah kendaraan bermotor melaju kencang ke arahnya. Bunyi klakson pun menyadarkan tetapi Anya yang kaget tak bergerak hingga yang punya motor menginjak pedal rem mendadak dan membanting stang ke arah berlawanan. Motor yang tak bisa mentolerir pergerakan mendadak mulai oleng dan membuat si pengendara berakhir tersungkur dan berguling beberapa kali.
Anya panik. Ia berlari menghampiri si pengendara berhelm hitam dengan jaket kulit berwarna senada.
"Ya aloh, Om. Aku gak sengaja. Om gak apa-apa?" tanyanya seraya membantu orang itu duduk. Ia perhatikan pakaian si pengendara serta motor yang lecet. Mendadak ia kesusahan menelan saliva saat mengetahui motor yang sudah mencium aspal itu bukanlah motor biasa malainkan motor Harley Davidson terbaru.
Ya ampun, sial banget sih. Gegara seratus ribu aku harus keluar duit puluhan juta. Kalo begini sampe aku jadi nenek pun Bunda bakalan nagih hutang, batin Anya.
Asli, ia ketakutan. Takut di marahi Litania dan takut miskin tentunya, belum lagi si pria berhelm yang ada di hadapan mengerang kesakitan. Cepat-cepat ia menekuk lutut seraya bersujud bak drama kolosal saat rakyat jelata berjumpa raja.
"Om, tolong maafin aku, Om. Aku gak sengaja. Aku khilaf. Tolong jangan minta ganti rugi, ya, Om. Aku gak punya duit. Jangan laporin ke polisi juga. Kalau sampai polisi turun tangan aku pasti gak hanya di depak keluar kota, aku yakin pasti bakalan ditendang sampe keluar angkasa. Please ... Om. Kalau memang perlu uang, paling gak kasih aku waktu buat jual ginjal dulu," ucapnya yang sontak saja mengubah erangan pria itu menjadi gelak tawa. Ia buka helmnya dan mendapati Anya yang masih bersimpuh.
__ADS_1
"Kamu memang cocoknya tinggal di luar bumi."