Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Rahasia Chandra.


__ADS_3

Jeder!


Petir menyambar. Suara lantang yang mengagetkan Litania. Suara yang sontak saja membuat pikiran gadis itu kembali. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa memanggil suaminya Daddy? Apa jangan-jangan ....


Kaki Litania melemas. Jantung pun mendadak berhenti berdetak. Keadaan aneh yang membuat darah mendidih karena berpikir negatif. Sebuah asumsi yang membuat Litania tak sadar terhuyung dan berakhir bokong membentur lantai.


Sakit? Tentu saja. Tapi rasa sakit fisik tak sebanding dengan hatinya yang seakan terkoyak, tercabik lalu ditaburi garam. Rasanya, oh ... Litania ingin menjerit saat itu juga.


Diperhatikannya wajah anak itu. Begitu bahagia melihat Chandra. Sementara wanita yang menggendongnya, memasang wajah canggung. Seperti gelisah telah ketahuan melakukan kesalahan.


Apa artinya ini? Apa dia selingkuh? Ah ... gak mungkin. Kalau dia selingkuh gak mungkin sampe punya anak begini. Itu artinya ... Akulah yang jadi pelakor di sini.


Litania melemah. Air mata yang tertahan karena kaget akhirnya luruh juga. Dengan sekuat tenaga, ia beranjak dari duduknya. Melangkahkan kaki yang telah gemetar ke arah Chandra. "A-apa ini? Bisa tolong jelaskan?"


Bibir Litania bergetar. Air mata pun meluruh tak terkendali. Namun, sesakit apapun kenyataan, ia tetap inginkan jawaban. Sungguh, dada Litania menggila. Ia begitu mengharapkan sebuah sanggahan. Tapi pria yang ada di depannya malah bungkam. Lelaki pengecut itu menundukkan pandangan dengan meremas kunci mobil. Tampak seperti seorang pecundang yang tengah mencari alasan.


"Dasar brengsek!"


Tak tahan. Suara lantang Litania akhirnya pecah. Ia ulangi lagi pertanyaan yang sama, tapi tetap tak mendapat jawaban. Pria itu malah menggenggam tangannya. "Sayang, bisa kamu tenang dulu. Kita bicarakan baik-baik di rumah. Oke."


Oh shit! Emosi Litania makin menggunung. Ia layangkan tamparan panas pada pipi kiri Chandra. Lelaki itu pantas mendapatkannya. Sebuah penghianatan tak akan bisa dijelaskan bagaimanapun bentuk dan caranya. Penghianat tetaplah penghianat.


"Jangan sentuh aku. Aku jijik!"


Litania histeris. Ia benar-benar berang. Matanya yang memerah karena tangisan mendadak penuh kobaran api. Tatapan menghunjam pun tak lupa ia layangkan pada pria itu. "Aku benci kamu. Aku gak mau denger apapun lagi!"


Litania tak mampu lagi menahan perih. Kenyataan pahit harus ia terima saat rumah tangga lagi harmonis-harmonisnya. Namun, berkoar-koar menjerit karena sakit hati pun percuma. Ia putuskan untuk berlari. Meninggalkan situasi aneh yang membuatnya sulit untuk sekedar menarik napas.


"Litan tunggu!"


Litania tak peduli. Ia terus saja berlari menembus hujan yang lumayan deras. Ia bahkan mengabaikan tatapan orang-orang sekitar yang tentu saja melihat dengan tatapan heran. Aku benci ini. Nenek aku mau pulang. Batin Litania menjerit. Tangis pun pecah diiringi suara kilat yang menyambar. Suara nyaring yang sontak saja menyadarkan kalau dirinya telah basah kuyup.


Apakah kedinginan? Jawabnya tidak. Gadis itu tetap merasakan panas dalam dada. Ia terus saja berlari hingga sebuah kalungan tangan menghentikan langkahnya. "Ayo kita bicarakan baik-baik. Jangan kaya gini, hem .... Semua bisa diselesaikan."

__ADS_1


Oh sial, situasi macam apa ini? Bertengkar dalam hujan mengingatkan Litania akan serial drama Korea yang sering ia tonton. Drama yang akan berakhir luluh dan baikan. Namun, kenapa yang dirasakan wanita itu berbeda. Darahnya makin berdesir. Ia terus saja meronta. Berteriak nyaring agar dilepaskan, tapi tetap saja kalah kekuatan. Chandra dengan cepat menggendongnya bak karung beras. Mendudukkan paksa tubuh basah Litania dalam mobilnya.


"Tenanglah. Kita bicara di rumah."


Menutup pintu mobil, Chandra berbalik menoleh wanita dan anak itu. "Jagalah Chandira. Nanti akan aku hubungi lagi."


Astaga, dada Litania kembali bergemuruh. Ia meraung dalam mobil itu. Di saat genting seperti itu Chandra masih sempat mengkhawatirkan wanita lain. Kamu jahat. Jahat. Litania membatin, dadanya sesak.


Sepanjang perjalanan, Litania bungkam. Ia arahkan pandangan ke arah luar jendela. Melihat rintik hujan yang seakan-akan tak ada habisnya. Sementara mata, tetap saja mengeluarkan bongkahan air. Ia tak tau harus apa dan bagaimana menyikapi situasi ruwet yang tengah dihadapinya.


Tibalah mereka di dalam apartemen. Chandra dengan cepat menarik tangan Litania yang sedari awal terus saja melangkah menjauh. Ia ingin menjelaskan tapi tak ada kesempatan. Kini gadis itu malah tengah menurunkan koper yang ada di atas lemari.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau ke mana?"


Tak ada jawaban. Litania masih saja mengemas semua pakaian yang ada. Tak sempat melipat. Ia tarik paksa semua pakaian yang tergantung. Membiarkannya mengumpul tanpa ada unsur estetika. Bahkan peralatan make up yang ada di atas meja rias telah masuk ke dalam kantong kresek dengan sekali kibasan tangan. Oh, Litania tak betah berlama-lama. Berada di samping Chandra membuatnya sesak.


Semua sudah siap. Litania tarik paksa kopernya. Mengabaikan pertanyaan dan perkataaan Chandra.


Sial, Litania tak berniat menjawab. Ia hanya menepiskan tangan Chandra yang berkali-kali meraihnya. "Minggir!"


"Dengerin dulu."


Berdecih. Litania memandang tajam pada pria itu. "Apa?! Apa yang mau dijelasin?! Mau jelasin betapa begooknya aku. Gitu!"


Tergelak hambar. Litania mendorong tubuh kekar Chandra. Menepis tangan pria itu seraya menunjuk tepat pada batang hidungnya. "Jangan cegah aku. Aku mau pergi. Dan kamu. Jangan coba buat nyusul."


****


Tiga hari berselang.


Litania rebahan di atas kasur lama yang ada di rumah sang nenek. Melihat pancaran cakrawala yang telah berubah jingga. Dirinya sudah seharian di sana. Terbaring tanpa berniat melakukan apapun. Dirinya telah lelah tanpa harus bergerak.


Pintu diketuk. Tampak wanita tua tengah mengintip dari balik daun pintu kayu kamarnya. "Ndok, Nenek boleh masuk?"

__ADS_1


Tak bersuara. Litania hanya mengangguk dan mengubah posisinya untuk duduk. Ia perhatikan sang nenek yang tengah berjalan mendekatinya. "Ada apa, Nek?" tanyanya lesu.


"Keluar, ya. Ada Lita sama Chandra."


Menarik napas panjang. Litania makin tak bertenaga untuk menjawab. Rasa cinta telah berubah benci, dan benci telah mengambil seluruh semangatnya. "Aku gak mau, Nek. Usir saja mereka."


"Hust, gak boleh gitu. Mau gimana pun mereka masih mertua dan suami kamu. Harus sopan. Paling enggak dengerin dulu penjelasan mereka."


Menatap sang nenek, Litania pun berkata lirih, "Nenek ngebela mereka? Mereka udah nyakitin aku, Nek. Aku gak mau ketemu mereka lagi."


Akhirnya. Bulir air kembali menetes. Sudah tiga hari tiga malam ia meratapi nasib. Namun anehnya air mata selalu ada. Sebenarnya seberapa banyak stok air mataku ini. Litania membatin heran. Ia seka lagi air matanya, berdiri dan menghadap jendela. "Aku gak mau ketemu mereka."


Berdiri, Sita pun mendekati Litania. "Keluarlah. Tanyakan apa alasannya. Sebenarnya Nenek bukan mau ngebela meraka. Cuma, Nenek juga penasaran. Apa alasan Chandra bisa berbuat tercela seperti itu."


"Baiklah, Nek."


Dengan langkah lunglai, Litania pun menghampiri tamu tak diundangnya itu. Tampak sang suami dan mama mertuanya tengah tersenyum lega kala memandangnya.


Duduk di sofa ruang tamu, Litania mencoba tegar dengan bersuara lebih dulu. "Untuk apa lagi kemari?"


"Sayang, dengerin Mama, ya. Mama tau Chandra salah. Tapi mama mohon, kasih dia kesempatan buat ngejelasin."


Lagi, Litania menarik napas panjang. Bukan ingin memaafkan. Hanya saja tenaganya sudah lenyap. Bahkan untuk berdebat saja ia tak berselera. Ia pandang wajah kusut Chandra. "Ayo, coba jelasin. Siapa perempuan itu? Sejak kapan kamu berhubungan dengannya?"


Sudah tak ada lagi sebutan abang dalam kalimatnya. Ia jenuh. Percuma menghormati kalau yang dihormati tak berperilaku seperti manusia terhormat.


Beranjak dari sofa, Chandra berjongkok seraya menggenggam tangan Litania. Ia tatap wajah kusut istrinya itu. Wajah sayu yang menambah rasa bersalahnya. "Litan, aku salah. Aku minta maaf. Ini murni kesalahan. Nama perempuan itu Rania. Kami gak sengaja ketemu di kelab malam di Semarang. Dulu, kami sama-sama mabuk dan ... dan ...." Chandra tak mampu menyelesaikan lisan. Ia hanya tertunduk dalam hingga suara dehaman Lita mengambil alih kendali.


"Litan. Tolong maafin Chandra. Mama sebenarnya marah. Mama gak percaya dia bisa berbuat hina dan lebih parahnya bisa menyembunyikan masalah sebesar ini. Tapi mau bagaimana lagi. Nasi udah jadi bubur." Lita mengambil napas panjang. Ia perhatikan anaknya yang tampak menyedihkan kemudian kembali melanjutkan kata, "Tapi Rania juga gak kalah kasian. Dia selama ini hidup terasing karena hamil di luar nikah. Jadi, Litan, Mama minta, kamu mau ya dimadu."


****


Chandra—Rania ada di luka Reka ya.

__ADS_1


__ADS_2