Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Litania belum dewasa


__ADS_3

Litania duduk mematung di atas sofa. Matanya menatap fokus pada kotak cokelat yang sudah tak ada isinya. "Sebenarnya siapa yang ngirim coklat ini, sih. Kok aku jadi penasaran." Litania garuk kepalanya. "Apa mungkin si bangkotan itu?"


Berdecak sebal, Litania sandarkan punggung di sofa. Otak kembali mengingat betapa kesalnya ia semalam hingga tega membanting tubuh kekar pria yang sempat menjadi idolanya itu.


"Ish, ngeselin. Moga aja ni coklat buka dari dia," sungut Litania. Ia rebahkan kepala yang masih mengantuk seraya memikirkan siapa Bian itu. Sebuah nama asing tapi mampu membuatnya ketar-katir. Takut akan berakhir seperti Reno yang terobsesi padanya.


Namun, entah mengapa terlintas jelas ekspresi Chandra ketika kesakitan. Ekspresi menderita yang membuat Litania mengukir senyum kuda—seperti orang gila. "Rasain. Mang enak." Tersenyum miring, Litania merasa puas. Ia arahkan pandangan pada pasfoto pernikahan mereka yang ada di bufet TV.


"Rasa sakit kamu itu gak sebanding dengan aku." Litania menggerutu lalu menutup paksa bingkai foto tak bersalah itu. Ia kesal, sungguh masih kesal. Bukannya berniat memperbaiki hubungan lelaki itu malah telat datang. "Dasar pak tua jahat. Awas aja kalo berani maksa lagi. Bakalan aku ulek tu mukanya pake sepatu."


Pintu berderit, tampak sang nenek tengah membawa banyak barang tersenyum ke arahnya. "Kamu kenapa pagi-pagi tampak kesel gitu?"


Beranjak dari sofa Litania lagi-lagi tersenyum kuda. Ia dekati sang nenek yang terlihat kelelahan dengan banyak bawaan di tangan. "Sini, Nek. Barangnya letakin sini aja dulu. Nanti biar aku aja yang bawa ini ke dalam."


Litania papah tubuh tua Sita untuk duduk di sofa. Lantas masuk ke dapur dan membawakannya segelas air putih. "Nek, minum dulu."


Memperhatikan wajah lelah sang nenek, Litania merasa ada yang aneh. Tampak bulir air besar keluar dari pori-pori dahi Sita serta bibir yang kehilangan rona. "Nenek kenapa? Sakit? Kok pucet gini?"


Mendaratkan punggung tangan ke dahi sang nenek, Mata Litania sontak membeliak. "Nenek demam?!"


"Enggak apa-apa. Kamu jangan lebhai ngapa? Nenek cuma meriang." Terbatuk-batuk, Sita menutup mulutnya dengan sapu tangan. Wanita tua yang mengenakan baju kaus biasa dan celana kulot itu tampak memaksakan senyuman. "Jadi bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Chandra?"


Merebahkan diri di sofa, Litania menghela napas panjang. "Gak ada kelanjutan, Nek. Aku mau cerai aja."


"Kamu yakin?"


"Emb, aku yakin. Lagian hubungan ini udah gak sehat, Nek. Aku udah males. Kalau pun balik pasti gak bisa kek dulu lagi. Lagian aku masih muda, Nek. Buat apa makan hati bila di luaran sana banyak yang jual dada ayam bahkan daging sapi berkualitas tinggi."

__ADS_1


Mengulas senyum pahit, Sita pegang tangan Litania. "Dalam agama perceraian itu dibolehkan tapi dibenci Tuhan. Kamu tau alasannya?"


Menggeleng, Litania menatap seksama wajah letih sang nenek.


"Kerena ikatan suami istri itu kuat. Saking kuatnya banyak yang gagal pisah dan berakhir rujuk. Mending sekarang kamu jernihin pikiran kamu dulu. Jangan gegabah. Nenek itu sayang sama kamu. Nenek takut kamu menyesal nanti. Chandra itu anaknya baik. Dari keluarga baik-baik. Ka—"


"Gak, Nek." Litania menyela. Ia arahkan mata keluar jendela, ada setitik air di pelupuk matanya itu. Setiap membahas Chandra entah mengapa gumpalan merah dalam dada berulah luar biasa. Membuatnya sesak dan sakit. Lantas berakhir menangis.


"Kalau dia laki-laki baik, dia gak bakalan hamilin anak orang. Lebih parahnya dia menyembunyikannya, Nek. Itu namanya bukan kesalahan lagi. Tapi kesengajaan berkedok kesalahan, kejahatan yang terorganisir, terencana, dan hukuman untuk kriminal semacam itu ya harus dihukum seumur hidup atau hukuman mati."


Litania berucap penuh penekanan hingga tangan yang sedang di pegang Sita mengepal dengan kuat. Gadis itu beranjak dari kursi dan berdiri di dekat jendela. Ia hapus air matanya seraya berucap, "Aku udah gak bisa percaya dia lagi, Nek."


"Tapi, Ndok—"


"Nenek." Litania berdengkus. Ia arahkan mata menatap marah pada wanita tua itu sedetik kemudian kembali mengarahkan pandangan ke halaman samping rumah mereka.


"Bukan gitu, Nenek hanya berpikir agar kamu memaafkannya. Nenek kenal sifat dia dari kecil, anaknya sopan. Mungkin itu hanya kesalahan. Dan orang yang bersalah berhak mendapatkan maaf. Inget loh. Gak ada di sini yang tau seluk-beluk kita selain keluarga mereka."


Lagi, Sita terbatuk. "Kamu itu masih belum bisa berpikir logis. Jadi Nenek takut kamu nyesel nanti. Apalagi ini Jakarta. Nenek takut kamu salah langkah kalau nanti Nenek gak ada."


Terhenyak, Litania sontak menoleh sang nenek yang sedang terduduk. Kalimat terakhir yang mampu membuat air mata Litania yang sudah kering kembali meluncur. "Kok Nenek ngomongnya gitu? Nenek masih sehat. Pasti berumur panjang." Menghampiri sang nenek. Litania memeluknya dari samping.


Tertawa sejenak Sita menggelengkan kepala. "Semua yang hidup pasti mati, Ndok. Dan Nenek waswas ninggalin kamu sendiri yang kayak bigini.


"Kayak gini bagaimana? Aku udah gede Nek. Aku udah dewasa. Aku bukan anak kecil yang harus ada wali. Lagian aku punya nenek."


"Dewasa?" Lagi sita tertawa jenaka. "Kalo kamu dewasa gak mungkin kamu tidur di mobil orang. Untung yang nganterin semalam orang baik. Coba kalo jahat."

__ADS_1


Mengernyit, dahi Litania membentuk beberapa lipatan. "Maksud Nenek?"


"Coba kamu inget, gimana ceritanya kamu bisa sampe rumah?"


"Aku kan naik taksi." Litania makin bingung. Ia tatap makin intens wajah Sita.


"Enggak. kamu itu masuk ke mobil orang. Lalu tidur di sana. Apa itu yang namanya dewasa? Orang dewasa itu selalu memikirkan semuanya dengan matang. Gak ada yang seradak-seruduk kek kamu itu. Untung dia baik. Coba kalo punya pikiran jelek."


Litania terdiam. Lagi lagi ia bersalah dan berdalih dalam hal ini. Pertama Reno, dan sekarang orang itu. Apa aku kebangetan ya? Batinnya.


"Udah, jangan melamun. Mending sekarang bantuin Nenek masak, terus kamu anterin ke orangnya. Untuk ucapan terima kasih."


****


Berbekal kartu nama serta rantang di tangan, Litania memberanikan masuk kedalam sebuah studio foto berlantai tiga. Bangunan besar yang menyuguhkannya banyak foto yang membuat Litania berdecak kagum.


"Wih gila. Bagus banget foto-fotonya."


Litania terpana. Ia berjalan dengan mata yang tak fokus menatap depan hingga benturan di badan menyadarkannya. Ia terhuyung dan beruntung sebuah tangan mampu menariknya sebelum menyentuh kerasnya lantai.


"Kamu gak pa-pa?"


Tergemap sedetik, Litania mulai meraih kembali kesadaran yang sempat melayang akibat benturan. Siapa ini? Batinnya.


Mendongakkan kepala, Litania membulatkan mata. Seorang pria dewasa berwajah oriental dan bertubuh tinggi semampai yang berbalut jaket kulit hitam beradu pandang dengannya.


"Kamu gak pa-pa?"

__ADS_1


__ADS_2