Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Dendam masa lalu


__ADS_3

Mata Litania membulat. Tak menyangka orang yang menjadi tetangganya adalah ....


"Lita ...."


"Iya, ini aku. Kamu kaget, ya?" balas Lita seraya mendekat. Anak gadis yang mengekorinya masih bersembunyi di belakang punggung. Gadis kecil dengan rambut terkepang dua.


Gila, jadi dia istri Erick? Tapi bagaimana bisa? Sejak kapan? Apa jangan-jangan dia disiksa juga sama suaminya? Litania membatin penuh tanda tanya. Ia pindai penampilan teman kecil sekaligus musuhnya itu dengan seksama. Tampak anggun. Tak ada yang mencurigakan dari fisik wanita itu, hanya saja tetap ada yang aneh. Ah, kepo mulai menyerang Litania.


"Jadi kamu yang beli rumah ini?" tanya Litania.


"Iya, dong. Kalau enggak bagaimana bisa aku tinggal di sini?" Lita menjeda kata sebentar. Ia duduk di sofa seraya menyilangkan kaki. Tampak angkuh dan menyebalkan di saat yang bersamaan. "Kenapa? Kamu gak percaya aku bisa punya suami tajir melintir?"


Lita terkekeh sinis, meremehkan Litania yang memasang wajah tak percaya. Ia merasa menang dari wanita yang telah menghancurkan persahabatan antara dirinya, Tania dan nia. "Kamu kira cuma kamu aja yang bisa dapat suami kaya. Aku juga kali. Malah aku lebih beruntung dari kamu," lanjutnya dengan nada arogan.

__ADS_1


Cih! Perkataan macam apa itu, sombong banget. Dia gak tau aja suamiku lebih dari suami siapa pun. Dasar tukang pamer. Bakatnya dari kecil gak berubah sama sekali. Masih aja tetep nyebelin. Litania kembali membatin. Ia duduk di sofa tanpa dipersilakan. Bergaya anggun, ia silang juga kakinya dangan dagu yang terangkat. Demi apa pun juga, ia tak ingin diintimidasi orang lagi, terlebih Lita.


"Aku harap kesalahpahaman kita di masa lalu gak berlanjut. Bagaimanapun sekarang kita sudah jadi tetangga. Jadi sudah seharusnya kita akur, 'kan?" ujar Lita.


Litania bersengkus. Kalau tak ada sang anak di sana. Sumpah serapah pasti keluar lantang dari bibir. Ia sungguh gerah hati melihat kemunafikan Lita.


"Baiklah, kita sekarang bertetangga. Gak baik menyimpan dendam," balas Litania seraya mengukir senyum terpaksa.


"Iya. Mereka anak-anakku." Menatap gadis kecil yang duduk di sebelah Lita, Litania pun pura-pura tidak tahu dan bertanya, "Dan anak itu siapanya kamu?"


"Oh, ini." Lita menggenggam tangan kiri bocah perempuan yang duduk di sebelahnya. "Dia anaknya Mas Erik. Namanya Livia. Ayo Livia, salim sama Tante Litan. Dia itu temen Mama."


Bocah yang bernama Livia ragu-ragu mendekati Litania. Seperti tertekan. Gadis kecil itu melakukan apa yang diperintahkan dengan hati-hati.

__ADS_1


"Saya Livia, Tante," ucapnya pelan dan terbata. Sorot matanya menunjukkan keengganan. Apakah ini efek karena kehilangan ibu ataukah ada kejadian lain? Ah ... Litania makin curiga dengan keluarga Lita.


"Kamu cantik, banget," balas Litania berbasa-basi. Sebenarnya ia takjub akan kecantikan bocah kecil itu. Hanya saja rasa jengkel pada Lita membuat lisan tak tulus memuji. "Oh iya, kenalin. Ini anak-anak Tante. Yang ini Dafan, yang di sebelahnya Dafin." Tangan Litania menyentuh pundak Dafan dan Dafin bergantian. Senyum pun merekah, melengkapi sandiwara di depan anak-anak yang masih polos dan lugu itu.


Ketiga bocah itu hanya mengangguk. Antara malu dan canggung ketiganya berjabat tangan secara bergantian dengan perasaan yang tentu saja aneh. Atmosfer sangat berbeda. Walaupun Lita dan Litania tersenyum, tetap saja ketiga bocah itu tak nyaman.


"Oh iya, Livia, Tante bisa minta tolong? Bisa kamu ajak anak-anak Tante main? Tante mau ngobrol sama Mama kamu. Kita udah lama gak ketemu."


Gadis berusia enam tahun itu menoleh Lita terlebih dahulu. Seakan ingin meminta jawaban.


"Bawa saja, Sayang. Bawa mereka naik ke atas," ujar Lita. Senyumnya kembali merekah dengan kacamata yang sudah terlepas dari hidung.


Setelah ketiga bocah itu menghilang. Kini tinggallah Lita dan Litania di ruang tamu. Hening, senyap, tatapan mata keduanya menyiratkan kebencian yang tiada tara. Seolah-olah telah terjadi perang tak kasatmata di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2