Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Rio


__ADS_3

"Yang ... bujukin nenek, dong. Aku malas kalo keluar rumah. Instrukturnya aja yang suruh ke sini, ya ya ya," rengek Litania seraya menggoyang lengan Chandra yang tengah memasang dasi. Wajah sengaja ditekuk sedemikian rupa. Tak lupa pula bibir dimonyongkan hingga Chandra yang terganggu memencet hidungnya, gemas.


"Apaan sih maen pencet-pencet, sakit tauk!" protes Litania lagi dengan pipi yang sudah menggembung, mirip ikan buntal.


"Makanya, nurut aja. Kata-kata nenek kamu emang bener. Kamu perlu bersosialisasi dengan ibu hamil lainnya. Biar paham caranya ngurus anak nanti. Biar ada ilmunya. Biar nanti gak kaget pas ngurusin si kembar." Menipiskan bibir, Chandra usap pipi bulat Litania.


"Tapi, aku males. Beneran. Aku gak suka rame-rame begitu. Pasti isinya emak2 tukang ghibah."


"Ya ampun, ini otak suuzon mulu." Chandra mengacak-acak poni Litania, lalu kembali berucap, "Jalanin aja dulu. Ini demi keselamatan kamu dan anak kita. Lagian harusnya dari dulu kamu ikut kelas itu."


"Ii tapi, 'kan ...."


Litania ikuti Chandra yang sudah melangkahkan kaki. Mengekorinya dengan permintaan berulang-ulang. Suara bahkan dibuat-buat manja agar suami tercintanya itu luluh. Namun, tak sesuai ekspektasi, Chandra tetap berjalan tanpa mau menoleh. Pemandangan yang membuat Lita dan Sita yang ada di ruang tamu menggeleng heran, lantas mendekatinya dan mendaratkan cubitan panas. Sita geram akan sikap konyol Litania.


"Sakit, Nek!"


"Makanya nurut. Pokoknya kami semua udah setuju kalau kamu harus ikuti kelas itu. Lita bahkan udah daftarin kamu. Jadi kamu jangan nolak apalagi ngeles. Sejam lagi kita berangkat."


Telak, ucapan sang nenek tak bisa dibantah lagi. Mau tak mau ia mengangguk juga meski perasaan dongkol luar biasa.


"Ya udah, nanti kabarin." Chandra berucap seraya menipiskan bibir, lantas mendaratkan kecupan di dahi Litania. Melihat wajah cemberut itu membuatnya sedikit tak tega. Namun, ia tak mau rasa kasihan menghalangi keselamatan orang terkasihnya. Terkadang rasa kasihan bisa menyesatkan dan berakhir penyesalan.


Litania terpaksa mengangguk. Pasrah. Dipegangnya tangan Chandra lalu berucap, "Iya, deh. Aku bakalan pergi."


"Nah gitu, dong." Chandra peluk tubuh Litania. Keduanya merasakan kehangatan dengan mata terpejam hingga suara klakson mengegetkan. Tampak Arjun dan Ara keluar dari mobil itu.


Kenapa mereka ke sini? batin Litania, sedangkan mata sudah membola. Ara tampak memesona dan cantik. Sementara Arjun tak kalah rapi dengan pakaian formal membalut tubuhnya yang tegap. Sebenarnya mereka mau ke mana?


Memasang wajah heran, Litania bolak balik menatap Chandra, Ara dan Arjun secara bergantian. Biasanya suaminya pergi ke kantor diantar Pak Bambang, tapi sekarang ....

__ADS_1


"Bisa berangkat sekarang, Pak. Jadwal mitingnya sebentar lagi. Saya takut kita gak keburu buat ketemu Tuan Yamamoto," ucap Ara seraya mendekat. Arjun mengekori dari belakang.


"Kalian mau ke mana?" Akhirnya, pertanyaan kepo Litania terlontar juga.


Ara tersenyum ramah. "Kita ada miting sama investor Jepang di bandara, Nona. Waktunya sangat mepet. Kalau kita tidak cepat, saya yakin mereka akan digaet perusahaan saingan kita."


Litania mengangguk paham. "Ya udah hati-hatilah," ucapnya seraya meraih dan mencium punggung tangan Chandra. Namun lagi-lagi kehadiran seseorang mengagetkan. Pria berjaket kulit yang mengendarai motor Harley Davidson dan helm di kepala, mendekat ke arah mereka.


Siapa lagi ini? Batin Litania.


Akan tetapi Ara tak sekaget Litania. Wanita cantik berbalut kemeja putih dan rok span hitam selutut itu mendekati si pengendara. "Loh, kenapa nyusul ke sini?" tanyanya.


Helm dilepas, tampaklah sosok yang Litania kenal. Rio, ya Rio ... suami Ara.


"Kamu, sih, dipanggil-panggil gak nyahut." Rio keluarkan sesuatu dari ransel dan memberikannya kepada Ara. "Ini berkas yang kamu tinggalin di meja."


Ara menepuk jidatnya sendiri. Sedetik kemudian senyumnya tercipta, ulasan bibir yang terlihat ... canggung. Ia pegang gemas pipi suami berondongnya itu. "Makasih, ya. Kamu yang terbaik. Kalau gak bawa ini percuma juga ngejar Tuan Yamamoto."


"Jangan terlalu deket sama dia," ucapnya. Tatapan dan ucapan yang tentu saja membuat Ara tersenyum gemas. Akan tetapi tidak untuk Arjun. Untuk kedua kalinya ia dicemburui padahal tidak punya niatan menggoda wanita bersuami seperti Ara.


"Gak bakalan. Hanya kamu seorang." Ara bahkan mengedipkan mata. Tawanya terdengar renyah.


"Ya sudah, aku ke kantor dulu." Rio pakai helm-nya. "Inget, jangan terlalu deket sama dia," lanjutnya lagi.


Ara mengangguk, senyumnya masih tersungging. "Iya iya ..."


"Tunggu dulu." Litania menginterupsi saat Rio hendak menghidupkan mesin motor.


Keempat orang di sana tertegun. Rio bahkan mengernyitkan dahi. Namun tidak Chandra, pria nya itu tampak menelan ludah. Mata berbinar Litania membuatnya tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu.

__ADS_1


Meraih tangan Litania, Chandra menggeleng dengan wajah yang seolah mengatakan jangan lakukan.


Akan tetapi, Litania yang sudah tak bisa menahan keinginan merespon tatapan horor Chandra dengan senyuman. "Aku gak sanggup nahan. Please ... boleh, ya?"


Mengembuskan napas panjang, Chandra mengangguk dan mengekori Litania.


Alis Rio tertaut, mata Litania membuatnya sedikit ngeri. "A-ada apa, ya?" tanyanya Saat Litania sudah ada di depan mereka.


Litania membalas pertanyaan dengan senyuman lantas menatap Ara dengan lekat. "Mbak Ara, aku boleh pegang jakun suami kamu, gak?"


"Apa?" ucap Ara dan Rio serentak. Mata keduanya membulat lalu kemudian saling bersitatap sekeja. Seolah tak percaya apa yang sudah mereka dengar.


Sementara Arjun di belakang, hanya bisa menyentuh hidung. Menahan tawa yang siap meledak kapan saja. Tak menyangka ada orang yang mengikuti keapesannya.


"Ara, tolong jangan marah, ya. Litania memang begitu. Ngidamnya aneh," bisik Chandra.


"Tapi, Pak. Kenapa ngidamnya aneh begitu?" balas Ara tak kalah berbisik. Sebenarnya tak terima, hanya saja Litania tetaplah nyonya negara di perusahaan tempatnya bekerja.


"Memang aneh. Makanya dulu saya nyuruh kamu cari tempat untuk memperkeren jakun."


Dahi Ara berlipat. Tak menyangka pesan Chandra yang diterimanya tengah malam beberapa bulan lalu adalah karena ini—Litania ngidam jakun. "Saya kira Bapak iseng," balasnya.


"Gimana, Mbak. Boleh, ya?" Litania tampak mengiba.


Mendesah panjang, Ara mengangguk juga. Selain karena Litania sedang mengidam. Sekarang mereka juga di kejar waktu. "Iya, Nona. Gak apa-apa." Suara Ara terdengar sedikit ... pasrah.


"Tapi, Yang." Rio ingin protes, tapi berhenti saat Ara mendekatkan wajah di kupingnya.


"Terima saja. Dia lagi ngidam. Jadi jangan ditolak. Kasian."

__ADS_1


Rio masih tampak tak percaya ada orang ngidam seaneh itu. Namun saat matanya melihat Chandra, ia baru mengerti bahwa permintaan istri bosnya itu bukanlah lelucon.


Meletakkan lagi helm di stang motor, Rio mengangguk lemah. "Baiklah."


__ADS_2