
Tibalah di rumah sakit.
Dafin melangkah hampir setengah berlari. Ia melewati lorong dengan perasaan yang sulit digambarkan, antara senang, sedih dan kacau. Ia senang karena Sisi siuman tapi sedih dan kacau ketika mengingat kebohongan yang gadis itu lakukan. Jujur, ia tak bisa untuk bersikap abai dan menutup mata. Dua minggu gadis itu koma dan selama dua minggu juga ia tak bisa tenang karena tak mendapat jawaban. Harus dibawa ke mana hubungan mereka nantinya?
Pintu ruang VVIP tempat Sisi dipindahkan terbuka. Dafin melihat beberapa orang berseragam putih mengelilingi ranjang tempat di mana Sisi terbaring. Kedatangan Dafin pun mereka sambut dengan senyuman. Sementara Fia, sekertaris cantik itu tetap mengikuti dari belakang.
"Pak, bisa kita bicara sebentar?" ujar Dafin kepada sang dokter yang berkepala plontos.
Mereka pun menjauh. Dafin melirik sekilas wajah sayu kekasihnya lalu kembali melihat sang dokter. "Bagaimana keadaan dia? Apa sudah baik-baik saja?" tanya Dafin dengan perasaan waswas.
"Keadaannya sudah membaik. Saya sudah melakukan pengecekan dan Alhamdulillah semuanya sudah normal," papar dokter itu.
Dafin mengeluarkan napas lega. "Dan soal keluarganya ...?"
"Dia sudah mengetahuinya. Kasian. Saya minta dia jangan dulu di kasih pertanyaan yang berat. Biarkan dia menenangkan diri dulu."
Dafin kembali menghela napas berat. Keinginan untuk mengorek siapa dalangnya pun sirna. Ia perhatikan Sisi, gadis itu tampak melamun.
"Baiklah, Pak. Terima kasih banyak karena sudah menghubungi nomor saya," ujar Dafin seraya mengulurkan tangan.
Dokter itu menjabat tangan Dafin yang terulur lalu tersenyum tipis. "Saya yang harusnya mengucapkan terima kasih. Sebenarnya pihak kami sudah menghubungi saudaranya, tapi nggak ada satu pun yang mau datang. Mereka malah menginginkan kalau gadis itu disuntik mati."
Dafin langsung tersentak. Sebegitu bencinyakah mereka pada Sisi hingga rela menyarankan sesuatu tak masuk akal begitu?
"Kalau begitu saya pamit," ujar dokter itu lagi dan dibalas Dafin dengan anggukan.
"Terima kasih banyak, Dok."
Semua orang sudah pergi, tinggallah Sisi, Dafin dan Fia yang ada di ruangan itu.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa sudah mendingan?" tanya Dafin seraya mendekat. Ia belai rambut berantakan Sisi lalu merapikannya. "Aku seneng kamu sudah sadar. Apa kamu tau, betapa khawatirnya aku?" lanjut pria itu dengan nada penuh kasih.
Sisi yang sedang duduk bersandar bantal pun mengangguk, air matanya mengalir. Dafin yang melihat itu secara refleks menariknya dalam pelukan, iba mengingat kemalangan demi kemalangan yang menimpa. Dari kepergian orang tua sampai diabaikan saudara.
"Tenanglah, jangan terlalu banyak pikiran. Semua sudah jalan Tuhan," ujar Dafin lirih.
Sementara Sisi, gadis itu tenggelam dalam perut Dafin. Menumpahkan rasa sedih dan sesal. "Maafkan aku, Fin. Aku sadar diri mungkin saja ini karma dari Tuhan buat aku. Aku ... aku sudah ...."
Sisi sesenggukan makin dalam, Dafin pun mengeratkan pelukan. "Tenanglah, tenang. Kamu belum pulih benar. Jangan banyak pikiran dulu."
Sisi mendongak lantas menatap lekat wajah tampan Dafin yang lelah. "Apa selama aku koma kamu sama keluarga kamu baik-baik saja?"
Dafin langsung tertegun, tanpa sadar melepaskan pelukan yang tadinya sempat mengerat dan membuat Sisi yang perasaannya sedang tak karuan kembali tertunduk. "Maafkan aku ... maaf ...."
Dafin menarik napas panjang. Sudah kepalang tanggung untuk menutup mata. Ia tangkup pipi tirus Sisi dengan kedua belah tangan dan menatap bola mata yang sendu itu lekat-lekat.
"Tolong ceritakan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa berakhir begini? Terus siapa yang nyoba menyakiti kamu?" cecar Dafin. "Aku sebenarnya sedih liat kamu begini, tapi kalau harus bersikap biasa saja rasanya terlalu berat untuk aku lakukan."
Sisi melepaskan tangan Dafin dari wajahnya. Mata pun terarah ke depan. Perlahan ... sedikit demi sedikit air yang tergenang di pelupuk mata semakin banyak hingga akhirnya menetes tanpa bisa ditahan. Gadis itu menutup wajah sendiri dengan tangan.
"Maafkan aku, Fin ... Maaf."
Lisan Sisi terjeda. Ia sesenggukan hingga Dafin yang masih berdiri merebahkan diri dan duduk di sisi ranjang. Ia memeluk gadis itu hingga tenggelam dalam dadanya yang bidang.
"Maafkan aku ...."
Dafin terus saja membelai rambut Sisi. Hatinya nyeri melihat gadis yang ia sayang menangis seperti itu apalagi mendengar tidak ada kata lain selain permintaan maaf.
"Katakan, katakan sisi lain dari kamu. Katakan apa pun yang sudah kamu sembunyikan dari aku. Tolong katakan segalanya biar kita bisa menangkap pelaku yang sudah menyebabkan ini semua."
Perkataan Dafin membuat gadis itu makin sesenggukan. Ingatan bagaimana kejadian nahas itu mengudara lagi dalam benak. Bagaimana pilunya suara rintihan serta takbir yang keluar dari mulut orang-orang yang terjebak bersamanya dalam mobil taksi yang ringsek. Bagaimana rasanya terjebak dalam situasi mencekam saat roh bisa lepas dari raga kapan saja.
Sisi bergidik, ia memukul kepalanya berkali-kali lalu meraung. Tak pernah terbayangkan sebelumnya orang tua yang menyayanginya sepenuh hati pergi begitu saja dengan keadaan yang mengenaskan.
__ADS_1
"Sayang, tenanglah ...." Dafin merengkuh kembali tubuh Sisi. Sementara Fia yang berada tak jauh dari mereka perlahan mundur. Ia tak bisa untuk tetap berada di sana.
Lumayan lama Sisi menangis, menumpahkan rasa sedih hingga suara pilu itu mereda dengan perlahan. Ia lepaskan rangkulan lalu melihat wajah lelah pria yang selama 3 tahun ini menghiasi hari-harinya.
"Maafkan aku, Fin," ujar Sisi lagi yang entah sudah ke berapa kali. Dafin tatap lekat mata sembab gadis yang tengah memeluknya itu.
"Katakan yang sejujurnya. Apa yang sudah kamu sembunyikan dari aku?" tanya Dafin dengan nada tetap penuh kasih.
"Aku ...." Menyeka air mata, Sisi menghirup udara yang banyak lalu kembali berkata, "sebenarnya aku sudah memiliki anak. Maaf aku nggak bermaksud berbohong, hanya saja aku nggak bisa dan belum siap menceritakan hal memalukan itu. Masa lalu yang sangatlah ingin aku lupakan," lanjutnya.
Dafin menghela napas panjang. Sebisa mungkin menahan emosi agar kemarahan tak meledak mengingat kondisi Sisi yang baru saja pulih. "Katakan, siapa ayahnya?"
Sisi menggeleng. "Aku gak tau. Aku diperkosa sama orang yang gak aku kenal."
"Apa!"
Dafin mengepalkan tinju. Mukanya merah padam menahan sesuatu yang jika meledak akan berefek buruk.
"Saat itu aku hancur. Aku bahkan beberapa kali ingin bunuh diri, tapi Tuhan nggak pernah mengizinkan hingga aku berakhir melahirkan anak itu," sambung Sisi. Ia kembali melihat wajah Dafin yang sudah berselimut kekesalan.
"Apa kamu tau, bayi mungil itu membuatku menyadari sesuatu. Bayi itu gak salah. Makhluk kecil itu gak pantas untuk aku sia-siakan. Dia punya hak untuk hidup. Darah daging yang seharusnya gak aku lahirkan itu menyadarkan aku untuk bersabar. Aku memutuskan menerimanya, aku memutuskan melupakan pria bejat itu dan kembali ke duniaku. Aku ingin mengejar mimpi. Tapi tentu saja dengan tidak menyia-nyiakan anakku. Setelah banyak berpikir aku pun memutuskan ke Jakarta dan melupakan semuanya sampai suatu hari aku menerima telepon ...."
Lisan Sisi terjeda lagi. Tangannya terkepal, matanya menatap nyalang ke arah depan. "Suara itu, aku yakin itu suara pria brengsek yang ngancurin masa depanku. Aku sangat yakin itu dia. Dia ngubungin aku dan ngancem akan membeberkan keadaanku yang gak pake apa-apa. Dia ngancem akan menghancurkan masa depanku dan membuka aib yang sudah susah payah selama ini aku tutupi. Dia bahkan ngancem akan membunuh anakku. Anaknya sendiri."
Level kekesalan Dafin makin tinggi. Rahangnya mengetat, giginya bergemeletuk.
"Dia nyuruh aku buat deketin kamu. Dia nyuruh aku buat menggoda kamu. Aku gak tahu motifnya, sumpah aku melakukan itu dengan terpaksa Dafin. Aku terpaksa menuruti apa maunya dia."
Dafin makin menggeram. "Apa kau tau siapa dia? Identitasnya? Atau paling gak nomor telepon dia," cecar Dafin dengan suara dalam.
Sisi menggeleng lesu, ia kembali tertunduk. "Malam itu terjadi begitu cepat. Dia pake masker. Dia ngubungin aku juga pake private nomber. Aku gak tau harus apa. Aku terlalu takut buat cerita ke orang lain."
Sisi meringkuk lalu memeluk erat kakinya. Tubuh menggigil saat mengenang malam laknat itu. Malam di mana ia ikuti oleh sosok misterius dan tanpa aba-aba diserang dari belakang. Ia tak bisa melawan karena mulut dibekap. Saat tak sadarkan diri ia dibawa ke sebuah rumah tak berpenghuni. Bangunan kosong di sana menjadi saksi bisu saat keperawanan yang harusnya ia jaga hingga halal terenggut oleh seorang pria. Orang itu melakukannya dengan binal. Sisi sempat sadar dan meronta, tapi sialnya kalah tenaga. Pria itu bermasker, yang tercium hanya aroma alkohol. Kehormatannya pun terenggut dengan cara yang keji.
"Maafkan aku. Maafkan. Aku ... aku melakukan semuanya karena ancaman," lanjut Sisi yang masih saja memukul kepala.
Dafin mencekal tangan Sisi. Ia melihat jelas ada sinar kegelisahan dan ketakutan di mata gadis itu. "Apa pertemuan pertama kita juga termasuk dalam skenarionya?" tanya Dafin. Ia mencoba tenang.
Sisi mengangguk.
Dafin melepas pergelangan Sisi lantas menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. Ia frustrasi, ternyata pelaku yang memperkosa Sisi adalah dalang dari kemalangannya selama ini. Ia tak menyangka pria yang begitu gencar ingin menjatuhkan dirinya adalah masa lalu Sisi. Bermula dari foto-foto mantan hingga foto-foto editan malam di mana dirinya diangkat menjadi direktur. Tapi kenapa? Apa motifnya? Apa kesalahannya hingga orang itu begitu nekat menggunakan cara licik dan terencana seperti itu?
Kepala Dafin mendadak berat. Ia mencoba mengingat orang yang tak suka padanya. Namun, nihil, tak ada gambaran sama sekali.
"Maafkan aku," ujar Sisi lagi.
"Kenapa begini? Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Harusnya kamu jujur, aku bisa mencari pelakunya sebelum berakhir kacau seperti ini. Apa kamu tahu karena diamnya kamu kita menjadi bahan lelucon orang gak waras itu? Apa kamu tau aku kacau karena psikopat itu?" cecar Dafin.
Sisi bungkam. Air matanya menetes makin banyak.
"Harusnya kamu bisa lebih terbuka sama aku, Si. Aku tulus sayang sama kamu. Harusnya kamu bicarakan ini. Tapi ini apa? Kamu seperti gak percaya aku. Kamu rahasiakan sesuatu sebesar ini. Soal kamu anak panti, soal anak kamu dan masa lalu. Aku mungkin saja bisa memahami dan memaklumi. Bukankah kamu tahu aku paling gak suka dibohongi. Aku paling benci itu," ujar Dafin yang sudah kadung kesal. Ia kembali menatap penuh selidik gadis yang masih saja tertunduk itu. "Apa jangan-jangan perasaan kamu juga kebohongan?"
Sisi yang tadinya menunduk sontak mendongak. Wajah yang masih bergelinang air mata itu menggeleng berulang-ulang.
"Sumpah Dafin, perasaanku tumbuh dengan sendirinya. Aku benar-benar sayang kamu. Aku bahkan nekat melawan apa mau dia. Dia ingin aku lari di hari pertunangan kita. Dia ingin kamu dan keluarga kamu menerima malu dan di hujat oleh dunia. Aku sayang sama kamu, Fin. Aku rela lakuin apa aja demi kamu," ujarnya lalu meraih tangan Dafin. Dafin yang sedang tak karuan menepisnya. Mereka diam hingga suara dering telepon Dafin menggema dalam ruang yang sunyi itu.
"Siapa ini?" gumam Dafin, alisnya bertaut saat melihat si penelepon tak menunjukkan nomor. Seperti dirahasiakan dengan sengaja.
"Siapa ini?" tanya Dafin to the point saat tombol hijau baru saja ia geser.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan orang yang ada di seberang telepon malah tertawa. Ia terpingkal-pingkal seperti tengah melihat sesuatu yang lucu. Dafin yang kesal kembali bertanya dan tentu saja dengan nada suara yang tak ramah. Akan tetapi lagi-lagi dijawab dengan suara tepuk tangan.
"Aku gak nyangka kamu ternyata tangguh juga. Aku akui kamu bukan lawan yang mudah. Rencana yang sudah aku susun beberapa tahun belakangan hancur," ujar si penelepon.
__ADS_1
Dafin menggeram. Ia yakin orang yang tengah tertawa di atas penderitaannya adalah si tersangka. Ia tatap Sisi yang juga menatapnya. "Apa yang kamu mau, ha!"
"Aku ...? Tentu saja aku mau melihat kehancuran keluarga kamu. Dan sekarang aku sadar kalau kamu bukan lawan yang mudah. Tapi gak masalah, ambil saja gadis bodoh gak guna itu. Karena aku sudah memilih target lain untuk ngancurin keluarga kalian," lanjut orang itu dengan nada yang terdengar seperti ancaman.
Dafin yang sudah kesal berteriak lantang, "Jangan macam-macam!"
"Ha-ha-ha. Aku gak minta macam-macam, aku cuma ingin satu, yaitu ingin melihat kehancuran keluarga kalian," ulangnya dan disusul suara tawa yang mengerikan.
Dafin yang kesal kembali berteriak hingga Sisi terkaget. Ia tahu ada yang tak beres lalu mencoba meraih ponsel Dafin. Beruntung Dafin bisa mencegahnya.
"Oh iya, katakan pada gadis yang sedang duduk di sebelah kamu. Aku ingin bilang terima kasih karena sudah merawat anak itu. Tapi sayang umurnya cukup sampai di sini. Aku gak tega." Gelak tawa kembali terdengar. Dafin makin kesal hingga kembali berteriak.
Namun, bukannya menghentikan tawa si dia malah berdecak. "Ayolah, jangan berteriak di sebelah pasien. Kasian. Nanti dia koma lagi."
Dafin merasa ada yang tak beres, melihat sekitar dan mata berakhir di pintu. Tampak pria bermasker melambai ke arahnya. Dengan cepat Dafin berlari keluar dan sialnya orang itu sudah hilang. Dafin terus saja berlari dan tetap tak menemukan orang itu.
"Dasar sialan! Bedebah busuk! Awas saja kau!" umpat Dafin berulang-ulang sebelum akhirnya suara seseorang dari belakang mengagetkan. Tampak Fia datang dengan dua gelas kopi di tangan.
"Bapak kenapa ngos-ngosan begitu? Pak Dafin lagi nyari siapa?" tanya Fia dengan polosnya.
Dafin yang kesal menatap nyalang sang sekretaris. "Kamu dari mana aja? Kenapa saat diperlukan kamu gak ada di tempat? Ha!"
Fia tersentak. Kaget plus sakit hati. Dibentak tanpa tahu sebab. Ia menyodorkan tangan yang ada gelas kopi. "Maafkan saya, Pak. Saya beli kopi buat Pak Da—"
Belum sempat lisan terselesaikan sebuah bunyian menengahi. Gelas kopi Fia sudah tergeletak di lantai. Fia membulatkan mata saking tak percaya kalau baru saja Dafin menepis kopi yang ia bawa.
"P-pak Dafin ...." Fia tergagap.
"Saya gak butuh kopi! Saya butuh kamu cari orang itu!" teriakan Dafin menggema. Fia sampai memiringkan tubuh saking takutnya. Ia tatap sang bos yang sudah berlalu dan kembali menuju kamar Sisi.
Bak orang gila, Dafin mengacak rambut lalu menyusuri ruangan Sisi. Ia terus saja mencari dan mengabaikan pertanyaan Sisi. Sebuah alat kecil berwarna hitam berkedip-kedip menjadi titik fokusnya. Ia raih benda yang ada di bawah ranjang Sisi itu lalu membanting tanpa perasaan.
"Dafin, apa itu?" tanya Sisi.
Dafin lagi-lagi mengabaikan.
"Dasar bajingann tengik, aku bakalan bales kamu. Aku bakalan bales penghinaan ini," geram Dafin yang masih saja setia menginjak alat penyadap itu. Ia menyalurkan kekesalan hingga sebuah notifikasi pesan kembali masuk. Sebuah video rumah terbakar membuat Dafin kembali melemaskan kaki.
I-ini kan rumah orang tua angkat anak itu .... Davin bermonolog. Ia tatap Sisi yang keheranan.
"Kamu kenapa? Pesan apa itu?" tanya Sisi lagi. Ia yang masih lemah beringsut hendak menuruni ranjang. Tapi cepat-cepat Dafin mencegahnya. "Mana ponselmu?" lanjutnya.
"Ponsel? Ponselku rusak. Kenapa?" tanya Sisi balik.
Dafin mengela napas. Ia pegang kedua pundak Sisi dan mereka beradu tatap. Malam ini istirahat saja. Jangan banyak pikiran apalagi gerak. Oke."
Gadis itu mengangguk. Ia lalu melihat punggung Dafin yang pergi dari ruangan.
Di luar ruangan sudah ada Fia yang berdiri tegak. Ia tetap mengikuti Dafin tanpa tahu tujuan sebelum akhirnya langkah Dafin terhenti karena notifikasi pesan.
[Katakan pada gadis itu. Aku sudah menyingkirkan anak itu. Jadi dia bisa melanjutkan apa pun yang dia mau.]
Dafin mendesis. Ia ingin menelepon balik tapi sebuah pesan kembali masuk.
[Oh iya, aku lelah bermain sama kamu. Aku ingin bermain-main sama adik kamu. Kalau aku lihat dia lebih bahenol dari Sisi.]
Mata Dafin melotot. Ia mengumpat berkali-kali seraya menghubungi nomor itu lagi. Sialnya tak tersambung. Ia berlari menyusuri lorong rumah sakit dan sebuah telepon dari Rio membuat Dafin kembali menghentikan langkah.
"Saya sudah mengetahui orangnya," ujar Rio tanpa basa-basi.
***
Plis jgn skip beberapa part ini ya. saya akan bikin kalian tegang.
__ADS_1