Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Samsonwati galau


__ADS_3

Rumah.


Chandra yang baru saja memasuki kamar menghela napas panjang. Pasalnya Litania berperilaku sedikit berbeda sejak sore tadi. Kini istrinya itu hanya menggulung diri dalam selimut, bahkan melawatkan malam.


"Sayang, kamu kenapa?" Bertanya sambil berjalan, Chandra duduk tepi ranjang sambil menyentuh pundak istrinya. "Kalau ada masalah, bilang aja. Jangan dipendem, gak baik," lanjutnya.


Menggeliat kecil, Litania angkat dari posisinya dan duduk. Selimut ia turunkan sampe perut.


"Aku tadi ketemu Rumi."


"Rumi, mantan tunangannya Leo?" tanya Chandra yang kaget tak percaya.


Litania mengangguk lesu. "Iya, dia ternyata satu kelas yoga sama aku. Dia hamil."


Menelan ludah, Chandra mengetatkan rahang. Dia tahu Leo brengsek, tapi tak berani bersuara apalagi menghujat.


"Lalu?" Chandra memilih pertanyaan yang aman. Mengungkit tingkah Leo yang memang suka selingkuh sudah pasti akan berefek juga padanya.


Muka Litania makin murung, ia usap perutnya dan mendapat respon—tendangan—dari si kembar. Seolah-olah mengatakan iya padahal dirinya belum melisankan pertanyaan.


"Memangnya kenapa?" tanya Chandra lagi, nada suaranya lembut. Seperti biasa, khas bucin akut.


Mendesah panjang, mata Litania tertuju fokos padanya. "Apa kita biarin aja Leo balik ke Indonesia. Tapi kalau kita biarin, aku takut Leo akan—"


"Gini-gini," Chandra menyela. Ia raih tangan Litania dan menggenggamnya. "Kata Rumi kemarin bagaimana? Apa dia minta kita batalin hukuman Leo?"


Litania menggeleng.


"Lalu apa dia nyalahin kita?"


Litania kembali menggeleng.


"Nah udah, berarti itu urusan dia. Kita gak berhak ikut campur. Mungkin Rumi punya pemikiran sendiri. Mungkin juga sekarang hatinya masih ketutupan benci."


"Tapi, kalau Rumi mau bersatu sama Leo, gimana? Apa kita lupain yang lalu itu? Tapi entar kalau Leo berulah lagi, gimana?" cecar Litania, wajahnya makin murung. Jujur, ia kasihan pada Rumi. Sesama wanita rasanya tak tega. Hamil tanpa kehadiran suami dan keluarga pastilah membuatnya merasa tersisih. Padahal saat hamil, wanita butuh kasih sayang lebih. Namun, setelah mengingat kejahatan Leo, rasanya tak bisa memaafkan begitu saja.


"Sayang, aku itu gak pernah melarang Leo balik ke Indonesia," ucap Chandra, melerai lamunan Litania yang hanya berdurasi beberapa detik. Wanita berbalut langerie tipis itu mengernyit. Tak paham.

__ADS_1


"Ini itu murni keputusan ayahnya, Pak Edward. Aku sih gak masalah dia balik ke Indonesia. Aku udah percaya sama dia."


"Secepat itukah percaya. Dia jahat, loh."


Chandra tersenyum, mata teduhnya menatap dalam mata Litania. "Sejahat-jahatnya orang, pasti punya alasan kenapa bisa berlaku demikian. Mungkin aku secara gak langsung memupuk rasa bencinya."


"Nah kalo gitu jangan dimaafin."


"Gini, orang sejahat apa pun pasti juga punya niatan buat berubah. Nah, dari kabar yang aku dengar ini, si Leo udah berubah. Jadi kita gak punya alasan buat melarang dia balik."


"Jadi kamu bakalan nerima dia lagi bekerja di kantor. Entar dia nusuk lagi, loh." Pikiran jahat mendominasi otak Litania


"Ya enggak lah," balas Chandra sambil tersenyum.


"Terus."


"Tanpa kerja di perusahaan kita pun dia bisa kok sukses. Aku yakin ayahnya pasti punya rencana. Uang Pak Edward dan omsetnya juga banyak. Aku yakin dia bisa buat Leo sukses tanpa bekerja dibawah perusahaan papa."


Litania mengangguk. "Itu artinya kita biarin aja Rumi."


Litania mengangguk paham. Namun, pikiran jail menyerang. Ia ingin menggoda suami yang bijak itu dengan pertanyaan. "Kalau aku yang punya masalah hati kayak begitu, apa kamu akan biarin aku menyelesaikannya sendiri."


Chandra terdengar mendengkus. "Ya enggaklah."


"Itu artinya aku gak cukup dewasa, gitu? Jadi gak boleh nyelesein masalah sendiri?"


Loh loh kok ke situ bahasannya, batin Chandra. Dahinya mengkerut.


"Begini, kamu itu 'kan seorang istri, dan aku seorang suami. Masalah apa pun, pasti suami yang ambil alih kendali. Bukan berartui kamu gak mampu. Gitu maksud aku."


Litania mengangguk paham. Wajah Chandra jadi tidak lagi tegang. Brabe kalau nona negara ini ngambek. Bisa-bisa si Albert bakalan menderita gak bisa celap-celup, nananina enak, batinnya.


Ia usap perut besar Litania. "Apa gunanya menikah kalau masalah urus sendiri-sendiri," lanjutnya.


Litania manggut-manggut lagi.


"Tapi ngomong-ngomong, masalah hati ini maksudnya apa?" Kini Chandra yang bertanya. "Jangan bilang kamu mau minta cere. Sampe kapan pun gak bakalan. Apa pun masalahnya, bisa kita omongin. Jangan pernah berpikir buat pergi ninggalin aku. Ngerti."

__ADS_1


Terdengar diktator, membuat Litania mencebik kesal. Padahal tadinya kan cuma seumpama. Tapi berakhir serius juga. Dasar bangkotan tua. Gak ngerti kalau aku itu minta sayang yang lebih lagi. Hu dasar! Gerutunya bermonolog.


"Iya, iya. Aku gak bakalan minta cere. Kalo minta cere aku gak bakalan jadi nona negara lagi. Sayang dong, harta sebanyak ini aku tinggalin," ucapnya sambil manyun.


"Dasar matre."


Litania tertawa. Dibilang matre tak membuatnya kesal. Ia peluk dada suaminya. "Kamu jangan bikin aku kecewa lagi."


Nah, 'kan? Pasti ngungkit dan nyerempet-nyerepet ke situ. Chandra membatin. Ia eratkan pelukan. "Gak bakalan lagi. Aku sayang kamu. Aku gak bakalan ngelakuin apa pun yang akan buat rumah tangga kita hancur."


Mengelus perut Litania, Chandra mulai menjauhkan tubuh mereka. "Ngomong-ngomong kamu udah pilih nama buat anak kita?"


Litania nyengir kuda. "Belom. Masih belum dapat nama."


"Loh, kok. Apa aku bantu nyariin?"


"Gak gak boleh!" Litania mengeleng tegas. "Nama itu kewenangan aku. Karena aku yang mengandung mereka. Jadi jangan diganggu gugat."


"Loh, kok gitu. Kan sikembar gabalan jadi kalo gak ada aku. Partisipasiku gede loh di sini." Tangan Chandra kembali mengelus.


Litania mendesis. Matanya melotot tajam. Tangan Chandra sudah ditepisnya. "Ya elah, tetep aja yang sakitnya banyakan aku. Nih, dikira enteng bawa-bawa perut segede ini?"


Chandra terkekeh, ia gemas melihat istrinya mengomel. Benar-benar sudah mirip emak-emak diktator yang selalu benar.


"Iya, aku percaya. Nama anak-anak kamu yang cari. Sekarang kamu makan, ya. Kan belum makan malam," bujuk Chandra. Tangan kembali merayap di kulit buncit Litania yang hanya terbalut langerie tipis.


"Siapa bilang belum makan?"


Dahi Chandra mengernyit. "Loh. Bukannya tadi ditawarin makan gak mau," balas Chandra bingung. Pasalnya tadi di meja makan hanya makan sendirian.


"Ya aku gak mau karna emang udah kenyang. Tuh buktinya." Telunjuk Litania tertuju ke arah bufet jati yang ada di pojokan kamar. "Aku minta beliin Pak Bambang sate kambing tadi. Habis dua porsi."


Sudah kuduga, istriku ini gak akan pernah menyiksa dirinya sendiri. Dasar Samsonwati!


****


Yang mau nyumbang nama, boleh donk komen. Heheheh.

__ADS_1


__ADS_2