
Beberapa jam sebelumnya.
Litania tampak gelisah mondar-mandir di depan Chandra yang masih terbaring di kasur. Prianya kini begitu nyenyak dan pulas dalam mimpi indah, sedangkan dirinya gelisah bukan kepalang. Bagaimana tidak, ia bingung harus bagaimana menyikapi situasi yang lumayan pelik. Bagaimana menyikapai trio ular—Lusi, Arkan dan Leo—yang masih ia tahan di ruang satpam hotel. Kalau mengikuti kata hati, tentu saja ingin sekali menjebloskan ketiga kunyuk sialan itu ke penjara, tapi ... semua harus dirundingkan. Tak ingin mengambil keputusan gegabah yang akan memperumit keadaan kelak, terlebih lagi ayahnya Leo itu adalah pemegang saham terbesar setelah ayah mertuanya. "Tau ah, bodo amat. Masalah tiga barongsai licik itu biar Papa Bram aja yang urus.'
Mengedarkan mata ke sekitar, Litania berjalan menuju jendela dan melihat keramaian kota di bawah sana. Lampu jalan yang berjejer dan kerlip bintang tak mampu menenangkan kegalauan. Baru kali ini merasa benar-benar gegana (gelisah, galau dan merana) karena Chandra.
Bukan tanpa sebab, ia tak ingin kehilangan Chandra tapi juga tak ingin pria yang tengah terpejam itu melakukan hal yang sama. Kebodohan yang akan menciptakan Rania atau pun Chandira jilid kedua ataupun ketiga.
"Gak enggak enggak!"
Litania menggeleng takut. Cepat-cepat pikiran itu ia tepis jauh. Bulu kuduk bahkan sudah berdiri kala membayangkan hal tercela jika dirinya tak datang tepat waktu. "Ya Tuhan, lindungi keluargaku ...."
Sedetik kemudian mata yang masih menampakkan kegelisahan kembali menyapu sekitar kamar. Tampak Kinar dan Arjun sudah terpejam di sofa. Arjun tidur dengan posisi duduk sementara Kinar berbaring di pahanya. Menggemaskan. Padahal sebelumnya sudah disuruh untuk tidur di kamar yang lain.
"Dasar keras kepala," gerutu Litania seraya membetulkan selimut yang tersingkap hingga berada di kaki Kinar.
Ya, ia paham, ini sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi dirinya yang masih resah tak bisa juga menenangkan pikiran yang makin berkecamuk.
"Astaga, aku harus apa sekarang?"
Tanpa diduga, sekelebat bayangan di benak membuat Litania memutuskan untuk merogoh saku celana dan meraih ponsel untuk menghubungi seseorang. Reka.
"Ya, Kak Reka, aku bakalan minta nasihat dari dia. Bukankah Bang Irwan dengan Bang Candra temenan sudah lama. Jadi mungkin aja mereka bisa diatur dengan cara yang sama."
Menghela napas panjang, Litania tekan nomor ponsel Reka dan menghubunginya. Terdengar seseorang mengangkat dan mengucapkan Assalamualaikum kepadanya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Kak. Ngomong-ngomgong aku ganggu gak," ucap Litania ragu-ragu karena memang sekarang bukan waktunya untuk mengobrol maupun yang lainnya.
'Enggak, kok. Kebetulan Kakak lagi ngasih ASI buat Irka—nama anak Irwan dan Reka. Kenapa?" tanya reka yang ada di seberang telepon.
"Begini, Kak." Litania menjeda kata sejenak lantas menekan rasa gugup dengan menekan bibir bawahnya dengan telunjuk. Malu sekaligus canggung untuk bertanya dan meminta solusi atas masalahnya sekarang.
"Kenapa?" tanya Reka dengan nada suara lembut, "ngomong aja."
Menarik napas panjang, Litania pun menceritakan kejadian yang dialaminya malam ini. Ia berharap Reka bisa memberi solusi dari masalah yang rasanya begitu rumit. Kepercayaan pada Chandra tentu saja tak berubah, hanya saja ia ingin pria itu berubah lebih baik lagi.
Namun, tanpa diduga di seberang sana Reka tergelak lucu. Litania tentu saja mengernyit heran. Apakah masalahnya adalah lelucon? Padahal kalau dibolehkan ingin rasanya mengamuk sekarang.
Menarik napas panjang, Litania memberanikan diri untuk bertanya, "Kenapa, Kak? Apa ada yang lucu?"
"Begini, pakai cara kakak saja," jawab Reka
Senyum Litania sedikit terukir, berharap saran Reka bisa menjawab kegundahan hatinya.
"Suruh dia tanda tangan kontrak. Kalau dia melanggar hartanya ke kamu. Peras dia, bikin dia bertekuk lutut dan gak bisa menolak, apalagi posisi kamu sekarang menguntungkan Litania. Kamu hamil, 'kan? Jadi nggak ada alasan buat dia menolak sarat dari kamu."
"Bentar bentar, ini maksudnya bikin surat perjanjian dalam pernikahan, begitu?" tebak Litania.
"Iya. Cara itu ampuh. Kakak sudah coba dan sikap Mas Irwan yang kasar, berang dan bengis perlahan lembut. Tapi itu juga karna dia mau berubah, tapi bisa jadi karena dia takut jatuh miskin." Reka lagi-lagi terkekeh. "Coba aja, deh. Bila perlu kamu panggil pengacara buat mengesahkan perjanjian kalian. Jadi dia nggak bakalan bisa macam-macam."
Lagi, senyum Litania terukir, sedikit lega. "Oke, Kak, terima kasih sarannya."
__ADS_1
"Iya, sama-sama Good luck ya. Assalamualaikum."
Setelah Ucapan salam dari Reka, panggilan telepon itu pun berakhir. Cepat-cepat Litania hubungi Ara, berharap sekretaris suaminya itu masih terjaga. Beruntung wanita baik itu menjawab teleponnya dengan cepat.
"Mbak, bisa hubungi dua pengacara yang handal untukku," pinta Litania to the point saat panggilan baru saja terbuhung
Hening, tak ada jawaban. Untuk beberapa detik Ara terdiam. Tak ada suara dari seberang telepon hingga Litania memanggilnya sekali lagi, "Mbak Ara, Mbak Ara masih ada di sana?"
"I-iya ... iya, maaf. A-pa kalian ingin bercerai?" tanya Ara yang terdengar terbata-bata. Sebuah pertanyaan yang membuat Litania mengulum senyuman.
"Enggak, kok Mbak. Bukan seperti itu. Aku cuma mau jaga-jaga saja biar kejadian kayak gini nggak terjadi lagi. Aku nggak mau ada skandal di keluargaku. Aku hanya ingin dia menyadari kesalahan dan berusaha berubah menjadi lebih baik."
"Maksudnya?" tanya Ara kebingungan, "bisa dijelaskan lebih spesifik."
"Aku mau bikin kesepakatan sama dia biar dia nggak ngulangin hal ceroboh kayak gini lagi."
Hening beberapa detik. Namun tak lama suara kekehan Ara terdengar. Tak menyangka ide gila tercetus dari bibir wanita seperti Litania. Gadis yang dikiranya belum dewasa itu ternyata memiliki pemikiran yang cemerlang plus jangka panjang.
''Baiklah besok saya kirim dua pengacara yang handal ke hotel tempat kalian menginap."
Bibir Litania kembali mengulas senyuman. "Terima kasih, Mbak. Terima kasih banyak."
Mengempaskan diri di sofa tunggal yang langsung tertuju ke arah Chandra, Litania menghela napas lega karena ada orang yang membantunya dikala genting seperti ini. Bantuan dari Tuhan bisa datang dari mana saja.
Di dekatinya lagi Chandra yang masih pulas dalam tidur. Ia tatap intens wajah tegas tapi tampan Chandra lantas mencubit pipinya gemas. "Besok kamu bakal mendapat pelajaran hidup dari istrimu ini." Tersenyum licik, Litania mengecup pipi Chandra seraya berbisik, "Good night, Sayang."
__ADS_1