Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Keluarga Fia


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore.


Dafin yang tengah rebahan di atas dipan kecil papan bergerak gelisah ke kanan dan kiri. Bantal yang empuk, dan kasur kapuk seakan tak mampu membuatnya nyaman. Buktinya sudah berjam-jam mencoba beristirahat, tetapi mata pria itu tak bisa terpejam. Ia malah memandang langit-langit kamar dan sesekali mengalihkan pandangan ke ruangan kecil tempatnya kini mengistirahatkan tubuh. Ruang kecil yang hanya cukup muat dipan kayu dan lemari rotan saja.


"Sekarang aku harus apa? Harus gimana coba? Jangankan uang, baju ganti aja aku gak bawa. Ya Tuhan, tau gini tadi aku bawa sekoper perlengkapan. Gimana ceritanya nginap tapi gak punya pakean ganti? Duh Dafin, apes banget sih idupmu," gumamnya seraya angkat dari kasur dan menjambak rambut sendiri. Frustrasi karena keputusan mendadak yang ia ambil beberapa jam sebelumnya.


Akan tetapi, sebuah ketukan pintu membuyarkan pikiran Dafin. Ia beranjak dan melihat Fia yang sudah berubah penampilan tengah berdiri di depan pintu. Dahinya mengernyit setelah memindai penampilan gadis itu. Terlihat makin ayu dengan penampilan yang tak beraturan. Baju kaus biasa dengan rambut panjang di cepol ke atas.


Dafin berdeham sekali seraya menyentuh hidung, ia mencoba mengusir bisikan-bisikan tak kasatmata yang mengatakan Fia lebih cantik daripada Sisi. Demi janji pada diri sendiri dan ibunya, ia berusaha keras untuk setia pada satu wanita, yaitu Sisi Maharani.


"Maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat Bapak."


"Hmm ... gak masalah, emangnya ada apa?" tanyanya dengan tetap mempertahankan wibawa. "Apa Pak Rey berubah pikiran?"


Fia menggeleng lesu lalu berjongkok dan mengangkat sebuah kotak mi instan. "Soal Pak Rey kayaknya itu memang keputusan dia. Katanya dia gak mau berbicara tentang bisnis selamaenginap di sini."


"Lalu untuk apa kamu ke sini?" tanya Dafin lagi. Jujur ia keheranan melihat Fia memeluk kotak. "Terus kotak itu buat apaan?"


Fia langsung menyerahkan. Dafin pun yang tak siap terpaksa menyambut. Dahinya makin mengernyit. "Apa ini Fia?" tanyanya dengan nada sedikit kesal.


"Itu baju ganti buat Bapak. Maaf saya cuma bisa kasih itu. Saya harap Pak Dafin mau memakainya," ujar Fia hati-hati.


Namun, bukannya mengatakan terima kasih, Dafin malah menyerahkan kembali kotak itu. "Maaf, saya gak biasa menggunakan pakaian orang lain," balasnya dengan nada datar.


"Tapi, kalau Bapak nolak ini, Pak Dafin pakai baju apa? Bukannya Pak Rey ngelarang Bapak meminta bantuan orang lain?"


Davin tak menyahut. Ia berpikir ada benarnya perkataan Fia. Hanya saja harga diri rasanya terluka jika harus menyusahkan Fia. Terlebih setelah insiden majalah tadi pagi.


Fia kembali menyodorkan kotak. Dafin pun berakhir menerima. "Tolong pakai saja, Pak. Lagian ini masih layak pakai kok. Ini saya pinjam dari temen baik saya. Tubuh Bapak sama dia beda-beda tipis. Jadi pasti muat," ujar Fia setelah memindai tubuh Dafin.


"Tapi tetap saja—"

__ADS_1


Suara dehaman Reynal memotong lisan Dafin. Cepat-cepat ia meletakkan kotak pemberian Fia ke balik pintu lalu kembali berdiri tegak. Pria tua itu berlalu tanpa berkata, padahal dalam hati Dafin sudah dag dig dug tak karuan—takut kalau disindir lagi.


Dafin menghela napas lega tapi tidak Fia. Gadis itu kesusahan menahan tawa hingga Dafin melayangkan tatapan menghunjam. "Mau ketawain saya?"


Fia melibaskan dua belah tangan. Kepalanya menggeleng tapi bibir tetap tak bisa diajak kompromi sehingga menyebabkan kekesalan Dafin perlahan naik. "Ya sudahlah. Pergi sana. Saya mau istirahat," ketusnya lalu menutup pintu.


Kini mata tertuju ke kotak yang ada di dekat kaki. "Apa aku semenyedihkan ini sampai-sampai harus nerima barang bekas orang lain? Sial."


Dafin kembali merasa frustrasi, ia menyugar rambut ke belakang lalu menendang kotak hingga isinya berserakan.


"Ya Tuhan, gini amat sih," sungutnya seraya memasukkan kembali pakaian ke dalam kotak. Namun, sebuah kantong kresek berwarna hitam menjadi titik utama. Ia buka kantong itu dan mendapati handuk baru serta peralatan mandi. Senyum Dafin sedikit terukir, tapi setelah melihat isi yang lain, senyumnya seketika sirna dan berubah menjadi dengkusan. Ia menatap kesal empat helai kain segitiga berwarna cokelat tua.


"Oh shit! Jangan bilang ini dia juga yang beli?"


****


Malam harinya.


Tak sama dengan rumah keluarganya. Di rumah Fia hanya memiliki satu kamar mandi dengan toilet yang menyatu. Jadi, semuanya harus mengantre tanpa protes.


Pukul sepuluh malam.


Dafin yang masih tak biasa dengan lingkungan baru tak bisa memejamkan mata. Ia memutuskan duduk di ruang tamu yang memang dalam keadaan gelap gulita. Suasana hening sangatlah penting agar bisa berpikir hal apa yang harus dilakukannya untuk memulai hari esok agar si Reynal itu percaya kalau dirinya adalah sosok laki-laki pekerja keras.


Namun dalam keheningan, terdengar bunyi pintu samping rumah Fia berderit. Ia yang sedang duduk mengintip dan mendapati Fia menghampiri ibunya yang sedang duduk sendirian di teras samping rumah.


"Belum tidur, Fia?" tanya Marina.


Fia menggelang ia duduk bersebelahan dengan Marina di sebuah kursi rotan. Kedua wanita itu membisu beberapa menit. Dafin yang mengintip jadi memiliki banyak pertanyaan dalam benak.


"Ibu gak nyangka kalau kamu sama bos kamu itu punya urusan sama Pak Reynal," ujar Marina untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Fia membalasnya dengan mendesah. "Fia juga gak tau, Bu. Kebetulan yang bikin Fia pusing. Gimana ceritanya Pak Reynal jadi tamu kita, Buk?" tanya Fia. Ia menatap lekat wajah Marina dari arah samping.


"Hanya kebetulan Fia. Tiga hari yang lalu Pak Rey itu gak sengaja hampir nabrak bapak kamu."


Seketika wajah tenang Fia berubah drastis. Ia makin lekat menatap wajah ibunya. "Lah terus Buk. Gimana? Bapak parah gak?" tanyanya panik.


"Ya enggak lah. Ya namanya juga hampir, bukan ketabrak," balas Marina.


Helaan napas Fia terdengar. Marina hanya tersenyum melihatnya.


"Lalu?" tanya Fia lagi.


"Ya gitu, dia katanya mau nyari-nyari rumah buat nginap di sini. Katanya butuh refreshing. Tapi pas bapak kamu tawarin ke penginapan tu orang enggak mau. Malah pengennya nginap di sini."


"Lah kok? Kok Ibu mau?" Fia makin intens menatap ibunya.


"Awalnya ibu juga gak mau Fia. Cuma dia butuh tempat tinggal yang tenang. Yang jauh dari keramaian. klo hotel atau penginapan dia gak mau. Lagian dia ngasih Bapak kamu uang yang lumayan banyak. Katanya buat biaya hidup dia selama seminggu di sini."


Hening, rasanya dada Fia terhantam batu besar. Untuk bernapas saja gadis itu memerlukan waktu banyak.


"Bapakmu maunya nolak, tapi karena uang SPP adik-adik kamu nunggak, jadi Bapak terima," lanjut Marina.


Fia mendesah lagi. Masalah ekonomi memang menjadi sesuatu yang melekat di keluarganya. Adik-adik yang masih mengenyam bangku SMP dan SMA memerlukan banyak biaya.


"Terus keadaan Bapak gimana, Buk? Bukannya dokter bilang Bapak gak boleh cape? Tapi kenapa tadi Ibuk sama bapak ke sawah? Nanti penyakitnya kambuh."


Kini Marina yang mendesah. "Bapak kamu gak mau Fia. Dia ngotot mau ke sawah. Katanya capek kalau di rumah seharian."


Hening, Marina yang murung menyeruput teh hangat yang ada di atas meja.


"Oiya, Gimana kerjaan kamu Fia? Lancar?" tanya Marina lagi tanpa menoleh Fia. Fia pun sama, mereka menatap langit yang penuh dengan bintang.

__ADS_1


"Ya gitulah, Buk. Namanya juga masih baru. Masih penyesuaian. Nanti lama-lama juga bakalan terbiasa."


__ADS_2