Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Lita dan Leo


__ADS_3

Sebulan berselang. Hubungan keduanya tampak lebih mesra. Litania menjadi sedikit lebih dewasa, lebih rajin dari sebelumnya. Yang awalnya malas bagun pagi, kini selalu bagun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Meskipun kemampuan memasaknya jauh di bawah rata-rata, tapi ia tetap berusaha agar suaminya itu nyaman. Ia tidak mau rugi. Chandra adalah tangkapan bagus. Wanita di luaran sana pasti akan senang hati menerima dudanya. Istilah kekiniannya adalah Duren Sawit ( duda keren sarang duwit ).


"Jadi gimana? Kamu yakin mau jalan sama mama?"


Chandra bertanya setelah menenggak setengah gelas air putihnya. Ia lap sisa minuman dan menatap serius wajah Litania yang telah cantik berpoles make up. Rambut pun sudah terkucir seperti biasa. Tampak bersahaja, seperti gadis remaja kebanyakan. Sedikit membuat pria berusia 34 tahun itu merasa cemburu juga was-was. Takut istri kecilnya itu dilirik pria lain.


Mengangguk, Litania balas tatapan suaminya itu dengan senyuman. Ia pandang wajah rupawan Chandra yang makin hari makin mempesona. Apalagi mengingat permainan ranjangnya. Eleuh. Serasa tak mau jauh. Litania betah bermanja ria dengan suaminya itu.


"Tapi, kalau emang gak bisa, ya ga pa-pa. Kamu di rumah aja. Nanti biar Aku yang bilang ke mama, gimana?"


Litania menghela napas. Untuk kali ini mood baiknya terbalik ketika membahas sang mama. Bukannya ingin menjadi menantu durhaka. Hanya saja, wanita lima puluhan itu selalu membahas cucu padanya.


'Gimana? Udah telat belum?'


Itulah mantra ajaib yang bisa mengubah mood seorang Litania. Dirinya yang biasa tertawa menjadi bungkam seketika itu juga. Bukan marah. Hanya saja ia merasa bersalah. Chandra dan kedua orang tuanya begitu mendambakan kehadiran seorang cucu. Sementara dirinya belum juga berhasil menangkap salah satu dari ribuan benih Chandra untuk masuk dan tinggal didalam rahimnya.


Mungkin ini hukuman. Aku dulunya ogah banget buat hamil. Tapi sekarang kehamilanlah yang aku tunggu. Ya Tuhan. Tolong cepat beri aku hadiah. Litania membatin dalam sesal. Ia tatap mata teduh suaminya itu.


"Jadi dong." Litania berucap sedikit manyun. "Tapi nanti dijemput, 'kan?" sambungnya.


Tersenyum getir, Chandra bisa menangkap ekspresi tertekan Litania. Ia pegang tangan istrinya itu seraya menipiskan bibir. Berharap dapat menenangkan. "Iya, nanti setelah dari kantor pasti aku jemput. Tapi mungkin agak telat. Soalnya ada miting dengan investor."


Tak lama, pandang memandang penuh kasih di meja makan itu pun buyar. Sebuah notifikasi pesan masuk ke gawai hitam Litania. Ia raih benda pipih persegi panjang itu dan membukanya. Tertera nama sang mama mertua di sana.


[Sayang, hari ini kita gak bisa ketemu. Mama ada urusan sama temen. Jadi acara nyalon dan nge-mall-nya kita undur minggu depan aja, ya]


Senyum Litania mengembang. "Mama ngebatalin acara hari ini."

__ADS_1


"Lah, kok, tumben." Chandra mengernyit. Namun setelah melihat senyum Litania, bibirnya juga ikutan menipis. Ya udah, kalau gitu kamu mau ke mana hari ini?"


"Kalau boleh, aku mau jemput Kinar di bandara. Dia balik ke Jakarta hari ini," jawab Litania antusias. Apalagi setelah mendapat anggukan kepala dari Chandra. Kebahagiaannya menjadi berkali lipat.


****


Menyusuri jalanan macet ibu kota tak menyurutkan raut wajah bahagia Litania. Bibirnya masih setia terkembang, tak sabar berjumpa Kinar. Ulasan bibir yang tanpa ia sadari membuat sang sopir beberapa kali melirik lewat spion. Sedikit tergoda akan paras cantiknya.


Berdehem, pria tampan dan berwajah bersih itu membuyarkan lamunan Litania. "Mau jemput siapa, Mbak?" tanyanya memulai obrolan. "Mau jemput pacarnya, ya?" timpal sang sopir lagi. Pertanyaan terselubung, menentukan sang penumpang apakah masih sendiri atau sudah memiliki tambatan hati.


"Bukan, Bang. Saya mau jemput temen," jawab Litania singkat.


Sumringah. Senyum si sopir pun merekah. Merasa ada kesempatan untuk mendekati Litania. Namun sayang, sebuah kalimat susulan dari bibir Litania membuat sang sopir taksi menelan pil pahit patah hati sebelum sempat rasa suka itu bertunas panjang.


"Saya gak punya pacar. Tapi saya udah punya suami."


"Tunggu di sini, ya. Saya nanti balik lagi." Litania pun keluar dari taksi. Berjalan memasuki bandara dengan mata yang awas menyapu sekitar. Banyaknya pengunjung tak membuatnya bingung, karena ia yakin, sosok Kinar begitu mudah dikenali meskipun ia menyatu dengan lumpur sekalipun.


Dan tak menunggu lama, Litania sudah bisa menemukan sosok Kinar di tengah keramaian. Bagaimana tidak? Sosok temannya yang tinggi—170 cm—ditambah pakaian yang super heboh—penuh warna yang menyilaukan mata—membuat Litania dengan cepat mengenalinya. Ia hampiri sosok temannya itu yang sedang menenteng koper.


"Kinar ... aku kangen kamu ...." Litania tak mampu menyembunyikan rasa rindu. Ia peluk erat tubuh jangkung temannya itu. Keduanya pun salin berpelukan, berjingkrak dan tertawa tanpa mengindahkan tatapan orang lain.


"Aku juga kangen kamu, Litan. Gimana kabar kamu?" Kinar tampak celingak-celinguk, seperti mencari seseorang. "Kamu sama siapa ke sini? Suami kamu mana?" lanjutnya.


"Bang Chandra lagi ngantor. Ada miting penting jadi gak bisa nganterin." Litania raih gagang koper. Menariknya dengan sebelah tangan. "Ayo, taksinya udah nunggu."


Saling melemparkan senyuman, Litania tampak bahagia akan kehadiran Kinar. Senyumnya mengembang hingga sosok pria yang ia kenal tertangkap netra. Matanya melihat dengan pasti Leo tengah menggandeng wanita cantik.

__ADS_1


"Ck, dasar singa gila. Udah punya tunangan berani main serong.' Litania menggeleng. Ia perhatikan dari kejauhan gelagat Leo. Mirip hidung belang lengkap dengan seringaian yang khas.


"Kasian tu tunangannya. Kok bisa-biaanya percaya sama laki-laki buaya kayak Leo itu."


****


Sebuah perusahaan yang berpusat di tengah Ibu Kota Jakarta, menara Big Gruop berdiri dengan kokohnya. Perusahaan induk yang dibangun di atas lahan seluas 1.6 hektar. Memiliki 57 lantai dengan retail sarana 4 lantai dengan 7 lantai untuk basement. Membuat perusahaan itu mendapat julukan gedung tertinggi ke 5 di Jakarta.


Mengulurkan tangan, Chandra mengulas senyum penuh kepuasan. Penandatangan kontrak kerjasama dengan seorang investor berakhir dengan baik. Mark Lucas Anthony, seorang pria berkewarganegaraan Amerika. "Thank you very much. I hope our cooperation continues for a long time."


Menjabat tangan terulur Chandra. Mark juga mengulas senyum bahagia. "Ok. I Will always support you Mr. Chandra.


Akhirnya, kesepakatan telah tercapai. Dengan langkah pasti Chandra mengayunkan kaki menuju ruangannya yang ada di lantai 21. Akan tetapi raut bahagianya pudar kala melihat Ara—sekretarisnya—tengah membawa nampan yang berisi air mineral dan juga jus.


"Ara. Untuk siapa minuman itu?"


Menghentikan langkah. Ara berdiri sedikit mundur. "Ada Bu Lita di dalam Pak," jawabnya dengan sopan.


"Oh, yaudah. Biar minumannya saya aja yang bawa. Kamu lanjutkan pekerjaanmu."


Pintu terbuka, dan benar saja ada sosok sang mama di sana. Ia letakkan air di atas meja dan mendapati wajah wanita yang melahirkannya tampak merah padam. Wajah murka yang baru kali ini ia lihat seumur hidupnya.


"Kenapa, Ma—"


Belum sempat lisan terselesaikan, sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Chandra. Ia pegang pipinya yang panas dan menatap penuh selidik pada sang mama yang jelas sudah terlihat berang.


"Dasar bodoh!" umpat Lita. Matanya memerah. Kepalan tangan menjadi penengah kekesalannya. "Mama gak nyangka kamu sebodoh ini, Chandra!"

__ADS_1


__ADS_2