Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Bianca dan Skala.


__ADS_3

"Ayo pelan-pelan turunnya," ucap Chandra setelah membukakan pintu mobil untuk Litania. Tak lupa pula dituntunnya tubuh itu dengan perlahan. Bukan tanpa sebab, setelah pulang dari agenda makan cilok kemarin siang, Litania mendadak mengeluarkan darah. Kejadian yang membuat Chandra panik dan langsung saja membawanya ke rumah sakit. Jadwal meeting penting bahkan harus di pending, dan di sinilah mereka sekarang, Rumah Sakit Harapan Kita.


Sementara Litania merasakan hal yang berbeda. Arahan Chandra barusan lumayan membuat kesal. Serasa menjadi orang sekarat hingga keluar mobil saja diperlakukan begitu hati-hati, padahal dirinya masih muda dan sehat.


"Bisa gak ngomongnya biasa aja. Aku 'kan masih sehat, Yang. Malu kalau didengar orang lain."


Litania bersungut dengan lengan yang sudah bersedekap. Sementara wajah sudah ditekuk sedemikian rupa hingga dagu membentuk beberapa lipatan. Belum lagi pipi yang dibuat-buat menggembung bak ikan buntal. Sumpah, Chandra yang tadinya berwajah serius mendadak tertawa. Dicubitnya pipi Litania yang menggemaskan itu.


"Kok ketawa, sih. Orang serius juga," sungut Litania lagi seraya menepis tangan Chandra dari pipi.


"Iya ... iya." Chandra mengangguk dua kali dan berusaha meredam tawa. Bagaimanapun wajah cemberut Litania sukses mengelitik perut. Ia pegang kedua pundak Litania dan menuntunnya untuk melangkah. "Ayo kita jalan. Nanti keburu rame."


"Lagi?" Litania berucap sedangkan kaki sudah mengentak tanah. Ia tepis tangan Chandra dari pundaknya. "Jangan pegang-pegang ngapa. Aku tu baik-baik aja. Aku nggak apa-apa. Aku tegesin sekali lagi kalau aku itu baik-baik aja. Darah yang keluar cuman sedikit, kok. Cuma setetes doang."


"Ya nggak bisa gitu dong, Litan. Walaupun sedikit 'kan tetap harus diperiksain. Takutnya kenapa-napa," ucap Chandra seraya memegang perut Litania. "Kan demi kebaikan, Sayang. Nurut, yah."


Menghela napas panjang, Litania tak bisa berkata lagi. Bagaimanapun ini semua demi dirinya dan juga anak mereka. Sesaat ia lupa kalau sekarang ada janin yang harus dilindungi dan dipastikan harus baik-baik saja.


"Iya, aku mau minta maaf. Ayo kita masuk. Tapi jangan dituntun. Aku bisa sendiri."


Chandra mengangguk, senyumnya terukir. Namun, baru saja merasa lega, wajah itu kembali mengkerutkan dahi. "Tapi kamu nggak mual lagi, 'kan? Kalau mual bilang, ya." Chandra berucap penuh perasaan waswas. Ia usap rambut Litania yang tergerai.


Litania menggeleng. "Kayaknya mual-mualnya udah hilang. Sekarang aku malah kuat makan," ucapnya seraya nyengir kuda. Membuat Chandra lagi-lagi gemas dan mencubit pipinya. Ia bahagia apalagi penampilan Litania yang sekarang sungguh jauh berbeda. Makin hari makin cantik saja. Bahkan ketika cemberut pun tampak menggemaskan baginya. Semoga kita bisa bahagia kek gini ya, Litan. Aku beneran bersyukur karna udah dapetin kamu. Dan bagaimanapun susahnya, aku akan tetap pertahankan kamu. Aku akan ngelakuin apa pun demi kamu dan anak kita.


"Bisa kita masuk sekarang?" tanya Chandra setelah selesai membatin.


Litania mengangguk, tapi matanya tertuju pada Kinar yang masih di mobil. Sementara Arjun, seperti biasa pria minim ekspresi itu telah berdiri kaku sebelah mobil.


"Bentar, ya. Aku mau ngomong sama Arjun."


Chandra mengernyit, tapi berakhir setuju.


Litania dekati Arjun. "Aku boleh minta tolong nggak?"


Arjun mengangguk sekali. "Tentu saja, Nona."


"Bisa kamu hibur Kinar. Dari kemarin mood-nya buruk. Tolong, ya ... aku udah kehabisan cara buat menghibur dia."


Wajah Litania mendadak murung mengingat kemarin saat mereka bertemu dengan seseorang yang Kinar benci. Beruntung ada Aldi—asisten Fabian—yang ke kebetulan lewat dan menyelamatkan mereka dari lelaki brengsek itu—Alex.


Arjun bergeming, alisnya tertaut. Tak tahu harus menggangguk ataukah menggeleng.


"Aku minta tolong hibur dia. Apa pun caranya hiburlah dia. Aku nggak suka lihat dia murung kayak begitu."


Arjun mengangguk juga. Melihat sang Nona muda meminta seperti itu membuatnya menelan ludah dan setuju meski tak tau bagaimana caranya menghibur Kinar.


"Nah gitu dong." Litania tersenyum, memegang bahu Arjun lalu menepuknya dua kali. "Terima kasih. Aku percaya sama kamu, fighting," ucapnya seraya bergimik menyemangati ala-ala drakor—mengepalkan tinju dengan senyum yang merekah. Arjun salah tingkah karena Chandra lagi-lagi menghunjamkan tatapan ke arahnya.

__ADS_1


Gila, baru ditepuk aja udah kayak mau dibunuh, apalagi kalau benar-benar selingkuh.


****


"Sayang, kamu tunggu di sini, ya. Aku mau ke toilet dulu. Berkasnya udah aku masukin tinggal nunggu dipanggil," ucap Chandra seraya menuntun Litania untuk duduk di kursi tunggu di depan ruang praktek Dokter Novita.


Mengangguk lalu tersenyum, Litania lihat kepergian Chandra hingga punggung lelaki itu hilang ditelan belokan rumah sakit. Tinggallah dirinya dan beberapa ibu hamil yang lain. Litania yang merasa mulai bosan menunggu mulai mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Namun, baru saja menyentuh layar benda pipih itu seorang perawat cantik keluar dari ruangan dan tengah memanggil nama seorang.


"Nyonya Bianca!"


Senyap, hening, ibu-ibu yang dominan berperut buncit saling adu pandang. Termasuk Litania. Entah mengapa matanya tertuju pada pasutri yang duduk di pojokan dengan sibuk memainkan ponsel masing-masing. Sedetik kemudian nama itu menggema lagi. Sang perawat tampak kesal menunggu yang punya nama menyahut.


Namun nihil. Perawat itu menghela napas lalu membuka kertas yang ada di tangan. "Nyonya Litania!"


Senyum Litania merekah. Cepat-cepat ia masukkan kembali ponselnya ke dalam tas seraya menjawab, "Iya, Sus. Saya Litania."


"Kalau begitu, Ibu saja yang masuk dulu."


Litania mengangguk. Namun, tanpa terduga datang seorang menanyakan perihal nomor antriannya. Wanita yang Litania tebak bernama Bianca. Wanita yang tadi ia lihat sedang asyik dengan ponsel.


"Maaf, tapi Ibu tadi dipanggil dua kali tidak berdiri, jadi saya lewati," jelas perawat itu dengan ramah.


"Saya 'kan duduk di sana. Kenapa gak di datengin aja?" Wanita berpenampilan glamor itu tampak tak suka.


Sementara Litania yang malas menunggu berencana membuka pintu. Akan tetapi baru saja memegang handle, si Bianca mencengkam tangannya. Litania jelas kaget atas kekurangajaran itu. Apa-apan ini? Batin Litania jengkel seraya menepis tangan Bianca.


Wah, mau ngajak gelud ni Tante Tante.


"Ya, kan kamu dipanggil gak berdiri. Jadi salah sendiri. Kalau mau, tunggu aja setelah aku," ketus Litania tak mau kalah. Suaranya bahkan lebih nyaring. Ia kesal karena Bianca sempat menarik tas-nya hingga hampir kehilangan kendali diri.


Namun, lagi-lagi Bianca memasang wajah tak berdosa dan adu mulut pun tak terelakkan. Membuat suasana lorong yang awalnya tenang mendadak ramai. Mereka bahkan menjadi pusat perhatian orang-orang.


Ish, andai gak hamil. Pasti udah ku sleding, batin Litania lagi.


Sumpah, wajah angkuh Bianca membuatnya tak bisa menahan kesal. Ingin rasanya aku bejek-bejek tu muka julid, lalu kukasih taburan garem biar nyahok.


Litania berdengkus. Tangan bahkan sudah berkacak pinggang. Dirinya tak takut sama sekali akan wanita yang bertubuh lebih tinggi darinya. Wanita yang sepertinya juga bukan dari kalangan bawah maupun menengah. Namun, ia tak peduli, sungguh tak suka akan keangkuhan wanita itu hingga dua orang lelaki tiba dan salah satunya adalah Chandra.


"Sayang, ada apa ini?"


Namun, Litania yang sudah terlanjur kesal melampiaskan kekesalan pada Chandra. "Lama banget sih ke toiletnya."


"Kak Chandra."


Suara itu benar-benar menguras emosi. Bianca memasang wajah ceria saat melihat Chandra. Litania tentu saja terbengong apalagi saat Chandra berkata, "Bianca, ngapain ke sini?"


Sumpah. Emosi Litania makin tinggi saat melihat keakraban mereka. Melihat sang suami beramah tamah dengan wanita julid itu rasanya ada yang panas tapi bukan kompor.

__ADS_1


Rasanya pengen tak hih! Awas aja entar, geram Litania.


"Hm, maaf bapak-bapak ibuk-ibuk. Jadi siapa yang mau duluan diperiksa," sela si perawat.


"Saya." Litania dan Bianca menjawab hampir bersamaan. Adu tatap pun kembali terjadi.


"Ya sudah. Kalau tidak keberatan silakan masuk bersamaan," pinta Dokter Novita yang sudah keluar dari ruangan.


"Ya ogah saya, Dok," jawab Litania.


"Saya juga gak mau," balas Bianca.


"Kalau begitu aku dulu," ucap Litania.


"Ya gak bisa gitu, dong. Kan nomor antriannya aku dulu."


"Lah yang suruh gak fokus siapa?" kesal Litania.


"Wah ni bocah mau ngajak ribut keknya."


Litania berdecak. "Bocah? Hello Tante Menor. Saya bukan bocah, ya. Saya ini udah nikah dan sekarang lagi hamil. Jadi sebelum tu mulut aku kasih desinfektan mending diam."


"Wah sialan, gak sopan kamu ya. Saya bukan Tante-tante. Saya masih muda tau gak. Kamu gak tau saya siapa?"


"Bodo amat!"


Bianca tampak kesal ia maju begitu juga Litania. Keduanya sudah siap untuk berperang tapi terhalang oleh pelukan dari belakang. Chandra memeluk Litania sedangkan Bianca dipeluk oleh suaminya—Skala.


"Lepasin aku Skala!" teriak Bianca. Namun laki-laki yang dipanggil Skala tak melepaskan. Ia terus saja memeluk Bianca begitu juga Chandra. Litania sungguh meronta hebat dalam pelukan Chandra.


"Lepasin gak! Aku mau ngasih pelajaran sama Tante itu. Enak aja panggil aku bocah."


"Udah udah. Jangan begini. Bukannya kalian lagi hamil? Gak baik berantem," sela Dokter Novita yang sudah memegang kepala.


Namun sedetik kemudian Bianca terdiam. Wanita itu menutup mulut begitu juga Litania. Keduanya merasakan mual yang sangat hebat. Perut bagai di obok-obok. Litania tak bisa untuk menahan lebih lama lagi. Ia berlari begitu juga Bianca. Keduanya saling sikut saat masuk ke dalam toilet.


Semantara itu, di depan ruang periksaan kandungan, Dokter Novita tampak kesal. Ia perhatikan wajah Skala dan Chandra secara bergantian. "Mending Bapak berdua suit. Siapa yang menang, istrinya periksa duluan."


Chandra dan Skala sama-sama mengembuskan napas, pasrah. Keduanya tak bisa menolak karena tingkah kekenak-kanakan para istri dan kini berimbas juga pada mereka. Bak anak kecil keduanya benar-benar suit.


"Batu kertas gunting."


Plak! Chandra menepuk jidatnya sendiri. Ia kalah karena memilih gunting dan skala memilih batu.


Astaga ... bakalan diamuk Litania ini, sesal Chandra.


***

__ADS_1


Halo Wan kawan. Kalian boleh mampir ke karya temen otor. Kisah Skala dan Bianca tak kalah heboh loh. Judulnya Bukan kontrak pernikahan. Dijamin ngakak sampe guling-guling.


__ADS_2