Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Butuh cokelat


__ADS_3

Arjun!" Pekikan Kinar menggema. Ia dekati tubuh Arjun yang sudah tergeletak di lantai. Air mata jangan ditanya, sudah pasti merembes ke mana-mana.


Kinar memangku kepala Arjun dan menepuk pipi pria itu berkali-kali. "Jun, kamu kenapa? Bangun, dong. Jangan bikin aku takut," lirihnya.


Namun, yang dipanggil masih terpejam. Pemandangan yang membuat pipi Kinar tadinya merah menjadi pucat kesi dalam seketika. Ia terus saja menepuk pipi Arjun dengan pipi yang juga dibanjiri air mata.


"Jun, kamu kenapa? Jangan mati, dong. Kita bahkan belum malam pertama. Kamu kok tega sih mati dan jadiin aku janda tapi masih perawan kek begini." Kinar goyang bahu Arjun. "Arjun ... bangun!"


"Aku sayang kamu, Jun. Jangan mati secepat ini. Kalau kamu mati, aku harus apa? Selama ini cuma kamu tujuan aku hidup. Cuma kamu yang bikin aku semangat setiap harinya. Tapi kalau kamu mati kek gini. Aku harus apa? Aku gak mau jadi janda, Jun. Cepetan bangun ...."


Suara Kinar bergetar karena menyatu dengan isak tangis. Tak tau harus melakukan apa. Ia peluk kepala Arjun dan baru sadar harus meminta pertolongan. "Ambulan. Ya, aku harus panggil ambulan."


Akan tetapi, saat Kinar hendak bergerak, pinggangnya tertahan dari belakang. Tangan Arjun sudah terkalung di sana.

__ADS_1


"A-rjun ... k-kamu gak jadi mati?" tanyanya seperti orang bodoh.


"Jangan terlalu heboh. Aku cuma bercanda," ucap Arjun. Matanya terbuka. Sejoli itu beradu tatap dalam diam. "Aku gak nyangka begitu cintanya kamu sama aku."


Kinar hapus air matanya. Ia tatap nyalang Arjun lalu berdiri. "Ya jelaslah. Apa perlu kamu pertanyakan lagi. Apa perlu aku sebutin gimana usaha aku buat lelehin hati kamu yang kek es batu itu? Apa perlu aku sebutin satu-satu kesulitan aku saat tinggal jauh dari kamu? Apa perlu aku—"


Kinar tak mampu menyelesaikan kata. Ia berjongkok dengan menutup wajah. Hatinya sakit dibohongi seperti tadi. Ia benar-benar takut Arjun kenapa-kenapa, tapi yang dikhawatirkan malah ....


"Kamu jahat!"


"Itu bukan lelucon, Arjun. Kamu bikin aku takut setengah mati, tau gak!"


Kinar masih menangis. Arjun makin merasa bersalah. "Maaf ...."

__ADS_1


Melepas pelukan, Arjun tatap mata sembab Kinar. "Coba katakan. Gimana caranya biar kamu maafin aku. Aku bakalan lakuin apa pun agar perasaanmu kembali tenang. Aku akan lakukan apa pun."


Kinar menjauhi Arjun seraya berdiri. Ia lap sisa air yang masih menetes.


"Kamu gak bakalan bisa. Saat sedih kek gini aku hanya butuh yang manis. Dan sepertinya kamu juga harus dikasih itu biar bisa berpikir logis," sungutnya seraya pergi. Arjun mengekori dari belakang.


Kinar duduk di sisi ranjang dan mengeluarkan dua bungkus wafer terbalut cokelat dari dalam kotak bekal.


"Itu apa?" tanya Arjun yang masih berdiri, heran akan camilan yang Kinar inginkan.


"Ini obatku kalau lagi kesal. Aku butuh yang manis buat ngembaliin mood aku yang udah terlanjur hancur." Kinar buka bungkusnya, dan saat wafer itu baru menyentuh mulut, Arjun dengan cepat memegang dagu Kinar. Kinar mendongak, matanya makin membulat saat Arjun dengan cepat menyambar makanan itu. Wafer yang awalnya panjang tinggal setengah.


Kinar melongo, tapi Arjun tersenyum. Kini pria itu mengelus pipi Kinar dengan mulut yang mengunyah wafer.

__ADS_1


"Manis, sangat manis. Kayak kamu."


***


__ADS_2