
Tibalah di sekolah baru. Anya langsung disuguhkan dengan bunga Asoka yang membetang menghiasi jalanan ketika masuk ke dalam lingkungan sekolah. Ada juga pohon Ara di depan setiap pintu kelas dan tak lupa juga logo-logo dari kementerian pendidikan menghiasi dinding beserta visi dan misinya.
Berdecak kagum, Anya sadar sekolah yang ini tak sebesar sekolah unggul tempatnya mengenyam pendidikan di Jakarta. Namun, ia suka dengan sekolah yang sekarang. Bukan karena bangunan ataupun hiasannya melainkan nuansa dan suasana ramai sekolah yang ia rindukan. Seminggu di skorsing dan seminggu menjadi tawanan sang bunda membuatnya begitu merindukan hingar-bingar suasana kelas yang sesungguhnya.
"Nya, turun, kita sudah sampai," ujar Livia yang tentu saja mengagetkan Anya dari lamunan.
Remaja itu turun dari motor, membuka helm lantas memberikannya kepada Livia. "Sekolahnya bagus, Kak. Ramai, asri. Belum apa-apa aku udah terpesona," papar gadis itu seraya melihat sekeliling.
Lagi-lagi respon Livia hanya sebuah ulasan bibir. Menurutnya Anya adalah gadis yang bersahaja. Ia respek padanya meskipun sang mama bilang kalau anak dari Litania itu badungnya nggak ketulungan.
"Ya, udah ayo. Ikut Kakak ke kantor, nanti Kakak kenalin sama wali kelas kamu. Maaf, Kakak nggak bisa nemenin kamu karena Kakak memang nggak megang mata pelajaran kelas dua belas," ujar Livia.
Anya mengangguk, ia ikuti langkah Livia, tetapi sesuatu membuatnya menghentikan langkah. Matanya membulat dengan kepalan tinju yang sudah terbentuk. Tampak orang yang membuntutinya juga masuk ke dalam lingkungan sekolah.
"Ni orang ngintilinnya nggak kira-kira. Masa iya sampai masuk ke parkiran sekolah, buat apaan coba?" gerutunya lalu melewati Livia. Ia hampiri si pengendara lalu berkacak pinggang. "Om, situ nggak nyadar, ya? Ini tuh lingkungan sekolah. Kenapa sampai segininya, sih? Emangnya Om itu dibayar bunda berapa juta sih sampai berani ngikutin aku masuk ke sekolah? Entar dimarah pihak sekolah, loh."
Hening, si dia yang masih belum sempat melepaskan helm full face dari kepala tak bersuara hingga Anya yang geram memanggilnya berulang kali.
"Eh Om, jangan ngelamun. Lagi diinterogasi juga malah sempat-sempatnya bengong. Gimana, sih," sungut Anya lagi, bibirnya bahkan mengerucut.
"Saya gak ngemalamun. Tapi saya lagi mikir," balasnya. Kini ia pindai Anya lalu niatan untuk membuka helm sirna. Pria itu bahkan bersedekap.
"Mikirin apaan?" celoteh Anya lagi yang masih di nada yang sama—judes.
"Ya mikirin pertanyaan kamu tadi."
"Terus?"
Senyap. Anya yang sudah kadung kesal memajukan langkah. Sedikitpun tidak ada rasa takut. "Om dapat bayaran berapa dari orang tua saya sampe berani ngikutin saya ke sini? Om gak takut digebukin?"
"Kalau bayarannya mahal, kenapa enggak?" jawab orang yang ada di balik helm itu. Suaranya terdengar ringan, terkesan meremehkan dan tentu saja membuat Anya menggeram.
"Oh, gitu ya? Emangnya berapa juta sih bunda ngasih Om?" ulang Anya.
__ADS_1
"Saya disewa orang tua kamu dengan bayaran 5 juta perhari. Puas."
Mata Anya langsung membulat. Ia melemas dengan mulut menganga. "Gede banget bayarannya itu, Om. Bunda bener-bener, aku cuma dikasih uang 100.000 buat jajan sedangkan untuk Om yang kerjanya cuma ngintilin bayarannya segede gaban."
"Ya mana saya tau," balas orang itu lagi dengan nada tanpa dosa.
Anya mengulurkan tangan. "Bagi aku, Om. Bagi aku dua juta. Lima juta mah kegedean cuman buat ngikutin aku doang. Itu namanya makan gaji buta, kerja nggak nyata tapi uangnya banyak gilak," ujarnya, bak pemalak profesional.
"Lah kenapa saya harus kasih kamu? Itu kan hak saya," jawab si pria berhelm.
"Wah, Om berani nyolot ya sama aku." Anya berucap seraya menggulung lengan yang sebenarnya sudah pendek. Tanpa aba-aba dan tanpa permisi pula ia langsung meraba-raba jaket yang ada di tubuh pria itu. Menurutnya sungguh tak adil, orang yang kerjanya cuma membuntuti saja menerima bayaran sampai segitu. Ia kesal terlebih lagi sama ibunya.
Pria itu terkekeh. "Hey kamu mau ngapain?" Seraya menepiskan tangan Anya dari tubuh tapi Anya yang masih kesal tetap melancarkan aksi.
"Sini, Om! Kasihin ke aku uangnya," oceh Anya. Gadis itu tetap meraba-raba si dia hingga Livia yang melihat kejadian itu mendekat dengan tergesa-gesa.
"Anya! Kamu ngapain?" tanya Livia. Matanya melotot saat melihat tingkah Anya.
"Anya! Berhenti dulu bisa, gak?" Livia berucap seraya menjauhkannya dari pria itu.
Anya mendengkus dengan bibir tetap manyun. Ia kini bersedekap dengan tatapan penuh kekesalan pada pria berhelm itu.
"Kamu ngomong apaan sih? Penguntit? Siapa yang penguntit?" cecar Livia. Wajahnya menunjukkan kekesalan dan tidak enak secara bersamaan.
"Ya dialah, Kak," ujar Anya. "Dia itu penguntit. Orang yang disuruh bunda buat ngikutin aku. Iya, 'kan Om?"
"Kamu salah sangka Anya," ujar Livia seraya mendekati laki-laki berjaket kulit itu.
"Salah sangka gimana sih Kak? Dia sendiri kok yang ngaku," balas Anya tak mau disalahkan.
Seketika tawa si pria berhelm mengudara. Ia buka helm dan wajah yang berada di balik sana membuat Anya lagi-lagi membulatkan mata. Jari telunjuk langsung terarah tepat ke wajah pria yang tengah tertawa itu.
"K-kamu ...."
__ADS_1
Anya shock. Pria itu adalah orang yang memberinya wajengan saat putus dari Jimi.
"Kamu salah besar, Nya. Dia ini bukan penguntit apalagi orang suruhan orang tua kamu. Dia ini Pak Dery. Beliau ini wali kelas kamu," jelas Livia.
Mata Anya makin besar. "G-guru? Wali kelas?" ulangannya tak percaya. Ia lalu menatap Livia lalu kembali menatap pria itu.
"T-tapi dia sendiri kok yang ngaku." Anya menatap laki-laki yang bernama Dery. "Kenapa kamu bohongin aku, ha?"
"Anya!" bentak Livia sekali lagi. "Dia itu guru kamu. Wali kelas. Kenapa ngomongnya begitu? Sopan dikit!" Livia memperingati sementara pria itu terkekeh.
"Biarkan saja. Dia mungkin masih perlu waktu untuk penyesuaian diri," ujar Dery santai. Ia tatap intens wajah gelisah Anya. "Saya nggak nyangka kita ketemu lagi di sini. Sekarang kamu jadi murid saya," ujarnya.
"Loh, kalian sudah kali saling kenal?" tanya Livia . Ia terbelalak sesaat.
Anya diam, sedangkan Dery tetap mengukir senyuman. "Iya. Kita pernah ketemu di Jakarta. Waktu itu saya pergi ke restoran keluarga saya terus saya nemu seorang perempuan yang pinter bener berantem. Saya sampe speechless. Adegan jambak-jambakan itu loh, bikin saya gak pernah mau manjangin rambut."
***
"Fia, anterin saya ke kontrakan Sisi," pinta Dafin saat baru saja keduanya masuk mobil.
Fia yang sudah memasang sabuk pengaman melihat wajah lelah Dafin dari cermin. Bosnya itu terlihat merebahkan kepala ke jok mobil dengan mata terpejam. Dasi pun sudah setengah terlepas.
"T-tapi, Pak. Apa gak sebaiknya Pak Dafin pulang dan istirahat. Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Bapak perlu istirahat."
Dafin langsung memasang wajah kesal. Ia berdengkus. "Lakukan perintah saya tanpa protes. Saya akan lebih lelah kalau masalah ini gak kelar-kelar. Siapa tau di kontrakan dia kita bisa menemukan petunjuk."
Fia pun mengangguk pasrah. Namun, saat mesin baru saja di hidupkan, tiba-tiba suara telepon Dafin mengagetkan keduanya. Dengan wajah yang masih lelah pria itu menjawabnya.
"Apa? Baiklah, saya akan ke sana."
Telepon terputus. Dafin lalu menatap depan. "Fia. Kita ke rumah sakit sekarang. Sisi sudah sadar," ujarnya yang terlihat panik.
***
__ADS_1