
"Saya?"
Fia menunjuk wajahnya sendiri, tak percaya.
"Iya, maaf ya. Tolong bangunin dia. Saya juga mau membangunkan ayahnya. Jadi biar cepet kamu yang bangunin Dafin, bisa, 'kan?
Fia mengangguk ragu. Mendadak grogi disuruh ke kamar sang bos.
Oke Fia, santai saja. Bukannya dulu kamu pun pernah serumah sama dia? Fia bermonolog
"Kamarnya di lantai dua. Persis di deket tangga," jelas Litania lalu berlalu meninggalkan gadis itu untuk membangunkan suaminya.
Perlahan tapi pasti Fia melangkah menaiki anak tangga. Perasaannya jangan ditanya lagi, kacau. Jantungnya menjadi dag dig dug tak karuan. Biar bagaimanapun Dafin tetaplah atasan dan kamar adalah sesuatu yang sensitif untuk sebagian banyak orang.
"Semoga aja dia sudah bangun," gumamnya sebelum mengetuk pintu.
Namun, tak ada yang menjawab. Ia pun mendorong gagang pintu, menyembulkan kepala perlahan dan mendapati kamar sudah kosong dan rapi.
Pintu Fia ketuk lagi. "Pak Davin, Pak Davin ... Pak ...."
Fia terus saja memanggil tapi tetap tak menjumpai sosok laki-laki itu hingga sebuah kertas yang tergantung dia rak buku membuatnya tanpa sadar mendekat. Matanya berbinar setelah melihat benda apa yang ada di sana. Sebuah sketsa kasar membuatnya berdecak kagum dan tak menyadari ada Dafin yang sudah berdiri di belakang. Pria itu baru selesai mandi dengan handuk yang masih melingkar di pinggang.
"Aku gak nyangka keahliannya menggambar boleh juga." Jeda sejenak, Fia terus saja membelai kertas HVS A4 yang tergantung. "Tapi kenapa sekarang gambarnya pendekar semua. Bawa-bawa pedang. Dia mau berantem apa gimana? Udah kayak pembunuh bayaran saja. Tapi kalau aku ingat-ingat gambarnya gak kayak kemarin," lanjut gadis itu lagi.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Terus kenapa dengan gambar saya kemarin?"
__ADS_1
Suara Dafin membuat Fia membalik diri dengan mendadak. Ia yang kaget, mundur ke belakang tapi sialnya kaki tersandung dan membuatnya tidak bisa mengimbangi berat tubuh. Ia berakhir terduduk, pantatnya merasakan sakit dan dinginnya porselen secara keseluruhan. Gadis itu mengaduh, tapi Dafin diam saja tanpa berniat membantu.
"Apa yang kamu maksud dengan sketsa kemarin? Jangan bilang kalau kamu juga melihat gambar-gambar saya yang ada di meja kerja?" ulang Dafin ketus.
Fia menelan ludah, dicecar sedemikian kejam seperti itu membuat lidahnya kelu apalagi setelah melihat tampilan Dafin yang baru selesai mandi. Ia gugup tanpa sebab, air yang menetes dari ujung rambut Dafin entah kenapa membuatnya berdebar-debar. Ia perlahan berdiri dan mata memindai wajah Dafin tanpa berkedip.
Dafin tersenyum sinis. "Kenapa, apa aku terlihat tampan?"
Fia mengangguk tanpa sadar tapi lisan dengan jelas mengatakan tidak. Dafin kembali menarik sebelah bibir.
"Kalau tampan, ayo pegang. Apa kamu gak mau menyentuhnya?" goda Dafin seraya mendekatkan pipi.
Fia yang gelagapan menunduk. "Maaf Pak, maaf saya gak maksud lancang. Tadi saya disuruh untuk membangunkan Bapak, tapi saya ...."
Fia yang grogi menolak. Ia tarik tangannya dan tubuh oleng seketika, beruntung Dafin sigap meraih pinggang gadis itu. Kini mata mereka bersitatap dalam jarak yang begitu dekat. Fia lagi-lagi menelan ludah.
"Masih gak mau pegang?" goda Dafin lagi seraya mendekatkan pipi. Rahangnya yang tegas membuat Fia makin salah tingkah.
"Maaf, Pak. Bagi saya Kevin yang paling tampan."
Spontan Dafin melepaskan rangkulan dan tentu saja Fia terjatuh lagi tanpa bisa mengelak. Pinggangnya serasa remuk. Ia tatap tajam sang bos yang masih berdiri.
"Besok-besok jangan pernah sentuh barang-barang saya tanpa izin," ujar Dafin lagi. Lebih ketus dari sebelumnya. Perkataan Fia yang membandingkan secara langsung melukai harga dirinya sebagai laki-laki padahal tadinya niat hati hanya ingin menggoda.
Fia mengangguk. Ia berancang-ancang ingin berdiri tapi Dafin mengulurkan tangan. Dengan senyum yang terkembang ia juga mulai ingin menyambut. Akan tetapi belum tangan saling bersentuhan Dafin sudah menjauhkannya.
__ADS_1
"Berusahalah dengan kemampuan sendiri. Jangan pernah berharap sama orang lain terlebih lagi sama laki-laki yang berucap manis. Kamu tau kan yang manis-manis itu perlahan membunuh?"
Fia berdengkus. Wajahnya manyun. Ia berdiri tapi sialnya kepala terbentur rak buku. Sangat kuat, rak kayu tanpa penutup itu bahkan berguncang. Fia yang merasakan kepalanya pening sama sekali tak menyadari ada buku tebal di atas kepala yang akan jatuh. Beruntung Dafin yang melihat itu cepat-cepat menarik tangan Fia hingga kepala gadis itu mendarat di dada bak adegan romantis ala-ala drama. Kini mata mereka kembali bersitatap.
"Berhati-hatilah dan jangan ceroboh," ujar Dafin.
Fia gelagapan. Entah kenapa walaupun Dafin mengatakan sesuatu bernada ketus tak membuat ia kesal. Malah sebaliknya. Dadanya mulai berdebar-debar bahkan lebih hebat dari sebelumnya.
Aku pasti sudah gila, batinnya bermonolog. Ia dorong dada Dafin tapi sialnya tangan tak sengaja menyentuh handuk yang melingkar di pinggang pria itu, alhasil kain itu pun terlepas bebas dan mempertontonkan sebuah pemandangan eksotis di depan mata. Fia melongo dengan bibir menganga sebelum akhirnya berancang-ancang akan berteriak. Akan tetapi Dafin yang sadar jamur sawit beserta semak belukar kebanggaan terekspos langsung membekap mulut gadis itu.
"Tenanglah. Jangan teriak. Nanti banyak yang salah paham," ujar Dafin menggeram.
Fia melotot. Dafin masih menutup mulutnya dengan tangan.
"Masih mau teriak?" tanya Dafin lagi penuh dengan penekanan.
Fia menggelang tanpa mau melihat ke bawah.
"Kalau gitu tutup mata kamu lalu balik badan," ujar Dafin lagi.
Fia patuh. Ia membalik diri dan menghadap rak buku dengan posisi mata terpejam, membiarkan Dafin menutup kembali aurat yang sempat ia lihat.
"Sudah, sekarang keluarlah. Sebentar lagi saya turun."
Bak melihat demit, Fia berlari keluar kamar tanpa menoleh. Ia sawan setelah melihat benda keramat milik Dafin.
__ADS_1