
"Cepetan, Dafan!"
Teriakan Litania menggema dalam rumah tiga lantai. Kesal karena anak sulungnya begitu lamban dalam bergerak. Matanya melotot tepat menatap lantai dua. "Kalau gak sekarang nanti keburu macet!" lanjutnya yang masih berteriak.
"Bentar, Bunda! Dafan bentar lagi turun!" balas si Dafan tak kalah nyaring.
"Emangnya kita mau ke mana, sih, Bun? Kok buru-buru?"
Suara ringan khas anak kecil umur lima tahun mengangetkan. Litania berjongkok seraya menatap wajah chubby tapi cemberut bocah lelaki itu seraya berucap, "Kita mau jemput temen Bunda, Dafin. Kan Bunda udah bilang semalam?"
"Tapi kenapa kita berdua harus ikut. Enakan di rumah. Bisa main game,"
Litania berdecak sebal, kedua buah hatinya begitu menguji kesabaran. Anak sulung terlalu mementingkan penampilan dan satunya terlalu cuek—menggunakan kaus polos biasa dengan rambut acak-acakan tanpa mau sisiran.
"Kan Bunda udah bilang, temen Bunda ini spesial. Lagian apa gak bosen di rumah mulu? Gak baik liatin gadget terus." Membelai pipi Dafin, Litania pun tetap mengukir senyuman. Dirapikannya rambut berantakan sang anak biar tak tampak urakan. Namun, lagi-lagi percuma, rambut itu kembali semula karna Dafin lagi-lagi mengacak-acaknya.
"Bunda apaan, sih? Kan Dafin udan bilang, kalau Dafin gak suka Bunda sentuh rambut Dafin." Tegas, kini tak ada lagi lucu-lucunya, yang ada malah bikin Litania kesal. Wanita berambut tergerai dengan dress batik modern terbaru berwarna merah muda itu berdiri lantas bersedekap.
__ADS_1
"Kalian ini bikin bunda kesel tau gak! Yang satu terlalu rapi, yang kamu ini terlalu cuek. Kamu ini anak pengusaha, bukannya anak tukang siomay." Sambil berucap, mata Litania melotot. Kediktatoran keluar tanpa pemberitahuan.
"Tapi Dafin tetep gak suka!"
"Kamu i—" Lisan Litania terpotong karena si anak sulung sudah menuruni tangga. Penampilannya begitu rapi, kemeja panjang menutupi tubuh. Tak lupa pula rambut tersisir samping dengan kacamata bulat menunjang penampilan. Terlihat cute.
"Dafin udah siap?" tanya Litania.
Si Dafin yang tengah mendekat, mengangguk. Mata tertuju sejenak ke arah Dafan lalu kembali menatap wajah kesal Litania. "Emangnya kita mau ke mana, Bun?"
"Fin, kita beneran mau jemput temen Bunda, 'kan?" tanya Dafan ke Dafin. Sementara kaki tetap mengimbangi langkah terburu Litania.
Dafin menggidikkan bahu. "Katanya sih begitu."
"Duh, kalian ini banyak tanya, cepetan masuk." Litania menatap pintu mobil yang sudah di buka Bambang. Wajahnya tampak gusar.
Kedua kembar tampan itu pun masuk. Perjalanan dimulai, mobil mereka melaju menuju bandara.
__ADS_1
"Kita mau ke mana, Bun?" tanya Dafan lagi. Litania yang gelisah, tertegun. Ditatapnya wajah bingung sang anak sulung.
"Kan, Bunda udah bilang, kita jemput Tante Kinar." Litania berdecak kesal lagi. Anak-anaknya seperti menaruh curiga yang berlebih. "Emangnya kenapa, sih? Kalian gak percaya sama Bunda?"
"Enggak," jawab Dafin.
"Kenapa?"
"Bunda tukang bohong." Si Dafin memalingkan muka ke arah kiri. Seakan-akan malas menatap sang ibu.
"Ini beneran jemput, 'kan? Jangan kayak kemaren. Katanya mau belanja, tapi kita malah diajak ke rumahnya temen-temen Bunda." Kini Dafan yang menimpali. Wajah bocah lelaki rapi itu tampak manyun. Jelas menunjukkan ketidaksukaan.
Litania nyengir, ia baru sadar setelah mendengar alasan D twins protes. "Enggak, kali ini Bunda beneran. Kita beneran gak ke sana." Matanya melihat si kembar secara bergantian. Posisinya duduk ada di tengah-tengah. "Memangnya kenapa? Kalian gak seneng?"
"Enggak," jawab Dafan dan Dafin serentak.
Jangan lupa like. heheh
__ADS_1