Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
cemburu


__ADS_3

"Cih sebenarnya apa yang orang itu ingin katakan? Kenapa harus ngasih dua pilihan kalau dua-duanya sama-sama nyakitin. Aneh. Lagian apa coba maksudnya bilang aku gak peka. Gak peka dari mana? Aku ini Dafin. Aku Dafin," gumam Dafin kesal. Kakinya sangat lebar menuju pintu. Ia gerah dengan suasana pesta yang ramai dan bising.


Tanpa sengaja, matanya melihat Fia dan Kevin dari kejauhan. Dua orang itu terlihat serius. Dafin kembali merasakan sesuatu yang akan meledak. Mendadak ia marah melihat Fia dan Kevin berduaan di tepi kolam. Ia mendekat—berniat untuk memisahkan tapi berhenti saat mendengar Fia berteriak, "Emangnya kenapa, sih? Kenapa kamu terus aja ngajak aku balik? Kamu tau jawaban aku tetep sama. Kamu juga tau mimpiku itu ingin menjadi wanita karir. Dan ini adalah jalan satu-satunya. Tolong jangan halangi aku Kevin."


Senyum Dafin terbentuk. Namun tidak untuk Kevin, laki-laki itu menyugar rambutnya dengan kasar. "Karena aku gak tenang, Fi. Karena aku selalu kepikiran kamu. Kerena kamu jauh, aku jadi gak bisa fokus sama apa pun. Aku mohon, balik dan tinggalin laki-laki itu. Aku gak suka liat kamu deket dia. Aku selalu berpikiran jahat. Karena itu aku hampir gila."


Dafin terbelalak begitu pula Fia.


"K-kevin ...." Fia berucap pelan.


"Aku mohon berhentilah kerja, balik lagi ke Bali dan jadilah istriku," ujar Kevin. Ia berlutut dan menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis Fia.


"Fin, kamu sadar apa yang barusan kamu katakan?" tanya Fia, kebingungan melanda pikiran. Ia tatap intens Kevin dan tidak ada sedikitpun keraguan dalam sorot mata Kevin. Fia jadi gamang.


Kevin berdiri. "Aku sadar. Aku sadar seratus persen. Dan maaf aku baru menyadari perasaan ini. Aku sepertinya udah sayang sama kamu melebihi teman. Aku nggak bisa jauh dari kamu. Aku selalu mikirin kamu. Aku selalu khawatir, takut kamu di sini diapa-apain orang lain."


Fia mematung. Otaknya yang cerdas tak bisa berpikir dan mencerna perkataan Kevin. Ia masih tak percaya kalau baru saja Kevin menyatakan cinta. Lebih tepatnya masih berhati-hati karena takut tertimpa perasaan sendiri. Bertahun-tahun menyukai dan mencoba melupakan perasaan suka itu bukanlah segampang menekan tombol delate di keyboard. Semua butuh perjuangan, dan Fia baru saja melewati itu semua.


"Ayolah, Kevin, jangan becanda. Kamu sendiri kan yang bilang kalau kita ini teman?" selidik Fia.


"Enggak Fia, enggak!" Kevin menjambak rambutnya lagi lantas memegang pundak Fia. Dafin yang melihat adegan dramatis pernyataan cinta plus lamaran itu makin kesal, tapi memutuskan tetap diam dan melihat lebih lama.


"Aku khawatir bukan sebagai teman, Fia. Aku menyukaimu. Aku suka kamu," ungkap Kevin dengan menekankan kata terakhir.


"K-kevin ...."


Hanya itu kata yang terlontar dari mulut Fia. Sebenarnya sudah lama ingin mendengar kata itu, tapi sayangnya tak kunjung mendapatkan. Di saat ia sudah lupa, Kevin kembali menggoyahkan niatnya untuk move on.


Fia terdiam. Ia masih menatap wajah Kevin.


"Aku rindu kamu, aku kangen, aku benci setiap mikirin kamu yang jauh. Itu sudah cukup membuktikan kalau aku memiliki perasaan lebih dari seorang teman. Apa kamu gak ngerti?" papar Kevin lagi. Ia terlihat frustrasi karena Fia tak percaya.


"T-tapi, Fin."


Kevin meraih kedua belah tangan Fia lantas menggenggam erat. Mata mereka jelas bersitatap. "Maaf Fia. Maaf aku baru menyadari. Maaf kalau aku selama ini mengabaikan perasaan kamu."


Mata Fia langsung melebar. Sedetik kemudian menarik tangannya dari genggaman Kevin. "J-jadi selama ini kamu tau?"

__ADS_1


Kevin mengangguk. "Maaf, aku salah. Aku terlalu sibuk menolak rasa sendiri. Aku takut kalau nanti hubungan pertemanan kita hancur. Tapi, sekarang aku gak peduli. Aku gak mau menyesali apa pun lagi."


Tanpa aba-aba Kevin memeluk Fia lalu mencium pucuk kepala gadis itu. "Sekarang aku ingin kamu selalu dekat aku, ayo kita pulang dan menikah."


"Fin."


Alih-alih senang, dilamar seperti itu membuat pikiran Fia makin tak tenang. Tak tahu harus menjawab apa terlebih lagi Kevin sudah berlutut di hadapannya dan telah menyematkan cincin di jari.


Dalam dekapan Dafin, Fia melihat cincin yang sudah tersemat di jari. "Fin. Ini ...?"


"Aku mohon, pertemanan kita cukup sampai sini. Aku ingin kamu jadi teman dan partner terbaik dalam rumah tangga kita."


Dafin yang dari tadi mengintip tak bisa mentolerir lagi. Dadanya terasa terbakar. Ia dekati sejoli itu dan tanpa aba-aba menarik tangan Fia. Pelukan otomatis terlepas dengan paksaan.


Ekspresi Fia dan Kevin jangan ditanya lagi. Keduanya tentu saja kaget. Ekspresi Dafin sangat berbeda. Fia merasa bos besarnya itu seperti siap menelan orang hidup-hidup.


"P-pak Da—"


Belum pun lisan terselesaikan, Fia malah berakhir menjerit. Ia shock saat Dafin melayangkan pukulan hingga Kevin tercebur ke kolam.


"Pak Dafin!" Fia memekik histeris lalu mengulurkan tangan hendak menolong Kevin, tetapi lagi-lagi tak terealisasikan karena Dafin menarik tangannya.


Fia yang ingin protes tak bisa berkata apa-apa karena tanpa peringatan tangannya kembali tertarik. Mau tak mau ia mengikuti langkah lebar Dafin hingga keduanya tiba di halaman mansion tempat mobil mereka terparkir.


"Pak Dafin! Tadi itu apa-apaan? Kenapa Bapak mukul Kevin?"


Untuk pertama kalinya suara Fia nyaring, matanya melotot tajam. Ia benar-benar tak bisa mengerti jalan pikiran Dafin.


Namun, bukannya menjawab Dafin malah diam saja. Ia membuka pintu mobil lalu memerintahkan Fia untuk masuk.


Fia menolak. "Jawab dulu pertanyaan saya," ketus Fia, tangan bahkan sudah bersedekap.


Alih-alih mendapat jawaban, Fia malah mendapat bentakan. Dafin benar-benar terlihat sangat marah. Fia pun berakhir masuk.


Hening, di dalam mobil tak ada yang bersuara. Fia membiarkan Dafin memegang kemudi meski mulut begitu gatal ingin marah pada pria itu.


Tak berapa lama mobil berhenti di depan sebuah taman. Fia melihat tajam sang bos yang terlihat mengeluarkan napas kasar. Kini mereka kembali bersitatap dengan sorot mata yang seolah-olah tengah melakukan perang.

__ADS_1


"Mulai sekarang saya melarang kamu untuk berkencan," ujar Dafin penuh penekanan. Fia yang shock akan ultimatum Dafin tergelak kesal.


"Apa Bapak becanda?"


Hari ini cukup sudah tingkah polah Dafin. Rasanya ia tak bisa lagi mengimbangi pikiran Dafin. Pertama aturan larangan kencan satu kantor dan sekarang dirinya juga tak luput dari kebijakan absurd itu.


"Iya, saya larang kamu berkencan. Karyawan lain tidak boleh pacaran satu perusahaan. Dan khusus kamu jangan pernah berpikir untuk berkencan sama siapa pun juga. Kalau ngotot, silakan berhenti." Napas Dafin terdengar kasar, tapi Fia juga tak kalah kesal. Ia buka sabuk pengaman lalu keluar dari mobil tapi tertahan oleh Dafin.


"Saya belum selesai bicara!" bentak Dafin.


Lagi, Fia tergelak kesal. "Saya rasa Bapak keseringan bekerja jadi otak bapak sedikit bermasalah," ujar Fia yang mulai sarkastis.


"Apa maksud kamu?"


"Bapak tahu nggak? Itu namanya melanggar hak asasi saya sebagai manusia. Saya selain jadi sekretaris Bapak saya ini juga wanita normal. Saya berhak dekat atau berkencan dengan pria manapun. Perintah Bapak barusan gak masuk akal dan itu nggak ada undang-undangnya. Tidak tertulis di kontrak kerja."


"Mulai sekarang ada, besok akan saya bikin khusus buat kamu. Terlebih lagi Kevin. Saya larang keras kamu berhubungan sama dia."


Mendengar itu Fia makin kesal. Ia membuka pintu mobil dan berlari ke arah taksi yang terparkir di seberang jalan. Dafin yang tahu Fia sedang kesal menarik pergelangan gadis itu.


"Kamu mau ke mana? Ingat kita, belum selesai bicara."


Fia yang baru saja memegang handle pintu langsung bersedekap. "Bicara apalagi, Pak. Saya anggap perintah Bapak barusan gak pernah ada. Lagipula saya mau berhubungan sama siapa saja ya terserah saya lah. Bapak walaupun atasan gak punya hak buat ngatur-ngatur."


Mendengar itu, Dafin makin panas. "Oh ya? Apa kamu lupa? Kamu pernah jadi tunangan saya. Dan apa kamu lupa, kamu itu pernah liat itu saya."


"Itu?" ulang Fia. Matanya refleks ke arah bawah dan kenangan tentang semak belukar kembali mengudara. Cepat-cepat ia membalik diri dan memunggungi Dafin.


"Apa maksud Bapak?" Fia berucap tanpa mau menoleh.


Melihat wajah malu-malu Fia mendadak kemarahan menguap dan keusilan Dafin yang hinggap. Ia tersenyum smirk. "Kamu jangan pura-pura lupa. Bukannya kamu pernah liat udud saya. Itu berarti kita punya hubungan spesial."


"Pak Dafin! Bapak jangan mengada-ada!" bentak Fia.


Tak berapa lama terdengar kekehan dari jarak dekat, kaca mobil taksi yang tadinya tertutup menjadi terbuka dengan sendirinya. Tampak tiga orang wanita paruh baya berpenampilan nyentrik dari dalam sana. Semuanya tersenyum dengan mengucapkan kata "cie cie cie" saat melihat Fia dan Dafin.


"Berantemnya jangan di jalan atuh Mbak-nya Mas-nya. Di kamar aja biar asoy. Biar bisa adu sesuatu. Sampe kelojotan juga kagak apa-apa. Adu terus sampe rontok, ha-ha-ha ...."

__ADS_1


"Hais sialan!" Dafin langsung membalik diri. Ia pergi begitu juga Fia yang langsung menahan taksi. Malu jangan ditanya lagi. Wajah mereka serasa dirayapi semut api, terasa berdenyut kembang kempis.


__ADS_2