
"Pak Dafin, Nona Sisi ...."
"Iya, Sisi kenapa?" Wajah Dafin yang awalnya cemas makin tampak mengerikan, "cepat bilang, Fia. Apa yang sudah terjadi? Apa tadi telepon dari Sisi? Ke mana dia? Dia baik-baik saja, 'kan? Trus keluarganya, keluarganya di mana? Kenapa satu pun gak ada yang bisa di hubungi?" cecarnya.
"Nona Sisi kecelakaan, Pak. Taksi yang ditumpangi oleh Nona Sisi bertabrakan dengan sebuah truk. Dan sekarang dia masuk rumah sakit, barusan saya mendapat kabar dari polisi," papar Fia. Jujur, ia juga ikutan takut. Bagaimana hal mengerikan bisa terjadi di saat penting seperti ini?
"Dan keluarganya meninggal di tempat. Hanya Nona Sisi saja yang selamat, tapi kondisinya juga ...."
Belum sempat Fia menjelaskan secara keseluruhan, kaki Dafin mendadak kehilangan tenaga, pria itu kelimpungan mempertahankan keseimbangan tubuh hingga mengakibatkan punggung berakhir membentur dinding.
Cepat-cepat Fia mengambil air putih. "Minum dulu, Pak. Bapak harus tenang," ujarnya seraya menyodorkan gelas.
Akan tetapi Dafin menggeleng. Lamat-lamat ia tatap wajah Fia, "Apa kamu serius?" tanyanya.
"Iya, Pak. Apa perlu saya hubungi lagi?"
"Enggak perlu, biar saya saja," ucap Dafin. Sumpah, ia berharap itu adalah prank, tapi entah kenapa ketakutan menjalari pikiran.
Kembali berdiri tegak, Dafin mengambil ponsel Fia lalu mencoba menghubungi nomor Sisi lagi.
Ternyata benar adanya. Pihak kepolisian menjelaskan dengan terperinci keadaan Sisi. Bahkan mengirimkan foto barang-barang Sisi. Dafin sampai gemetaran saat melihatnya.
"Ya Tuhan, Sisi ..." lirih Dafin yang masih diselimuti ketakutan. Ia takut kehilangan.
"Jadi apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Fia.
Mengembalikan ponsel, Dafin lalu menatap lekat wajah wanita itu. "Fia, tolong kamu bilang sama ayah saya, katakan yang sebenarnya. Saya mau ke rumah sakit. Soal pertunangan, tolong rahasiakan, jangan sampai ada yang tahu. Saya harus memastikan keadaan Sisi lebih dulu."
"Kenapa ini?" sela Dafan yang tiba dari belakang. Pria itu mengenakan tuxsedo berwarna putih. Dahinya mengernyit melihat Dafin dan Fia tampak serius. Ia dekati mereka berdua lalu mengulang pertanyaan, "Sebenarnya ada apa? Apa ada hal yang mengkhawatirkan sampai wajah kalian seperti itu?"
"Sisi masuk rumah sakit, Fan. Dia mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan ke sini," papar Dafin lantas hendak melangkah pergi. Lekas Dafan mencekal lengannya.
"Lalu kamu mau ke mana?" tanya Dafan.
"Tentu saja ke rumah sakit, aku harus memastikan segalanya. Aku mau liat keadaan Sisi," ujar Dafin yang seperti kehilangan akal. Ia terlihat linglung.
"Apa kamu gila? Sebentar lagi Ayah bakalan mengumumkan posisi kamu. Gimana ceritanya orang yang berkepentingan nggak ada dalam pesta?" ujar Dafan yang terdengar menggeram.
"Tapi, Fan—"
"Lebih baik kamu tenangin pikiran dulu, gak guna juga panik, yang ada entar malah makin kacau," lanjut Dafan bernada tenang. Ia sudah biasa menghadapi hal seperti itu, dan tenang adalah jalan terbaik. "Katakan saja, di rumah sakit mana dia, biar aku saja yang ke sana."
"Kata polisi dia berada di Rumah Sakit Sentra Medika," jelas Fia.
Kini Dafan kembali melihat saudaranya, kepanikan masih terlihat nyata di sana. Ia tepuk bahu Dafin. "Ya sudah, kamu tenang saja dulu, usahakan jangan sampai ada yang curiga."
Dafin mendesah lirih. Niat hati ingin sekali menemui sang kekasih. Namun, perkataan Dafan memang benar adanya, ini adalah malam penentuan. Semua mata tertuju pada keluarga besar dan ia tak ingin menghancurkan image baik yang sudah sang ayah jaga sejak dulu.
Ya Tuhan, kenapa jadi begini, Sisi .... Dafin bermonolog. Ia mengusap wajah yang gusar dengan sebelah tangan lalu menatap wajah Dafan. "Tolong lihat keadaannya dan kasih tau aku segalanya."
Dafan mengangguk. "Tenanglah. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja."
Akan tetapi, baru saja Dafan mengatakan hal itu, tiba-tiba ada yang berjatuhan dari lantai atas. Begitu banyak kertas persegi empat yang berhamburan dan tentu saja membuat orang-orang yang ada di bawahnya kebingungan termasuk Dafin, Dafan, dan Fia.
Dalam sedetik semua mata tertuju pada Dafan dan Dafin. Cepat-cepat Fia ambil kertas yang ada di dekat kaki.
"Ini ... ini ...."
Fia tak bisa menyelesaikan kalimat, jujur ... ia shock. Tatapannya begitu lekat melihat Dafan dan Dafin secara bergantian.
"Ada apa?"
__ADS_1
Dafin yang sudah tak karuan mendekati Fia dan merampas apa yang ada di tangan gadis itu. Terpampang jelas gambarnya tengah berduaan dengan seorang pria bule di dalam mobil. Di potret itu terlihat jelas kalau wajah Dafin dan pasangannya begitu dekat dan pasti membuat orang berpikir tentang sesuatu yang tabu.
"Ya Tuhan ... apa lagi ini?" gumam Dafin geram. Ia melihat sekeliling dan mendapati tatapan menghina dari para tamu, bahkan ada yang berbisik-bisik dan tentu saja terdengar sumbang di telinga Dafin, Dafan dan Fia.
Dafan yang penasaran meraih benda itu. Raut wajahnya juga sama seperti orang sekitar. Matanya membulat lebar dengan mulut menganga. Lekas-lekas ia hampiri Dafin.
"Dafin. Apa kamu gila? Ini bukan aku ya. Dan kalau bukan aku, itu pasti kamu," bisik Dafan, ia panik.
Sialan. Konspirasi ini mengerikan sekali. Dafin bermonolog. Ia perhatikan wajah saudaranya yang sudah tertunduk malu. "Tentu saja ini enggak benar. Aku nggak kenal pria ini. Dan soal foto ini, ini sebenarnya aku lagi bareng Sisi," balas Dafin tak kalah berbisik.
"Lah, tapi kenapa jadi laki-laki? Mana bule lagi," timpal Dafan.
"Aku yakin ini editan. Ni orang niat banget buat jatohin keluarga kita. Aku curiga ni curut pasti orang yang sama dalam kasus mantan-mantan aku yang dulu," papar Dafin geram, tangannya mengepal kuat foto dengan mata yang awas melihat sekitar. Sangat yakin tersangkanya masih ada dalam gedung.
"Fia, hubungi tim keamanan agar memeriksa semua CCTV. Dan juga, hubungi pakar telematika. Ni orang bener-bener cari perkara."
"Baik, Pak."
Tanpa memerlukan banyak waktu, Fia melakukan perintah Dafin. Ia sibuk dengan ponsel sementara Dafin bergegas menghampiri sang ayah. Wajah pria panutannya benar-benar memerah. Lagipula siapa pun pasti akan berekspresi sama jika saat melakukan pidato perpisahan dirinya langsung di hadapkan dengan gambar tak senonoh sang calon pengganti.
"Yah, ini nggak bener," bisik Dafin, "ini editan, Yah."
Namun Chandra tak menyahut, ia percaya pada anaknya hanya saja bukti benar-benar ada di depan mata. Mau editan atau bukan tetap saja foto itu berefek. Orang-orang menatap jijik pada mereka.
Dafin berpikir keras, lantas meraih mikrofon yang ada di dekat ayahnya.
"Pak Dafin. Tolong jelaskan ini apa?" ujar seorang pria yang tak lain adalah wakilnya sendiri, Burhan.
Pertanyaan sama yang juga dikatakan semua orang di sana. Suasana menjadi ribut dan tak terkendali dalam seketika. Cemoohan serta decakan-decakan menghina memenuhi ruangan. Sekuriti dan beberapa orang yang Dafin sewa bahkan sudah berjaga di dekat podium.
Dafin mencoba menenang berkali-kali, hanya saja semua orang yang sudah terlanjur kalut mengabaikan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka menuding Dafin mempunyai kelainan seksuall hingga Chandra tak bisa diam saja, ia mengangkat tangan dan ruangan hening seketika.
"Maaf bapak-bapak ibu-ibu, ini fitnah saya minta maaf," ujar Dafin.
"Tapi ini fitnah. Saya tidak memiliki kelainan. Saya masih menyukai wanita," jelas Dafin lagi. Penuh penekanan.
"Ya ya ya ... saking menyukainya Anda bahkan memiliki banyak perempuan. Apa di mata Anda nilai perempuan sudah memudar hingga mencari sosok laki-laki," timpal Burhan. Smirk terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu. "Apa jangan-jangan ini yang Anda katakan tentang kejutan."
Burhan bertepuk tangan. "Kejutan Anda ini benar-benar sesuatu. Kami tercengang," lanjut Burhan lagi.
Ucapan yang sontak saja membuat suasana menjadi riuh kembali. Dafan menelan saliva, ia tak tahu harus berbuat apa. Situasi tak memungkinkannya untuk berpikir.
"Tapi saya benar bapak-bapak ibu-ibu. Di masa lalu memang saya begitu. Tapi kalau ini ... ini murni fitnah. Pakarnya akan membuktikan kalau ini hasil editan. Saya harap kalian sabar menunggu hasil dan tidak terpancing. Satu hal yang bisa saya pastikan, saya tidak pernah menyukai laki-laki. Saya masih menyukai perempuan. Saya punya pacar. Saya bahkan ingin segera melamarnya," tandas Dafin lagi, menyakinkan.
"Bohong! Mana buktinya," sela Mariam. Wanita itu bahkan bersedekap dada.
Dafin memanggil MC yang tercengang di pojokan lantas menunjukkan susunan acara. Di sana tertulis jelas bahwa ada sesi melamar.
"Sumpah, saya masih menyukai perempuan dan yang akan saya umumkan hari ini adalah soal pertunangan kami." Dafin mengeluarkan kotak cincin. "Ini buktinya kalau saya memang memiliki perempuan yang saya suka."
"Lalu di mana wanita itu?" Burhan menimpali. Ia seperti mencari celah untuk menjatuhkan.
Dafin menelan ludah, tak tahu harus apa lagi hingga matanya tertuju pada Fia.
Cepat-cepat ia turun dari podium lalu menghampiri gadis itu, bahkan tanpa ragu menggenggam tangannya. Namun, dilepas Dafan dengan paksa.
"Apa kamu gila?" geram Dafan. Ia tahu apa yang ada di benak saudaranya.
"Tolonglah, aku sudah gak punya cara lain lagi. Apa Kamu punya solusi lebih baik dari ini?" bisik Dafin ke telinga saudaranya itu.
Dafan terdiam, matanya melihat Fia yang jelas kebingungan.
__ADS_1
"Apa kamu punya solusi lain?" Pertanyaan Dafin membuat Dafin tersentak.
"Tapi tetap saja, kenapa Fia?"
Fia yang tak paham arah pembicaraan Dafan dan Dafin melongo sesaat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berbisik, "Sebenarnya ada apa ini? Pak Dafin mau ngapain?"
Kini mata Dafin tertuju pada Fia. ''Maafkan saya. Saya butuh bantuan kamu sekarang. Saya gak masalah di cap playboy, tapi kalau menyukai sesama jenis ... Najis."
Tanpa menunggu jawaban, Dafin langsung menarik tangan Fia. Ia genggam erat tangan wanita itu menuju podium.
Sementara Dafan, menggeram, tangannya terkepal erat. Ingin menghentikan tapi tak bisa melakukan apa-apa. Ia hanyalah pasrah saat wanita yang disukai ditarik oleh saudaranya sendiri.
"Apa ini Pak Dafan?" tanya Mariam, "jangan bilang Anda berhubungan dengan sekretaris Anda sendiri? Ayolah, jangan jadikan dia tumbal untuk menutupi kelakuan minus Anda. Semua orang tau kalau sekretaris Anda itu bekerja belum genap sebulan. Mustahil kalau sudah punya hubungan."
"Ya betul."
"Benar, itu cuma menutupi kelakuannya saja."
"Ternyata tak hanya playboy, dia juga biseksuall."
Perkataan itu mengudara berulang kali. Chandra yang mendengarnya tak mampu lagi berdiri. Ia dipapah sekuriti untuk menjauh.
"Tolonglah, kalian tenang dulu. Sudah saya katakan foto itu rekayasa. Sedangkan saya dan Fia benar-benar memiliki hubungan. Dia memanglah wanita yang akan saya lamar malam ini."
Spontan statement Dafin barusan membuat mata Fia, Dafan serta keluarga besar Chandra terbelalak. Mereka benar-benar tak menyangka kebohongan itu lolos dari bibir Dafin.
"Mana buktinya kalau kalian memang memiliki hubungan," tanya Burhan lagi.
Dafin terdiam, tangannya makin erat menggenggam tangan Fia. Ia gugup, kebohongan satu membuatnya harus melakukan kebohongan lain yang jujur tak ada dalam benak cara menyelesaikan itu semua.
"Ayolah, kenapa diam? Apa Anda kehabisan bahan untuk berbohong?" cecar Burhan.
Genggaman tangan Dafin terasa erat. Fia menyadari kalau bos-nya tengah gugup. Ia tatap lekat si Burhan.
"Kalian ingin bukti, 'kan?"
Hening, semuanya terdiam saat Fia berbicara. Termasuk Dafan dan Dafin. Mereka tak tahu apa yang Fia rencanakan. Namun yang jelas, genggaman tangan Dafin makin terasa erat dan Fia membalasnya.
Fia lepaskan genggaman Dafin lalu mulai menelpon seseorang. Tak memerlukan waktu lama, Fia pun berjalan ke petugas pengurus proyektor dan menyerahkan ponsel. Dalam beberapa detik terpampang sebuah vidio saat dirinya menemani Dafan wawancara. Di sana terlihat jelas tatapan Dafan yang tengah menggantikan Dafin. Dalam tatapan pria itu tampak jelas ada cinta meski tak mengucapkannya.
"Bagaimana? Apa kalian masih tidak percaya kalau kami memiliki hubungan?" Fia menantang. Semua orang masih bungkam.
"Tapi mustahil, bagaimana bisa kalian punya hubungan padahal baru bertemu?" ujar Mariam yang masih tak percaya.
"Tidak ada yang mustahil. Saya menyadari kalau Fia wanita luar biasa saat baru saja bertemu dengannya. Lagipula Fia mempunyai keunggulan yang jarang dimiliki oleh wanita lain. Saya tidak punya alasan untuk tidak jatuh cinta padanya," timpal Dafin.
Fia cengo beberapa detik. Beruntung genggaman tangan Dafin menyadarkan. Cepat-cepat ia mengangguk dan mengiyakan.
"Itu masih tidak cukup," sambung Burhan.
Gegas Fia menekan ponsel dan terpampanglah wajah Dafin yang tengah makan dengan tangan. Sontak semua tertawa. Dafin bahkan melotot melihat potretnya yang terlihat konyol dan kampungan.
"Ini bukti nyata kalau diantara kami memang ada sesuatu. Saya melihat sisi ini di diri Dafin. Dan saya yakin kalian tidak menyangka kalau dia seperti itu. Dan bagi saya, sosok Dafin adalah calon suami berkualitas tinggi. Dia tampan, kompeten dan yang lebih utama, dia penyayang. Dia apa adanya. Dan saya tidak punya alasan untuk menolak cintanya," jelas Fia.
Dafin tersenyum. "Dan bagi yang menyebarkan humor ini, maupun yang percaya, akan saya pastikan kalau kalian akan mendapat balasan setimpal."
Semua orang tertunduk. Baik Mariam, Burhan dan yang bersuara tadi.
Kini Dafin memegang tangan Fia. Ia keluarkan kotak kecil dari saku jas dan menyematkan isinya, lantas mencium lembut punggung tangan gadis itu "Maaf, maaf kalau hubungan kita terekspos dengan cara ekstrim seperti ini."
Fia mematung, benar-benar tak percaya kalau aktingnya sudah sejauh itu. Cincin berlian yang tak pernah ia lihat sebelumnya kini malah tersemat di jari. Dafin bahkan menatapnya dengan tatapan yang ... entahlah ia ragu.
__ADS_1
Fia berdeham, meyakinkan diri sendiri bahwa tatapan Dafin adalah bagian dari sandiwara. Ia tak ingin tertimpa perasaan sendiri untuk yang kedua kalinya.
Sementara itu, ada dua pasang mata yang menahan kesal.