Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Testing


__ADS_3

"Saya mau ikut," ujar Dafin. Tanpa menunggu jawaban ia pun turun tangga. "Lah, kenapa bengong?" lanjutnya saat melihat Fia masih mematung di dekat pintu.


"I-iya, Pak."


Cepat-cepat Fia memasang sepatu kets lalu mensejajari Dafin.


Sepanjang perjalanan Dafin tak mengatakan sepatah kata pun. Pria itu tetap berjalan dengan gaya arogan—dagu terangkat dengan kedua belah tangan masuk ke dalam saku celana. Fia yang gemas tak tahan untuk tak bertanya, "Pak Dafin kenapa mau ikut saya? Bukankah tadi katanya lelah dan mau istirahat?"


"Tadinya sih, iya, cuma saya berubah pikiran," balas Dafin dengan nada dan ekspresi yang sama-sama datar. Fia yang tak tahan berakhir mencebik.


"Kamu bilang kita akan ke tempat teman kamu apa benar begitu?" tanya Dafin seraya menghentikan langkah. Sebuah pergerakan mendadak yang tentu saja membuat Fia juga ikutan berhenti. Dafin bahkan menatapnya lekat.


"A-apa maksud Bapak??" tanya Fia gelagapan. Ditatap selama itu membuatnya salah tingkah sendiri.


Tanpa diduga, dari arah belakang tampak sepeda motor melaju dengan kencang. Cepat-cepat Fia menarik lengan Dafin sehingga tubuh mereka menempel hanya dalam hitungan detik.


"Pak Dafin nggak apa-apa, 'kan?" tanya Fia panik. Ia bolak balik tubuh Dafin, khawatir kalau sang pemilik gaji terluka dan berakhir menjadi pemecatannya sebagai sekretaris.


Dafin berdeham, rasanya canggung luar biasa. Mata penduduk yang kebetulan lewat bahkan melihat aneh ke arah mereka. Lagi-lagi Fia menjadi hero dalam hidup seorang Dafin. Di saat banyak pria yang melindungi wanita, ia malah berada di situasi yang sebaliknya. Davin berdengkus kesal lalu kembali melangkah.


"Apa temen yang ingin kamu datangi ini bernama Kevin?" ujar Dafin.


Seketika mata Fia melotot, ia berhenti lalu kembali menarik tangan Dafin. Keduanya beradu pandang lumayan lama.


"Bapak tahu dari mana nama Kevin?" tanya Fia balik, matanya menyipit.


"Ya saya ... saya menebak saja."


Fia yang tak percaya makin menajamkan pandangan. Ia Pepet tubuh Dafin hingga Dafin merasa salah tingkah sendiri. Ia tahan bahu Fia yang semakin lama semakin dekat. "Sudah berani kamu kurang aja kamu ya? Mau saya pecat?" tanya Davin berada galak.


Akan tetapi nada itu sepertinya tak mempan untuk Fia yang sudah kadung penasaran. Dengan mata yang masih melotot, ia pun berkata, "Bapak bongkar barang pribadi saya, ya?"


"Enggak," bales Dafin tanpa rasa bersalah, "saya nggak bongkar apa-apa. Saya cuma mau tahu wanita seperti apa sekretaris saya ini. Lagian ya, kalau nyimpan barang itu di tempat yang tersembunyi. Jauh dari jangkauan orang lain. Ini malah ditaroh di langit-langit kamar."


Cih! Pinter banget dia ngeles. Dasar bos gila, batin Fia. "Tapi bukankah itu namanya melanggar hak asasi manusia?" balas Fia makin sengit.


"Ya bedalah, kamu itu sekretaris saya. Kamu itu nantinya bakal tahu seperti apa saya. Dari perihal kerjaan sampai sifat-sifat saya. Jadi tidak adil kan kalau kamu mengetahui keseluruhan tentang saya sedangkan saya tidak tahu apa-apa tentang kamu? Kita ini ibarat sepasang tangan. Saya kanan dan kamu kiri satu tangan pasti memerlukan tangan yang lain untuk melakukan sesuatu agar lebih cepat. Pepatah mengatakan itu."


"Masa sih, Pak? Yang saya tahu pepatah tentang tangan itu, kalau tangan kanan memberi tangan kiri nggak nggak harus tahu. Pepatah yang Bapak jelaskan itu gak ada," balas Fia yang masih tak terima, "Lagian kenapa sampai-sampai harus mengorek masalah pribadi saya, sih?"

__ADS_1


Dafin yang merasa mati kata, berdeham. Ia betulkan kerah kemeja yang melekat di tubuh seolah tengah kepanasan. "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kenapa saya bisa tahu hal pribadi kamu ya karena saya memang harus mengetahui seluk beluk kamu. Bukankah Nasya juga sudah mengatakan semuanya tentang saya? Saya itu bisa bekerjasama dengan seseorang yang terbuka. Apa kamu tahu, Nasya gak pernah menyembunyikan apapun, saya bahkan mengetahui semua tentang dia, alergi suaminya pun saya tahu. Begitulah sekretaris dan atasan bisa bekerja sama."


Masa sih sampai segitunya? Fia membatin heran tapi memilih percaya saja.


Kaki mereka kembali melangkah. Keduanya kembali bungkam, hanya beberapa kendaraan yang lewat berlalu-lalang di jalan yang tak seberapa besar.


"Kevin ini apa pacar kamu?" tanya Dafin tiba-tiba. Fia kembali menghentikan langkah. Akan tetapi sedetik kemudian melangkah lagi.


"Bukan, kami cuma temenan. Kami berhubungan baik dari SMP," balas Fia tanpa menoleh.


"Sampai sekarang masih berteman?" selidik Dafin.


Fia mengangguk, matanya tertuju ke depan.


"Sejak kapan kamu menyukainya? Apa sejak SMP?" tanya Davin lagi.


Fia berdecak kesal karena Davin mengetahui segalanya, padahal rahasia itu sudah ia tutup rapat-rapat. Orang tua bahkan orang yang bersangkutan saja tak tahu perihal perasaanya.


"Apa cinta dalam hati itu gak menyakitkan, Fia? Kenapa nggak di ungkapin?"


Dasar bos kepo. Apa sih gunanya ini? Apa perlu juga dijelasin secara terperinci? Batin Fia dongkol.


"Ya gak bisa begitu Fia. Sesuatu yang dipendam terlalu lama bakalan menggerogoti tubuhmu sedikit demi sedikit. Walaupun itu sulit bukankah lebih baik kamu ungkapkan?"


Fia menggeleng. "Itu hanya berlaku untuk orang kaya, Pak. Tidak untuk rakyat jelata seperti saya. Saya takut ungkapan perasaan saya bakalan bikin Kevin menjauh. Dia anak orang terpandang di sini. Dia anak anggota dewan. Dan saya nggak mau merusak pertemanan yang sudah lama. Biarlah perasaan ini saya simpan saja." Fia membalik badan. Dafin yang mengikutinya sontak berhenti juga. Ia keheranan melihat Fia yang memicingkan mata.


"Kenapa lagi?" tanya Dafin gelagapan.


"Saya harap rahasia ini Bapak jaga."


"Kalau tidak?" goda Dafin yang tentu saja mendapat tatapan elang dari Fia. Kepalan tangan gadis itu bahkan sudah terbentuk. Dafin mendadak merinding, ia pun tersenyum. "Kamu nggak usah khawatir. Saya juga tidak tertarik dengan hubungan asmara kamu. Yang penting kerjaan kamu beres dan enggak ngerepotin saya. Cukup itu saja kewajiban kamu sebagai sekretaris."


Fia membalik diri lalu kembali berjalan.


"Terus kita mau ke mana?" tanya Dafin lagi, "apa kita akan ke rumahnya dia?"


"Enggak," balas Fia sekenanya.


Lah kok? Dahi Dafin mengernyit. "Apa kita bakalan ketemu dia di luar?"

__ADS_1


Fia lagi lagi menggeleng.


"Lah, terus kamu mau ngapain?" tanya Dafin lagi. Ia mulai kesal.


"Saya nggak mau ngapa-ngapain, Pak Dafin. Saya cuma mau ngeliatin dia dari kejauhan saja."


Sumpah, jawaban polos Fia sangat mengesalkan Davin.


"Jadi kita udah capek-capek jalan cuma mau mau jadi penguntit?"


"Loh, Pak, jangan nyalahin saya. Saya kan nggak ngajak Bapak. Saya kan pengennya tadi perginya sendiri. Bapaknya sendiri tanpa nanya-nanya mau ikutan aja," balas Fia tanpa menghentikan langkah.


"Perempuan ini emang bener-bener," gumam Dafin pelan saat melihat punggung Fia yang tetap saja berjalan meninggalkannya. Ia yang sudah kadung gemas menarik lengan gadis itu.


"B-bapak mau ngapain?" Tergagap, Fia menatap horor wajah serius Dafin.


"Saya mau ngasih pelajaran, biar otak kamu ini nggak geser."


"Maksud Bapak?"


Fia yang masih tak paham tak bisa berkata lagi saat Dafin menarik tangannya. Keduanya berakhir di kursi taman yang langsung berhadapan dengan persawahan. Walaupun gelap tetap saja lampu jalanan dapat sedikit menerangi mereka di sana.


"Daripada seperti ini, mending kamu ungkapkan," ujar Dafin saat keduanya sudah duduk di kursi panjang dari papan.


Fia menggeleng, kepalanya lalu menoleh ke sebelah kiri dan melihat rumah besar dan yang paling megah di sana. "Bapak lihat rumah 3 lantai di sana?"


Davin tentu saja menoleh dan mendapati rumah tersebut. "Memangnya kenapa? Kenapa kamu jadi bahas rumah?" balas Dafin kesal.


"Kalau Bapak jadi saya, terus orang yang Bapak suka rumahnya segede itu, apa Bapak juga punya nyali yang besar sama besar dengan perasaan Bapak?"


"Tentu saja, saya bukan pengecut."


Fia berdecak kesal dan tak percaya. Jelas saja Dafin menjawab seperti itu. Dafin dari kecil hidupnya sudah berkecukupan.


"Enggak, Pak. Itu gak sesimpel itu. Baru ngelihat rumahnya saja saya sudah terintimidasi, jadi nggak mungkin saya bisa mengungkapkan perasaan saya," balas Fia.


"Harus dicoba dulu, Fia."


"Tapi bagaimana caranya, Pak."

__ADS_1


"Coba ke saya, coba kamu rayu saya."


__ADS_2