Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Aksi penyelamatan


__ADS_3

"Bisa lebih cepat gak!"


Litania kesal. Ia masih marah dan menatap nyalang pada Arjun, hanya saja kehadiran lelaki itu sangat diperlukan—untuk mengemudi maupun menyelamatkan Chandra. Entah mengapa firasat mengatakan kalau suaminya kini berada dalam bahaya ketimbang bermain gila dengan wanita saat pertama kali mendengar kata hotel.


Ya, dalam kekacauan yang entah bagaimana bisa bermula ini, Litania terus saja merapalkan doa. Berharap agar suaminya tidak kenapa-kenapa. Ia percaya pada Chandra, hanya saja masih kesal kenapa bisa dijebak semudah itu.


"Hais sial! Aku rasanya bisa gila," geram Litania. Matanya sudah melotot, rahang pun sudah mengeras. Sementara Kinar, tetap tegang meski duduk di kursi penumpang.


"Cepetan, Arjun!" Lagi, Litania menghardik hingga Arjun menambah kecepatan menuju Syk Hotel.


Tak berapa lama tibalah mereka di tempat tujuan, hotel berbintang lima yang bangunannya menjulang tinggi ke angkasa. Namun, rasa takut akan keselamatan sang suami membuatnya mengabaikan keterpanaan. Tak sempat menikmati maupun terkagum-kagum atas gedung pencakar langit yang ada di hadapan. Di dalam benak hanya ada nama Chandra Chandra dan Chandra.


"Kenapa nggak curiga coba? Ish, awas aja ntar, aku bejek-bejek tu muka, aku jadian oncom sekalian. Dasar bangkotan tua. Gak belajar dari kesalahan masa lalu," gumam Litania geram seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam lobi. Wajahnya yang sudah merah padam disambut senyum hangat dari dua resepsionis yang ada di belakang meja.


"Ada yang bisa kami ban—"


"Saya ingin mencari suami saya. Bisa tunjukkan kamarnya?" sela Litania cepat. Tak punya waktu untuk beramah tamah dengan orang lain. Dirinya sudah kadung kesal dengan keadaan.


Dua resepsionis itu saling pandang dengan tatapan yang ambigu, keheranan atau mungkin juga menghina. Entahlah, Litania tak sempat menyelidik ekspresi tiap orang.


Namun, salah satu resepsionis yang bertanda pengenal Lila tetap melengkungkan bibir menghadapi situasi yang lumayan canggung itu. "Maaf, Mbak. Kami tidak tahu."


"Aku nyari orang ini." Litania mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan wajah Candra. "Aku yakin dia masuk ke sini. Cepat, kasih tahu di mana kamarnya."


"Maaf, Mbak, kami tidak bisa membocorkan informasi tamu kepada sembarang orang."


"Hey! Aku bukan sembarang orang. Aku istrinya. Istrinya!"


Litania yang sudah diselimuti kekesalan menggebrak meja, membuat dua orang resepsionis serta dua orang di belakangnya—Kinar dan Arjun—tersentak kaget. Sebuah tindakan ceroboh yang tentu saja memancing dua orang security berbadan tambun mendekat ke arah mereka.


"Maaf, tolong jangan bikin ribut di sini," ucap security yang berperut buncit dengan kumis tebal.


"Saya nggak bikin ribut, Pak. Saya cuma mau mencari suami saya, itu aja kok. Tapi dipersulit ,waktunya mepet banget ini," ucap Litania yang sudah mulai mengiba.

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Peraturan tetaplah peraturan." Resepsionis yang bernama Keyla angkat bicara meski bibir tetap tersenyum.


"Kalau suamiku sampai kenapa-napa, bagaimana? Apa perusahaan juga mau bertanggung jawab?"


Tak ada respon yang berarti, kedua resepsionis itu masih bersikukuh tak mau memberitahu. Bahkan dua orang security pasang badan di depan mereka. Sementara Kinar yang ada di belakang mengembuskan napas panjang lantas memajukan langkah—bersanding dengan Litania.


Kinar buka kacamatanya yang berwarna merah menyala, menatap dua orang resepsionis itu lalu berkata, "Sebenarnya aku malas kalau harus bawa bawa kesuksesan papa, tapi berhubung ini keadaannya genting, aku mau gak mau harus membuka identitas."


Dua resepsionis itu makin kelihatan bingung tapi tidak untuk Litania. Ia kembali menggeprak meja. "Cepat kasih tau di mana kamarnya? Kalian gak tahu siapa temanku ini? Dia ini anaknya Frans Gabriel Hartoyo. Apa kalian nggak tahu dia juga pemegang saham terbesar di hotel ini?"


Kedua resepsionis itu menggeleng seraya menahan tawa. Bagaimana bisa percaya kalau Kinar yang ada di depannya adalah anak dari pemegang saham sementara penampilannya ... ah, sudah bisa ditebak, bukan?


"Kalian nggak percaya!"


Suara menggelegar Litania memancing perhatian seseorang yang baru keluar dari lift. Pria tampan berkaki jenjang dengan tangan masuk ke saku celana melangkahkan kaki mendekati mereka.


"Ada apa ini?" tanya orang itu dengan suara berat. Jelas tampak tak suka karena hotelnya yang biasa tenang menjadi ramai dan tak terkendali seperti itu.


"Ini Pak Axel, ada yang ngaku-ngaku anaknya Pak Frans," ucap Kayla.


"Iya dia ini anaknya Pak Frans, Kinaryosih. Saya pernah sekali bertemu dia saat makan malam perusahaan setahun yang lalu. Tapi, ada apa ini, bisa jelaskan?"


Axel, CEO hotel itu menatap fokus pada dua resepsionis-nya. Dirinya pernah sekali bertemu dengan Kinar, ya walaupun penampilannya tidaklah sehancur sekarang, tapi wajah Kinar tetap melekat dalam benak.


"Nah, kalian sudah percaya, 'kan. Ayo cepat, katakan di mana pria ini berada?" tanya Litania lagi.


Sementara Kinar, menatap seraya tersenyum ke arah Axel. "Maaf Mas. Nanti saya ceritakan yang sebenarnya, cuman sekarang kita gak punya waktu banyak, jadi penjelasannya kita pending," ucap Kinar. Ia tatap lagi dua resepsionis yang sempat merendahkannya itu. "Ayo, cepat! Katakan!"


"Di kamar nomor 3560, Mbak. Di lantai tiga," jawab Kayla, "tadi dia masuk dengan keadaan tidak sadarkan diri, hanya saja seorang wanita yang mengaku istrinya mengatakan kalau suaminya itu tengah mabuk."


Mendadak darah Liitania berdesir. Ia mengumpat sesuka hati, membuat semua orang yang ada di sana membelalakkan mata. Bagaimana bisa semua kata tak layak diucapkan keluar dari bibirnya yang tipis itu? Astaga ... Arjun menggeleng, begitu juga yang lainnya.


Dengan napas memburu dan langkah lebar Litania masuk ke dalam lift diikuti oleh Arjun Kinar dan 2 security.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar. Lusi masih berjuang membuka pakaian yang melekat di tubuh Chandra. Pria besar itu tak sadarkan diri, hanya lenguhan serta racauan yang keluar dari bibirnya. Sebuah pemandangan yang membuat Lusi makin menyeringai licik. Ia raba dada bidang Chandra yang sudah tak berpenghalang, lantas berpura-pura terpejam dan terbaring manja di atas sana. Dan beberapa pose pun terabadikan lewat kamera.


"Sudah?"


Lusi menatap ke arah pria yang tengah melihat hasil jepretan gambar tak senonoh itu. Pria yang tak lain tak bukan adalah Arkan.


"Sudah," jawab Arkan. Dahinya mengkerut saat melihat Lusi masih bermanja ria di dada Chandra. "Kamu mau apa lagi? Tugas kita sudah selesai."


Lusi berdecak, tapi mata masih menyapu keindahan perut Chandra yang kotak-kotak. "Kamu saja yang pergi, Arkan. Tugasmu sudah selesai, 'kan? Tinggalkan kami. Aku hanya ingin menikmati bonusku."


Arkan berdengkus. "Terserah kamu sajalah," ucapnya seraya mengemas semua peralatan, "tapi resiko tanggung sendiri."


"Pergilah!"


Namun, baru saja si Arkan menutup pintu kamar hotel, matanya membulat saat melihat siapa yang ada di belakang.


Bugh!


Telak, hidung Arkan menjadi sasaran bogem mentah Litania. Pria itu mengaduh kesakitan dan terhuyung ke belakang. Namun Litania yang sudah kadung kesal kembali melayangkan tendangan, dan pas, terkena pipi Arkan hingga pria itu terlentang. Tak hanya itu, Litania bahkan mencekik leher pria itu dengan kaki.


"Kamu ... kamu yang kemarin ngikutin kami, 'kan?" geramnya seraya menekan kuat leher Arkan dengan kakinya yang terbalut sepatu kets merk perancang terkenal.


Arkan tak dapat bersuara. Pernapasan tercekat karena Litania menginjak tepat disaluran pernapasan. Ia hanya menepuk-nepuk lantai sebagai kode menyerah dan minta dilepaskan.


"Arjun, urus orang ini," perintah Litania saat kaki sudah ia angkat dari leher Arkan.


Ia buka pintu kamar dan matanya membola seketika. Penampakan mengerikan terpampang di depan mata. Ia mendapati pemandangan yang membuatnya ingin menjadi Sumanto—menelan orang.


"Hei! Apa yang kamu lakukan?"


Suara Litania menggema. Cepat-cepat Lusi angkat dari tubuh Chandra dan turun dari ranjang. Namun, belum sempat menjauh sebuah tendangan mendarat di punggung. Lusi tentu saja tersungkur dengan kepala membentur nakas. Wanita itu juga mengaduh, darah segar pun keluar dari pelipisnya yang terbentur.


Tak hanya itu, Litania yang masih kesal menjambak rambut Lusi lantas menatapnya lekat-lekat. Napasnya memburu dengan ritme jantung yang bertalu. "Dasar perempuan sialan. Beraninya kamu sentuh suamiku, ha!"

__ADS_1


***


Jangan pelit like ya. Otor ngenes ini cm minta like bukan minta duit apalagi minta hati kamu. eeaakk.


__ADS_2