
"Dafan, Dafin. Entar di sana kalian jangan nakal, ya?" Litania berkata seraya merapikan kaus yang dipakai Dafan. Lantas beralih ke Dafin dan menatapnya intens. "Inget. Kalau kalian buat ulah, Bunda bakalan pangkas waktu nonton kalian dari sejam jadi tiga puluh menit."
"Yah ... Bunda ..." rengek dua bocah itu secara bersamaan. Suara putus asa yang membuat Litania tersenyum penuh kemenangan. Ternyata menggoda anak kecil juga memberikan kebahagiaan. Wajah cemberut dan suara sungutan si kembar membuatnya serasa di awan. Egoiskah? Tentu saja tidak.
"Ya udah. Ayo kita berangkat."
Mereka pun melewati pagar rumah dan menuju rumah sebelah yang juga tertutup pagar besar dan tinggi. Di sana mereka disambut oleh Aryo, satpam yang Litania kenal baik.
"Loh, Pak Aryo masih kerja di sini?" tanya Litania. Ia yang tengah membawa cake terkesiap melihat pria tambun dan tegap yang menghampiri mereka.
"Iya, Bu Litan. Alhamdulillah orang yang beli rumah ini mau mempekerjakan saya," jawab Aryo ramah. "Oh iya, kalau boleh tau, ada perlu apa, ya, ke sini?"
Litania kembali tersenyum canggung. Mungkin hanya dirinya yang menyapa tetangga baru dengan bertamu di saat cuaca lagi panas-panasnya.
__ADS_1
"Saya cuma mau nyapa tetangga baru, Pak. Sekalian mau ngasih ini." Tangan Litania yang membawa cake, terangkat.
Aryo merespon dengan ulasan bibir. "Kalau gitu tunggu di sini sebentar, ya. Saya hubungi nyonya dulu."
Litania mengangguk. Sambil menunggu Aryo tiba, otak tanpa permisi kembali mengingat ucapan Chandra tadi pagi yang mengatakan kalau tuan rumah ini bertemperamen buruk. Rasa penasaran berkedok menyapa membuatnya merasa jadi mata-mata.
Aryo tiba, pria itu kembali merekahkan senyuman. "Ayo ikut saya, Bu."
Litania dan anak-anaknya mengikuti hingga tibalah mereka di depan rumah besar dengan pintu bercat putih yang menjulang tinggi.
"Oh, baiklah, Pak. Kalau gitu Bapak lanjut saja. Saya juga gak lama, kok. Mau nyapa bentar habis itu langsung pulang."
"Baiklah, Bu Litan. Kalau gitu saya permisi." Tersenyum ramah, Aryo pun memutar tumit dan pergi.
__ADS_1
Sementara itu, Litania celingukan. Kakinya melangkah menuju sofa dan tentu saja diikuti oleh kedua anaknya.
Apa ini? Perasaan rumah Bu Lintang ini dulu gak nyeremin, deh. Tapi kenapa sekarang kek ada demitnya gini? Batin Litania bertanya-tanya. Saking fokus dengan situasi rumah, ia tak sadar telah menginjak ekor kucing hingga kucing itu melompat dan mengagetkan. Litania latah. Cake yang ada di tangan hampir terlepas.
Tak cukup sampai di situ. Senam jantung Litania berlanjut. Si anak sulung melepaskan genggamannya dan berlari mengejar kucing.
"Loh, Dafan! Kamu mau ke mana?" teriak Litania.
Akan tetapi, Dafan seperti tak menghiraukan. Ia terus saja mengejar binatang berbulu dan lucu hingga dapat. Lantas memeluknya gemas sebelum suara dehaman mengagetkan. Tampak seorang wanita cantik turun dari tangga, diikuti seorang anak perempuan yang terlihat ketakutan mengekor dari belakang.
"Maaf nunggu lama," sapa wanita yang tak lain tak bukan adalah si nyonya rumah. Gaun biru berselimut mantel bulu branded limited edition merek Alice and Olivia by Stacey menyilaukan mata. Tak tertinggal pula kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Kaki jenjang menggunakan heels bergliter silver. Dafan yang posisinya tepat di dekat tangga ketakutan. Anak kecil itu sontak saja melepas kucing dan kembali mendekati Litania.
"Bun, Tante itu nyeremin," lirih Dafan seraya menarik gaun Litania lantas bersembunyi di punggung.
__ADS_1
"Hallo, Litania. Apa kabar? Udah lama, ya, kita gak ketemu," sapa wanita itu lagi seraya mengukir smirk.