Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Permintaan Rania.


__ADS_3

"Dia ... bukankah dia Rania." Litania bergumam heran. Ia bingung. Haruskah mengamuk atau welcome pada tamu tak diundangnya itu. Sosok wanita cantik yang telah menghancurkan rumah tangganya yang baru berumur dua bulan.


Astaga. Ngapain sih dia ke sini? Bikin kesel aja. Litania membatin geram. Ia lipat kedua lengan di dada, menunjukkan dengan jelas ketidaksukaannya. Ia bahkan tanpa ragu menyipitkan mata dan menatap sinis pada wanita dewasa itu.


Namun aneh, entah mengapa keberaniannya langsung menciut setelah memperhatikan dengan seksama sang tamu. Terlihat begitu berkelas dengan gaun selutut serta mantel bulu yang menutup tubuh. Emang bener-bener. Perempuan ini dia kasih kemewahan. Sedangkan aku ... cuma dikasih novel. Ck. Dasar lelaki brengsek. Awas aja kalo ketemu. Aku cakar tu mulut. Bisa-bisanya nipu aku. Dasar pak tua tukang ngibul.


Litania berdengkus. Ia yang tengah rebahan di kursi, menyilangkan kakinya. Mengusir rasa iri dengan bertindak sok berani.


Oke , Litan. Dia ini cuma perempuan tanpa status. Jadi di mana-mana, istri sah-lah yang memegang kuasa, batinnya menguatkan diri.


Mengembuskan napas panjang, Litania melirik malas Rania yang tengah berjalan mendekatinya. "Untuk apa kemari?"


Sungguh, Litania tak berniat sopan. Emosinya yang sudah tersulut karena masalah poligami makin berkobar kala melihat si objek alasan untuk suaminya berpoligami.


Sialan. Kenapa dia harus lebih oke dibanding aku, sih. Lagi-lagi Litania membatin geram. Ia perhatikan wajah Rania dengan memasang wajah masam. Menunjukkan kalau dirinya tidak mengharapkan kehadiran Rania sama sekali.


"Maaf ganggu kamu malam-malam. Apa bisa kita bicara sebentar?"

__ADS_1


Tanpa dipersilakan. Rania merebahkan diri di kursi samping Litania. Ia buka kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung. Memberikan kesan angkuh dan tentu saja berefek pada raut muka Litania yang menjadi lebih kesal dari sebelumnya.


Apa-apaan ini? Untuk apa minta maaf. Kamu itu bukan hanya ganggu malamku. Tapi rumah tanggaku juga. Dasar perempuan ular.


Menarik napas panjang. Litania mencoba menetralkan kekesalan. "Cepatlah, aku gak punya waktu. Apa yang mau kamu katakan."


"Bercerailah. Biar aku yang mengganti posisimu."


Degh!


Serasa mendapat serangan jantung. Litania lupa cara untuk bernapas. Tabuhan di dalam dada pun mendadak berhenti berdetak. Ia terkejut. Ingin berucap tapi lidah keburu kelu. Perempuan ini bener-bener gak waras.


Lagi, Litania dibuat tak berkutik. Rania dengan cepat menarik tangannya yang masih berlipat di atas dada. "Tolong, bercerailah. Biarkan aku yang jadi istrinya. Aku lebih butuh Chandra, Litania. Anakku membutuhkan dia. Tolong kasihani aku."


"Apa?!"


Litania menganga. Matanya bahkan membulat lebar. Rania benar-benar tau cara membunuhnya tanpa harus menghunuskan belati. Bagaimana bisa seorang perempuan meminta suami perempuan lainnya? Gila, Rania benar-benar tidak waras.

__ADS_1


Masih dengan posisi bersimpuh di lantai, Rania memasang wajah mengiba. Air matanya bahkan telah muluruh. Air mata yang entah mengapa tak berefek sama sekali untuk Litania.


"Tolonglah. Anakku butuh kasih sayang Chandra. Aku sudah dibuang orang tuaku, Litan. Aku sudah merasakan betapa sakitnya diabaikan. Dan aku gak mau Chandira merasakan hal yang sama."


Oh Tuhan. Serasa dipalu. Jantung Litania merasakan sakit luar biasa. Mendengar nama Chandira membuat selaksa kama dalam dada Litania retak seketika itu juga. Jangan jangan nama Chandira itu adalah gabungan nama mereka.


Shit! Maya mematung. Ia kehabisan kata-kata. Ia menarik napas dalam kemudian mengembuskannya dengan perlahan. Mencoba tetap terlihat tegar meski hati telah terkoyak. Sakit? Tentu saja. Hati Litania bak teriris sembilu lalu ditaburi cuka.


"Pulanglah, aku anggap obrolan ini gak pernah ada." Litania berujar tegas. Meredam sakit yang luar biasa menyiksa. Menahan air mata agar tak meluruh saat itu juga. Oh, andai melenyapkan orang tak dipenjara. Sudah dipastikan ia akan melenyapkan Rania dari hadapannya saat itu juga. "Pergilah. Aku ngantuk."


Rania yang merasa diabaikan tak patah arang. Ia rangkul kuat kaki Litania hingga membuat langkah gadis itu tertahan. "Apalagi ini? Lepasin gak!"


"Gak. Aku gak akan lepasin sebelum kamu janji buat lepasin Chandra. Aku beneran putus asa, Litania. Dia lebih memilihmu ketimbang aku dan Chandira. Aku gak mau anakku besar tanpa kasih sayang orang tua. Tolonglah. Kasihani kami. Kamu juga tau 'kan rasanya gak punya orang tua."


Astaga, Rania benar-benar membuat Litania bungkam dengan menyerang titik kelemahannya. Litania yang telah sekuat tenaga agar tegar akhirnya kalah. Bulir air menetes tanpa mampu ia tahan. Perempuan ini bener-bener udah stres.


"Kalau kau ingin dia. Rayulah dia. Jangan usik aku dengan permintaanmu yang konyol itu." Litania lap jejak kesedihannya. Ia tau rasanya tak punya orang tua. Merasakan betapa sakitnya terabaikan karena tak mempunyai orang tua. Namun, tetap saja. Mengikhlaskan suami sendiri karena prihatin bukanlah keputusan yang tepat.

__ADS_1


Litania tepis tangan Rania dari kakinya. Menatap dalam mata sembab wanita itu. "Pergilah. Jangan sampai kita bertemu lagi. Masalah cerai atau tidak itu adalah urusan kami. Jadi aku harap kamu jangan pernah kek gini lagi. Karna apa? Karna aku gak akan segan buat main kasar."


__ADS_2