Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Twins D.


__ADS_3

Dua bulan setelah kelahiran si kembar. Malam serasa siang, siang bagai malam. Dunia Chandra kembali jungkir balik setelah kelahiran dua jagoannya yang diberi nama Daniswara Alfan dan Danuarta Alfin, dipanggil Dafan dan Dafin. Keadaan yang tentu saja membuatnya ekstra sabar karena bergadang di malam hari dan bekerja kala siang. Belum lagi keegoisan yang juga harus ia tekan. Setiap saat harus mengikhlaskan dua pegangan ternyaman di ambil alih. Bagaimana tidak, selain menyusu, tangan Dafan maupun Dafin selalu bermain, menarik, mengusap bahkan memencet di satu sisi gundukan montok penghasil ASI Litania. Area terlarang yang menjadi favoritnya dari dulu maupun sekarang. Aktivitas yang selalu ia lakukan kini di ambil alih sang anak. Ingin marah? Yang benar saja.


Menghela napas panjang, Chandra yang baru selesai mandi kembali melihat pemandangan yang membuat naluri kelelakiannya iri. Di dekatinya Litania yang tengah menyusui Dafan dan merebahkan diri di sisi ranjang. Tak lupa pula dibelainya pipi anak keduanya itu dengan penuh cinta.


"Kamu gak capek?" tanyanya pada Litania.


Litania menggeleng, wajah yang leleh terlihat kentara. "Aku sudah terbiasa," jawabnya pelan.


"Kalau kamu mau, kita sewa pengasuh yang mau nginep. Kita juga bisa kasih si kembar sufor biar kamu gak capek banget. Biar punya waktu buat istirahat."


Litania kembali menggelengkan kepala. Senyumnya terukir, sedikit dipaksa. Ia tau suaminya itu pasti khawatir. "Gak perlu, ASI-ku cukup. Aku juga gak perlu pengasuh. Cukup ditemani Mbak Sri aja. Kalo malam gini aku bisa sendiri."


"Sayang, ini bukan masalah cukup gak cukup, atau mampu gak mampunya. Aku cuma kasihan sama kamu. Badan kamu langsung kurus begini, loh. Kamu kurang tidur, kurang makan. Aku khawatir," jelas Chandra lirih.


Litania hanya mengulas senyuman. Mata ia alihkan kembali ke anak mereka yang tengah menyusu. "Aku gak apa-apa, ini kan kewajiban aku sebagai ibu mereka. Aku mau mereka menerima ASI eksklusif. Lagian, bukan hanya aku yang kelelahan. Kamu juga pasti capek jagain babby twins kita, jadi aku gak berhak ngeluh. Wong aku cuma di rumah. Mending sekarang kamu tidur, gih. Sekarang udah malam."


Tak setuju, Chandra menggeleng pelan. "Tapi ASI eksklusif itu sampe enam bulan, loh. Kamu yakin?" tanya Chandra, mimik wajahnya masih terlihat khawatir. "Kalau aku jangan di pikirin. Suami kamu ini udah terbiasa lembur, jadi gak masalah kalau kurang tidur."


"Ya gak bisa gitu, dong. Kamu juga harus cukup tidur. Kerjaan kamu kan banyak. Kamu pimpinan, loh. Apa jadinya kalau direktur oleng karena kurang tidur? Kalau salah tanda tangan, gimana?" Litania terkekeh. Diusapnya pipi suaminya itu. "Lagian, aku yakin soal ASI eksklusif. Sekarang sudah dua bulan. Masih sisa empat bulan lagi. Aku pasti bisa."

__ADS_1


Menghela napas panjang, Chandra berakhir mengangguk setuju. Sebenarnya ada perasaan tak tega melihat Litania kewalahan mengurus di kembar. Berat badan bahkan menurun drastis tanpa diet maupun sedot lemak. Namun, istrinya yang keras kepala itu selalu saja menolak bantuan. Jangankan baby sitter, bantuan Lita saja ia tolak mentah-mentah dengan alasan ingin belajar mandiri. Semenjak menjadi ibu, ia tanpa sadar dewasa dengan sendirinya. Sang nenek dan mertua hanya sebulan membantu. Sisanya ia kerjakan sendiri.


"Dia kayaknya udah tidur." Chandra berucap seraya menurunkan dengan pelan tangan mungil Dafan yang mendarat di gunung kiri sintal Litania.


"Iya, baru aja," balas Litania tanpa menoleh. Matanya tertuju pada Dafan.


"Kalau gitu, letakin di box. Ini udah malam. Kamu harus istirahat."


Litania mengangguk. Ia kembali ke kasur setelah memastikan anak-anaknya terlelap. Lantas berbaring dan menyelimuti diri dengan selimut. Namun, baru saja memejamkan mata, sebuah kalungan di pinggang mengagetkan. Siapa lagi kalau bukan Chandra, bayi gede yang sepertinya minta jatah kasih dan sayang Litania.


"Kenapa belum tidur?" tanya Litania. Posisinya masih memunggungi Chandra.


Litania tersenyum kuda. Ia maklum Chandra meminta demikian. Semenjak melahirkan, sama sekali mereka tak pernah melakukan ritual ninabobo ninanina lagi. Jangankan adegan celap-celup, colek-colekan saja tak ada kesempatan. Twins D seakan tahu waktu sang ayah ingin menggarap bundanya hingga ada saja yang bersuara, baik Dafan maupun Dafin selalu saja menangis sejadi-jadinya.


Memutar posisi, Litania menatap fokus mata penuh gairah Chandra. Senyumnya tersungging, anggukan kepala menjadi jawabnya.


Semangat 45, Chandra kungkung tubuh Litania yang menggunakan langerie tipis lantas melepas semua kain yang ada di tubuh. Matanya berbinar setelah menyibak dan melihat dua gundukan montok yang sudah lama tak disentuh olehnya.


"Aku mulai, ya?"

__ADS_1


Litania mengangguk.


Namun, baru saja hendak menerkam, terdengar rengekan kecil dari dalam box bayi. Litania langsung menahan bibir yang se-senti lagi menyatu dengan bibirnya. "Dafin bangun," lirihnya.


"Enggak," balas Chandra, ia tepis tangan Litania dan menyatukan bibir mereka. Meraup rakus.


Namun, suara rengekan makin nyaring, sontak Litania dorong tubuh suaminya hingga terjungkal ke samping kasur.


Benar adanya, Dafan dan Dafin bangun, kedua anaknya itu menangis sejadi-jadinya.


Sementara Chandra, hanya bisa menjambak rambut sendiri. Frustrasi tak berlawan, itu yang ia rasa. Ditatapnya punggung Litania yang sibuk menenangkan Dafan dan Dafin. "Kalau gini terus, aku bakalan minta bantu mama," ucap Chandra geram lantas meninggalkan Litania menuju ke kamar mandi.


***


Siapa di sini yang kangen Kinar arjun?


Aku akan kabulin, tapi Like,vote dan rate 5 nya jagan lupa.


Makasih.

__ADS_1


__ADS_2