
"Maafin aku, Ka. Karena aku kamu menderita. Aku salah. Akulah yang bersalah. Kalau dulu aku gak maksa buat masuk ke sana kamu gak bakalan diperkosa. Dan aku ... aku gak bakalan melakukan kesalahan ini. Aku menyesal, Ka. Aku merugikan banyak orang."
Sesenggukan makin dalam, Rania lap air matanya yang tumpah begitu banyaknya. Dirinya yang baru datang dari Jakarta langsung menghampiri Reka, sahabat yang juga mengalami kemalangan karena ulahnya.
"Sudahlah, Ra. Semua udah terjadi." Menepuk-nepuk pundak Rania, Reka juga telah menitikkan air mata. Mengenang kemalangan beberapa tahun yang lalu membuat hatinya juga sakit. Bertahun-tahun selalu menyalahkan Rania. Namun, setelah melihat betapa menderitanya Rania sekarang rasa kesalnya mendadak hilang. Ditambah pria yang dulu menghancurkan masa depannya kini telah berubah baik. Sosok suami dan calon ayah yang ia yakin akan menuntunnya menuju bahagia.
"Aku udah maafin kamu, kok." Menarik dagu Rania, Reka usap air mata yang membanjiri pipi Rania. "Yang penting sekarang adalah masa depan. Gak ada gunanya juga terlalu berlarut dalam penyesalan. Ingat, kita udah gak sendiri lagi. Kamu punya Chandira dan aku ...."
Reka usap perutnya yang membuncit. Sebuah pemandangan yang membuat Rania mengukir senyuman. "Terima kasih, Ka. Kamu memang sahabat terbaik."
"Yaudah sini duduk." Reka menepuk sofa di sebelahnya. Ia tak tega melihat Rania yang menangis bersimpuh seraya memeluk kakinya. "Gak enak kalau diliat yang lain," lanjut Reka.
Tersenyum ramah, Reka pegang tangan Rania. "Jadi sekarang apa rencanamu?"
"Rencananya aku mau buka usaha, Ka. Aku mau buka toko roti. Aku mau belajar mandiri. Dan soal Chandra, aku udah ikhlasin dia. Dia cocok denga Litania. Bagaimanapun dia orang baik. Aku yakin dia gak bakalan lupa dengan kewajibannya sama anak kami."
***
Di rumah kediaman Sita. Litania tengah duduk menonton TV seraya memangku sekotak cokelat. Semenjak kabur dari rumah Chandra dirinya tak bisa lepas dari makanan itu. Ia begitu membutuhkan ketenangan dan coklat memberikan itu semua.
Pintu diketuk, Litania mau tak mau harus beranjak dari duduk dan melangkah menuju pintu dengan mulut yang sedikit mengerucut—mengumpat pada orang yang berada di balik pintu.
"Kamu!" Litania menggeram. Ia tutup lagi pintu yang sudah terbuka. Kesal karena sosok yang mengetuk adalah Chandra.
"Sayang ... buka pintunya, dong. Ayo kita ngomong baik-baik," ucap Chandra seraya kembali mengetuk pintu kayu itu.
"Gak aku gak mau ngomong. Lagian gak ada yang perlu diomongin juga 'kan."
"Ya gak bisa gitu, dong. Aku masih suami kamu. Ayo kita bicara dengan kepala dingin. Aku mohon ... udah ya ngambeknya. Rania udah balik ke Semarang jadi gak akan ada yang poligami."
__ADS_1
Mendesis, Litania mencoba tetap mendorong pintu itu dengan punggungnya. "Oo jadi kamu ngusir dia. Kamu jahat tau gak. Kasian anak kamu. Kamu orang paling jahat yang pernah aku kenal."
"Enggak Litan. Aku gak ngusir. Dia sendiri yang mau pergi. Ayo sekarang kamu balik ya. Please ...."
Masih berusaha mengetuk, Chandra bahkan sadar ia melakukan hal sia-sia. Pintu itu telah terkunci rapat dari dalam. Namun, ia tetap saja berharap istrinya yang tengah marah itu luluh. "Litan, kita balikan, ya. Udah sebulan loh kamu pergi."
Chandra terdengar memelas. Membuat Litania muak. Ia masuk kedalam rumah dan membawa seember air.
Pintu terbuka dan Litania tanpa iba mengguyurkan air itu pada Chandra yang tengah berdiri dan memegang sebuket mawar merah. Sebuah tindakan barbar yang membuat Chandra mengap-mengap akibat serangan mendadak itu. Air bahkan lancar masuk ke hidung dan mulutnya. "Litania ...."
"Rasain. Biar sadar. Bangun dari mimpi. Aku gak mau balikan sama kamu. Kamu tukang bohong. Tukang selingkuh. Orang paling serakah di dunia ini. Bisa-bisanya punya anak dari perempuan lain. Lebih parahnya kamu gak pernah jujur."
Membuang ember ke sisi kiri, Litania bersedekap dada. Ada rasa kasian saat melihat Chandra yang telah basah dari ujung kaki hingga kepala. Namun, emosi masih mendominasi. Membuatnya mengusir rasa iba itu dan kembali melayangkan tatapan menghunjam. "Mendingan sekarang kamu pulang. Jangan ke sini lagi!"
"Ya Tuhan, Litan. Itu hanya sekali. Itu pun kejadiannya udah lama. Jadi aku gak pernah selingkuh dari kamu. Hanya kamu yang aku sayang, Litan. Aku gak ada niatan selingkuh. Aku ketemu Rania jauh baget sebelum kita nikah. Masa iya itu dibilang selingkuh."
"Nah kalo tau kenapa ngambeknya lama banget."
"Aku masih kesel. Jadi jangan ganggu aku dulu. Pulang sana!"
Pintu Litania banting. Membuat orang yang
ada di balik pintu berjengket kaget. "Ya Tuhan, Litan, gimana biar hati kamu luluh." Mengusap wajah yang sudah basah, Chandra pun pergi meninggalkan rumah Litania dengan perasaan kecewa.
***
Menekan angka nomor satu di telepon yang ada di meja kerja, Chandra pun berucap, "Ara, bisa ke ruangan saya sebentar?"
Tak lama, pintu di ketuk tiga kali dan masuklah seorang wanita cantik berambut panjang dengan rok selutut. "Ada yang bisa saya batu, Pak."
__ADS_1
Menyandarkan diri di punggung kursi, Chandra tatap intens sang sekretaris. "Apa hari ini jadwal saya sudah selesai?"
"Iya, sudah, Pak."
"Kalau untuk besok? Kira-kira padet gak," tanya Chandra lagi.
Ara langsung mengecak tab yang ada di tangan. Menyentuhnya beberapa kali kemudian berucap, "Gak terlalu, Pak. Besok Bapak hanya punya jadwal sampe jam empat sore."
Mengembuskan napas panjang, Chandra teringat lagi akan Litania. Semenjak pisah rumah, dirinya tak semangat melakukan apapun. Bahkan untuk pulang saja ia malas. Bagai anak ayam yang kehilangan induk—bingung dan kehilangan tumpuan.
"Apa bapak memerlukan sesuatu?" tanya Ara kala Chandra mendadak diam.
Menggeleng, Chandra mengibaskan tangan pada Ara. "Pergilah, kamu boleh pulang sekarang."
"Baiklah, saya pulang, Pak. Selamat malam."
Memutar tumit, Ara yang sudah berancang-ancang akan melangkahkan kaki mendadak berhenti kala Chandra kembali memanggil namanya. "Kenapa lagi, Pak?"
"Kamu tau gak cara membujuk perempuan yang sedang ngambek?" tanya Chandra seraya memasang wajah serius.
Tersenyum siput, sang sekretaris seakan-akan menghinanya yang bertanya. Membuat harga diri sedikit terluka. Namun, demi mendapatkan Litania kembali, ia telan perasaan kesal itu dan kembali bertanya. "Kamu tau caranya?"
"Tau, hanya satu triknya."
"Apaan?"
***
Maafken lama baru up. Jangan ngambek ya .... Cukup Litania aja yang begitu. Kalian mah jangan. ehehe.
__ADS_1